(Sumber : www.nursyamcentre.com)

In Memoriam Dr. Urip Rudi Subiantoro: Teladan Kesederhanaan

Khazanah

Tidak biasanya Pak Fatah, mantan Staf Ahli Menteri Agama, menelpon saya malam hari. Sejauh ini selalu kalau telpon mesti pagi hari. Jika ada yang penting pasti memakai WhatsApp saja. Tetapi Kamis, pukul 21.30, tiba-tiba Pak Fatah menelpon saya mengabarkan bahwa Pak Rudi meninggal dunia. Seperti biasa saya tanyakan kepadanya: “Pak Rudi siapa Pak?”, lalu dijawabnya: “Pak Rudi Subiantoro, Kabiro di UIN Sunan Ampel”. 

  

Tentu saya sangat terkejut mendengar berita ini, rasanya sangat mendadak. Hari Senin yang lalu, saya bertemu beliau di UIN Sunan Ampel. Tepatnya di ruang Bank Jatim Syariah. Waktu itu saya memperkenalkan Pak Rudi dengan Mbak Maya Bank Jatim Syariah. Saya nyatakan: “Mbak Maya ini kepala Biro UINSA yang baru. Sampeyan sudah sowan belum kepada Beliau”. Dijawabnya: “belum Pak”. Saya menimpalinya: “Wah terlambat itu, seharusnya sudah sowan kepada beliau”. Lalu saya tekankan: “pekan ini harus bertemu ya”. Saya tidak tahu apakah Mbak Maya sudah bertemu atau belum dengan Pak Rudi. 

  

Tidak lama perjumpaan saya dengan Pak Rudi, karena sopirnya sudah datang, sehingga Beliau bergegas akan ke toko obat. Mau beli herbal untuk menurunkan darah tingginya. Saya bicara dengan beliau sekitar tugasnya di UINSA. Saya bertanya: “Pak Rudy di Surabaya dengan Bu Rudi atau sendiri”. Maka seperti biasa dijawabnya dengan cengengesan: “wah ya harus dengan istri Prof. Nyonya khawatir kalau saya sendiri di Surabaya. Takut. Soalnya iman bisa kuat tetapi imin gak kuat”. Lalu saya tertawa terbahak-bahak bersama. Beliau melanjutkan: “saya kerasan di Surabaya, soalnya makanannya enak. Hampir tiap hari makan sop buntut kesukaan saya. Tapi ya ini, tensi saya naik”. Begitulah, pembicaraan saya dengan Pak Rudy. Jika ketemu meskipun sebentar pasti diwarnai dengan cengengesan alias guyonan yang terasa menyenangkan dan membahagiakan.

  

Sungguh sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Beliau akan meninggalkan kita semua. Saya masih ingat Beliau dengan gaya bicaranya yang cepat, jalannya yang cepat dan juga apa adanya. Beliau termasuk sosok yang apa yang dipikirkan lalu dinyatakan. Selalu berterus terang. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tok slorok bahasanya orang Ponorogo. Makanya, saya sungguh sangat terkejut mendengar berita kewafatannya dari Pak Fatah. Setelah itu lalu saya kontak Pak Rijal. Ternyata tidak ada jawaban. Akhirnya Pak Rijal kontak saya, dan seperti biasanya lalu saya ungkapkan agar dibawa ke Jakarta dengan naik ambulan saja, kalau naik pesawat ribet. Dan jangan lupa harus ada pejabat yang mengantarkan dan menyerahkan ke keluarga di Jakarta. Etika birokrasinya seperti itu”. Lalu saya juga WA Pak Rektor dengan tema yang sama.

  

Pak Rudi ini orang yang sangat menyukai pakaian jaket. Makanya ke mana-mana selalu saya lihat Beliau berjaket. Jaket hitam yang biasa digunakannya. Baik pakaian batik atau warna polos selalu jaket dikenakannya. Saya tidak pernah menanyakannya mengapa selalu berjaket.  Beliau seorang pegawai negeri yang disiplin, sehingga baik perjalanan karirnya. Beliau adalah kawan yang menyenangkan. Suko humor dan bicara apa adanya. Kalau senang diungkapkan kalau tidak suka juga diutarakannya. Bagi yang mengenal  Beliau lebih dalam maka akan melihat seorang  ASN yang berintegritas, bertanggungjawab dan bisa menjadi teladan.  

  

Setelah informasi itu, maka di WAG UINSA maupun WAG Humas Dakwah menjadi ramai berita kewafatan Beliau. Saya yakin bahwa para kolega di UINSA juga pasti kaget sebab kematian Beliau yang terasa sangat mendadak. Saya lihat berikutnya WAG di FISIP UINSA, WAG Asyaraqolan, dan WAG Dharma wanita dan ibu-ibu juga ramai ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun disertai dengan doa agar arwah Beliau diterima di sisi Allah SWT. 

Saya mengenal Pak Rudi tentu sebelum saya di Jakarta. Secara  temporal saya bertemu dengan Beliau pada waktu saya menjabat sebagai Purek II dan Rektor IAIN Sunan Ampel. Pertemanan saya menjadi sangat akrab ketika saya di Jakarta. Pada waktu saya di Jakarta, Pak Rudy menjadi eselon III di Biro Hukum dan Kerja sama Luar Negeri. Lama Beliau di situ, sehingga relasinya dengan para dosen yang sekolah di luar negeri sangat akrab. Beliau sering menyatakan banyak menolong para dosen yang akan belajar ke luar negeri. Beliau diangkat menjadi pejabat eselon II pada waktu saya menjabat sebagai Sekjen Kemenag. Tepatnya Beliau diangkat menjadi Kepala Pusat Humas, Data dan Informasi (HDI) pada Sekretariat Jenderal Kemenang. Kalau tidak salah tahun 2016. Seiring perjalanan waktu Beliau dirotasi menjadi Kepala Biro di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berkarir di UIN Syahid, lalu tiga tahun dipindahkan ke Balitbangdiklat tepatnya menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Kapusdiklat) Administrasi Tenaga Administrasi. Beliau nyaman berada di posisinya tersebut. Dan saya masih ingat beliau pernah mengundang saya dalam workshop Penelitian untuk para pejabat administrasi di UINSA. Tidak hanya saya juga para mantan pejabat eselon I lainnya, seperti: Prof. Abd. Jamil, Prof. Abdurrahman, Prof. Nurkholis Setiawan. Beliau bercerita: “agar para mantan pejabat itu bisa menularkan pengalamannya kepada para tenaga administrasi”. Ada tiga kali saya dimintanya untuk memberikan materi di dalam workshop, dan yang terakhir di Badiklat Surabaya dengan tema “menjadi guru yang berwawasan moderasi beragama”.  

  

Ketika selesai dilantik menjadi kepala Biro di UINSA, maka beliau bersama istrinya datang ke rumah saya. Pak Rudi sudah berkali-kali datang ke rumah. Rasanya setiap ada acara di Surabaya mampir ke rumah saya. Mungkin tiga atau empat kali. Pada waktu Beliau datang ke rumah bercerita tentang kepindahannya di Surabaya, saya masih mengingatnya: “saya tinggal satu tahun lebih sedikit Prof akan pensiun, eh tahunya dirotasi ke Surabaya. Sebagai PNS saya akan patuh dan tunduk kepada keputusan pimpinan”. Dijalaninya hidup di Surabaya bersama isterinya, dan tinggal di GreenSA di jalan Juanda. Di situlah beliau menetap kurang dari sebulan. Beliau sempat dibawa ke Rumah Sakit Mitra keluarga di Waru setelah merasa lemas, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di tengah jalan. 

  

Jabatan terakhir yang  diemban adalah Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerja sama (AAKK)  pada UIN Sunan Ampel. Beliau dilantik oleh Menag, Yaqut Chalil Qoumas, 18 Mei 2021. Belum genap  sebulan Beliau berkarir di Surabaya ternyata Tuhan yang Maha Esa sudah berkenan memanggilnya.

  

Saya pernah sekali datang di rumahnya, sebuah rumah yang sederhana dihuni dengan isteri dan anak semata wayangnya. Sebagai seorang pejabat, sama sekali tidak ada tanda-tanda beliau berlebihan. Beliau tinggal di gang kecil tetapi mobil bisa lewat. Rumah yang dihuninya semanjak hidup di Jakarta. Saya masuk ke rumahnya dan tidak ada tanda-tanda yang membuat saya merasakan kelebihan-kelebihan. Beliau sederhana dalam berpakaian, berkendaraan dan juga rumahnya. Beliau rasanya merupakan  seorang pejabat yang bisa menjadi teladan dalam kehidupan. Beliau tidak tergerak untuk merengkuh kekayaan dalam kehidupannya.  

  

Pak Rudi kini telah tiada. Tetapi kebaikan dan kesederhanaannya tentu akan bisa dikenang oleh para sahabat dan pejabat di Kemenag. Selamat jalan Pak Rudi, saya yakin penjenengan adalah orang yang sangat layak untuk menjadi penghuni surganya Allah SWT. Lahu al fatihah.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.