(Sumber : www.nursyamcentre.com)

In Memoriam Prof. Zainul Arifin

Khazanah

Saya memang tidak mengenal secara khusus pada Prof. Zainul Arifin, tetapi sebagai sesama kolega tentu saja saya mengenalnya dengan baik. Dalam konteks sebagai sesama dosen, anggota Senat UIN Sunan Ampel (UINSA) dan  juga kolega dalam jabatan di UINSA pada tahun 2010-an. Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Dekan I pada Fakultas Ushuluddin UINSA dan juga Asisten Direktur pada Program Pasca Sarjana UINSA.

  

Beberapa saat yang lalu, ketika saya diminta menjadi khatib di Masjid Agung Gresik, ketepatan saya kenal dengan kerabat Beliau, Pak Faqih. Beliau yang menjemput saya untuk khutbah tersebut. Pak Faqih datang pagi sekali ke rumah saya di Lotus Regency. Beliau shalat di Masjid Al Ihsan, masjid perumahan tempat saya selama ini bermukim. Kami tentu banyak berbicara dalam perjalanan dari dan ke Gresik tersebut. Pak Faqih bercerita bahwa dirinya berkerabat dengan Pak Zainul Arifin. 

  

Pak Faqih bercerita jika Prof. Zainul Arifin dulu sama-sama belajar di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Pak Faqih menyatakan: “Saya menjadi pengusaha dan Pak Zainul menjadi dosen. Beliau bisa meniti karir akademis sampai menjadi professor. Tentu saja keluarga membanggakannya sebagai orang yang sukses dalam pendidikan”. Begitu Pak Faqih menceritakan.  Prof. Zainul  menetap di Perum Griya Kembangan Kebomas Gresik. Pak Faqih menuturkan bahwa: “Kedua putranya kerja di perbankan. Prof Zainul itu orang yang senang silaturrahmi, nyambung seduluran. Sering Beliau itu nyambangi saudara jauh meskipun bermukim di tempat yang jauh. Orangnya sabar  dan suka membuat joke-joke. Terhadap isterinya juga selalu  diusahakan untuk disenangkannya, bahkan cenderung untuk menghindari konflik dalam rumah tangga. Terhadap anaknya juga sangat demokratis. Semula Prof. Zainul ingin agar anaknya mengikuti jejaknya, mondok di pesantren. Akan tetapi ketika putranya tidak mau, maka diberikan peluang untuk belajar di mana saja. Akhirnya, memang tidak ada putranya yang mengikuti jejaknya, tidak bisa mewarisi kitab-kitab kuning yang sangat banyak di perpustakaan pribadinya”. 

  

Prof. Zainul Arifin, adalah seorang ahli hadis dan mengabdi  pada Program Studi Ilmu Hadits pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA. Beliau lahir pada tanggal 21 Maret 1955.  Saya tidak tahu secara tepat kapan Beliau terkena stroke ringan, tetapi sepulang saya dari Jakarta dan kembali mengabdi di UINSA, saya tahu beliau terkena stroke, tetapi masih tetap melakukan aktivitas sebagai dosen.

  

Di antara kehebatan Prof. Zainul adalah kesetiaannya pada pekerjaan. Bisa jadi hal ini dipicu oleh semangat pengabdian dalam menyebarkan ilmu pengetahuan untuk para mahasiswanya. Meskipun Beliau dalam keadaan sakit, akan tetapi tetap mengajar baik di program Strata I maupun strata II dan III. Beliau masih tetap aktif mengajar pada jam-jam yang sudah disepakati. Dengan diantar, beliau tetap melaksanakan tugasnya sebagai dosen. 

  

Selain itu, Beliau juga aktif mengikuti forum-forum rapat dosen dan juga acara wisuda dan pengukuhan guru besar. Kalau tidak salah pada saat pengukuhan  Prof. Zumratul Mukaffa, Prof, Kusaeri, Prof. Biyanto dan Prof. Asep Saifuddin Halim Beliau hadir. Saya teringat Beliau duduk di barisan kedua di belakang Ketua Senat, Prof. Achwan Mukarrom (alm) dan Rektor UINSA Prof. Masdar Helmy. Bahkan dalam pengukuhan secara serentak atas guru besar UINSA, Beliau juga hadir. Seingat saya Beliau duduk di ruang tunggu rapat Senat di kursi sebelah barat. Saya memang tidak mengikuti upacara pengukuhan tetapi saya hadir sebelum acara untuk pamit kepada para guru besar yang dikukuhkan. Di antara yang dikukuhkan adalah Prof. Imam Mawardi, Prof Fathoni, Prof. Masruhan, Prof. Suhartini, Prof. Zaki Fuad, Prof. Jauharotul Alfin. 

  

Pada saat belum Pandemi Covid-19, saya sering bertemu beliau jalan sendiri dengan keadaan  sakit. Beliau memang hanya stroke ringan sehingga masih bisa berjalan, hanya gaya bicaranya yang pelan dan lamban. Akan tetapi semua itu tidak mengurangi niat dan kemauannya untuk tetap mengajar dan hadir dalam forum-forum penting. Saya berpapasan dengan Beliau  berjalan dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat akan ke Program Pascasarjana UINSA, sedangkan saya berjalan dari Rektorat ke Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA. 

  

Sebagai alumni Pondok Pesantren Modern Gontor, Universitas Madinah dan Program PPs UIN Syarif Hidayatullah, maka pantaslah Beliau memiliki kemampuan yang memadai dalam studi-studi Islam, khususnya di bidang Ilmu Hadits. Maka pantaslah kalau Beliau menjadi guru besar Ilmu Hadits, sebab perangkat Bahasa dan keilmuan Beliau memang relevan dengan bidang studi tersebut. Beliau menulis buku di antaranya adalah Keajaiban takdir Allah Menjadi Ahli Surga atau Neraka, Keajaiban Takdir Ilahi, Jeritan Manusia, dan Jeritan Manusia saat Terjadi Kiamat.

  

Prof Zainul Arifin dipanggil ke hadirat Ilahi Rabbi, 1 Juli 2021. Beliau terlebih dahulu ditinggalkan isteri tercintanya, Ibu Kholidah, yang dinikahinya  12 Agustus 1984. Dari pernikahannya Beliau memiliki dua orang putra, yaitu: Ahmad Aqil Lubby (lahir 10 Agustus 1990) dan Ahmad Zaim Fahry (lahir 12 Oktober 1991). 

  

Selamat menuju ke alam kubur Prof Zainul. Kita semua meyakini bahwa Panjenengan adalah orang baik, yang bermanfaat bagi dunia pendidikan dan juga masyarakat. Kita berkeyakinan bahwa panjenengan adalah bagian dari ahli surga. Amin. Lahu al fatihah.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.