(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Hadapi Covid-19 Dengan Spiritualitas

Khazanah

Pandemi Covid-19 telah menghantui hampir seluruh dunia. Wabah virus ini telah menyebabkan manusia menjadi ketakutan berlebihan atau paranoid, kecemasan luar biasa atau anxiety dan bahkan depresi atau tekanan  psikhologis yang luar biasa. Wabah ini telah mengubah kehidupan manusia menjadi berbeda dengan kebiasaannya. Tidak hanya kehidupan sosial tetapi juga kehidupan keberagamaannya. Manusia yang memiliki kecenderungan hidup berkelompok sebagaimana naluri sosialnya harus mengubahnya. 

  

Di seluruh sektor kehidupan harus diubah dalam rangka menghindari wabah penyakit yang satu ini. Sebagai penyakit kerumunan, maka siapa yang masih berkecenderungan berkerumun, maka akan sangat potensial untuk terkena atau tertular virus ini. Sungguh virus Corona telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan dalam banyak aspek kehidupan. Kehidupan sosial, ekonomi, politik dan bahkan agama harus diubah untuk tidak melawan karakter utamanya, yaitu penyakit yang menular karena kerumunan.

  

Banyak negara yang pertumbuhan ekonominya di bawah nol. Indonesia yang pada tahun 2020 diancangkan untuk tumbuh 5,2 persen, harus merevisi pertumbuhannya dan juga mengubah APBN yang semestinya berada di atas 2.200 trilyun menjadi 1.700 trilyun. Masih beruntung bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berada pada titik di bawah nol persen. Bahkan masih dinyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaik di Asia Tenggara. Dalam sektor kehidupan sosial juga terjadi banyak perubahan, terutama menyangkut kehidupan sosial, misalnya kegiatan kebersamaan, kegiatan yang melibatkan kerumunan dan sebagainya. Mall-mall menjadi sepi, perusahaan harus memperkerjakan 50% karyawannya,  birokrasi harus sering melockdown kantornya, dan sekolah menjadi tutup total. Kegiatan pengajian juga harus berhenti dan bahkan Jemaah haji pun ditunda sampai tahun yang memungkinkan. Pekerja harian dan pedagang asongan menjadi sangat menderita sebab ketiadaan sumber daya ekonomi yang didapatkan. Konon pendapatan mereka menurun lebih dari 70%.

  

Pandemi Covid-19 belum segera berakhir. Di sejumlah negara sudah dilakukan penyuntikan vaksin tetapi tentu belum bisa dilaksanakan secara keseluruhan. Sebagian besar warganya belum bisa dipastikan akan mendapatkan vaksin. Jumlah vaksin, tenaga medis dan jumlah penduduk yang besar tentu menjadi kendala agar mayoritas masyarakat akan menerima vaksin ini. Seharusnya jika 70 persen warga negara sudah disuntik vaksin, maka penyebaran wabah Covid-19 akan bisa dikendalikan. Namun untuk mencapai angka 70 persen tentu memerlukan waktu yang panjang.

  

Sebagian masyarakat memang sudah menerapkan usaha fisik agar bisa menjalani protocol kesehatan, misalnya dengan menggunakan masker, menjaga jarak atau physical distancing, mencuci tangan dengan hand sanitizer atau diterjen, menjaga kesehatan atau menjaga imunitas dan juga menghindari kerumunan. Usaha-usaha fisik sudah dilakukan agar wabah Covid-19 bisa direduksi dengan benar. Namun demikian, penyebaran wabah ini belum sepenuhnya bisa dilakukan. Pemerintah sudah membantuk tim-tim Gugus Tugas Covid-19, namun penyebaran virus  belum sepenuhnya bisa ditangani. Oleh karena itu, tetap terus diperlukan upaya untuk menetralisir pengaruh negative covid-19 atau bahkan menghilangkan pandemi, dan salah satunya adalah dengan usaha-usaha spiritual. 

  

Di dalam khutbah yang saya sampaikan di Masjid Al-Ihsan, Perumahan Lotus Regency, 13/02/21, saya sampaikan bahwa selain usaha fisik maka  juga diperlukan usaha spiritual. Saya mengutip Al Qur’an, Surat Al Taubah, ayat 51, yang berbunyi: “Qul layyushibana illa ma kataballahu lana huwa maulana wa ‘alallahi fal yatawakkalil mu’minun”, yang artinya kurang lebih adalah: “ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang sudah dtetapkan Allah untuk kami. Dialah penolong kami, dan hanya kepada Allah saja orang-orang mukmin harus bertawakkal”. Di dalam ayat ini terdapat tiga hal, yaitu: pertama, bahwa Allah sudah menentukan takdirnya untuk kita semua, seluruh manusia dan alam seluruhnya. Kebaikan atau kejelekan, senyuman atau tangisan, tertawa atau kesedihan, bekerja atau tidak berkerja bahkan bertaqwa atau tidak kepada Allah sesungguhnya sudah terdapat catatannya.  Bahkan takdir atau ketentuan Allah ini sudah diberikan 50 ribu tahun sebelum diciptakannya alam semesta.  Innallaha ‘ala kulli syai’in qadir. Jika demikian, maka wabah Corona-19  juga bagian dari takdir Allah SWT. Sebab tidak ada suatu fenomena, kejadian, musibah, masalah dan sebagainya di luar ketentuan Allah. Bahkan bisa saja siapa yang terpapar dan siapa yang tidak juga karena takdir Allah. Hanya saja manusia wajib berikhtiar agar selamat dari wabah Covid-19.

  

Kedua, hanya Allah penolong kami. Manusia berusaha dan Allah yang akan memberikan pertolongan tersebut. Di sinilah esensi doa dan usaha. Manusia harus secara fisik berusaha untuk menghindar dari wabah Corona-19, manusia juga harus berdoa kepada-Nya. Di sinilah disyariatkannya untuk melakukan ritual atau ibadah, berdoa atau berzikir untuk memohon kepada Allah agar pertolongan selalu diberikan kapan dan di mana saja. Di Surat Al Fatihah dinyatakan: “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. yang artinya kurang lebih: “kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan kepada-Mu ya Allah kamimemohon perlindungan”. Oleh karena itu sudah saatnya kita terus berdoa, misalnya: “Bismillahi al ladzi la yadhurru ma’a ismihi sya’iun fi al ardhi wa la fi as sama’ wa huwa as sami’un ‘alim”. Yang artinya kurang lebih: “Dengan Nama Allah yang bila disebut,  segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya. Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.  

  

Ketiga, orang mu’min harus bertawakkal kepada Allah. Orang yang beriman harus berpasrah diri kepada Allah. Orang mu’min harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan sepenuh hati, dengan sepenuh kepasrahan. Jika kita sudah menyerahkan semua ketentuan adalah kepastian Allah, maka tidak akan ada keraguan atau menyalahkan siapapun terhadap kejadian yang menimpa kita. Ada banyak orang yang sering mengambinghitamkan yang lain jika terjadi sesuatu –khususnya masalah atau musibah—tetapi yang benar adalah menyerahkannya kepada Allah. Namun demikian, jika harus melakukan introspeksi, maka yang penting adalah mencari penyebabnya dan kemudian menghindarinya. 

  

Ketentuan Tuhan, memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT, dan berserah diri kepada Allah SWT merupakan syariat Islam yang harus menjadi pedoman kita di dalam menghadapi segala kejadian yang menimpa kita. Aqulu qauli hadza fa as taghfirullah al adzim

  

Wallahu a’lam bi al shawab.