(Sumber : ejournal.iaiuluwiyah.ac.id)

Industri Media Islam Indonesia

Kelas Sosiologi

Oleh: Zein Arya Maulana

Mahasiswa Program PPS Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam  

  

Tulisan berjudul “Sejarah dan Perkembangan Industri Media Islam di Indonesia” merupakan karya Mirza Azkia Muhammad Adiba. Artikel ini terbit pada Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, Al-Maquro’, pada tahun 2020. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan bagaimana pertumbuhan dan perkembangan media massa Islam dari masa ke masa serta apakah bisa media massa Islam beradaptasi dengan perkembangan zaman. Terdapat tiga sub-bab dalam review ini. Pertama, pertumbuhan media Islam di Indonesia. Kedua, karateristik media massa Islam. Ketiga, media Islam menuju industrialisasi. 

  

Pertumbuhan Media Islam di Indonesia 

  

Menurut Mirza, Indonesia mempunyai media massa Islam yang nilai warisannya sangatlah berharga, terutama yang memiliki ideologi Islam telah memberikan warisan peradaban yang penting. Adanya perkembangan pemikiran Islam tidak lepas dari peran media massa yang dikelola secara optimal oleh organisasi maupun kelompok Islam tertentu dengan konten yang mencerahkan. Meski beberapa media massa mengalami pergeseran dari segi kualitas konten tak bisa dipungkiri media massa Islam masih ada beberapa yang hingga saat ini masih bertahan dan eksis, tidak hanya dari media cetak saja, ada dari media radio, televisi hingga yang berbasis online.

  

Pada tulisan kali ini, Mirza juga menjabarkan terkait sejarah masuknya media Islam di Indonesia. Ia membaginya menjadi tiga timeline atau periode, yaitu:

  

a) Awal abad ke-20

Pada awal abad ke 20, tumbuh media massa Islam diawali terbit di Sumatera pada tahun 9 Januari 1904 bernama Alam Minangkabau berbahasa Arab Jawi, wilayah distribusinya hanya menjangkau pada muslimin di Minangkabau, Mandaling, dan Angkola. Lalu ada Al Imam, sebuah media massa Islam pertama di tanah Melayu-Nusantara sekitar tahun 1906, yang saat itu masih dijajah oleh Inggris dan Belanda. Sejak awal media ini memang menyuarakan akan nasib yang dialami oleh umat muslim yang terjajah. Adapun dari tujuan Al Imam tersebut adalah agar umat Islam sadar dan mampu meraih kemerdekaannya. Pada tahun 1911 terbit Al Munir di Padang. Alam Minangkabau dan Al Munir merupakan cikal bakal koran Islam di Indonesia. Majalah Al-Munir sebagai media gerakan kaum muda minangkabau dipimpin Abdulloh Ahmad. Pemberitaan majalah Al Munir dipengaruhi pemberitaan oleh majalah Al Imam yang terbit di Singapura dan Al Manar yang terbit di Mesir. Al Munir seringkali merujuk pada fatwa-fatwa yang terdapat dalam Al Manar, seperti membahas pakaian barat, yang pada masa itu sering dilarang oleh ulama tradisional karena identik dengan orang kafir. Pada praktiknya, Al Munir tidak hanya bersuara keras terhadap praktik bid’ah, tetapi juga pada pemerintah kolonial Belanda. Kritik keras ini membuat Al Munir mendapat tekanan dan pengawasan dari pemerintah kolonial saat itu. Al Munir juga tidak jarang menyuarakan tentang kemerdekaan bangsa Hindia Belanda, ketatnya pengawasan kolonial, membuat mereka menyampaikannya secara hati-hati dan terselubung. Misalnya dengan membahas kemerdekaan Turki, Mesir dan India dari jeratan penjajah. Ketika membahas suatu tulisan tentang ilmu pengetahuan pun, ujung-ujungnya juga akan membahas bagaimana mencapai kemerdekaan.

  

b) Orde Baru


Baca Juga : Gairah Intelektual Di Era Pandemi Covid-19

Dalam era Orde Baru, rezim Presiden Soeharto mengambil sikap tegas dengan oposisi dari kelompok islam dan membatasi aktivitas media islam yang mengakibatkan harian Abadi dilarang oleh pemerintah Presiden Soeharto, dan nyaris tidak ada harian islam yang menggantikan hingga lahirnya Republika pada akhir tahun 1980-an. Pada tahun tersebut pula munculnya perdebatan justru membentuk iklim intelektual muda muslim di kalangan pemuda, diskusi dan tulisan ini menjadi embrio bagi penerbitan islam pada tahun 1980an, dengan munculnya tulisan berbasis akademis yang dimuat dalam media islam. Perdebatan intelektual itu tersebar ke dalam berbagai penerbitan seperti jurnal Ulumul Quran, Majalah Media dakwah, dan harian Republika. Selain terlibat dalam media yang mapan dan besar, sejumlah aktivis muda islam merintis media sendiri, seperti Hidayatullah, Sabili dan Ummi. Pada saat yang bersamaan, penerbit umum besar mulai melirik umat Islam sebagai pasar pembaca yang potensial, misalnya majalah Kartini pada tahun 1985 menerbitkan majalah Amanah dengan sasaran pembaca keluarga Islam. Majalah Amanah meretas jalan bagi media islam yang populer, ringan dan orientasi bisnis yang jelas, tidak lagi mengusung warna politik yang pekat. Langkah ini kemudian diikuti oleh majalah Ummi tiga tahun kemudian yang membidik pembaca dari kalangan wanita muslim dewasa. Kehadirannya pula juga dapat diterima luas oleh para wanita muslim. Kelompok majalah Ummi juga melahirkan majalah Aninda yang banyak memuat kisah-kisah islami yang kemudian terbukti mampu bersaing dengan majalah lain. Majalah Aninda juga ditopang oleh banyak iklan yang ditujukan untuk kalangan remaja.

  

c) Setelah Reformasi

Setelah reformasi makin banyak kemunculan media Islam baru, yang diawali oleh tabloid Adil, yang semula adalah penerbitan milik Muhammadiyah dan menjadi bagian dari harian Republika. Namun, dalam perjalanannya, menjadi media independen dan mampu mengambil sikap yang objektif. Sementara itu, tabloid Tekad yang dibidani oleh harian Republika cenderung pada Golongan karya dan sangat kritis terhadap PDIP. Sementara media massa umumnya mengangkat isu kekuatan kelompok reformis berhadapan dengan kekuatan status quo dalam perebutan kursi Presiden, Tabloid Tekad justru mengangkat perdebatan yang telah lama terkubur selama orde baru antara Islam melawan sekularisme. Keberadaan tabloid Adil dan Tekad menarik ditengah kecenderungan tabloid yang umumnya banyak mengangkat masalah seks, kriminalitas, gosip politik dan hal-hal yang berkaitan dengan klenik (mistik).

  

Salah satu orientasi khas dari media Islam setelah reformasi adalah mistik. Dalam majalah Hidayah, Hikayah, Alkisah, dan Ghoib, kisah-kisah yang ada di luar nalar manusia disajikan dengan penuturan yang detail. Adanya kisah tersebut sesungguhnya memberikan kesaksian pada pembaca bahwa hukum Allah telah bekerja. Menariknya, jika selama hidup manusia tidak mampu menjangkau perbuatan jahatnya, maka diakhir hayatnya pasti muncul pembalasan dari Allah. Cerita yang ada di majalah Hidayah merupakan kisah nyata yang semata-mata ditujukan untuk diambil hikmahnya dan bukan mencemarkan nama baik seseorang. Jika terdapat kesamaan cerita dan nama, maka itu hanya kebetulan belaka. Karenanya, setiap kisah itu nama mereka tidak menggunakan nama asli, dan potret para saksi sengaja dikaburkan wajahnya. Sementara itu, setiap kisah senantiasa disertai gambar ilustrasi yang realis untuk memperkuat kisah yang dimuat.

  

Karateristik Media Massa Islam 

  

Pada sub bab ini, Mirza fokus membahas tentang karakteristik media massa Islam dari segi konten atau isinya. Jika di awal perkembangannya, lebih banyak tentang persoalan ritual keagamaan dan dakwah dengan pembaca terbatas, maka kini media islam bersentuhan dengan budaya populer. Dalam formatnya yang konvensional pers islam dengan misi dakwah yang kuat berisi antara lain tata cara beribadah yang benar seperti wudlu, shalat, haji, dan seterusnya, kemudian pandangan hukum islam terhadap berbagai masalah masyarakat modern seperti bunga bank, perkawinan beda agama, kemudian profil tokoh Islam terkemuka yang mempunyai peran penting dalam kegiatan dakwah, ulasan mendalam mengenai tafsir terhadap ayat Al-Quran yang juga dikaitkan dengan persolan masyarakat kontemporer.

  

Dengan kata lain, Mirza berpendapat bahwa terjadi pergeseran konten atau isi dari media massa Islam, dari yang sekadar membahas ritual keagamaan menjadi sesuatu aspek yang lebih modern. Dimana hal-hal terkait agama, mulai dari akidah, syariah, dan akhlak dikaitkan dengan problematika yang terjadi era sekarang. Sebuah hal yang tidak dimuat pada konten media massa Islam masa lalu. Tentu pergeseran konten atau isi tersebut mampu memberi sumbangsih lebih kepada para audiens atau penikmat yang merasa konten tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Adapun pemicu dari pergeseran konten atau isi media massa Islam saat ini tentu diakibatkan oleh semakin berkembangnya zaman. Bila tidak ada adaptasi dari media massa Islam dari segi terkecil yaitu, konten, maka akan sangat sulit untuk bersaing dengan media massa Islam yang lain, lebih-lebih media massa umum.

  

Media Islam Menuju Industrialisasi

  


Baca Juga : Sholawat

Bagi Mirza, pertumbuhan industri media dimanapun berkaitan erat dengan sistem ekonomi politik, begitupun juga terjadi di Indonesia. Lanskap industri media di Indonesia sangatlah dinamis, oleh karena itu perkembangan industri media selalu penting bagi masyarakat. Dalam bisnis media, profit didapat dari konten melalui iklan. Pertumbuhan iklan di Indonesia disebabkan oleh stabilnya pertumbuhan ekonomi, serta didorong kuatnya konsumsi domestik. Semakin banyak konten yang dikonsumsi oleh pemirsa semakin besar profit yang diperoleh oleh media. Bisnis penyedia konten dan bisnis iklan telah berkembang seiring dengan perkembangan industri media. Dari sisi iklan, bisnis televisi memang menggiurkan untuk menghasilkan uang yang besar. Potensi pendapatan besar dari iklan ini yang menjadi daya tarik sebagian besar pemilik televisi lokal untuk mendirikan stasiun swasta lokal diawal kemunculannya. Persaingan konvensional pasti terjadi disemua perusahaan yang selalu bekerja keras untuk merebut pangsa pasar perusahaan lain, secara otomatis konsumen merupakan obyek dari persaingan tersebut. Perusahaan yang dapat merebut konsumenlah yang akan menjadi pemenangnya. Jika berbicara industri media, yang dijual adalah konten. Misalnya saja stasiun televisi yang berlomba-lomba menghasilkan program siaran yang menarik, sehingga dapat menarik minat pemirsa, dan secara langsung akan berpengaruh pada pemasukan sponsor dari para pengiklan.

  

Dalam hal ini (media massa Islam), Mirza juga menjelaskan jika sebenarnya sudah ada beberapa yang mulai menjajaki ke ranah industri. Pemanfaatan media komunikasi massa pada abad ke 21 telah berkembang menjadi lebih sophisticated (canggih) dan sesuai karateristik industrial-kapitalis, cenderung komersil, sebagai alat profit-taking. Selain itu siaran agama juga diselenggarakan secara masif dengan partisipan audiens dari semua strata kelas, status, peran, komunitas, lokal, nasional dan global. 

  

Di dalam artikelnya, Mirza juga menemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab menurunnya bisnis media Islam di Indonesia, antara lain: 

  

1) Iklan menjadi basis ekonomi yang mempunyai peran penting kelangsungan hidupnya media, jumlahnya masih terbatas. 

2) Sejumlah media Islam tidak didukung oleh praktik jurnalisme yang memadai 

3) Dari awal pendiriannya, media Massa Islam tidak diperuntukan untuk lahan berbisnis, melainkan sekedar kepanjangan tangan dari para idealisme pengelolanya 

4) Orientasi isinya kadang kala terlalu spesifik ditambah lagi jangkauan distribusi yang terbatas, dan membuat pemabacanya pun juga tidak banyak.

  

Kesimpulan 

  

Tulisan ini sendiri berangkat dari kekhawatiran Mirza yang merasa bahwa diskursus atau pembahasan mengenai media massa Islam masih dirasa kurang. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Adapun diskursus mengenai media massa masih didominasi oleh media-media massa konvensional, bukan Islam. Maka dari itu, Mirza merasa harus turut serta dalam dinamika diskursus media massa Islam.

  

Adapun dari segi konten atau isi dari artikel ini sendiri, menurut saya, Mirza telah melakukan kerja yang cukup baik dalam menggambarkan sejarah dan perkembangan media Islam di Indonesia. Data yang ditampilkan sudah cukup lengkap dan terperinci sehingga membuat pembaca tidak kehilangan konteks dan mengerti. Hasil dari penelitian ini juga cukup menarik perhatian, dimana Mirza berhasil mengidentifikasi beberapa media massa islam yang pernah lahir dan beberapa yang masih bertahan hingga saat ini. Media-media islam tersebut telah menghiasi panggung sejarah media islam di Indonesia. Terlebih media tersebut juga mempunyai peran besar dalam mencerdaskan bangsa dengan konten-konten yang beragam. Selain itu, Mirza juga menyatakan bahwa media massa Islam cukup sulit bersaing dengan media massa konvensional, lebih-lebih di era digital seperti ini. Mirza pun tak lupa untuk menguraikan hal-hal apa saja yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut.