(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Mengamati Mbah Yut

Khazanah

Oleh: Ahmad Miftahul Haq, M.Pd.

(Ketua PW MATAN JATIM dan Devil Advocate NSC)

  

Mbah Yut, panggilan yang “ditanamkan” kepada saya dan mungkin beberapa lainnya oleh CEO Nursyam Center (NSC) ketika menyebut Prof. Dr. H. Nursyam, M.Si., dalam amatan saya merupakan sosok paling ideal ketika menyebut benchmark-figure dari sebuah institusi pendidikan tinggi bertajuk Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Utamanya dalam tema kajian Spiritual-Leadership, sebuah tema yang sangat memenuhi visi Twin Tower yang menjadi distingsi dari UINSA. Secara sederhana, amatan saya ini didasarkan atas tiga hal.

  

Pertama, Leadership

  

Karena keterbatasan intensitas tatap muka dengan Mbah Yut, sebagian besar amatan saya perihal ini bersumber dari Friendly Leadership: Kepemimpinan sebagai Ruh Manajemen. Buku ini ditulis oleh Mbah Yut dan diterbitkan oleh LKiS di 2018. Dalam buku ini kita dapat membaca betapa Mbah Yut menguasai betul tema-tema strategis dalam area kepemimpinannya. Setiap tulisan dalam buku ini ditulis dalam pola yang konsisten: pendahuluan, problem, pengarahan. Dalam pendahuluan, Mbah Yut akan menjelaskan setting tempat atau konteks dari fenomena yang beliau amati. Hal ini dapat berupa momen ketika beliau diminta untuk menjadi narasumber dalam sebuah forum, pengarahan dalam tugas jabatan struktural, atau fenomena yang sedang marak yang fokus amatannya adalah produk kebijakan. Setelah menjelaskan setting secukupnya, beberapa bahkan dalam satu kalimat, beliau akan beranjak menuju permasalahan yang menjadi fokus amatan dan ditutup dengan “pengarahan”. Tentu dalam “pengarahan” ini Mbah Yut mengambil perspektif sebagai pejabat yang berwenang dalam koridor jabatan struktural. Sehingga pendekatan seperti ini akan termaklumi. 

   

Yang paling membuat saya tertarik tentunya bukan pola penulisan diatas, namun betapa banyak “pengarahan” yang mampu diberikan pada luasnya tema strategis dan kompleksitas permasalahan kementerian agama. Tentu beberapa yang skpetis akan mampu melihat pola “pengarahan” yang itu-itu saja: dinamika perubahan tata kelola, pengukuran yang belum tersosialisasi, beberapa aturan yang tidak inline, persepsi yang semestinya dalam setiap jabatan, dan semisalnya. Tapi sekali lagi, luasnya tema strategis dan kompleksitas permasalahan kementerian agama terlihat betul dalam buku ini dan Mbah Yut masih mampu menunjukkan kemampuannya dalam memahami hulu-hilir aturan, luas-dalamnya permasalahan, tujuan strategis, dan inisiatif pencapaiannya sehingga Mbah Yut sama sekali tidak terlihat gagap dalam buku ini. Beliau terlihat tetap tenang, tetap friendly, dan tetap tajam dalam “mengarahkan”. 

  

Dari cara merespon Mbah Yut, dari latar belakang keahlian keilmuan Mbah Yut, dari apapun yang Mbah Yut lakukan yang memberi kesan tidak ada aral yang terlalu berarti, jika mengikuti pendekatan Al-Ghozali dimana ekspresi capaian seseorang itu merupakan kristalisasi dari pengetahuan, persepsi, dan praktik maka saya akan berasumsi bahwa kristalisasi pengetahuan dan persepesi Mbah Yut akan latar belakang keahlian keilmuan dengan didukung pengalaman pengamalan yang dilaluinya telah menjadi acuan ekspresi kepimpinan yang dipilih oleh Mbah Yut untuk ditampilkan. Telah maklum bahwa latar belakang keahlian keilmuan Mbah Yut adalah Ilmu Sosiologi. Satu tower terjelaskan.

  

Kedua, Friendly

  


Baca Juga : Refleksi Akhir Tahun: Mungkinkah Smart University Pada PTKIN (1)

Ramah dan baik adalah kesan yang paling muncul sependek interaksi saya dengan Mbah Yut secara pribadi, maupun dari beberapa ungkapan yang saya dengar dari manusia normal dan dari sosok yang sependek pengalaman saya berinteraksi dengan manusia akan saya kategorikan sebagai sosok yang sangat sulit mengakui kebaikan manusia lainnya. Dan Mbah Yut mendapatkan legitimasi atribusi ini dari keduanya. Secara tekstual keramahan dan kebaikan beliau terdeskripsikan secara naratif dalam Friendly Leadership: Kepemimpinan sebagai Ruh Manajemen, utamanya dalam sub-bab 1: Humor sebagai Wakaf Kepemimpinan, Menyapa adalah Perhatian, dan Menegur dan Marah dengan Hati. Secara terapan, tiga tema ini: humor, sapaan, dan like-dislike hearted expression akan sangat konsisten ketika kita duduk dan ngobrol agak lama dengan beliau. 

  

Dari penjelasan beberapa sumber, Mbah Yut ketika masih menjabat di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, akan selalu datang lebih pagi dari yang lain. Berjalan mengelilingi area IAIN dan menyapa setiap kolega yang ia kebetulan temui, bertanya perihal kabar dan apa yang sedang dikerjakannya sambil bersenda gurau secukupnya, dengan hati. Poin terakhir ini menjadikan setiap interaksi yang Mbah Yut lakukan tidak berhenti pada level pencitraan hingga basa-basi pembicaraan. Setiap momen ini dijadikan Mbah Yut sebagai usaha memahami setiap tugas-fungsi dari setiap elemen yang ada dalam otoritasnya sambil berhitung akan seberapa jauh-dekat dari pemenuhan visi strategisnya. Kemampuan menautkan antara setiap elemen mikro-makro organisasi dengan visi adalah tugas utama setiap leader.  Dan dalam proses menautkan ini, alih-alih Mbah Yut menjadi sosok yang lebih fokus pada task performance, Mbah Yut malah memilih untuk menjadi sosok yang ramah dan baik yang memotivasi sehingga setiap yang berinteraksi dengan Mbah Yut merasakan keterpanggilan, kebermaknaan, dan semangat dalam membuat perbedaan dalam setiap gerak kerjanya dalam sebuah iklim kerja yang saling memahami, menghargai, peduli pada diri sendiri dan orang lain. Standar utama pendekatan Spiritual-Leadership.

  

Pilihan ekspresi ini terserak hampir di setiap halaman Friendly Leadership: Kepemimpinan sebagai Ruh Manajemen, dan secara konsepsi tertuang dalam sub-bab 1. Sebagiannya semisal:

  

Di dalam humor yang ada hanyalah Kita. Nyaris tidak ada Aku. Di dalam humor, Aku menyatu di dalam Kita. (Hal.9)

  

Jadilah pemimpin apa adanya tetapi ada apa-apanya. Pemimpin yang apa adanya itu ditandai dengan gaya kepemimpinan yang lebih menitikberatkan pada fungsi kepemimpinan dan eksistensi kepemimpinan dan bukan performa kepemimpinan. (Hal.10)

  

Makanya, kala kita menjadi pemimpin, dalam level apapun, pastilah kita berkeinginan agar anak buah atau staf kita bisa bekerja dengan baik untuk tujuan menemukan ridla Allah. (Hal.15)

  

Dan secara verbal, yang saya selalu dengar berulang-ulang dari Mbah Yut, adalah “bagaimana kita menyuruh tanpa memunculkan kesan menyuruh.”

  

Ramah dan baik yang menjadi kesan pertama bagi siapapun yang bertatap muka dengan Mbah Yut secara stabil dan konsisten ditampilkan oleh Mbah Yut dalam semua konteks dalam setiap interaksi dengan sesama yang teramati. Konsistensi ini tentunya bukan hanya pencitraan belaka. Karena tujuan pencitraan terlalu dangkal dan rentan untuk gagal. Namun ketika sesuatu itu terbangun dari kesadaran diri dalam hati yang terkoneksi dengan ilahi robbi akan lebih terlihat lebih stabil dan konsisten. Konektifitas inilah yang menjadikan Mbah Yut sebagai sosok yang stabil dan konsisten untuk selalu bersikap ramah dan baik. Tower terakhir terungkap. 


Baca Juga : Dampak PPKM, Berikan Perlindungan Pada Rakyat Kecil

  

Ketiga, Menulis

  

Lebaran kemarin CEO NSC, Akhullah Khobirul Amru, dan saya bersilaturahim kepada Mbah Yut. Kami semua larut dalam obrolan dengan variasi tema yang tidak terikat secara langsung, kalau tidak dikatakan tidak ada kaitannya, dengan tema Idul Fitri. Dalam sebuah irisan sub-sub-sub tema, saya bertanya kepada Mbah Yut:

  

Pasca menjadi rektor, njenengan karena satu dan lain hal tiba-tiba dipindahkan ke Jakarta. Pastinya Surabaya dan Jakarta berbeda dalam banyak hal sehingga njenengan harus ekstra belajar dan ekstra menyesuaikan dengan tetap berproses untuk mencapai target kerja yang telah ditetapkan. Dan kalau saya bayangkan, tentunya itu tidak mudah. Namun apa yang njenengan lakukan sehingga njenengan dapat tetap mengejar, beradaptasi, dan di akhir tetap survive?

  

Tentu kita dapat menduga bahwa jawaban Mbah Yut akan lebih bernuansa Jabariyah alih-alih sebuah argumentasi positifis yang terukur. Sosok ramah dan baik seperti beliau dalam keadaan normal akan cenderung memilih jalan memutar meski agak jauh dan berliku daripada berhadapan langsung, beradu argument, dengan imbas yang seringnya tidak terlalu baik bagi semuanya. Dan Mbah Yut konsisten memilih jalur ini hingga pada titik dimana semua kondisi adalah normal bagi beliau. 

  

Merasa tidak terpuaskan dari jawaban Mbah Yut, saya mencoba memuaskan dahaga ini dengan beralih pada CEO NSC. CEO NSC dan saya berasal dari daerah yang sama dengan style respon yang hampir sama: blokosutho, detail, cenderung impulsive, dan tidak sungkan membuka front. Menjadi menarik melihat fakta bahwa CEO NSC yang sangat berbeda ini bisa mengiring Mbah Yut sekian lama. Meski dalam perspektif manajemen hal ini lebih mudah terjelaskan dari tipologi Mbah Yut yang lebih ke leader dan CEO NSC yang lebih ke manajer. Istilah manajer ini biasanya saya konsepsikan sebagai Penjaga Nilai. Ia cenderung lebih detail, lebih panjang menaksir resiko, lebih sering memunculkan kategorisasi pantas-tidak pantas, dengan tetap bertahan memaksimalkan apa yang ada. 

  

Satu pertanyaan yang saya kemukakan adalah: apa yang konsisten dilakukan Mbah Yut sejak masih di IAIN, menjabat di kementerian agama, hingga saat ini? Dan ternyata satu juga jawabannya, menulis. Dan sependek interaksi saya di NSC, istiqomah Mbah Yut dalam menulis ini dilegitimasi dan diproklamirkan di hadapan khalayak oleh semua orang yang pernah bekerja dengan beliau. Dari fakta mutaawatir ini saya mulai berasumsi.

  

Visi terbangun dari pemahaman komprehensif sebuah konteks yang melahirkan harapan untuk diwujudkan dengan ukuran-ukuran strategis dan inisiatif perwujudannya dalam rentang waktu yang visible. Untuk mematangkan ini, sebuah organisasi akan mengelaborasinya dalam ranah manajemen strategis menjadi perencanaan yang terukur, mengorganisir setiap sumber daya, mengeksekusi rencana, dan mengontrolnya. Namun dalam pendekatan yang lebih personal, visi seseorang akan dimatangkan melalui instensitas proses diskusi, rujukan beberapa referensi, jatuh bangun dalam trial-error eksekusi, mengevaluasi visi dan,jika diperlukan, kembali pada proses awal.

  


Baca Juga : Strategi Menangkal Misinformasi di Tengah Pandemi

Tentu proses tersebut tidak untuk sosok seperti Mbah Yut yang berada pada puncak jabatan strategis di kementerian agama yang harus bergerak dan berpikir lincah diantara keterbatasan waktu dengan target yang berjejalan, deretan stakeholder yang harus ditemui dan terkadang wajib diakomodir, dan jarak tempuh seluas negeri yang terkadang karena kelengahan dalam menata jadwal Mbah Yut menjadi terlihat poyang-paying. Mbah Yut tentunya punya orang untuk merencenakan, mengorganisir, mengeksekusi, dan mengontrol setiap ide yang dipilih untuk diimplementasikan. Namun Mbah Yut masih perlu sebuah mekanisme diri yang membuat Mbah Yut mampu merekognisi, menjalinkan ide, dan membuat Mbah Yut masih berjalan pada jalur yang semestinya. Mekanisme diri Mbah Yut ini adalah menulis.

  

Menulis bagi Mbah Yut seperti layaknya asisten pribadi yang membuat Mbah Yut mengingat setiap kerja yang dilakukan, “pengarahan” spesifik apa yang telah diberikan, manusia-manusia menarik yang telah beliau temui, dan pertanyaan-pertanyaan apapun yang lumrahnya kita tanyakan ketika kita memiliki asisten pribadi. Tentu hal ini sangat menjelaskan kenapa pola tulisan Mbah Yut selalu seperti “itu”. Selain sebagai asisten pribadi, menulis bagi Mbah Yut juga digunakan untuk mematangkan visi, introsepeksi, mengkategorisasi tema-tema yang sering muncul dalam hidup Mbah Yut, dan Mbah Yut moment of solitude. 

  

Jika beberapa memilih media untuk berkomunikasi dengan Allah SWT melalui sholat malam, zikir, dan kesunnahan lainnya, Mbah Yut selain juga melakukan itu semua, beliau juga mengasah komunikasinya dengan Allah SWT melalui tulisan. Dapat kita lihat dalam berbagai tulisan beliau yang berserak bahwa Mbah Yut selalu detail menuliskan proses kerja yang sedang dilakukan dengan terus memautkan persepsi bahwa apa yang beliau, dan setiap tokoh dalam tulisan Mbah Yut, lakukan adalah sebuah ibadah. Pendekatan seperti ini, jika saya baru sehari-dua mengenal Mbah Yut, akan menjustifikasi Mbah Yut sebagai pengamal Syadzily. Karena apa yang beliau tuliskan ini sangat Syadzily sekali. Kerja menulis seperti inilah yang membuat Mbah Yut survive dalam setiap kondisi hingga saat ini. 

  

Dan ternyata tulisan ini lumayan panjang. Untuk tidak terjebak dalam keribetan yang lebih lagi, tanggal 7 Agustus nanti Mbah Yut berulang tahun. Bagi saya pribadi yang telah dipertemukan dengan Mbah Yut oleh takdir, menjadi penting bagi saya untuk berikhtiar menggapai apa yang telah dicapai oleh Mbah Yut, bahkan bila dimungkinkan untuk melampauinya, lebih-lebih bagi yang memiliki sanad keilmuan maupun sanad jabatan seperti yang telah dipegang oleh Mbah Yut. Merupakan sebuah kedloliman ketika seseorang mengklaim sumbangsih Mbah Yut dalam hidupnya, namun melupakan dan cenderung menafikan kapasitas keilmuan, pola kepemimpinan, dan ikhtiar yang telah beliau jalani. Jika anda mahasiswa UINSA Surabaya, pastikan kompetensi keilmuan dan kedalaman spiritualmu mendekati atau bahkan melampaui Mbah Yut. Jika anda mewarisi sanad jabatan, jadilah friendly leader. Jangan jahat-jahat. Selamat ulang tahun Mbah Yut. Semoga tetap menginspirasi dalam mencerdaskan akal dan memuliakan hati.