(Sumber : wwww.nursyamcentre.com)

In Memoriam Cak Bambang Subandi, Dr. (Cand)., S.Ag., M.Ag

Khazanah

Di dalam perjalanan dari Tuban ke Surabaya, Sabtu Pahing (12/12/2020) tepatnya ketika akan memasuki gerbang  Tol Gresik-Surabaya, saya dan Moh.Yusral Fahmi bercanda tentang para mahasiswa terkait dengan bimbingan disertasi, sampai akhirnya bercerita juga tentang Cak Bambang Subandi. Di dalam guyonan itu saya sampaikan satu ucapan Cak Bambang, begitu saya memanggilnya, ketika Cak Bambang bersama Imron Rosyadi, dosen FSH UINSA yang sama-sama mengambil program doktor, bergurauan di rumah saya. Saya ingat betul yang diucapkannya: “Saya dan Imron tentu lebih pinter saya, tetapi kalau saya dan Imron ini sama-sama di dalam satu forum, pasti orang menganggap Imron lebih pinter, lha saya ini gak ada potongannya begini”. Lalu saya tertawa bersama-sama. Ceria sekali. 

  

Saya sungguh tidak memiliki firasat bahwa Cak Bambang akan segara menghadap kepada Rabbnya, yang pada sore harinya saya jadikan ucapannya sebagai bahan untuk bercanda. Saya baru tahu Cak Bambang meninggal waktu pagi harinya. Saya membaca WA Humas FDK dan di situ tertera kalimat yang menyatakan Cak Bambang Subandi Meninggal. Seperti kebiasaan saya, maka saya konfirmasi informasi ini kepada Imron Rosyadi, hanya sayangnya handphonenya tidak aktif, ternyata Cak Imron sudah pergi ke rumah duka di Mojosari, tepatnya di desa Ketidur, Pandan Pacet Mojokerto.  Setelah  saya yakin, maka baru saya kirim di WAG Humas FDK, yang isinya: “Ya Allah. Inna  lillahi wa inna ilaii rajiun. Kami semua kehilangan yang luar biasa atas meninggalnya Pak Bandi. Penguasaan ilmunya luar biasa. Semoga Pak Bandi  masuk golongan ahli surga. Amin ya Rabbal alamin”.  Lahu Al fatihah.

  

Maklum, Cak Imron dan Cak Bambang ini runtang-runtung kemana-mana. Termasuk juga menemani Cak Imron kalau sedang konsultasi disertasinya. Kala bertiga itu, maka tidak hanya guyonan yang menggairahkan tetapi juga terjadi perbincangan akademik yang sangat mendalam. Tentu juga terkait dengan rencana disertasinya, yang bertema hadits dalam perspektif strukturalisme. Jika sudah seperti itu pasti ada perdebatan yang lama dengan disertai gurauan yang menggembirakan.

  

Cak Bambang memang tipe orang yang di manapun dan apapun bisa menjadi bahan tertawaan, bahkan terkadang menertawakan dirinya sendiri. Candaan yang renyah dan pembicaraan yang penuh gelak tawa merupakan ciri khas yang selalu menghiasi pertemuan demi pertemuan dengan Cak Bambang. Siapapun akan mengakui bahwa Cak Bambang merupakan orang yang sangat ceria dan memberikan hiburan bagi siapa saja yang dikenalnya. 

  

Cak Bambang ini dosen yang memiliki pengetahuan keislaman yang sangat mumpuni. Beliau lama mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang, sambil menyelesaikan program strata satu di Institut keislaman Hasyim Asy’ari (kini Universitas Hasyim Asy’ari). Sebagai seorang santri tulen, maka beliau memiliki khazanah ilmu keislaman yang sangat baik. Beliau orang yang serius di dalam belajar. Makanya tidak heran jika Matan Alfiyah dihafalnya, dan juga penguasaan kitab kuningnya sangat baik. Ilmu fikih, ilmu hasdits dan ilmu tafsir dikuasainya sangat mendalam. Saya masih teringat di saat kami, Pak Imam Sayuti Farid, saya dan Cak Bambang menjadi doktor (alias mondok di kantor), maka Pak Bambang sering membaca kitab fikih, sayangnya saya lupa atau tidak tahu kitabnya dengan pemaknaan Jawa sebagaimana tradisi pesantren. Beliau memiliki talenta yang hebat dalam penguasaan teks-teks klasik karena penguasaan yang sangat mendalam tentang ilmu alat di dalam Bahasa Arab. Misalnya, Kitab Jurumiyah, Imrithi sampai Alfiyah dipahaminya dengan sangat baik. 

  

Di dalam pergumulannya dengan dunia akademik Cak Bambang juga talenta luar biasa. Kemampuan menulisnya sangat baik. Ketika saya kembali menjadi dosen di UIN Sunan Ampel, maka dihadiahkan kepada saya bukunya setebal 534 halaman yang berjudul “Manajemen Organisasi, Dalam Hadis Nabi” yang diterbitkan oleh INDEs, 2016. Buku yang sangat komprehensip sebagai dasar untuk memahami integrasi ilmu, menggabungkan antara ilmu keislaman (ilmu hadits) dengan ilmu sosial (ilmu manajemen). Andaikan Beliau tidak segera dipanggil oleh Allah SWT ke haribaannya, saya membanyangkan akan terdapat sejumlah buku atau artikel yang dihasilkannya dari pergulatannya dengan integrasi ilmu ini. Jarang ditemui orang yang memiliki kemampuan integratif seperti ini. 

  

Cak Bambang juga pengguna Bahasa Indonesia yang baik. Hal ini disebabkan beliau lama menjadi editor majalah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengadian Masyarakat (P3M) IAIN Sunan Ampel pada tahun 2000 awal. Jurnal “Paramedia” dan “Elijtima’i” mendapatkan sentuhan tangannya dalam berbahasa Indonesia yang baik dan baku. Bahkan sayapun dikritiknya dalam perbincangan santai tentang tulisan saya yang terkadang tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baku. Beliau  selalu menggunakan ukuran Majalah Tempo, dengan mottonya “Enak Dibaca dan Perlu”. 

  

Saya, dosen FDK dan bahkan UINSA tentu sangat kehilangan dengan wafatnya Cak Bambang yang sangat mendadak. Tidak didengar sakitnya tetapi tiba-tiba meninggal. Sesuai informasi yang kita terima beliau ternyata mengidap sakit jantung dan tidak mau medical check up. Makanya kita tidak tahu kalau beliau sakit. Lagi pula tampilannya yang selalu ceria dan guruannya yang jenaka tentu menjadi indikator bagi kita kalau beliau sehat wal afiat. Hanya dalam waktu dua hari beliau merasa sakit sehingga harus menginap di rumah sakit  dan akirnya ajal pun menjemputnya. Memang takdir mengenai kematian adalah milik Allah SWT dan manusia tidak bisa mempercepat atau melambatkannya. 

  

Cak Bambang merupakan sedikit dosen yang memiliki talenta menulis yang baik dan bernas. Saya teringat jika mengirim tulisan di NSC, tidak tanggung-tanggung dua atau tiga sekaligus. Jika sudah begitu maka tim NSC merasa senang sebab sudah ada tandon tulisan di media sosial ini. Saya teringat beberapa tulisannya yang dimuat di web ini, yang dikirimnya tiga tulisan sekaligus, yaitu: “Identitas Keilmuan Pesantren”, “Kompetisi Otoritas Agama” dan “Agama Sebagai Penasehat Sejati”. Tulisan-tulisan beliau ini luar biasa, yang memberikan gambaran tentang penguasaan Bahasa Arab dan juga masalah-masalah sosial di sekelilingnya. Tentang tulisan yang terakhir ini seakan merupakan pesan yang sangat mendalam kepada kita semua, bahwa agama merupakan penasehat utama di dalam kehidupan ini. Beliau bercerita tentang majelis yang  diselenggarakan oleh Hadratusy Syeikh Hasyim Asyari ba’da shalat Isya’ yang membahas tentang hadits tentang “Ad dinun nasihah” dalam kaitannya dengan keinginan mendirikan lembaga untuk kemaslahatan umat. 

  

Selamat jalan Cak Bambang, kita semua meyakini bahwa jalan lempang terbentang luas di hadapan sampeyan dalam menghadap Allah SWT. Ya Allah masukkan sahabat kita, Cak Bambang Subandi dalam lingkungan orang yang memperoleh ridla-Mu dan  dapat memasuki surga-Mu. Amin.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.