(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Sayyid Imran Penyebar Islam di Wilayah Pesisiran Tuban

Khazanah

Pendahuluan 

  

Nama Sayyid Imron  disebut juga Mbah Gading. Nama ini tentu sangat dikenal di wilayah Tambakboyo dan Bancar, sebagai makam waliyullah penyebar Islam di masa lalu. Tidak diketahui kapan pastinya, tetapi kira-kira di akhir abad ke 18. Nama aslinya sesuai dengan berita yang disampaikan oleh para kiai di wilayah ini adalah Syekh Shafwan bin Thahir. Jadi ada relasi antara Pesantren di Gemuntur Senori Tuban sebagai tempat Syekh Thohir atau Mbah Gajah dengan Syekh Imron atau Mbah Gading.

  

Di masa lalu, Tuban merupakan  pusat perdagangan antar pulau bahkan antar negeri. Tuban merupakan pusat lalu lintas perdagangan dari wilayah Timur Tengah dan juga China. Selain Gresik dan Surabaya, Tuban merupakan bandar laut yang besar dengan lalu lintas perdagangan antar negeri. Banyak orang Arab dan juga China yang lalu lalang di Tuban, ada yang menetap dan ada juga yang hanya singgah saja. Para pedagang ini yang meramaikan Tuban sebagai pusat perdagangan di masa lalu.

  

Di dalam buku yang ditulis  Pramoedya Ananta Toer, “Arus Balik” (2002), buku  ini bercerita tentang Tuban pada paruh pertama abad ke 16 atau masa Adipati Wilwatikta. Disebutkan  bahwa Tuban merupakan wilayah yang sangat strategis dan menjadi pusat perdagangan yang besar. Tuban dan sekitarnya merupakan wilayah yang sulit dikuasai Portugis bahkan wilayah yang secara perekonomian sangat maju dan menjadi wilayah yang mandiri dalam mengelola perdagangan regional maupun internasional. Begitu besarnya bandar Tuban tersebut maka Portugis sangat berminat untuk menguasai Tuban, dan akhirnya Tuban bisa ditaklukkan dalam satu pertempuran. Buku yang berkategori novel sejarah ini dapat menjadi pintu masuk ke dalam sejarah Tuban pada era pasca keruntuhan Majapahit dan perkembangan agama Islam di Tuban. 

  

Melacak Sayyid Imran

  

Keberadaan Syekh Imran tentu dalam waktu sebelum Belanda melakukan penguasaan terhadap perdagangan di Tuban. Jika  menggunakan putra Kiai Arifin Kelapa Telu yang menjadi pejabat Agama di Tuban sekitar paruh pertama abad 20, maka kiranya bisa dinyatakan bahwa Sayyid Imran menjadi penyebar Islam di pesisir utara kira-kira paruh kedua abad 18. Tentu saja tidak diketahui dengan pasti, sebab tidak terdapat prasasti apapun di makam beliau di Bancar Tuban.

  

Saya pernah dua kali berziarah di makam beliau di bibir pantai di Bancar. Makam beliau memang tepat di pinggir pantai dan agak menjorok ke laut. Mungkin di masa lalu, makam beliau itu agak jauh dari bibir pantai, namun karena abrasi laut, sehingga makam itu sekarang tepat berada di bibir pantai, dan sangat berpeluang terkena abrasi. Untunglah bahwa makam beliau dipugar dan dipagar dengan beton sekitar tahun 1970-an. Bangunan tersebut cukup kokoh, sehingga bisa menahan terhadap abrasi pantai yang terus terjadi setiap saat. 

  

Makam beliau memang tidak seramai makam-makam besar di Tuban seperti Makam Kanjeng Sunan Bonang, Makam Kanjeng Syekh Ibrahim Asmaraqandi atau Makam Sunan Drajat. Makam tiga sunan ini memang menjadi target wisata ziarah di Tuban dan Lamongan. 


Baca Juga : Faktor Pendorong Takwa (2)

  

Namun demikian, makam ini menandai terhadap dakwah yang dilakukan oleh Sayyid Imran di tengah masyarakat non-muslim di masa lalu. Berdasarkan cerita Kiai Imam, bahwa dakwah Sayyid Imran meliputi Jawa Tengah bagian timur, misalnya Kragan, Rembang, Lasem, dan Jawa Timur bagian Barat, seperti Jatirogo, Bancar, Jenu, Tuban,  Babat dan Lamongan. Sayyid Imran merupakan ahli ketabiban, sehingga menjadikan ilmu ketabiban tersebut untuk menjadi instrumen di dalam dakwahnya. Selain itu juga seorang sayyid yang sangat dekat dengan masyarakat kecil atau wong cilik. Meskipun beliau adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidatina Fathimah RA dan Sayyidina Husin RA, dan terus sampai ke beliau, namun tidak menjadi halangan bagi beliau untuk bergaul dengan Kaum Sudra atau wong cilik. Makam beliau yang sangat sederhana tentu menggambarkan bagaimana masyarakat di masa lalu menganggapnya sebagai wali yang sederhana juga. 

  

Berdasarkan keyakinan lokal, bahwa di makam Sayyid Imran terdapat Pohon Tasbeh yaitu pohon yang buahnya menyerupai tasbeh, membentuk lingkaran dan ada buahnya yang menyerupai hitungan tasbeh. Masyarakat lokal sama sekali tidak berani untuk menebang pohon ini. Pohon-pohon di sekitarnya sering ditebang, tetapi khusus pohon ini sama sekali tidak disentuh. Masyarakat khawatir kuwalat, suatu sikap penghormatan terhadap benda yang memiliki sejarah masa lalu yang penting. Selain itu,  sekali waktu juga muncul ikan kalis, yaitu sejenis ikan hiu yang menghampiri wilayah sekitar makam Sayyid Imran. Jika orang memancing  mengetahui ada ikan ini yang datang, maka pemancing akan segera pulang. Konon katanya, ikan ini adalah binatang kesayangan Sayyid Imron. Bahkan di masa lalu, jika orang Bancar dan Bulu akan pergi haji juga melakukan ziarah ke makam Sayyid Imran. Selain itu juga terdapat lambang bintang di makam Beliau. Hal  ini berbeda dengan lambang  segitiga terbalik di makam Syekh Baqa Baqi atau Syekh Al Baqi di Dusun Semampir, Sembungrejo, Merakurak dan makam Sunan Drajat.  Saya belum memahami apakah Sayyid Imran memiliki jalur kekerabatan dengan Sunan Drajat ataukah tidak, sebab bisa saja terdapat relasi kekerabatan,  tetapi sebagaimana tradisi Islam, bahwa keturunan bisa diurut nasabnya kepada kaum lelaki. Bisa saja Sayyid Imron dari keluarga perempuan.

  

Jika saya bercerita tentang pohon tasbeh lalu menjadi teringat tentang Pisang Tasbeh yang hanya tumbuh di sekitar makam Kanjeng Sunan Bonang. Tasbeh buah pisang ini didayagunakan atau diperjualbelikan oleh masyarakat sekitar makam Sunan Bonang. Saya pernah membeli tasbeh  yang terbuat dari buah pisang tersebut. Saya tidak tahu apakah ada relasi antara Pisang Tasbeh dengan Pohon Tasbeh yang ada di makam Sayyid Imran.

  

Makna Penyebaran Islam

  

Sebagaimana diketahui bahwa sumber penelusuran historis atas wali-wali generasi ketiga atau keempat Walisongo hanya diperoleh melalui sejarah lisan, cerita rakyat dan juga pengalaman masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan makam dalam bentuk ziarah. Ingatan kolektif ini yang kemudian menjadi sumber penulisan sejarah lokal yang selama ini memang miskin sumber-sumber tertulis. Namun demikian, sekurang-kurangnya bisa menjadi hipotesis sejarah yang menarik untuk dikaji lebih jauh secara lebih akademis.

  

Saya ingin memberikan pemahaman atas beberapa simbol yang terdapat di makam Sayyid Imran untuk dipahami makna yang terkandung di dalamnya. Ada tiga simbol yang dapat dipahami di dalam konteks dakwah Sayyid Imran. 

  

Pertama, Pohon Tasbeh. Di kalangan sebagian umat Islam, tasbeh merupakan bagian di dalam proses zikir atau wirid. Tasbeh  digunakan sebagai hitungan di dalam bacaan wirid atau zikir. Paling banyak tasbeh digunakan untuk penganut tarekat. Apapun tarekatnya, maka tasbeh menjadi kelengkapan dalam melakukan wirid. Sebagaimana diketahui bahwa dunia tarekat mengharuskan membaca kalimat tauhid dalam jumlah tertentu. Misalnya penganut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah harus membaca wirid 165 kali setiap selesai shalat wajib. Maka cara yang paling mudah untuk menghitungnya adalah dengan menggunakan tasbeh. Pohon tasbeh  merupakan lambang bahwa Sayyid Imran adalah ahli zikir atau wirid dan itulah yang diajarkannya kepada umat Islam di masa lalu. Saya berkeyakinan bahwa Sayyid Imran adalah seorang penganut tarekat, hanya saja nama tarekatnya yang belum jelas.

  

Tradisi menggunakan tasbeh di dalam peribadahan khususnya wirid memang merupakan tradisi yang sudah menginstitusional di dalam kehidupan umat Islam. Maka jika kita ziarah makam waliyullah, maka toko-toko di sekitarnya juga menjajakan bermacam-macam tasbeh, misalnya jenis tasbeh Kauka, tasbeh kayu mahoni, kayu sawo, kayu cendana dan tasbeh  pisang di makam Sunan Bonang. Tasbeh juga dijual di toko-toko di sekitar Masjidil Haram dan juga Masjid Nabawi. Tasbeh  Kauka adalah jenis tasbeh yang banyak diburu umat Islam. Semakin banyak digunakan untuk wiridan, maka semakin mengkilap. Tasbeh  juga dipakai di dalam agama Budha. Banyak tokoh atau ulama Buddha yang menjadikan tasbeh  sebagai asesoris di dalam peribadahan.

  

Kedua, Ikan Kalis.  Ikan merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat nelayan. Sebagai warga pesisir, pastilah bahwa Sayyid Imron memiliki kesukaan atau kelangenan terhadap ikan yang menjadi sumber kehidupan. Namun kehadiran Ikan Kalis menandai bahwa masyarakat harus menjaga ekosistem laut. Diberinya ajaran kepada masyarakat bahwa selain memanfaatkan ikan sebagai sumber kehidupan juga harus melestarikannya. Ikan Kalis menjadi simbol “jangan semua dimanfaatkan untuk sumber kehidupan”, akan tetapi juga “harus ada yang dilestarikan”. Di dalam Bahasa Jawa, kata "kalis" itu artinya “ketiadaan” atau juga bisa bermakna “kemenyatuan”. Misalnya kalimat "kalis ing kasidan jati", yang artinya “hilang dalam kematian” atau “kemenyatuan di dalam ketuhanan” atau “menyatu di dalam Allah”. Atau kalimat "kalis ing sambikala" yang bermakna hilang dari semua marabahaya. Dengan demikian, antara pohon tasbeh dengan Ikan Kalis sebenarnya merupakan satu kesatuan, bahwa orang yang bertasbeh dengan kalimat la ilaha illahllah, maka jiwanya akan terserap ke dalam Tuhan atau sebaliknya. Secara simbolik, bahwa hal ini meyakinkan bahwa Sayyid Imran adalah penganut tasawuf dan mengajarkannya kepada masyarakat dengan bahasa-bahasa lokal yang dipahami oleh masyarakatnya. 

  

Ketiga, simbol bintang. Di dalam jagad raya ini bintang dipahami sebagai sesuatu yang tinggi jauh dari manusia. Meskipun bintang bagian dari makro kosmos tetapi tidak terjangkau oleh fisik manusia. Tetapi bintang dapat dijangkau dengan mata batin. Dengan pikiran dan intuisinya, manusia bisa menjangkau yang tidak terjangkau. Bahkan bisa memasuki alam ketuhanan yang sangat rahasia. Bintang bahkan dijadikan sebagai simbolisasi di dalam salah satu sila di dalam Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. 

  

Melalui simbol-simbol yang diyakini oleh masyarakat lokal ini tentu memberikan gambaran bahwa Sayyid Imran adalah penganut Islam “ala ahli sunnah wal jamaah” dan sekaligus juga mengamalkan ajaran tasawuf, yang di masa lalu menjadi instrumen di dalam penyebaran agama Islam. Jadi, tidaklah berlebihan jika disimpulkan bahwa Sayyid Imran adalah tokoh penyebar Islam yang mengembangkan Islam wasathiyah atau Islam rahmatan lil ‘alamin, berbasis pada ajaran tasawuf yang adiluhung.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.