(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Teori dalam Penelitian Sosial (Bagian Dua)

Kelas Sosiologi

Di dalam penelitian kuantitatif, maka dikenal siklus Walter Wallace, yaitu siklus dari teori ke hipotesis ke empiri dan ke generalisasi empiris ke teori. Teori yang general atau disebut grand theory lalu dijadikan hipotesis melalui logika deduksi lalu melalui intrumentasi dilakukan penelitian lapangan dan melalui pengukuran kemudian menjadi generalisasi empiris dan melalui logika induksi menjadi teori lagi. Di dalam penelitian Durkheim dinyatakan mengapa orang Protestan banyak yang melakukan bunuh diri (berperilaku menyimpang). Ternyata disebabkan oleh rendahnya solidaritas sosial (solidaritas organis). Maka ketika diteliti ditemukan bahwa pada masyarakat yang solidaritas sosialnya rendah maka akan berpotensi terjadinya bunuh diri. Dan sebaliknya masyarakat yang solidaritas sosialnya kuat, maka peluang perilaku menyimpangnya rendah.  

   

Teori konflik fungsional memiliki proposisi yang  menyatakan bahwa konflik sosial yang keras terjadi pada kalangan elit yang berkonflik, konflik sosial dapat meningkatkan solidaritas intern kelompok, konflik sosial dapat meningkatkan  dan memperkuat identitas dalam kelompok. Teori ini dapat dipakai untuk meneliti konflik antar sunni dan syiah di dalam kasus konflik beragama di Sampang. Identitas sebagai sunni semakin meningkat, demikian pula identitas sebagai syiah juga meningkat. Ikatan solidaritas sesama syiah juga menjadi meningkat karena konflik sosial dengan kelompok sunni. Teori konflik otoritas, misalnya dapat dipakai untuk menjelaskan konflik pertanahan, masyarakat menganggap tanah itu merupakan warisan berdasar atas otoritas dari keluarga, sementara yang lain bahwa tanah akan menjadi haknya jika sudah terdapat sertifikat. Penelitian untuk memperebutkan otoritas keagamaan, misalnya ulama NU dan Ulama Salafi di media sosial. Masing-masing beranggapan bahwa kelompoknya yang memiliki otoritas keagamaan.

  

Teori agensi dikaitkan dengan Anthony Giddens. Teorinya disebut sebagai teori strukturasi. Ada dua asumsi di dalam teori strukturasi, yaitu: hubungan pelaku (agen) dengan struktur merupakan hubungan dualitas dan bukan dualisme. Tindakan dan struktur itu saling mengandaikan. Struktur adalah aturan dan sumber daya yang terbentuk dan membentuk keterulangan praktik sosial. Lalu sentralitas ruang dan waktu. Ruang dan waktu bukan tempat tindakan dilakukan melainkan unsur  konstitutif dari tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Di dalam teori strukturasi, struktur dapat membentuk perilaku dan perilaku juga dapat membentuk struktur. Agen memiliki kemampuan untuk menyiasati struktur, antara agen dan struktur merupakan relasi yang saling memberi dan menerima atau saling memengaruhi, lalu terdapat kendala dan peluang bagi agen di dalam menghadapi struktur, dan analisisnya menggunakan pemahaman ganda atau pemahaman di atas pemahaman. Agen tidak hanya mereproduksi tindakan akan tetapi juga memproduksi tindakan. Sedangkan aktor hanya bisa mereproduksi tindakan. Sebagai agen, manusia memiliki tindakan voluntaristik tetapi juga dapat dipengaruhi oleh struktur, keyakinan, norma dan lainnya. Di dalam aplikasinya, teori strukturasi dapat digunakan untuk menganalisis tentang relasi antara sistem perundang-undangan dengan kemampuan para pimpinan birokrasi, perusahaan atau pimpinan organisasi dalam melakukan tindakan yang dapat membahwa kepada kemaslahatan. Teori strukturasi juga dapat dipakai untuk menganalisis hubungan antara sumber kekuasan dengan agen di dalam kehidupan masyarakat. Teori ini juga dapat digunakan untuk meneliti relasi anak dan orang tua dalam kehidupan sosial. Termasuk juga meneliti antara pemimpin dan jamaah organisasi dalam kehidupan sosial. Teori strukturasi menganggap bahwa manusia sesungguhnya adalah agen yang dapat menyiasati struktur. Orang bisa melakukan tindakan yang berbeda dalam menghadapi situasi sosial yang dihadapinya. 

  

Hermeneutics merupakan ajaran tentang proses pemahaman interpretif dan juga tentang pemberian arti atau penafsiran. Di antara tokohnya adalah W. Dilthey, Schleiermacher, Gadamer, Ferdinand de Saussure dan sebagainya. Menurut Gadamer bahwa prinsip di dalam teori hermeunetika bahwa  di dalam penafsiran ternyata manusia (penafsir) bisa dipengaruhi oleh faktor historis, misalnya keyakinan, kultur, tradisi atau bahkan pengalaman hidup atau affective history. Lalu di dalam pemberian pemahaman (penafsir), maka manusia juga dipengaruhi oleh pra-pemahaman. Ada konteks sosial, politik, ekonomi dan sebagainya yang memengaruhi seseorang di dalam menafsirkan teks, yang disebut sebagai pra-penafsiran. Di dalam pemahaman (penafsir) juga terdapat horizon (cakrawala) di dalam teks dan cakrawala pembaca teks. Seorang pembaca teks harus memahami bahwa ada horizon (cakrawala) di dalam teks atau hal-hal lain yang di luar pemahamannya. Selain itu juga ada konsep aplikasi, di mana teks harus dipahami dari aspek apakah teks tersebut masih relevan atau tidak dengan dunia sosial yang berkembang sekarang. Inilah yang disebut sebagai makna obyektif dalam penafsiran.    

  

Teori merupakan jendela untuk mempertajam analisis atas masalah akademik yang sedang diteliti. Melalui teori, maka ketajaman analisis akan semakin kentara. Ingat bahwa analisis merupakan pemahaman peneliti atas pemahaman/data yang diungkap oleh subyek/obyek penelitian. Pemahaman subyek/obyek penelitian sebagai pemahaman pertama dan dilanjutkan oleh pemahaman peneliti sebagai pemahaman kedua. Pada level pemahaman kedua, maka teori berfungsi untuk mempertajam kualitas analisis peneliti. Semua teori, baik theory testing maupun theory building, merupakan jendela analisis, hanya berbeda dalam prosesnya saja. Testing teori menempatkan teori di depan untuk diuji, sementara membangun teori berada di belakang setelah data dan analisis dilakukan. 

  

Oleh karena itu, perhatikan relevansi atas teori yang digunakan dengan masalah yang akademis diteliti. Perhatikan relevansi teori yang digunakan dengan tujuan penelitian. Perhatikan teori apa yang akan dicabar atau direview di dalam penelitian dalam relevansinya dengan signifikansi teoretik penelitian.  contoh: menggunakan teori Konstruksi sosial untuk memahami tradisi Islam lokal pesisiran. Contoh: menggunakan teori fenomenologi Weber (in odre to motive atau motif tujuan yang bersifat internal) untuk memahami tindakan penganut tarekat di dalam kehidupan sosialnya). Contoh lain, misalnya  menggunakan teori dramaturgi untuk memahami tindakan keagamaan para pelacur.

  

Salah satu di antara keluhan mengenai karya akademis mahasiswa, termasuk di UTM adalah banyak karya tulis yang monoton. Teorinya bergerak dari situ ke situ dan sasaran kajiannya juga kurang bevariasi, misalnya kajian empiric tentang tradisi, fenomena sosial yang tidak variatif  dan kurang menggigit. Kekurangan seperti ini merupakan fenomena umum di banyak perguruan tinggi. Tampaknya memang diperlukan variasi metodologi, misalnya tidak hanya metode kuantitatif dan  kualitatif tetapi juga mixed methods dan kajian teks. Memang pada level 6 sesuai dengan KKNI, maka tugas akhir mahasiswa adalah menulis dengan pendekatan monodisipliner. Dengan demikian yang bisa didorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis pendekatan adalah mahasiswa program strata II (program magister) dan III (Program doktor). Sementara itu, untuk strata I (program sarjana) tetap berorientasi pada kajian atas satu masalah dalam cabang ilmu pengetahuan berdasar atas satu disiplin yang sama. 

  

Sementara itu yang juga diperlukan adalah kajian atas teks yang selama ini sudah dikenal atau bahkan yang belum dikenal. Misalnya kajian atas karya Al Mawardi tentang Al Ahkam Al Suthaniyah dengan pertanyaan dasar apakah konteks sosial dan politis yang memengaruhi Al Mawardi dengan gagasan relasi antara agama dan negara yang bercorak symbiosis mutualisme, atau misalnya konteks sosial politik apa yang melatari atas pemikiran Thaha Hussein yang menyatakan relasi agama dan negara bercorak secular. Maka harus dikaji suasana pemerintahan dan kemasyarakatan di kala itu, sehingga menghasilkan gambaran yang utuh tentang pengaruh konteks sosial politik kala itu. Contoh lain, misalnya pemikiran ibn Khaldun tentang teori ashabiyah, maka dapat dikaitkan dengan kelompok-kelompok sosial yang bisa dilacak dari aspek kesejarahannya. Pengaruh lingkungan alam, lingkungan sosial dan bahkan negara kala itu tentu berkontribusi atas lahirnya konsep ashabiyah.

  

Sesungguhnya, kajian teks yang kemudian melahirkan filsafat sosial tentu sangat menarik. Dan kontribusinya tentu akan sangat besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, untuk mengembangkan ilmu sosial tidak hanya dengan penelitian empiris akan tetapi juga kajian atas teks yang memang sungguh diperlukan. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.