(Sumber : www.nursyamcentre.com)

In Memoriam Prof. Dr Tsuroya Kiswati, MA

Khazanah

Kala saya membaca informasi di WAG UIN Sunan Ampel tentang wafatnya Ibu Prof. Dr. Tsuraya Kiswati, MA., maka ingatan saya justru kepada adik almarhumah, Prof. Dr. Saiful Anam, MA yang telah mendahului beliau sekian tahun yang lalu. Saya ingat Ketika Pak Saiful wafat, saya masih di Jakarta, dan saya menangis mendengar beliau waktu itu meninggal. Saya teringat bahwa sekitar sebulan sebelumnya Pak. Saiful  datang pada acara di rumah saya di Lotus Regency Surabaya dengan canda dan gelak tawa, dan akhirnya pada bulan berikutnya Pak Saiful mendahului kita semua. 

  

Saya dengan Pak Saiful memiliki hubungan yang sangat dekat melebihi seorang sahabat, sehingga dengan Ibu Prof. Dr. Tsuraya Kiswati juga memiliki relasi yang sangat baik. Masih terngiang, jika saya bertemu Beliau maka selalu saja sapaannya: “ehhh Pak Sekjen”. Sapaan khas itu yang selalu saya kenang sebagai bentuk persahabatan yang tulus. Beliau adalah dosen perempuan pertama yang memperoleh jabatan guru besar di IAIN Sunan Ampel, kini UIN Sunan Ampel. Beliau ahli dalam Bahasa Arab. 

  

Prof. Kiswati, atau Bu Kis begitulah biasanya saya memanggilnya adalah guru Besar UIN Sunan Ampel. Beliau lahir 22 Pebruari 1952 dan meninggal tepat pukul 03.40 WIB, hari Rabo, 12 Mei 2021 Masehi atau bertepatan tanggal 30 Ramadlan 1442 Hijriyah.  Beliau meninggal pada bulan Ramadlan, bulan penuh ampunan. Makanya kita yakin bahwa Beliau termasuk orang yang baik yang insyaallah akan dimasukkan dalam surganya Allah SWT.  

  

Beliau banyak menulis buku di dalam Bahasa Arab, misalnya: Tarikh al Lughah al Arabiyah, Min al Qadaya  al Mushtarak al Lafdzi fi al Lughah al Arabiyah, al ‘Ilm al bayan, al Suwar al Bayaniyah bain al Nadzariyah wa al Tatbiq, A’lam al A’rab al Juwaini Imam al Haramain. Beliau menyelesaikan studi Strata 1 pda Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel dan dilanjutkan ke jenjang Pendidikan Strata 2 pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan program doktor pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  

Sewaktu mahasiswa beliau aktif pada organisasi kemahasiswaan, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel. Namun demikian, Beliau memiliki hubungan yang sangat baik dengan kawan-kawan PMII. Saya teringat Beliau dulu satu kost dengan Bu Shofiyah Asmu. Bu Shofiyah Asmu di masa lalu adalah mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel seangkatan dengan saya. Meskipun keduanya berbeda organisasi kemahasiswaannya, namun hubungan keduanya sangat akrab. Bu Shof begitu biasa saya memanggil adalah aktivis PMII Rayon Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Di masa lalu, perbedaan organisasi tidak menjadikan sekat-sekat relasi antar mahasiswa. Kira-kira dengan bahasa yang sederhana: “satu kost beda  organisasi”. Begitu akrabnya hubungan antara Bu Prof. Kiswati dengan Bu Shofiyah ini, maka Bu Shof selalu memanggil dengan sebutan Mbak Kis saja. Maklumlah bahwa di antara mereka memiliki hubungan senior dan yunior. Saya kira hubungan persahabatan itu tidak terputus hingga Bu Shof purna tugas dari UIN Sunan Ampel Surabaya.

  

Sebagai mahasiswa Fakultas Adab, maka Bu Prof. Kiswati memiliki kelebihan dalam Bahasa Arab. Makanya semenjak bebas kuliahpasca kuliah doktoral 2 maka beliau mengajar di Lembaga Bahasa IAIN Sunan Ampel yang dipimpin oleh Pak Drs. Abdul Syakur Thawil. Pak Syakur Thawil adalah tipe pimpinan yang sangat disiplin, sehingga sebelum perkuliahan Lembaga Bahasa dimulai pada jam 07.00 WIB, maka beliau pasti sudah berada di kantor. Dari situlah kira-kira Bu Prof. Kiswati belajar kedisiplinan dalam mengarungi program pembelajaran. Pada tahun 1978 saya teringat Pak Thoha Hamim, Pak Syafiq, Bu Kiswati, Bu Juwariyah sudah mengajar pada Lembaga Bahasa IAIN Sunan Ampel. 

  

Di masa lalu, banyak mahasiswi IAIN Sunan Ampel yang pada waktu musim haji dipekerjakan sebagai pramugari. Mereka adalah pramugari pesawat Garuda khusus pada musim haji. Waktu itu memang dicari mahasiswi yang berkemampuan Bahasa Arab yang baik, sehingga Bu Prof. Kiswati adalah salah satu mahasiswi yang beruntung karena setiap tahun bisa pulang balik Surabaya, Jakarta dan Jedah. Tentu menjadi kebanggaan bisa menjadi pramugari yang bertugas khusus untuk mengantar Jemaah haji Indonesia.

  

Bu Prof. Kiswati juga aktivis gender. Beliau adalah sosok yang mengawal pada tahun-tahun berkembangnya Pusat Studi Gender (PSG). PSG ini bukan Club Sepak Bola Perancis, Paris St. Germain (PSG) yang belum pernah memenangkan Piala Champion, meskipun diperkuat oleh Mbape dan Neymar Jr. Ada banyak yuniornya yang kemudian terlibat di dalam berbagai pelatihan dan kajian tentang gender dalam kaitannya dengan kerja sama dengan Australia dan sebagainya.

  

Beliau sangat dikenal sebagai sosok yang sederhana, murah senyum dan berkomitmen pada pekerjaan. Hidupnya tidak neko-neko atau berlebihan. Orangnya santai tetapi serius dalam bekerja. Seingat saya, beberapa kali saya datang ke rumah Beliau yang asri dengan tanaman mangga. Hanya semenjak saya ke Jakarta tahun 2012 awal,  saya tidak pernah lagi datang di rumahnya. Beliau bagi saya adalah teladan dalam kesederhanaan, kedisiplinan dan keterbukaan dalam relasi antar manusia. Beliau sangat menghargai perbedaan sebagai sunnatullah dan inilah yang menjadi karakternya.

  

Selamat jalan ke hadlirat Ilahi Rabbi Bu Prof. Sebagaimana WA saya di WAG UINSA, maka saya nyatakan: “Inna lillahi wainna ilaihi rajiun." Ya Allah Masukkan Bu Prof. Tsuraya Kiswati dalam barisan Ahli Surga”. Amin. Laha al Fatihah…

  

Wallahu a’lam bi al shawab.