(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Teori di dalam Ilmu Sosial (Bagian Satu)

Kelas Sosiologi

Membicarakan teori sosial sudah dilakukan semenjak para ahli sosiologi mencetuskan ilmu ini, misalnya August Compte, Max Weber, Emile Durkheim, Karl Marx , Athony Giddens, Peter L. Berger, Peter M. Blau hingga George Ritzer, Malcolm Waters dan Jonathan Turner. Ada perdebatan yang tidak kunjung selesai, sehingga tetap menarik untuk membicarakan apa dan bagaimana sebuah teori lahir, tumbuh, diperdebatkan, ditolak atau diterima hingga dewasa ini. Lalu yang terjadi adalah munculnya  pohon konsep atau pohon teori yang tidak habis-habisnya untuk diperbincangkan. 

  

Pada Kamis, 16/09/2021, saya diundang oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Pak Surohim untuk memberikan masukan bagi para mahasiswa untuk mempertajam tentang pemilihan teori dalam penelitian. Hadir juga sebagai narasumber adalah Pak Ahmad Zainal Arifin, PhD. (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Hadir juga di dalam zoominar ini adalah Pak Hisnuddin, Koordinator Prodi Sosiologi dan juga Pak Afifuddin, dosen Prodi Sosiologi UTM,  mahasiswa UTM dan juga mahasiswa UIN Sunan Ampel.

  

Saya perlu untuk menjelaskan terlebih dahulu sebelum menjelaskan lebih mendalam mengenai teori dalam penelitian social. Di antara yang perlu saya jelaskan adalah:  pertama, Konsep adalah generalisasi dari berbagai fenomena untuk menggambarkan fenomena yang sama. Misalnya kesejahteraan maka akan menggambarkan semua hal yang terkait dengan kepemilikan individu yang dapat dikonsepsikan sebagai sejahtera. Kemiskinan akan menggambarkan semua hal yang terkait dengan kondisi miskin pada  individu atau masyarakat. Seperti kemiskinan di pedesaan atau perkotaan. Pembangunan akan menggambarkan upaya untuk melakukan perubahan secara terencana pada suatu masyarakat, seperti pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.

  

Kedua, proposisi adalah hubungan antar dua konsep atau lebih yang memiliki rujukan empiris. Misalnya relasi antara pendapatan dan kesejahteraan. Semakin tinggi pendapatan semakin besar peluang kesejahteraan. Relasi antara tingkatan pendapatan dan kemiskinan. Semakin kecil pendapatan semakin besar peluang terjadi kemiskinan. Relasi antara tingkat pendidikan dengan literasi media sosial. Semakin tinggi pendidikan semakin  tinggi literasi medianya. Relasi antara profesionalitas dengan produk pekerjaan. Semakin tinggi profesionalitas semakin besar peluang produk pekerjaannya berkualitas. Semakin tinggi pendapatan semakin tinggi peluang mendapatkan kesejahteraan. Semakin tinggi pendidikan semakin besar peluang untuk memperoleh pendapatan yang besar.

  

Ketiga, Teori adalah proposisi tentatif atau relasi antar dua konsep atau lebih yang dapat diuji secara empiris. Teori merupakan elemen penting di dalam penelitian. Baik dalam penelitian kuantitatif maupun penelitian kualitatif, teori merupakan aspek penting dalam penelitian. Di dalam penelitian kuantitatif, teori berfungsi untuk diuji. Sedangkan di dalam penelitian kualitatif, teori berfungsi sebagai pemandu dalam analisis data. Penelitian kuantitatif disebut sebagai pengujian teori. Penelitian kualitatif untuk membangun teori. 

  

Keempat, Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ahli tentang apa yang menjadi subjek kajian suatu ilmu. Paradigma fakta sosial adalah pandangan bahwa yang menjadi subjek kajian ilmu sosial adalah barang sesuatu (thing) yang bersifat non fisikal, misalnya kelompok sosial, penggolongan sosial, solidaritas, altruisme, nilai, norma dan sebagainya.  Paradigma definisi sosial adalah pandangan bahwa yang menjadi sasaran kajian ilmu sosial adalah realitas sosial atau konsepsi, pemahaman atau konstruksi individu tentang fenomena sosial. Paradigma perilaku sosial adalah pandangan bahwa yang menentukan terhadap perilaku manusia adalah lingkungan sosial. 

  

Teori Struktural fungsional asumsinya bahwa perilaku masyarakat  ditentukan oleh struktur sosialnya. Atau struktur sosial itu fungsional dalam menentukan perilaku masyarakat. Setiap kehidupan masyarakat terdapat struktur sosial, misalnya di dalam institusi sosial, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya. Di dalam struktur sosial terdapat status, kedudukan, fungsi, norma dan nilai. Di dalam institusi sosial maka juga terdapat hal itu semua. Demikian pula di dalam institusi politik, budaya, agama dan pendidikan. Yang terkenal di dalam teori keteraturan sosial adalah Emile Dutkheim, dengan teorinya tentang bunuh diri, perilaku menyimpang, solidaritas mekanik, solidaritas organis, yang profan dan sakral.  Teori konflik sosial dikembangkan oleh Karl Marx, yang mengandaikan bahwa terjadi konflik antara buruh/pekerja dan pemilik modal. Para pekerja atau kaum proletar adalah pemilik kemampuan fisik, dan kaum borjuis adalah pemilik modal. Meskipun yang bekerja keras adalah para buruh tetapi yang menikmati hasilnya adalah para pemilik modal. Di sini terjadi alienasi. Teori struktural konflik dikembangkan oleh Ralf Dahrendorf yang intinya konflik sosial bisa ditentukan oleh faktor otoritas. Perbedaan otoritas dapat menyebabkan terjadinya konflik. Teori konflik fungsional dikembangkan oleh Lewis Coser yang intinya konflik sosial itu tidak hanya berfungsi negatif tetapi juga berfungsi positif. Ada sejumlah proposisi yang dapat dikaji berdasar atas teori konflik fungsional.   

  

Teori fenomenologi dikembangkan oleh Max Weber, Schultz dan Peter L Berger. Di dalam pandangan Weber bahwa tindakan manusia ditentukan oleh faktor internal atau in order to motive. Yang menentukan tindakan manusia adalah apa yang menjadi kesadaran dari dalam dirinya. Schultz beranggapan bahwa yang menentukan tindakan manusia adalah faktor eksternal atau because motive. Yang menentukan tindakan individu adalah faktor dari luar dirinya. Berger beranggapan bahwa tindakan manusia merupakan dialektika eksternalisasi atau adaptasi diri dengan dunia sosialnya, eksternalisasi atau interaksi diri dengan dunia sosialnya dan internalisasi adalah identifikasi diri di dalam dunia sosialnya.  Teori dramaturgi berpandangan bahwa kehidupan manusia berada di dalam area panggung depan dan belakang. Kehidupan manusia itu seperti drama, di mana antara front stage dan back stage itu tidak selalu sejalan atau sama. Teori Etnometodologi berpandangan bahwa kehidupan sosial itu dapat dipahami dari dunia sehari-hari manusia. Meskipun seperti biasa saja, namun ada yang terkadang sangat mendasar dan penting. Melalui breaching experiment, maka daat diketahui hal yang sangat biasa ternyata bermakna luar biasa. Teori Interaksionisme simbolik, yaitu bahwa tindakan manusia itu ditentukan oleh simbol-simbol yang saling dipahami maknanya. Manusia bisa memberikan apresiasi kepada yang lain dengan lambang-lambang fisikal yang bisa dipahami maknanya. 

  

Dengan demikian, berbagai ragam paradigma dan teori yang sudah dihasilkan oleh para ahli tentu bisa digunakan untuk melakukan penelitian sejauh teori tersebut memiliki relevansi dengan sasaran kajian yang sudah dipilih oleh penelitinya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.