(Sumber : Dok. Pribadi)

Muhammad Muslim: Kepemimpinan Kyai Untuk Islam Inklusif

Kelas Metode Penelitian

Oleh: Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

  

Akhirnya, Muhammad Muslim menjadi doktor setelah  mempertahankan disertasi yang berjudul: Kepemimpinan Kiai dalam Pengarusutamaan Islam Inklusif di Pesantren Al-Falah Silo Jember. Disertasi tersebut dipertahankan pada  Program Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq dengan  Promotor: Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM., Co. Promotor: Dr. H. Hepni, S.Ag, MM yang sekaligus sebagai penguji. Kemudian penguji lainnya adalah Prof. Dr. Miftah Arifin, MAg., Prof. Abd. A’la, M.Ag., Prof. Dr. Nur Syam, M.Si, Dr. Nurul  Ghufron, SH, MH.,   dan Dr. Khusnul Marom, MHI. Promosi doktor diselenggarakan 13/08/2022.

  

Dari disertasi tersebut, kemudian didapatkan ringkasannya sebagai berikut: Islam Inklusif menjadi wacana mainstream saat ini. Sebagai model Keislaman moderat maka lembaga pendidikan mengemban amanah yang cukup berat, karena itu pemimpin dituntut hadir untuk menciptakan pesantren yang inklusif baik melalui kepemimpinan, komunikasi dan pengembangan budaya organisasinya. Oleh sebab itu penelitian ini difokuskan untuk memahami kepemimpinan kiai dalam pengarusutamaan Islam inklusif di Pesantren Al-Falah Silo Jember dengan sub fokus komunikasi kepemimpinan kiai dan alasan kiai dalam pengarusutamaan Islam inklusif di Pondok Pesantren Al-Falah Silo Jember. Adapun tujuan penelitian untuk menemukan pola komunikasi kepemimpinan kiai dan memahami alasan kiai dalam pengarusutamaan Islam Inklusif di Pesantren Al-Falah Silo Jember

  

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pemilihan key informan dan informan  menggunakan tehnik purposive, pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis interaktif sedangkan keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber, teknik member cek dan dependabilitas.

  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Komunikasi kepemimpinan kiai dalam pengarusutamaan Islam inklusif di Pondok Pesantren Al-Falah Silo Jember di antaranya (1) komunikasi kiai berkarakter kehati-hatian, terbuka, egaliter, supel, humoris dan kharismatik serta menggunakan simbol-simbol budaya lokal, simbol keagamaan dan memiliki ketersambangun tradisi dengan para pendahulunya. (2) Menempati ruang keagamaan, sosial, pendidikan, ekologi dan ruang cyber serta ruang pengembangan ekonomi. Komunikasi kiai tersebut melalui pendekatan personal, interpersonal, vertikal-horizontal, persuasif dan kolektif serta kolaboratif dengan jenis komunikasi verbal (taushiyah) dan non verbal (uswah). (3) Memiliki elemen komunikasi internal dan elemen eksternal melibatkan dewan pengasuh, santri, alumni dan pihak non muslim yang disalurkan melalui kegiatan pesantren, majelis taklim, kegiatan alumni, kegiatan masyarakat dan kegiatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). (4) Memiliki penguatan (a) Penguatan formal ke dalam yaitu penataan sistem pendidikan dan formal keluar melalui FKUB serta melalui kerjasama baik intern pesantren dengan pesantren dan kerjasama dengan Non Muslim, (b) Penguatan informal melalui fasilitasi, advokasi dan konsolidasi lintas Iman, (c) Penguatan Non formal melalui temu alumni, arisan guru, majelis taklim, tahlilan dan walimahan. (5) memiliki intensitas komunikasi mingguan, bulanan, tahunan dan insidental yang disertai dengan modal kompetensi sosial kemasyarakatan, pendidikan, literasi dan pembinaan ahlak-tasawuf.

  

Kedua, Nalar Kiai Pesantren Al-Falah Silo dalam pengarusutamaan Islam Inklusif di antaranya : (1) Argumentasi kiai berdasar pada konteks teologis, historis, ideologis, antropologis dan geneologis yang diaktualisasikan di ruang masyarakat, pesantren, sekolah, madrasah dan ruang virtual. (2) kiai melakukan internalisasi melalui strategi latihan kepemimpinan, latihan keorganisasian, kaderisasi, modelling kiai, artifikasi nama- ulama’, menjaga artefak bangunan dan kaligafi, selain strategi pengasuh juga menggunakan metode uswah hasanah, mauidhoh hasanah dan metode literasi dengan prinsip prinsip dialogis, kolektif biologis dan ideologis. (4), Kiai melakukan internalisasi Islam Inklusif melalui kegiatan pendidikan, sosial-keagamaaan, pembiasaan pesantren, penegakan kanon asasi dan kerjasama dengan non muslim yang diikuti dengan membuat kebijakan santri wajib mukim, santri wajib sekolah madrasah diniyah, santri wajib dan mengikuti pengajian kitab kuning serta kebijakan kurikulum diniyah independen. Jadi  temuan formal dalam penelitian ini yaitu:  Kepemimpinan Kiai dalam pengarusutamaan Islam Inklusif berbasis komunikasi personal-persuasif, profesional-massif dan komunikasi mix.

  

Dari ringkasan disertasi ini, maka dapat dinyatakan bahwa penelitian ini tergolong penelitian yang bercorak integrasi ilmu, yaitu menggabungkan pesantren dan kyai (ilmu keagamaan) dan kepemimpinan (ilmu social). Kajian kyai dan pesantren tentu sudah sangat banyak dilakukan baik dalam kajian ilmu keagamaan atau ilmu social. Kyai dan pesantren sebagai sasaran kajian sangat banyak diminati oleh kalangan ilmuwan baik ilmuwan social maupun ilmuwan keagamaan. Kajian kepemimpinan pesantren juga sudah banyak dilakukan oleh para ahli, akan tetapi yang menarik bahwa kajian mengenai kyai dan kepemimpinan pesantren yang terfokus pada pengarusutamaan Islam inklusif atau moderasi beragama kiranya masih belum banyak kalua  tidak bisa dinyatakan sebagai kajian yang masih langka.

  

Penelitian ini menggunakan teori kepemimpinan sebagaimana yang dikemukakan oleh Bruce J. Avilio dan Bernard M. Bass tentang kepemimpinan transformasional, dan  teori Robert L. Katz dengan teori kepemimpinan berketerampilan.

  

Dengan demikian, berdasarkan atas kajian ini, maka dapat dinyatakan bahwa kyai ternyata memang memiliki kemampuan sebagaimana dinyatakan para ahli dengan catatan bahwa semua kemampuan tersebut sesungguhnya dipandu oleh kemampuan spiritualitas yang unggul dan tradisi yang diyakini bermanfaat bagi pengembangan pesantren.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.