(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Hati, Nafsu dan Ekspresi Tindakan

Khazanah

Sebagaimana ngaji Selasanan yang selalu diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, maka pada pagi ini saya menjelaskan tentang Allah SWT sesungguhnya adalah Dzat yang melihat terhadap hati manusia dan tidak melihat pada jasad atau jisim dan rupa atau penampilan fisikal seseorang. Pengajian ini dimulai dengan membacakan Surat AlFatihah semoga dengan membaca surat Al Fatihah, maka semua urusan kita dimudahkan oleh Allah SWT. Syaiun lillah lahu alfatihah…

  

Di dalam Hadis yang dinukil di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam An Nawawi, bahwa Nabi Muhammad SAW mengungkapkan hadits sebagai berikut: “qala Rasulullah SAW, innallaha la yandzuru ila ajsamikum, wa la yandzuru ila shuwarikum, walakin yandzuru ila qulubikum” (Hadits Riwayat Imam Muslim). Artinya adalah: “bersabda Rasulullah SAW, sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan juga tidak melihat pada rupamu, akan tetapi Allah melihat pada hatimu”. 

  

Hadis ini memberikan gambaran bahwa Allah itu tidak melihat kita ini berasal dari mana secara etnis, tidak melihat apa warna kulit kita, tidak melihat akan suara kita, tidak melihat akan bentuk fisik kita dan rupa kita, akan tetapi Allah melihat akan hati kita. Sebagaimana diketahui bahwa hati adalah pusat dari gerak manusia. Hatilah yang mengarahkan apa dan bagaimana perilaku manusia. Hati merupakan sumber dari seluruh aktivitas manusia. Di dalam diri (tubuh) manusia terdapat segumpal daging atau disebut sebagai hati, yang apabila hati itu cenderung kepada kebaikan maka potensi diri  juga akan baik, dan sebaliknya jika hati itu berkecenderungan jelek, maka potensi diri juga akan melakukan kejelekan. 

  

Lalu apa itu sebenarnya hati itu? Di dalam pandangan khusus, bisa dinyatakan bahwa yang disebut hati adalah tempat bersemayamnya segala keinginan manusia atau tempat bersemayamnya segala nafsu. Jadi jika manusia itu terdiri dari roh, jasad, dan jiwa, maka hati adalah tempat di mana segala nafsu itu berkeinginan. Roh datang dari Tuhan, maka roh itu netral tidak memiliki keinginan apapun. Roh datang dari Tuhan, maka tentu ada dimensi ketuhanan yang melekat dengan roh. Jasad adalah badan (wadag) atau tubuh manusia yang tersusun dari sari pati tanah, sehingga bersemayam di badan adalah keinginan yang bersifat fisikal atau biologis. Keinginan makan, minum dan seksualitas adalah keinginan jasad sebagaimana binatang juga memilikinya. Jika menggunakan logika otak yang terdiri dari jutaan sel adalah pengatur perintah, maka hati adalah sumber perintah. Hati yang memerintahkan dan otak yang mengatur perintah dan bagian fisik lainnya adalah yang melaksanakan perintah. 

  

Inilah barangkali makna hadis yang menyatakan: “ala wa inna fil jasadi mudhghatan, wa idza shaluhat shaluhal jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluhu, ala wa hiya qalbun” (Hadis Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim). Artinya: “ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, jika ia baik maka akan baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka akan rusaklah seluruh jasad, ketahuilah bahwa ia adalah hati”.  Jadi hati adalah penggerak atas semua prilaku manusia. Jika hatinya sehat maka akan menghasilkan perilaku yang sehat, dan jika hatinya sakit maka akan menghasilkan perilaku yang sakit. Perilaku yang sehat diindikatori dengan kecenderungan untuk berbuat baik kepada sesama manusia, kepada Allah dan kepada alam atau yang dikonsepsikan sebagai hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam. Relasi yang baik dengan Tuhan ditandai dengan melaksanakan amal ibadah sesuai dengan perintah Allah SWT, relasi yang baik dengan sesama manusia ditandai dengan relasi yang baik kepada sesama umat manusia dan relasi yang baik dengan alam ditandai dengan perilaku menghargai alam sebagai subyek di dunia sehingga tidak dieksploitasi secara berlebihan. 

  

Jika roh adalah sumber kehidupan yang datang dari Allah, maka Qalbu atau hati adalah sumber keinginan atau nafsu. Di dalam diri manusia lalu dinyatakan terdapat nafsu mutmainnah atau nafsu yang digerakkan oleh hati yang bersih dan suci sehingga ekspressi tindakan adalah kebaikan demi kebaikan, misalnya jujur, terpercaya, memberikan kasih sayang, menunaikan amal ibadah, mengamalkan agama yang wasathiyah, dan menjaga relasi yang baik dengan sesama manusia dan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Lalu juga terdapat nafsu ammarah atau nafsu kebinatangan, yang selalu berkeinginan untuk memenuhi Hasrat dan tuntutan nafsu hayawaniyahnya. Urusan biologis selalu dipenuhinya dengan berbagai cara. Hal yang penting nafsu hayawaniyah tersebut terpenuhi di dalam kehidupannya.

 

Hakikat nafsu adalah hati manusia. Jika qalbun salim atau hati yang baik atau hati yang fungsional di dalam kehidupan untuk mengarah kepada kebaikan, maka perilaku manusia akan menjadi baik pula, tetapi jika qalbun maridh atau hati yang sakit atau hati yang tidak fungsional pada kebaikan, maka juga akan berakibat pada nafsu yang jelek atau tidak fungsional bagi kebaikan. Implikasi pada perilaku yang bersumber dari qalbun salim adalah bersyukur, sabar, tawakkal, ikhtiyar, berdoa dan semua perilaku baik bagi Allah, manusia dan alam semesta. Sebaliknya qalbun maridh akan menghasilkan nafsu serakah, mau menang sendiri, ingin menguasai orang lain, perilaku kejahatan, mencelakai orang lain, mendustakan kebenaran dan semua perilaku jahat yang terdapat di dalam dirinya.

  

Berdasarkan atas kajian ini, maka sesungguhnya bisa dipahami bahwa qalbu atau hati adalah sumber semua ekspressi perilaku, baik perilaku yang terpuji maupun perilaku yang tercela. Allah sudah menurunkan pedoman yang berupa agama Islam dengan kitab suci al-Qur\'an dan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.  Dengan  menjadikan Alqur’an sebagai pedoman dan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh dalam kehidupan, maka manusia insyaallah akan selamat fid dini, wad dunya wal akhirah. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.