(Sumber : asyakimppa)

Mengenal Ushul Fiqh, Fiqh dan Kaidah Fiqh dalam Kitab Mabadi' Awwaliyah Karya Ulama Nusantara

Khazanah

Oleh: Ahmad Musadad

(Mahasiswa Prodi Studi Islam Program Doktor UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Dengan mengharap rida Allah SWT, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk  Rasulullah Saw, para Sahabat, Tabi’in, para ulama, para guru kita, para orang tua kita, khususnya penulis kitab Mabadi Awwaliyah; Syeikh Abdul Hamid Hakim yang akan kita kupas bersama. Semoga dengan berkah pembacaan surat al-Fatihah tersebut, Allah SWT menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Khushushan ila Ruhi Syeikh Abdul Hamid Hakim, al-Fatihah.

  

A. Biografi Sang Penulis

1. Kelahiran Abdul Hamid Hakim

  

Abdul Hamid Hakim lahir pada tahun 1893, di sebuah desa yang bernama Sumpur, di tepian Danau Singkarak, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Abdul Hakim, berprofesi sebagai pedagang di kota Padang, dan ibunya bernama Cari. Abdul Hamid Hakim adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Kakaknya yang tertua bernama Muhammad Nur, yang kedua adalah Husein. Adapun adik-adiknya antara lain bernama Hasan, Halimah dan Sofya. 

  

Walaupun Abdul Hamid Hakim lahir di kampung tetapi masa kecil sampai menjelang remaja dihabiskan di kota Padang, hal ini karena sang ayah bekerja sebagai pedagang di kota tersebut. Sehingga ia beserta ibu, kakak dan adik-adiknya dibawa ayahnya ikut boyong dan tinggal menetap di kota Padang.

  

2. Pendidikan Abdul Hamid Hakim

  

Masa kecilnya dilewatkan di kota Padang, karena sang ayah bekerja sebagai pedagang di kota tersebut. Di kota ini pula ia sempat menamatkan sekolah tingkat dasarnya. Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia kembali ke kampungnya untuk melanjutkan pendidikan di suatu madrasah yang khusus mempelajari al-Qur’an. Setelah berhasil menamatkan madrasah di kampungnya, pada tahun 1908 ia berangkat ke daerah Sungayang, Batu Sangkar untuk belajar berbagai ilmu dasar agama seperti; nahwu, sharaf, fiqih, tauhid, tafsir dan hadis kepada Haji Muhammad Thaib Umar, salah seorang tokoh pembaharu, guru dan ulama terkenal yang baru pulang dari Mekkah. Di Minangkabau, Muhammad Thaib Umar termasuk golongan kaum mudo yang berfikiran progresif.


Baca Juga : Islam dalam Bingkai Media

  

Lembaga pendidikan di Minangkabau waktu itu yang lazimnya disebut surau, yang dikelola oleh Muhammad Thaib Umar ini merupakan salah satu lembaga pendidikan yang telah melakukan semacam perubahan materi dan metode pengajaran ilmu-ilmu alat dan ilmu-ilmu keagamaan dari corak lama ke corak yang lebih baru (terutama dalam penambahan variasi kitab-kitab yang diajarkan) di Sumatera Barat. Abdul Hamid Hakim di surau ini tercatat hanya menempuh studi selama dua tahun. Namun, berkat ketekunan dan kecerdasannya, dalam waktu yang relatif singkat, ia telah dianggap cukup mengenali dan memahami ilmu-ilmu alat dan keagamaan dari berbagai kitab yang diajarkan gurunya itu.

  

Setelah belajar selama dua tahun kepada Muhammad Thaib Umar, pada tahun 1910, Abdul Hamid Hakim melanjutkan studinya ke Sungai Batang di daerah Maninjau untuk belajar kepada Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), ayahanda Prof. Dr. Buya Hamka (mantan ketua MUI pertama), tokoh ulama kaum mudo yang terkenal berwatak keras dan tanpa kompromi, terutama dengan kalangan adat. Sebagai murid yang disayangi oleh sang guru, ia kemudian mengikuti Haji Rasul ketika dua tahun kemudian yakni pada tahun 1912, sang guru pindah ke kota Padang atas permintaan dari sahabatnya Abdullah Ahmad, untuk membantu mengelola majalah al-Munir, yang merupakan salah satu jurnal tempat para pembaharu menuangkan ide dan pemikiran mereka. Ketika sang guru kemudian pindah lagi ke Padang Panjang pada tahun 1914, artinya dua tahun kemudian, karena diminta masyarakat kembali untuk mengelola kembali pendidikan di Surau Jembatan Besi, yang merupakan cikal-bakal dari lembaga pendidikan Sumatera Thawalib, dengan setia ia juga mengikuti gurunya tersebut.

  

Melalui bimbingan dan disiplin keilmuan yang diterapkan Haji Rasul, terutama pada saat sang guru menekuni pengajian di Surau Jembatan Besi, ia belajar lebih intensif dan sistematis, sejalan dengan upaya sang guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi murid-muridnya yang semakin hari semakin bertambah. Usaha tersebut ditandai dengan merubah sistem pengajian dari halaqah menjadi sistem klasikal pada tahun 1916 dengan dibukanya suatu lembaga pendidikan yang bernama Perguruan Sumatera Thawalib.

  

Abdul Hamid Hakim merupakan murid yang paling disayangi oleh Haji Rasul, karena di samping cerdas dan berakhlak mulia, ia juga mempunyai tekad dan kesungguhan yang luar biasa. Karena tidak jarang ia menelaah kitab sampai larut malam dengan penerangan (lampu) seadanya. Hal ini didukung pula oleh kelengkapan buku-buku yang butuhkan yang selalu disediakan oleh ayahnya. Ketika ayahnya mengalami masa sulit dalam perdagangannya, dan sempat ditahan karena hutang-hutangnya, maka Abdul Hamid Hakim mengalami kesulitan untuk membeli buku-buku baru.

  

Selama belajar dengan Haji Rasul, ia tidak saja mendalami kembali (muraja’ah) kitab-kitab yang pernah dipelajarinya dengan Muhammad Thaib Umar, melainkan juga dari kitab-kitab yang berfaham modern dan rasional, seperti kitab Risalah at-Tauhid karya Muhammad Abduh. Kitab lain yang tidak kalah penting yang dipelajari olehnya adalah kitab Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan muridnya Rasyid Ridha, yang merupakan kitab tafsir yang memberi inspirasi pemahaman Al-Qur’an sesuai dengan semangat modern.

  

Dari semua disiplin ilmu-ilmu keislaman yang dipelajari Abdul Hamid Hakim, nampaknya ia lebih tertarik dan memfokuskan diri dalam spesialisasi bidang fiqh dan ushul fiqih. Hal ini dibuktikan dengan persentase dari buku-buku karangannya yang bisa dikatakan lebih banyak dalam kedua bidang di atas, walaupun ia juga ada menulis karangan dalam bidang akhlak. Selain belajar dengan Haji Rasul sendiri, ia juga diketahui mempelajari kitab-kitab lain secara mandiri atau otodidak, mengingat penguasaan ilmu alat dan wawasan ilmu-ilmu keagamaan yang ia kuasai sehingga memudahkannya mengakses materi-materi kitab apapun.

  

3. Pengabdian Abdul Hamid Hakim dalam Dunia Pendidikan dan Kemasyarakatan

  


Baca Juga : Tantangan Perguruan Tinggi Swasta di Era Disruptif

Berkat kecerdasannya, yang diiringi dengan kesungguhan dan minat baca yang luar biasa, Abdul Hamid Hakim tidak hanya mampu menguasai materi pelajaran yang diajarkan gurunya, melainkan juga mengembangkannya secara mandiri. Maka tidak mengherankan pengetahuannya menjadi dalam dan luas. Karena itu ia pun dipercaya Haji Rasul menjadi guru pengganti beliau, dan namanya pun semakin dikenal di kalangan murid-murid sang guru. Oleh karena reputasi keilmuan dan akhlaknya yang luhur, dalam suatu pertemuan di Pasa Gadang, Padang Panjang, Haji Rasul memberi murid kesayangannya itu gelar kehormatan yang disandangnya sampai ia wafat dengan sebutan Angku Mudo.

  

Profesinya sebagai guru bantu di Surau Jembatan Besi selanjutnya telah mengantarkannya menjadi pendamping setia gurunya dalam lembaga pendidikan Sumatera Thawalib yang didirikan Haji Rasul pada tahun 1918. Lembaga pendidikan yang ditranformasi dari Surau Jembatan Besi ini, menempatkannya sebagai wakil kepala, mendampingi Haji Rasul sebagai kepala sekolah. Ketika Haji Rasul menyatakan non-aktif dari jabatan kepala tahun 1922, karena terdapat gejolak internal Thawalib yang tidak disenanginya, dengan isu masuknya paham komunis, maka dia lah yang menggantikan posisi tersebut sebagai pejabat kepala. Barulah kemudian pada tahun 1926, ketika Haji Rasul meyatakan resmi mundur dari Sumatera Thawalib, sang murid kesayangan inilah yang memegang kendali sebagai direktur. Ia bertanggung jawab penuh terhadap eksistensi perguruan ini.

  

Aktivitas mengajarnya, selain di Sumatera Thawalib, ia juga tercatat mengajar di lembaga Diniyah School pimpinan Zainuddin Labai El-Yunusi dan di Diniyah Puteri yang didirikan oleh Rahmah el-Yunusiyah. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi salah seorang penguji akhir pada perguruan-perguruan cabang Sumatera Thawalib yang berada dan tersebar di daerah-daerah Sumatera Barat dan sekitarnya, dan juga mengajar di sekolah Kulliyyatul Muballighin yang didirikan oleh organisasi Muhammadiyah di Padang Panjang dalam mata pelajaran fiqh dan ushul fiqh. Tidak ketinggalan kesibukannya ditambah mengajar agama di sekolah Normal School untuk pemerintah, namun tugas ini akhirnya ia serahkan kepada muridnya, Zainal Abidin Ahmad. Dalam dunia perguruan tinggi, kiprah aktifitas mengajar pun dijalaninya. Ia dipercaya menjadi salah seorang dosen sekaligus diamanahi sebagai Wakil Rektor di Universitas Dar al-Hikmah yang didirikan pada tahun 1953, dengan Rektornya kala itu adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek. Universitas ini pertama kali diresmikan oleh Menteri Agama saat itu, K.H.M. Ilyas.

  

4. Murid-Murid Abdul Hamid Hakim

  

Kehidupan intelektual yang dijalani oleh Abdul Hamid Hakim dalam waktu yang panjang, baik sebagai seorang guru, ulama, pemikir, maupun penulis telah membuahkan hasil yang tidak sedikit, dan itu merupakan warisan yang sangat berharga bagi generasi sesudahnya. Profesi guru dan pemimpin sekolah yang dijalaninya dengan penuh kesabaran dan keuletan dalam kurun waktu lebih kurang empat puluh tahun telah menghasilkan ribuan lulusan, yang kemudian bergerak di berbagai bidang. Mereka rata-rata muncul menjadi pejuang pembaharuan sesuai dengan kapasitas masing-masing. 

  

Di antara murid-murid Abdul Hamid Hakim, terdapat sederetan nama yang kemudian dikenal sebagai tokoh masyarakat di berbagai bidang, baik pada skala daerah, nasional, maupun internasional. Mereka antara lain:

  

1. Haji Ahmad Rasyid Sutan Mansur (1895-1985), pernah memimpin Muhammadiyah

2. Prof. Dr. HAMKA (1908-1981), seorang ulama dan sastrawan besar, ketua MUI pertama

3. Haji Zainal Abidin Ahmad (1911-1983), mantan Wakil Ketua DPR RI


Baca Juga : Ghosting Dalam Hubungan, Dua Hal Ini Penyebabnya

4. Haji Mansoer Daoed Datuk Palimo Kayo (1905- 1985), pernah menjadi duta besar Indonesia

5. Duski Samad (1905-1985)

6. Rasuna Said (1910-1962), seorang tokoh politik

7. Nazaruddin Latif (1916-1972), aktifis Muhammadiyah dan pendiri organisasi yang bergerak di bidang penasihat perkawinan pertama di Indonesia

8. Haji Mawardi Muhammad (1911-1995)

9. Prof. Ali Hasyimi (1908-1997), mantan gubernur Aceh

10. Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969)

11. Haji Salim Amany (lahir tahun 1908)

  

Disamping nama-nama diatas, berikut ini akan disebutkan beberapa nama tokoh masyarakat yang pernah menjadi murid Hakim, tanpa memberikan uraian rinci tentang riwayat hidup mereka. Mererka antara lain: 

  

1. Prof. Dr. Mukhtar Yahya, yang pernah menjadi direktur Islamic Collage, sekolah yang cukup terkenal di Padang sebelum kemerdekaan, dan menjadi Guru Besar dan Rektor PTAIN dan IAIN Yogyakarta. 

2. K.H. Zarkasyi, pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Modern Gontor. Prof. Dr. Khatib Khuzwein, Sekretaris Jenderal Departemen Agama Republik Indonesia (1996-1998) dan Staf Ahli Menteri Agama RI (sejak tahun 1998). 

3. Prof. Dr. Amir Syarifuddin, mantan Rektor IAIN Imam Bonjol, Padang (1983-1992), ketua MUI Sumatera Barat (1990-sekarang), ketua Umum BAZIZ Tingkat I Sumatera Barat (1993-Sekarang), dan anggota MPR-RI (periode 1992-1998). 

4. H. Ghazali Amna, anggota DPR-RI dari fraksi Partai Persatuan Pembangunan periode 1988-1993 dan periode 1993-1998. 


Baca Juga : Ada Apa di Bulan Sya'ban (Bagian Pertama)

5. H. Harun Yunus, tokoh PSII, ulama Sumatera Barat yang sekarang ikut sebagai pengurus Yayasan Thawalib. 

6. H. Hasan Ahmad, mantan pimpinan Muhammadiyyah Sumatera Barat. 

7. H. Ahmad Sofyan, guru Thawalib dan sekampung dengan Abdul Hamid Hakim. 

8. H. Abbas Usman, guru Thawalib dan sekampung dengan Abdul Hamid Hakim.

  

5. Akhir Perjalanan Hidup Abdul Hamid Hakim

  

Perjalanan hidup Abdul Hamid Hakim tidak terlepas dari perjuangan, terutama semenjak ia memegang jabatan kepala sekolah Sumatera Thawalib Padang Panjang. Ia berjuang untuk melanjutkan pembaharuan yang telah dilakukan Abdullah Ahmad, Haji Muhammad Djamil Djambek, Haji Rasul dan Muhammad Thaib Umar. Ia berjuang untuk membina dan selalu berusaha meningkatkan Thawalib. Ia selalu berada dan mengurus Thawalib, baik di waktu susah maupun senang, ia selalu membimbing dan melayani masyarakat menuju pemikiran dan pengalaman agama yang benar.

  

Di tengah-tengah beratnya perjuangan, Thawalib dan umat dalam keadaan sulit ketika peristiwa PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Barat, Abdul Hamid Hakim dipanggil menghadap sang pencipta, setelah sakit selama beberapa waktu. Ia meninggal dunia pada hari senin tanggal 13 Juli 1959 M, atau 7 Muharram tahun 1379 H, di Padang Panjang dalam usia kurang lebih 66 tahun. 

  

Kepergiannya tidak hanya dirasakan dan ditangisi oleh keluarganya dan keluarga besar Sumatera thawalib, yaitu sekolah yang dibinanya selama lebih dari 40 tahun, tetapi juga oleh sekolah-sekolah lain dimana ia mengajar atau menjadi tim penguji atau buku-bukunya yang dipakai, dan perguruan tinggi di mana ia ikut menjadi dosen, guru besar, ataupun pimpinan. Di samping itu, mantan murid, teman seprofesi dan masyarakat luas pun sangat merasakan kehilangan dengan berpulangnya Abdul Hamid Hakim ini.

  

B. Karya-Karya Abdul Hamid Hakim

  


Baca Juga : Pulang Kampung: Pemerintah Vs Masyarakat

Abdul Hamid Hakim termasuk ulama yang sangat besar dedikasinya dalam dunia pendidikan dan tulis menulis. Kegiatan tulis-menulis sebagai curah intelektual dan keulamaan telah mulai ditekuni terutama semenjak dipercaya menjadi wakil direktur (muharrir) sekaligus sebagai penulis pada majalah atau jurnal al-Munir al-Manar yang banyak disebut sebagai kelanjutan dari majalah atau jurnal al-Munir yang sudah tidak terbit lagi. Majalah atau jurnal al-Munir al-Manar ini diterbitkan di Padang Panjang pada tahun 1918, di bawah pimpinan Zainuddin Labai El-Yunusi. Lewat majalah ini, Abdul Hamid Hakim berusaha mengasah kemampuan menulis yang dimilikinya. Di antaranya dengan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, terutama yang menyangkut bidang fiqh dan ushul fiqh. 

  

Di samping menulis untuk majalah atau jurnal, ia juga sangat menekuni dalam menulis kitab/buku yang ditulis dalam bahasa Arab. Salah satu keistimewaan Abdul Hamid Hakim adalah meskipun tidak pernah belajar di Mekah, namun ia mampu menulis karya-karya dalam bahasa Arab yang mudah dipahami. Hal ini tentunya karena ketekunannya dalam belajar. Beberapa karangannya cukup dikenal dan menjadi acuan di berbagai Perguruan Sumatera Thawalib, bahkan dipakai juga hingga sekarang di banyak sekolah-sekolah, madrasah-madrasah diniyyah dan pesantren-pesantren di Indonesia bahkan sampai ke wilayah negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand Selatan dan Filipina Selatan. Kitab-kitab tersebut adalah: 

  

1. Trilogi buku ushul fiqih dan qawa’id fiqihnya, yaitu: Mabadi’ ‘Awwaliyyah, as-Sullam, dan al-Bayan, 

2. Buku dalam bidang fiqih, yaitu al-Mu’in al-Mubin (5 jilid termasuk bagian faraidl)

3. Buku dalam bidang akhlak, yaitu Tahzib al-Akhlaq (2 jilid)

4. Buku syarah dari kitab fiqih perbandingan madzhab karangan Ibnu Rusyd, yaitu Bidayah al-Mujtahid yang berjudul al-Hidayah ila ma Yanbaghi min az-Ziyadah ‘ala al-Bidayah. Namun menurut data yang diketahui, buku karyanya yang terakhir ini tidak sempat ia selesaikan, karena kondisinya yang sudah mengalami kondisi sakit dan akhirnya meninggal dunia. 

  

C. Mengenal Kitab Mabadi Awwaliyah dan Urgensi Mempelajarinya

  

Kitab Mabadi Awwaliyah merupakan salah satu dari trilogi karangan Abdul Hamid Hakim dalam bidang ushul fiqh dan kaidah fiqh. Kitab ini merupakan juz pertama dari trilogi tersebut dan menjadi rujukan dasar (basic reference) dalam mempelajari ilmu ushul fiqh dan kaidah fiqh yang diperuntukkan bagi kalangan santri atau pelajar yang baru mempelajari dua ilmu tersebut,. Pada awalnya niat penulisan kitab ini ditujukan untuk kepentingan pembelajaran (sebagai bahan ajar), khususnya oleh para santri/pelajar di Perguruan Sumatera Thawalib, Padang  Panjang,  Sumatera Barat. 

  

Kitab ini asli ditulis oleh penulis sendiri dan diterbitkan oleh Penerbit Sa’diyah Putera Jakarta pada tanggal 25 Syawwal 1345 H, bertepatan dengan 27 April 1927 M, terdiri dari 48 halaman dan berukuran 20 x 13,5 cm (ukuran standar A5). Kitab ini ditulis dalam  bentuk  natsar (prosa),  disajikan  dalam  Bahasa  Arab, ditulis dengan huruf Arab dengan menggunakan tulisan tangan (bukan ketikan komputer). Kitab ini selesai ditulis pada hari Rabu tanggal 25 Syawwal 1345 H, bertepatan dengan 27 April 1927 M di Padang Panjang Sumatera Barat. Pada saat menulis kitab ini Abdul Hamid Hakim berusia 34 Tahun (usia yang relatif masih muda).

  

Pola penulisan kitab ini sengaja dibuat ringkas namun padat, yang berisi poin-poin materi pokok dalam bidang ushul fiqh dan kaidah fiqh. Hal ini bisa dimaklumi karena filososfi dasar penulisan kitab ini adalah untuk para mubtadi’in (para pemula) yang baru belajar dan mengenal ilmu ushul fiqh dan kaidah fiqh. Kitab ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama adalah ilmu ushul fiqh, bagian kedua adalah ilmu kaidah fiqh. Bagian pertama ini berisi tentang: pengertian  ushul  fiqh, 9 macam hukum, amr, nahi, ‘aam, khash, mujmal. Mutlaq, muqayyad, mantuq, mafhum, fi’l ash-shahib al-syari’ah, iqrar shahib al-syari’ah, ijma, qiyas, ijtihad, ittiba’ dan taqlid. Pada bagian kedua berisi 40 macam ka’idah fiqh (yang bercampur antara kaidah asasi/pokok, kaidah cabang, dan kaidah kulliyah). 

  

Melihat isi dari kitab Mabadi Awwaliyah ini maka penting sekali bagi para pemula khususnya generasi milenial dan generasi Z yang sedang dan akan mempelajari ilmu agama Islam untuk mengaji dan mengkaji kitab ini, sebab kitab ini isinya ringkas, padat dan telah mencakup tiga bidang keilmuan terpenting dalam ilmu syariah atau hukum Islam, yaitu Fiqh, Ushul Fiqh dan Kaidah Fiqh. Diharapkan dengan mempelajari kitab ini, para pemula bisa memperoleh dasar pemahaman yang komprehensif salah satu dari trilogi studi Islam yaitu  bidang syariah atau hukum Islam.  

  

Demikian sekilas paparan singkat biografi penulis kitab Mabadi Awwaliyah dana isi dari kitab tersebut. Dari sini tampaklah berkah keikhlasan Syeikh Abdul Hamid Hakin dalam menulis kitabnya, sehingga walaupun beliau telah tiada namun karya-karyanya masih dipakai oleh generasi penerus sampai hari ini.

  

Wa Allahu A‘lam bi Ash-Shawab.