(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Profesionalitas Guru Sebagai Keharusan

Khazanah

Hari Jum’at, 19/11/2021, saya berkesempatan terlibat di dalam acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) pada Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, yang diselenggarakan di Hotel Oakwood, Surabaya. Acara ini dihadiri oleh Direktur GTK, Dr. Mohammad Zen, dan para warek I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, sebagai penyelenggara PPG Dalam Jabatan (PPG Daljab) untuk para guru di Madrasah. Acara ini membahas tentang bagaimana upaya yang harus dilakukan terkait dengan pengembangan profesionalitas guru di madrasah.

  

Tidak diragukan bahwa pendidikan merupakan investasi manusia. Artinya bahwa pendidikan dapat menjadi modal bagi manusia untuk kepentingan diri dan masyarakat. Pendidikan bukan semata-mata sebagai transfer pengatahuan (ilmu) akan tetapi pendidikan dapat menjadi modal bagi manusia di dalam kehidupan. Orang yang belajar sesungguhnya merupakan orang yang sedang berinvestasi. Bukan investasi dalam bentuk uang atau barang atau modal akan tetapi berinvestasi untuk memperoleh seperangkat pengetahuan dan kemampuan dalam rangka kehidupannya.

  

Jika seseorang berinvestasi modal akan memperoleh keuntungan uang atau modal, maka jika seseorang berinvestasi dalam pendidikan bagi dirinya, maka dia sedang berinvestasi seperangkat pengetahuan dan kemampuan untuk kehidupannya sendiri. Pendidikan merupakan pilar utama dalam pengembangan SDM, selain kesehatan dan kesejahteraan.

  

Jika kita merujuk pada UU No. 12 tahun 2012, maka ada rumpun ilmu yang bisa dijadikan sebagai produk pendidikan. Rumpun ilmu tersebut meliputi: ilmu agama, ilmu hmaniora, ilmu sosial, sains dan teknologi, ilmu terapan dan ilmu formal. Jika seorang individu belajar ilmu agama, maka dia sedang berinvestasi untuk menjadikan ilmu agama sebagai basis keahlian yang dapat digunakan untuk mengembangkan kehidupannya. Jika seseorang sedang belajar ilmu sosial, maka dia sedang investasi untuk menjadikan ilmu sosial sebagai keahliannya dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupannya. Jika seseorang sedang belajar Sains dan teknologi, maka dia sedang investasi dalam keahlian sains dan teknologi untuk kepentingan kehidupannya.

  

Selain empat komptensi, yang dikenal sebagai tercantum di UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yaitu Kompetensi pedagois, kompetensi professional, kompetensi social dan kepribadian, maka harus ditambahkan dua kompotensi lainnya, yaitu: pertama, Kompetensi keagamaan berbasis Islam wasathiyah. Seorang guru harus  memiliki pemahaman dan pengamalan keagamaan yang berbasis Islam wasathiyah. Jangan sampai seorang guru memiliki paham dan pengamalan beragama yang beraliran garis keras (salafi takfiri dan salafi jihadi). Kedua, Kompetensi teknologi informasi. Guru sekarang ditantang dengan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Bayangkan buru harus menguasai Google Classroom, Google Meet, Zoom, dan perangkat lain untuk pembelajaran. Guru juga harus mengikuti perkembangan aplikasi pembelajaran yang semakin kuat dewasa ini. Guru harus aware terhadap perkembangan aplikasi pembelajaran. Kemendikbud telah meluncurkan banyak sekali aplikasi pembelajaran yang bisa diikuti. 

  

Tenaga pendidik sebagai pengajar, yaitu fungsi tenaga pendidik yang terkait dengan proses transformasi ilmu pengetahuan. Tenaga pendidik akan memberikan sejumlah pengetahuan yang relevan dengan bidang kajiannya (mata pelajaran). Sebagai tenaga pengajar maka tugasnya adalah menyampaikan ”kebenaran” ilmu pengetahuan yang diajarkannya. Seorang tenaga pendidik akan menyampaikan ilmu pengetahuan sesuai dengan kurikulum yang telah disepakati bersama.

  

Tenaga pendidik sebagai pendidik, yaitu tenaga pendidik yang tidak hanya menyampaikan kebenaran ilmu pengetahuan kepada mitra didiknya, akan tetapi juga membimbing, mengarahkan, dan mengembangkan kepribadian mitra didiknya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, serta dapat mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan minatnya. Tenaga pendidik akan mendidik mitra didiknya agar menjadi manusia yang baik dan berkualitas. Ada hidden curriculum yang ditransformasikannya.

  

Tenaga pendidik sebagai motivator, yakni menjadi tenaga pendidikan yang akan memberikan obor bagi mitra didik yang berada di dalam kegelapan, memberikan arah bagi yang tidak tahu jalan, memberikan payung bagi yang kehujanan, memberikan makan bagi yang kelaparan, memberikan kail bagi yang akan memancing dan memberikan bahan bagi mereka yang akan membuat inovasi. Sebagai seorang motivator, maka tenaga pendidikan memiliki kemamouan untuk menemukan masalah, menemukan alternatif penyelesaian masalah, memilih alternatif solusi yang tepat dan memberikan bimbingan pasca penyelesaian masalah. Sebagaimana ungkapan Ki Hajar Dewantara: ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tutwuri handayani. 


Baca Juga : Menjaga Islam Wasathiyah Untuk Indonesia

  

Tenaga pendidik sebagai perancang pembelajaran/pendidikan. Seorang guru harus menerjemahkan kurikulum ke dalam perencanaan pembelajaran, hand out, buku panduan belajar, dan program pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum. Sebagai perancang pembelajaran maka kapan harus koma dan kapan harus titik. Kapan harus memulai dan kapan harus mengakhiri. Guru yang baik adalah guru yang mampu menerjemahkan kurikulum yang merupakan dokumen dinamis ke dalam program pembelajaran yang mencerahkan pikiran, sikap dan tindakan. Guru harus punya visi, yaitu visi untuk mengembangkan potensi mitra didiknya agar dapat menggapai kemampuan optimal. Menjadi anak Indonesia yang cerdas, kompetitif dan sekaligus kolaboratif serta bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. 

  

Tenaga Pendidik sebagai evaluator. Tidak bisa dihindari bahwa guru juga seorang evaluator. Bisa evaluator individu dan kelompok. Evaluasi dilakukan atas kerja kebersamaan. Team work dan caring the other. Pendidikan harus menghasilkan manusia Indonesia yang tridak individualistis tetapi yang memahami bahwa manusia tidak hidup sendiri di tengah kehidupan. Saya sangat suka dengan pernyataan Jack Ma, pendiri Alibaba.com yang menyatakan bahwa pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, harus berpilar pada lima hal: mengajarkan nilai (values), mengajarkan keyakinan (believing), mengajarkan kebersamaam (team work), mengajarkan kekritisan (critical thinking) dan mengajarkan kepedulian (caring the others).

  

Strategi penguatan profesionalisme tenaga pendidik (guru), yaitu: 

  

1) Kompetensi profesional melalui: pelatihan terstruktur, baik dilakukan dalam bentuk in job training maupun pelatihan non job training. Pelatihan didesain secara memadai untuk meningkatkan kapasitas profesionalitas. Pendidikan terstruktur, yaitu dengan mengikuti program pendidikan lanjut, misalnya strata 2 atau bahkan strata 3. baik dilakukan secara daring atau luring. Konferensi ilmiah: para guru agar dianjurkan ntuk mengikuti konferensi ilmiah, baik sebagai pembicara atau peserta. Melalui konferensi yang terkait dengan peningkatan mutu diri, maka dipastikan bahwa terdapat asupan ilmu yang relevan. Melakukan penelitian, misalnya penelitian tindakan kelas. Melalui penelitian ini, maka seorang pendidikan akan memperoleh umpan balik tentang program pendidikannya. pelatihan terstruktur, baik dilakukan dalam bentuk in job training maupun pelatihan non job training.

  

2) Kompetensi pedagogis: Pelatihan didesain secara memadai untuk meningkatkan kapasitas profesionalitas. Pendidikan terstruktur, yaitu dengan mengikuti program pendidikan lanjut, misalnya strata 2 atau bahkan strata 3. baik dilakukan secara daring atau luring. Konferensi ilmiah: para guru agar dianjurkan ntuk mengikuti konferensi ilmiah, baik sebagai pembicara atau peserta. Melalui konferensi yang terkait dengan peningkatan mutu diri, maka dipastikan bahwa terdapat asupan ilmu yang relevan. Penguatan penelitian tindakan klas. Melalui penelitian ini maka akan diketahui bagaimana program pembelajaran di mata siswa dan bagaimana proses dan hasilnya. Kursus untuk memperkuat kapasitas kompetensi pedagogis. Penguasaan metodologi pembelajaran juga dapat diperoleh melalui training baik secara regular atau non regular.

  

3) Kompetensi social. Guru menempati posisi strategis di dalam kehidupan masyarakat. Guru itu merupakan contoh. Digugu lan ditiru. Ucapannya menjadi acuan dan yang dilakukan bisa dicontoh. Guru harus dapat diterima oleh kalangan masyarakat. Guru harus bisa menjadi partner semua golongan masyarakat. Bersikap inklusif dan bukan eksklusif. Di antara strategi untuk penguatan kapasitas kompetensi sosial, yaitu: Mengikuti organisasi profesi, baik di bidang pendidikan untuk penguatan kapasitas pengetahuan dan ketrampilan, misalnya PGRI, MGMP, dan sebagainya. Mengikuti organisasi sosial, misalnya LMD, LKMD, BUMDES, organisasi Olah raga, ekonomi, dan sosial lainnya.

  

4) Kompetensi kepribadian. Guru selayaknya memiliki kepribadian yang baik. Guru adalah profesi terhormat yang akan mengantarkan generasi mendatang menjadi generasi emas. Guru seharusnya dapat menunjukkan diri sebagai seorang yang memiliki kepribadian yang baik dengan pemahaman dan pengamalan agama yang moderat. Strategi yang dapat dilakukan, yaitu: Menjadi pengurus organisasi keagamaan, misalnya NU, Muhammadiyah, Jam’iyatul Washilyah, Nahdlatyl Wathan, dan sebagainya sebagai organisasi yang berbasis Islam wasathiyah. Menjadi pengurus Takmir Masjid, membina Remaja masjid, Membina Karang Taruna, membina Darma Wanita, dan sebagainya. Sering terlibat di dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, sosial dan lainnya yang non politis.

  

Di tengah keinginan untuk menjadikan profesi guru sebagai profesi panutan yang inovatif, maka saya kira perlu untuk diperkuat uji kompetensi guru dengan tambahan kompetensi yang relevan dengan perubahan social yang semakin cepat. Oleh karena itu, Kemenag diharapkan tidak hanya mengandalkan kompetensi guru dengan empat hal di atas, akan tetapi dengan menambah kemampuan religious berbasis Islam wasathiyah dan penguasaan teknologi informasi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.