(Sumber : www.nursyamcentre.com)

In Memoriam Dr. H. Rudy Al Hana: Sang Lelaki Santun

Khazanah

Pada hari Kamis, 15/07/2021, saya membaca kabar tentang Pak Dr. Rudy Al Hana sedang sakit, bahkan dikabarkan sedang kritis di Rumah Sakit. Saya baca satu persatu WAG UINSA dan WAG Humas Dakwah karena saya selalu ingin meyakinkan apakah informasi tersebut benar. Setelah yakin, lalu saya WA Bu Prof. Husniyatus Salamah Zainiyati (dipanggil Bu Titik) dengan ungkapan seperti ini: “Bu mugi Pak Rudi enggal keparingan saras.Mugi Gusti Allah enggal bucal penyakitnya dan paring seger waras. Amin”. Bu Prof. Titik kemudian membalasnya: “Amin matur nuwun doanya Pak Prof”. 

  

Sebagaimana biasa, saya menyelesaikan tugas-tugas saya terutama membaca karya-karya mahasiswa program SI dan S2 UINSA, terutama tulisan untuk kepentingan submit di jurnal. Alhamdulillah  ada  tujuh tulisan mahasiswa Program Pascasarjana yang berhasil submit di jurnal. Baru submit  saja saya sudah senang, sebab sudah memberikan pengalaman bagaimana harus menulis di jurnal terindeks dan bagaimana mensubmitnya. Saya berikan catatan untuk diperbaiki dan jika sudah oke, saya minta untuk mengirim ke jurnal sesuai dengan temanya. 

  

Akhir-akhir ini, saya memang meluangkan waktu untuk membaca pesan di WAG, yaitu WAG UINSA, WAG Senat UINSA dan juga WAG Humas Dakwah, termasuk WAG FISIP UINSA. Saya memang jarang memberikan respon tetapi saya cermati berita-berita yang penting. Sampailah saya membaca berita, yang menyatakan Pak Rudy Al Hana wafat. Pesan Pak Jeje Abdurrazak, Ries Auliya, Ahmad Nur Fuad dan kemudian pesan Pak Rektor, Prof. Masdar Hilmy dan banyak lainnya.  Saya bukan tidak percaya, tetapi saya tabayyun ke pak Cholil dan dijawabnya melalui WA bahwa berita tersebut benar. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya lalu kirim pesan ke WAG UINSA: “Ya Allah kembali kami harus berduka atas wafatnya Pak Dr. Rudy Al Hana. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Ya Allah masukkan hambamu yang shalih ini  dalam surgamu. Amin”. 

  

Pak Rudy merupakan dosen yang sangat santun dan murah senyum. Saya teringat setiap kali bertemu beliau selalu saya tanya: “Kapan profesornya. Beliau dengan santunnya menjawab: “Sedang dalam proses Prof. Cuma ada problem sedikit sebab mata kuliah saya itu Studi al-Qur’an, sedangkan mata kuliah ini sudah tidak ada di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, terus disertasi saya tentang Pesantren, yang tidak secara khusus membahas ilmu al-Qur\'an. Problem ini yang masih belum terselesaikan”. Saya lalu menimpali: “Yang penting ditulis untuk jurnal yang berdekatan dengan disertasi sampeyan. Nanti di dalam pengusulan Senat disesuaikan dengan disertasi dan tulisan di jurnal. Mata kuliah bisa disesuaikan”.

  

Pak Rudy semula adalah guru pada MAN Ponorogo, lalu pada tahun 1998 beliau pindah ke IAIN Sunan Ampel untuk menjadi dosen. Seangkatan dengan Pak Cholil Umam mengenai kepindahannya. S1 ditempuh di IAIN Malang, pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) satu angkatan di bawah Pak Kholil dan satu angkatan di atas Istri beliau, Bu Prof. Titik. Hanya saja Bu Titik pada jurusan Bahasa Arab. Pak Rudy menyelesaikan kesarjanaannya di IAIN Malang pada tahun 1989. Setelah melanjutkan pada program Pascasarjana dan lanjut Program Doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya. Pak Rudy dan Bu Prof. Titik tentu sudah bertemu semenjak mahasiswa karena sama-sama aktivis mahasiswa di PMII Komisariat IAIN Malang. 

  

Pak Rudy merupakan dosen yang karyanya banyak, sebagaimana tercatat di Google Scholar, ada sebanyak 20 tulisannya yang tersebar baik dalam bentuk buku dan di berbagai jurnal, baik nasional maupun internasional.  Disertasinya di UINSA adalah “Eksistensi Pesantren Salafiyah: Perubahan dan Kesinambungan di Pondok Pesantren Langitan Tuban” tahun 2017. Tulisan beliau terbaru tentang “The Phenomenon of Online Islamic Boarding School Learning in the Era of Covid-19 Pandemic” yang diterbitkan pada jurnal Pendidikan Islam, 2021.

  

Pak Rudy dilahirkan di Ponorogo, pada 09 Maret 1968. Beliau bekerja pada Prodi Bimbingan dan Konseling Islam di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Pak Rudy menjadi PNS pada 01 Maret 1991. Beliau telah menduduki jabatan Lektor kepala. Jika menilik karya-karyanya sebenarnya untuk mencapai profesor hanya tinggal selangkah saja. Beliau juga sudah mengikuti program percepatan guru besar di UINSA. Tetapi takdir Gusti Allah tidak bisa ditunda walaupun sejenak, maka pada hari Jum’at, 19 Juli 2021, bbeliau telah dipanggil Allah SWT untuk menghadapnya. Pak Rudy meninggalkan dua orang putra, lelaki dan perempuan. Satu masih kuliah di Universitas Airlangga dan satu di Universitas Brawijaya. 

  

Pak Rudy merupakan sosok yang mudah bergaul, suka humor,  murah senyum dan sangat santun. Jika dengan saya menggunakan bahasa Jawa dan saya juga mengikutinya. Jika ke kantor untuk mengajar selalu membawa bekal, baik nasi ataupun makanan umbi-umbian. Nasi dimakan di siang hari dan polo pendem, seperti: singkong, ketela, atau kentang dimakan bareng sesama dosen. Bahkan terkadang membeli makanan gorengan di Mbak Badriyah dan diperuntukkan bagi kawan-kawan. Beliau sendiri tidak memakannya. Beliau sangat patuh pada kesehatan, setiap pagi hari mengelilingi perumahan. Pak Cholil bercerita bahwa dua pekan yang lalu masih sempat bertemu ketika jalan pagi, dan justru berpesan pada Pak Cholil: “Sampeyan itu seharusnya menjaga kesehatan di saat Covid begini. Usia kita sudah 50-an, seharusnya sudah tidak keluar kota”. 

  

Pak Rudy adalah orang yang disiplin dalam menjaga makan dan menjaga kesehatan. Selama pandemi Covid-19 juga tidak mengikuti kegiatan-kegiatan luring di kantor. Tetapi takdir berkata lain. Jika begini saya jadi teringat tulisan Pak Dr. Chalik, di cakrawalamuslim.com:  “Sudah Vaksin Masih Positif, Kita Bisa Apa?

    

Wallahu a’lam bi al shawab.