(Sumber : www.nursyamcentre.com)

In Memoriam Prof. Dr. KH. A. Faisol Haq

Khazanah

Saya mengenal Prof. A. Faishol Haq sewaktu sama-sama menjadi mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1980-an. Beliau belajar di Fakultas Syariah dan saya belajar di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Kami bersama belajar berorganisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada Komisariat Besar (Kombes) IAIN Sunan Ampel. Selain itu juga menjadi aktivis di Senat Mahasiswa IAIN Sunan Ampel pada tahun 1980-an. Saya tidak ingat persisnya tahun berapa. 

  

Beliau adalah senior saya. Saya angkatan 1978 dan beliau 1973. Prof.  Faishol adalah kakak kelas satu tingkat dari Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA, dan sama-sama aktivis di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel. Beliau lahir tanggal 20 Mei 1950 di Bondowoso. Sebagai guru besar maka Beliau pensiun pada usia 70 tahun. Dan tanggal 1 Mei 2020 Beliau pensiun. Beliau sekarang sedang diajukan untuk menjadi Guru Besar Emiritus pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel. Akan tetapi  Allah telah memanggilnya, tepat tanggal 11 November 2020. Jadi beliau wafat beberapa bulan setelah pensiun. Beliau meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Lahu Alfatihah.

  

Sewaktu mahasiswa, kami memang tidak terlalu akrab, sebab memang berbeda fakultas. Biasa saja sebab perbedaan fakultas tentu menyebabkan relasi sosial di antara kita tidak sebagaimana yang sesama satu fakultas. Kawan-kawan saya tentu adalah para mahasiswa Fakultas Dakwah dan kawan-kawan Pak Faishol adalah sesama Fakultas Syariah. Kami dipersatukan karena sesama anggota PMII pada IAIN Sunan Ampel. 

  

Prof. Faishol memang ‘alim semenjak dahulu. Beliau bertempat tinggal di Pesantren Darul Arqom di Wonocolo, di bawah asuhan Kiai Abdul Fatah.  Sebuah lembaga pendidikan tahfidz yang menjadi tempat bagi mahasiswa yang belajar menghafal Al-Qur’an. Tetapi tidak semua mahasiswa yang bertempat tinggal di pesantren adalah para penghafal Al-Qur’an. Kawan-kawan seangkatan saya memanggilnya dengan sebutan Kak Faishol. Sebagai mahasiswa yang belajar di Fakultas Syariah, maka penguasaan tradisi teksnya tentu sangat baik. Memang beliau berlatar belakang santri. Semenjak muda sudah menjadi santri pada Pondok Pesantren Nurut Taufiq Burneh  Bangkalan di bawah asuhan Kiai HA. Munif. 

  

Hubungan kami menjadi akrab ketika menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel). Saya masih ingat betapa sopan dan santunnya beliau yang satu ini. Tatakrama dan bahasanya santun sekali. Selain juga wajahnya yang teduh dengan kulitnya yang putih. Nyaris tidak pernah lepas kopyah hitamnya, dan tas tenteng yang dibawanya. Memakai kopyah itu tidak hanya ketika di tempat mengajar saja, akan tetapi di manapun kita bertemu beliau dipastikan kopyah hitamnya tidak ketinggalan. Jika bertemu sebelum saling menyapa, maka gaya senyumnya yang khas, khas seorang santri yang ‘alim ilmunya dan  sangat baik tindakannya.

  

Beliau dikenal sebagai pendakwah yang handal. Ada banyak ceramahnya yang diunggah di youtube oleh pengundangnya. Demikian pula  buku-bukunya. Yang dengan gampang di-googling adalah bukunya “Hukum Perwakafan di Indonesia” yang diterbitkan oleh Rajawali Press. Beliau memang ahli dalam ilmu tafsir dan fiqh, makanya beliau merupakan Guru Besar Ilmu Fiqh di UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau menyelesaikan pendidikan program sarjana  di IAIN Sunan Ampel, Strata 2 di IAIN Sunan Ampel dan Strata 3 di IAIN Sunan Ampel. Beliau merupakan tipe dosen yang telaten, sehingga bisa menyelesaikan pendidikan pada usia yang tidak muda. Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel dan karir yang membanggakan adalah sebagai Professor di bidang ilmu agama. Selain sebagai dosen di almamaternya, Prof. Faishol juga aktivis organisasi. Di NU, di Badan Wakaf Indonesia, Jawa Timur dan juga Majelis Ulama Indonesia provinsi Jawa Timur.  

  

Saya tentu beruntung bisa satu forum bersama beliau, ketika diundang oleh Dekan FEBI, Dr. Ah. Ali Arifin dalam kerangka halal bi halal pada civitas akademika di FEBI. Saya ingat betul, sebab saya yang memberikan wawasan tentang tantangan ke depan PTKIN, khususnya FEBI dan Prof. Faishol yang memberikan taushiyahnya di bidang agama. Saya masih ingat benar tema ceramah yang dibawakannya, yaitu tentang infaq dan sedekah serta kekuatan dahsyatnya. 

  

Beliau sampaikan bahwa infaq merupakan amalan ajaran Islam yang memiliki kekhasan tersendiri. Beliau bercerita tentang pengalaman infaq setiap hari yang dilakukan untuk masjid. Beliau menyatakan: “Saya rundingan dulu dengan istri, berapa yang pantas untuk infaq setiap hari. Kalau Rp20.000 setiap hari banyak juga jumlah uangnya untuk setiap bulan, maka bersama istri diputuskan infaq ke masjid sebesar Rp10.000,-. Infaq ini dilakukan setiap hari, dan ada hal-hal yang tidak masuk akal”. Beliau melanjutkan: “Pada suatu hari kami kedatangan tamu di saat saya akan bepergian ke Jawa Tengah. Ketika tamu itu pulang,  lalu saya diberi amplop. Ternyata isinya uang. Dan jumlahnya ternyata bisa digunakan untuk bepergian pulang pergi. Masyaallah begitulah Allah SWT memberikan balasan di dunia bagi yang suka berinfaq. Dan di akhirat Allah SWT juga akan membalasnya dengan balasan yang setimpal.” Begitu beliau menguraikan makna infaq.

  

Apa yang Beliau sampaikan di FEBi itu benar-benar menjadi ingatan saya, betapa pentingnya untuk bersedekah,  berinfaq atau jenis-jenis gerakan philanthropy lainnya. Andaikan setiap jamaah yang secara ekonomi bisa berinfaq ke masjid setiap hari dalam jumlah Rp10.000 saja maka akan terkumpul dalam jumlah besar kas masjid di Indonesia. Katakanlah umat Islam yang shalat subuh sebanyak 50 juta orang saja, maka setiap hari akan terdapat kas berjumlah Rp. 500.000.000, dan Rp. 15.000.000.000 setiap bulan. Alangkah hebatnya infaq tersebut. 

  

Melalui ceramah Prof. Faishol Haq ini seharusnya menjadikan kita sebagai orang yang sadar infaq, khususnya di Masjid, sehingga akan menjadikan masjid sebagai institusi keagamaan yang andal dan mampu untuk berswasembada dana untuk kepentingan pengembangan masyarakat Islam di manapun berada atau mengembangkan program-program yang bersentuhan bagi masyarakat Islam. 

  

Selamat jalan Prof. Faishol, kita semua berdoa semoga Prof. Faishol kembali ke hariban-Nya dengan senyuman merekah.   Amalan kebaikan yang Prof. Faishol telah tanamkan tentu akan menjadi saksi akan kebaikan yang akan Prof. Faishol terima balasannya dari Allah SWT. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.