(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Posisi Teori Konflik dalam Paradigma Fakta Sosial

Kelas Sosiologi

Diketahui bahwa ilmu sosial (sosiologi) merupakan ilmu pengetahuan berparadigma ganda. Saya kira tidak hanya sosiologi, akan tetapi psikhologi, ilmu komunikasi, ilmu hukum, antropologi dan ilmu politik juga sama. Semua memiliki paradigmanya masing-masing. Paradigma merupakan pandangan mendasar dari para ahli tentang apa yang menjadi subyek kajian atau obyek kajian ilmu pengetahuan. What is the subject matter of science  itulah yang bisa berbeda-beda antara satu ilmuwan dengan ilmuwan lainnya, meskipun dalam cabang atau disiplin ilmu tertentu. 

  

Sosiologi mengenal ada tiga paradigma sebagaimana dikembangkan oleh ahli sosiologi. Paradigma tersebut adalah paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial. Ada juga yang menambahkan dengan konsep paradigma terpadu. Paradigma terpadu tersebut merupakan pengembangan lebih lanjut dari pemaduan antara teori dalam paradigma fakta sosial dengan definisi sosial atau antara paradigna fakta sosial dengan perilaku sosial atau definisi sosial dengan perilaku sosial. Misalnya penggabungan antara teori structural fungsional dengan teori konflik, atau antara teori fenomenologi dengan teori konflik dan sebagainya. Secara teoritik bisa dilakukan dan demikian pula di dalam metodologi penelitian. Bukankah sudah jamak dilakukan penggabungan dua pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif, yang disebut sebagai mixed methods. Paradigma terpadu memberikan peluang untuk terjadinya integrasi ilmu yang sekarang sedang ngetren.

  

Integrasi ilmu merupakan mandate dari Kerangka Kompetensi Nasional Indonesia (KKNI) untuk para mahasiswa program strata dua dan strata tiga. Yang disebut sebagai program interdisipliner dan multidisipliner. Saya menggunakan istilah interdisipliner (penggabungan dua cabang ilmu dalam satu rumpun ilmu), misalnya sama-sama dalam rumpun ilmu sosial. lalu cross disipliner atau lintas cabang ilmu yaitu penggabungan dua cabang ilmu dalam rumpun yang berbeda. Misalnya rumpun ilmu sosial dan ilmu humaniora. Kemudian multidispliner yaitu penggabungan banyak cabang ilmu dalam satu area kajian, misalnya pendekatan ekonomi, politik, antropologi dengan masalah agama. Hanya saja analisisnya berlaku pada masing-masing pendekatan. Dan yang berikutnya adalah transdisipliner yaitu penggabungan banyak cabang ilmu dalam berbagai rumpun dengan analisis yang disatukan. Melalui model transdisipliner dimungkinkan akan munculnya ilmu baru.

  

Paradigma fakta sosial menyatakan bahwa yang menjadi kajian ilmu pengetahuan adalah thing atau barang sesuatu yang bersifat material atau non material. Yang material adalah barang-barang seperti arsitektur, computer, buku, dan sebagainya. Sedangkan yang non material adalah kelompok, komunitas, masyarakat, solidaritas sosial, konflik sosial, kerumunan sosial, social distancing, kerukunan sosial, kesetaraan sosial, gender equality dan sebagainya. Sosiologi mengkaji barang sesuatu yang bersifat non-material.

  

Paradigma ini dikembangkan oleh Emile Durkheim dan mendapatkan banyak penganut, baik di Eropa maupun Amerika. Asumsi dasar di dalam paradigma fakta sosial adalah: kehidupan masyarakat berada di dalam keteraturan sosial (social order), di tengah keteraturan sosial tersebut terjadi perubahan sosial (social change) dan tidak ada fakta yang berdiri sendiri kecuali ada fakta penyebabnya. Dari asumsi dasar ini, maka di antara metode umum yang dipakai di dalam paradigma fakta sosial adalah metode penelitian kuantitatif. Sebuah metode penelitian yang mengandaikan bahwa semua fakta sosial bisa dikuantifikasikan. 

  

Paradigma definisi sosial dikembangkan oleh Max Weber. Di dalam pandangannya bahwa yang menjadi sasaran kajian sosiologi bukanlah fakta sosial yang eksternal dan mempengaruhi individu-individu (kolektivitas) akan tetapi adalah tindakan sosial atau social action yang bersifat individul atau orang perorang bukan kolektivitas. Tindakan sosial adalah tindakan yang disadari oleh pelakunya berdasar atas pemahamannya mengenai tindakan tersebut. Jadi yang dikaji adalah pemahaman para pelaku tentang tindakan yang dilakukannya. Pasti ada sesuatu di balik tindakan atau yang disebut sebagai meaning atau makna tindakan. Pemahaman subyek atau pelaku tersebut bersifat subyektif dan bisa berbeda antara satu individu dengan lainnya. 

  

Dikenal ada empat tipe tindakan, yaitu: tindakan rasional bertujuan atau tindakan yang disadari oleh pelaku berbasis pada rasio atau pemikirannya. Menurut Weber disebut sebagai in order to motive atau motif Tindakan yang bersifat internal dan sangat subyektif. Sedangkan menurut Schutz disebut sebagai because motive atau motif penyebab yang bercorak eksternal atau pengaruh faktor di luar dirinya. Sedangkan Berger menyatakan sebagai pragmatic motives atau motif fragmatis yang berbasis pada kebutuhan dan kepentingan.

   

Lalu tindakan instrumental atau tindakan yang disadari oleh pelaku berdasar atas efektivitas dan efisiensi atau tindakan yang dilakukan berdasar atas penggunaan sarana-sarana untuk mencapai tujuan. Pelaku bisa memilih mana sarana atau means yang lebih cepat dan jelas dapat mencapai tujuan tindakan tersebut. Kemudian dikenal juga tindakan tradisional atau tindakan yang didasari oleh  pengalaman atas tindakan tersebut di masa lalu. Biasanya tindakan tersebut diulang karena pernah dilakukan di masa lalu dan bermanfaat. Dikenal juga ada tindakan semu atau tindakan yang dilakukan dengan tanpa didasari oleh motif tertentu dan hanya mengikuti atas tindakan orang lain. Dilakukan tindakan tersebut karena keterpaksaan atau pengaruh eksternal yang sangat kuat.

  

Paradigma perilaku sosial merupakan pandangan para ahli sosiologi yang menganggap bahwa manusia melakukan sesuatu lebih banyak dipengaruhi oleh factor lingkungan. BF. Skinner yang mengemukakan paradigma ini sangat dipengaruhi oleh teori-teori psikhologi khususnya teori-teori empirisme, bahwa perilaku individu-individu hakikatnya merupakan perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Faktor lingkungan sosial, politik, ekonomi sangat mempengaruhi perilaku manusia. 

  

Teori konflik sosial berada di dalam paradigma fakta sosial. Teori ini dikembangkan oleh beberapa ahli, misalnya George Simmel, Karl Marx, Dahrendorf, dan sebagainya. Masing-masing memiliki asumsi teoretiknya sendiri-sendiri. Di antara yang sangat monumental adalah teori Social Class yang dikukuhkan oleh Marx. Teori ini tidak hanya berpengaruh secara akademis tetapi juga sebagai Gerakan sosial. Meskipun teori ini dianggap utopia, sebab tidak pernah terjadi secara sungguh-sungguh masyarakat komunis yang digagasnya, akan tetapi pengaruhnya terhadap teori sosial pada umumnya sangat kelihatan. 

  

Teori konflik sosial berada di dalam posisi asumsi dasar perubahan sosial. Bagi para pencetus teori konflik sosial bahwa masyarakat akan terus berubah dari satu waktu ke waktu lainnya melalui materi atau lebih khusus factor ekonomi atau disebut economic determinant. Namun seirama dengan perkembangan teori konflik sosial berikutnya, maka juga kelihatan upaya untuk menggabungkan antara teori struktural fungsional yang lebih bersearah dengan asumsi keteraturan sosial dengan teori konflik sosial yang bersesuaian dengan perubahan sosial. Konflik sosial tidak hanya mendestruksi masyarakat tetapi juga fungsional bagi perubahan sosial. 

  

Dengan demikian, dalam perbincangan body versus mind, empiris atau simbolis, fakta sosial atau realitas sosial, maka teori konflik berada di dalam perspektif body atau faktor eksternal mempengaruhi perilaku individu-individu, materi yang menentukan perilaku manusia, yang dikaji adalah fakta sosial yang berupa barang sesuatu yang nonmaterial misalnya kelas sosial, sosialisme, komunisme, otoritas, kelompok dan sebagainya yang semuanya berada di dalam nuansa konfliktual, dan yang juga penting bahwa secara metodologis teori konflik sosial berada di dalam konteks pendekatan penelitian kuantitatif yang analisnya bercorak komunal, masyarakat atau data agregat dan bukan individu. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.