(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Syeikh Boqa Baqi Generasi Penerus Dakwah Sunan Drajat

Khazanah

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal nama ini. Masyarakat lokal di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban menyebutnya dengan nama Mbah Boqa Baqi. Meskipun demikian, saya kira pantas jika kita membacakan surah Al-fatihah kepada beliau ini, sebagai salah satu penyebar Islam di tlatah Kecamatan Merakurak, Tuban dan mungkin juga beberapa wilayah lain di Kabupaten Tuban. Lahu Alfatihah. 

  

Berdasarkan catatan yang dibuat oleh ahli sejarah-spiritual  tentang Tuban, bahwa di wilayah Tuban terdapat sebanyak 192 wali, yang dikenal oleh masyarakat lokal. Hampir setiap desa memiliki nama-nama walinya sendiri. Mereka memang bukan nama-nama yang sangat terkenal.  Nama-nama waliyullah yang sangat terkenal, misalnya:  Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Syekh Banjar Maulana Ishaq, Syekh Sunan Drajat, Syekh Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, atau Syekh Raden Qasim, Syekh Sunan Ampel dan Syekh Magribi. 

   

Nama Mbah Boqa Baqi dikenal masyarakat lokal sebagai penyebar agama Islam dan  peran beliau  sebagai waliyullah dikenal dengan sangat baik. Sebutan Mbah dalam tradisi lokal di pedesaan dikaitkan dengan orang yang dituakan atau sesepuh, orang yang sangat dihormati dan memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lainnya.   

  

Melacak Syekh Boqa Baqi

  

Nama  Syekh Boqa Baqi saya dengar cukup lama, sebagaimana yang dituturkan oleh Mbah Ismail, kakek saya, seorang Modin di Dusun  Semampir, Desa  Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Mbah Ismail bahkan berpesan kepada paman saya, Lik Samuri,  untuk merawat makam ini. Sebuah makam yang berbeda dengan makam-makam pada umumnya di pekuburan Dusun Semampir, Desa Sembungrejo tersebut. Nisannya lebih besar dan berciri khas. Di makam ini memang ada beberapa makam yang nisannya agak berbeda dengan nisan pada umumnya,  akan tetapi maesan Syekh Boqa Baqi sungguh berbeda dengan seluruh nisan di pekuburan dusun itu.

  

Mbah Ismail juga bercerita bahwa di desa ini terdapat sumur wali begitulah masyarakat menyebutnya dan di masa lalu menjadi satu-satunya sumur yang menghidupi masyarakat dua desa sekaligus, yaitu masyarakat desa Pongpongan dan masyarakat Dusun Semampir. Sumur itu dinisbahkan dengan nama Syekh Mutamakin yang memiliki jejak sejarah di Tuban, khususnya di Merakurak, Tuban. Peninggalan beliau masih bisa dilihat hingga sekarang dalam bentuk bedug di Desa Kembangbilo, dan bekas pesantrennya, Pesantren Kelopo Telu, juga masih bisa dilihat di desa Tahulu atau Mandirejo, Kecamatan Merakurak Tuban. 

  

Saya memang selalu melakukan ziarah kubur, terutama untuk bapak dan kakek serta kerabat lainnya. Jika saya pulang ke Tuban tentu saya menyempatkan ziarah ke makam-makam tersebut. Namun secara khusus menziarahi makam Syekh Boqa Baqi tidak saya lakukan. Sampai suatu ketika saya berpikir bahwa makam yang aneh tersebut harus diketahui benar atau tidaknya memiliki ketersambungan genealogis dengan waliyullah yang terkenal di Jawa Timur. 

  

Saya tidak bisa menjelaskan mengapa saya tertarik dengan makam ini. Tetapi, kemudian seperti ada yang menggerakkan agar saya melakukan tindakan untuk memahami siapa sesungguhnya Syekh Boqa Baqi tersebut. Memang Lik Samuri selalu menziarahi makam ini, dan bahkan juga dilakukan khoul terhadapnya. Tetapi tentu saja hanya berangkat dari tradisi “manganan” kuburan yang di masa lalu hanya menjadi tempat makan dan membuang sisa makanan itu di makam.  Seirama  dengan perubahan perilaku masyarakat yang lebih religious, maka manganan kuburan diubah menjadi ziarah makam bersama dan tahlilan untuk ahli kubur secara bersama. Tradisi makan bersama memang masih ada, tetapi intinya diganti dengan upacara religious


Baca Juga : Sapardi

  

Kemudian saya menyempatkan zairah kubur ke Makam Syekh Boqa Baqi dengan Lik Samuri. Seperti ada kekuatan untuk membuka kain putih yang dipakai untuk menutup nisan makam. Kemudian, hal yang membuat saya tertarik karena di nisan itu terdapat lambang segitiga terbalik. Sementara itu, di sebelah bawahnya terdapat makam serupa, dengan maesan khusus,  tetapi tidak memiliki lambang segitiga tersebut. Diperkirakan yang satunya itu adalah makam seorang perempuan, mungkin puteri beliau. 

  

Suatu ketika, saya bertemu dengan Kiai Imam dari Tambakboyo dan menanyakan kepada beliau tentang makam tersebut. Dan dinyatakan: “Syekh Baqi memang Waliyullah dan makamnya memang di situ. Bahkan masih ada lagi makam serupa di Kelapa Telu, Desa Tahulu yang senasab dengan beliau”.  Bahkan secara khusus beliau saya ajak untuk ziarah ke makam Syekh Baqi. Di saat itulah  saya terpikir untuk melacak jejak arkeologis tentang makam Syekh Baqi. 

  

Karena takdir Tuhan,  saat untuk melakukan pelacakan itu datang juga. Pak Rudi Ramli, Chinese dari Jakarta, mengajak saya untuk ziarah makam wali-wali di Jawa Timur. Bersama saya, Kiai Imam, Cak Munir, dan Cak Kirom, melakukan ziarah makam. Ada dua target saya, yaitu berziarah ke leluhur umat Islam di Jawa Timur dan juga melacak keberadaan lambang sebagaimana terdapat di Makam Syekh Boqa Baqi. Mula-mula kita berziarah ke Makam Syekh Jumadil Kubro di Trowulan. Ternyata lambang segitiga terbalik itu sedemikian kentara. Saya  menyimpulkan bahwa kiranya ada hubungan genealogis antara Syekh Boqa Baqi dengan Syekh Jumadil Kubro. Karena bertepatan dengan hari Jumat, maka saya sempatkan untuk shalat Jumat di Masjid Syekh Jumadil Kubro. 

  

Kemudian saya hadir di makam Mbah Bungkul salah seorang Santri Kanjeng Sunan Ampel ternyata tidak didapati lambang tersebut. Kesimpulan saya tentu saja tidak terdapat hubungan genealogis dengan Kanjeng Eyang Syekh Jumadil Kubro dan juga Syekh Boqa Baqi dengan Mbah Bungkul.

  

Lalu saya bersama tim hadir di Makam Kanjeng Eyang Sunan Ampel. Di sini terdapat lambang yang sangat ketara tentang segitiga terbalik. Seluruh asesoris makam memiliki lambang-lambang tersebut.  Jadi, terdapat relasi genealogis antara Syekh Boqa Baqi dan Sunan Ampel. Perjalanan lanjut ke Eyang Syekh Banjar Maulana Ishaq dan Syekh Mayang Madu, ternyata lambang itu tidak didapatkan. Berikutnya, ziarah ke Makam Eyang Syekh Sunan Drajat, dan ternyata seluruh asesoris makam itu memiliki lambang segitiga terbalik. Keyakinan  saya pasti ada relasi genealogis antara Syekh Jumadil Kubro, Syekh Sunan Ampel dan Syekh Sunan Drajat. Karena sudah jam 22.00 WIB, maka saya pulang ke rumah di Dusun Semampir, sementara itu Pak Rudi menginap di salah satu hotel di Tuban. 

  

Tiba saatnya ziarah ke Makam Syekh Sunan Bonang. Ternyata di makam ini juga didapati lambang yang menggambarkan segitiga terbalik. Demikian pula ketika ziarah ke Makam Eyang Syekh Ibrahim Asmaraqandi. Saya teringat pada tahun 2002-2003, saya melakukan penelitian di sini untuk penulisan disertasi, dengan judul “Tradisi Islam Lokal  Pesisiran, Studi Konstruksi Sosial upacara pada Masyarakat Palang, Tuban, Jawa Timur”, dan kemudian diterbitkan oleh LKiS, Yogyakarta (2005)  berjudul “Islam Pesisir”.  Fokus penelitian ini adalah relasi antara penggolongan sosial, tradisi lokal dan ruang budaya pada masyarakat pesisir. Pada Makam Syekh Ibrahim juga didapatkan lambang-lambang segitiga terbalik sebagaimana di makam Syekh Boqa Baqi. Kami juga menyusuri Makam Raden Gagar Manik atau yang dikenal Pangeran Tundung Mungsuh dan Ki Barat Ketigo, di mana keduanya tidak memiliki lambang segitiga terbalik.  

  

Makna Segitiga Terbalik

  

Bagi masyarakat Jawa, tidak ada sesuatu yang diciptakan kecuali mengandung makna spiritual dalam konteks eskatologis. Dari mana manusia berawal dan mau ke mana pada akhirnya. Setiap segala sesuatu dipastikan akan mengalami proses hadir, ada, dan pergi. Datang dari alam roh dan kembali ke alam roh. Dari rahim seorang Ibu, hadir di dunia dan kembali ke haribaan Allah Azza Wa Jalla. Roh itu “abadi” sebab roh adalah pancaran Allah SWT yang ditiupkan kepada hamba-Nya. Setiap manusia memiliki roh yang berasal dari Tuhan. Jasad akan hancur kembali ke bumi sebagaimana tanah diciptakan Allah SWT sebagai bahan dasar manusia, sedangkan roh akan hidup terus. Roh tersebut berpindah-pindah dari alam roh, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Masing-masing memiliki konsekuensinya. 

  

Lambang segitiga terbalik adalah gambaran tentang kehidupan manusia. Segitiga bagian bawah adalah lambang manusia dengan dunia mikro kosmos, dan segitiga bagian atas yang luas dan besar melambangkan dunia makro kosmos. Di dalam sigitiga tersebut ada proses saling menyerap dan menerima. Dunia mikro kosmos bisa terserap ke dalam dunia makro kosmos dan sebaliknya dunia makro kosmos bisa terserap ke dalam mikro kosmos. Inilah yang di dalam dunia tasawuf disebut dengan konsep hulul sebagaimana pandangan Al Hallaj dan Wahdatul Wujud sebagaimana pandangan Ibnu Arabi serta  ittihad  sebagaimana pandangan Abu Yazid al Busthami. Manusia terserap ke dalam dzat dan sifat Allah SWT atau disebut sebagai alam lahut dan sebaliknya dzat dan sifat Allah SWT terserap di dalam diri manusia yang disebut sebagai alam Nasut.

  

Secara teoretik kita mungkin bisa memahami, tetapi dari sisi pengalaman tentu hanya orang-orang tertentu yang bisa mengalaminya. Dan para waliyullah adalah orang yang secara substansial bisa melakukannya.

  

Kesimpulan

  

Dari pelacakan arkeologis terhadap lambang-lambang yang terdapat di dalam nisan Syekh Boqa Baqi dan lambang-lambang secara asesoris di makam-makam para auliya di tlatah Mojokerto, Surabaya, Lamongan dan Tuban ternyata dapat dinyatakan bahwa ada keterkaitan secara genealogis antara Syekh Boqa Baqi dengan Sunan Bonang, Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Sunan Drajat, Sunan Ampel dan Syekh Jamaluddin Kubro.

  

Hal ini memberikan pemahaman bahwa Syekh Boqa Baqi adalah generasi ke sekian dari Sunan Ampel. Sayangnya kita tidak tahu pada tahun berapa beliau hidup dan mengembangkan Islam di wilayah ini. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.