(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Abu Fida: Jalan Berliku Menuju NKRI (Bagian Satu)

Khazanah

Sungguh webinar yang diselenggarakan oleh Nur Syam Centre (NSC), pada Kamis, 11/11/2021, merupakan acara yang sangat menarik. Bukan karena temanya yang terkait dengan toleransi beragama, tetapi karena kehadiran Saifuddin Umar alias Abu Fida pada acara ini. Ustaz Abu Fida menjelaskan tentang bagaimana beliau terpapar virus radikalisme atau ekstrimisme sampai bagaimana Beliau kembali ke pangkuan NKRI. Beliau ceritakan secara mendasar tanpa ada tedeng aling-aling, bahkan terkesan bahwa Beliau memang memerlukan untuk menjelaskan dirinya tentang kehidupannya.

  

Ustaz Abu Fida dilahirkan di Surabaya 26 Januari 1966. Sekarang  bekerja sebagai wiraswasta. Ustaz Abu Fida membuat toko  di depan rumahnya , di Jalan Sidotopo Lor No 70 A, Surabaya. Beliau menyatakan kepada saya: “alhamdulillah saya baru saja menyelesaikan S2 di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Tesis saya membahas tentang toleransi beragama menurut Ibnu Taimiyah”. Saya tidak tahu persisnya apa judul tesisnya, tetapi yang menarik Ustaz Abu Fida tertarik tentang toleransi beragama. Sungguh suatu perubahan yang luar biasa di dalam kehidupannya.

  

Ustaz Abu Fida menyelesaikan pendidikan kanak-kanak di TK Aisyiyah. Beliau menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Sidotopo Wetan Surabaya, tahun 1978. Kemudian melanjutkan SMP di Pondok Modern Gontor sampai SMA lulus tahun 1984. Tuhan menakdirkannya untuk mengabdi pasca SMA di Pondok Gontor di Pesantren Ngruki Solo Jawa Tengah, tahun 1984-1985. Kemudian melanjutkan ke Ma’had Lughah Muhajirin di Damaskus Syria (1985-1986), terus ke Kulliyah Mujtama Islami Fakultas Tarbiyah Islamiyah  Zarqa Yordania. Kemudian melanjutkan studinya di  Mulazamah di Faishal Abad Pakistan dan Afghanistan bersama Syekh Usamah bin Ladin dan Syekh Abdullah Azam, tahun 1988-1990. Kemudian melanjutkan lagi studinya di Universitas Ummul Qura Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Jurusan Aqidah Islamiyah Mekkah Saudi Arabiya. 

  

Dalam satu kesempatan beliau menyatakan: “saya seangkatan, satu fakultas dan satu jurusan dengan Kyai Said Aqil Siraj. Beliau menjadi ketua Umum PBNU dan saya menjadi seperti ini”. Sebuah ungkapan tulus yang disampaikannya kepada saya. Kiranya, Ustaz Abu Fida ini orang seiring dengan Kyai Said Aqil, hanya saja bersimpang jalan. Kyai Said Aqil kembali ke Indonesia mengabdikan diri di NU, sedang Ustaz Abu Fida melanglang dunia kekerasan di Pakistan, Afghanistan, Iraq dan Syria. Saya meyakini bahwa semua ini tentu takdir Tuhan. Secara nalar, bagaimana orang secerdas Beliau bisa menjadi bagian dari kehidupan keagamaan yang penuh dengan kekerasan. Beliau menyatakan: “saya menjadi ekstrimis karena buku dan saya keluar dari ekstrimisme juga karena buku”. 

  

Beliau memilih berjuang dengan sesama kaum ekstrimis dalam waktu yang panjang. Pada saat mengabdi di Ngruki, tahun 1985, maka beliau masuk menjadi anggota Darul Islam (DI) dan Negara Islam Indonesia (NII). Pada tahun 1993 aktif di Jamiyah Islamiyah (JI), lalu tahun 2004 ditangkap Densus 88 karena diduga teroris yang menyembunyikan informasi pelaku teroris Noordin M Top dan Dr. Azahari. Belum masuk Lembaga pemasyarakatan karena sakit. Tahun 2014 ditangkap Densus 88 karena issu ISIS, yaitu ikut mendeklarasikan ISIS di Solo Jawa Tengah. Dituntut Jaksa empat tahun penjara dan divonis hakim tiga tahun penjara. Ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok selama dua tahun, selanjutnya dipindah ke Lapas Magelang Jawa Tengah selama satu tahun. Bebas bulan Mei 2017. 

  

Beliau tertarik dengan gerakan radikal semenjak di Pesantren Gontor, dan menuai pematangannya di Pesantren Ngruki. Di bawah asuhan dan bimbingan Kyai Abu Bakar Baasyir, maka Beliau semakin memantapkan untuk berjihad di jalan Allah melalui gerakan Islam radikal. Dari Ngruki inilah beliau malang melintang dalam dunia ekstrimisme. Beliau berjuang di Afghanistan dalam kerangka membantu rakyat Afghanistan melawan invasi Uni Soviet. Di sinilah beliau berkenalan dengan Gerakan kanan radikal yang sesungguhnya dibina oleh Amerika untuk melawan dan mengusir penjajah Uni Soviet. Tetapi yang menarik meskipun beliau itu berperang melawan kezaliman tantara Uni Soviet, tetapi tidak lupa untuk terus belajar. Makanya, dia mengikuti kegiatan belajar di beberapa tempat di Yordania  maupun di Afghanistan. Semangat jihadnya dalam konteks perang menjadi semakin kuat melalui perjumpaanya dengan Syekh Abdullah Azam salah seorang penulis yang luar biasa pengaruhnya di dunia Islam hard liner dan bahkan juga dengan Usamah bin Ladin. Melalui mereka berdua, maka semangat untuk berperang menjadi sangat kuat dan mandarah daging. Beliau menyatakan: “jika orang membaca karya Abdullah Azam dan tidak menjadi pengikutnya itu aneh. Begitu kuatnya karya Syekh Abdullah Azam itu sebagai pedoman atas tindakan beragama yang ekstrim”.

  

Beliau menyatakan bahwa “dari mana orang terpapar radikalisme, maka dari situ pula orang akan keluar. Saya terpapar virus radikalisme dari buku, maka saya keluar dari radikalisme dari buku pula”. Jika seseorang mendengarkan paparan tentang  keterlibatannya di dalam dunia radikalisme dari sumber utama, Syekh Azam dan Usamah, maka rasanya tidak mungkin Ustaz Abdu Fida akan bisa kembali ke pangkuan NKRI. Kala di lapas itulah beliau memperoleh pencerahan. Beliau yang selama ini beranggapan bahwa orang yang bukan komunitasnya, kaum ekstrimis, dianggap sebagai kafir dan perlu diperangi, maka justru suatu ketika beliau dinyatakan sebagai orang kafir. Dari situlah kemudian terjadi perdebatan dan akhirnya dia harus membaca buku-buku tentang Islam. Di antaranya adalah karya Ibnu Taimiyah. Selama ini karya Ibnu Taimiyah menjadi pedoman kaum ekstrimis.   Yang  memberikan fatwa agar berperang melawan orang yang dianggap kafir adalah Ibnu Taimiyah. Jihad dalam konteks perang adalah pandangan Ibnu Taimiyah. Perang untuk memerangi orang kafir di mana saja adalah Ibnu Taimiyah. Makanya beliau kaji buku Ibnu Taimiyah dan ternyata Beliau mendapatkan pencerahan. Bahwa yang dimaksud Ibnu Taimiyah adalah para penjajah dan negara yang tidak memberikan pelayanan terhadap umat beragama. Dari memahami karya Ibnu Taimiyah ini, maka beliau akhirnya pada kesimpulan bahwa tidak selayaknya orang Islam memerangi terhadap umat Islam, sebagaimana pemerintah dan umat Islam di Indonesia. 

  

Hanya saja ketika Beliau memutuskan untuk keluar dari jejaring Islam radikal juga ditentang oleh kawan-kawannya. Tetapi dengan keteguhan hati akhirnya dimantapkan akan kembali ke pangkuan NKRI. Beliau menyatakan: “Ibnu Taimiyah itu orang yang diholimi”.

  

Ustaz Abu Fida, yang saya sebut sebagai nama dalam media, atau Ustaz Saifuddin Umar kini telah kembali kepangkuan NKRI, dan beliau menyatakan bahwa NKRI sudah merupakan pilihan yang tepat bagi bangsa Indonesia yang plural dan multicultural. Jalan panjang yang dilaluinya bisa menjadi kaca benggala bagi anak-anak muda milenial, bahwa menjadi orang Islam yang hidup di Indonesia itu sama artinya dengan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia secara umum, yaitu menjadi umat Islam yang mendukung terhadap keberadaan negara dengan berbagai pilar kebangsaannya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.