(Sumber : www.nursyamcentre.com)

UIN Sunan Ampel: Sudah 56 Tahun (Bagian 2)

Khazanah

Secara fisikal UIN Sunan Ampel (UINSA)  sudah sangat memadai. Dengan bangunan fisik di Jalan A. Yani 117 sebagai kampus I dan  bangunan fisik di Gunung Anyar sebagai kampus II, maka UINSA sungguh sudah menjadi kampus yang modern dan keren. Kampus I di Jalan A. Yani 117 merupakan pintu masuk Surabaya  dari arah Sidoarjo dan siapapun yang melewati jalan A. Yani, baik dari arah Wonokromo maupun Waru dipastikan akan melihat kampus yang megah dengan dua bangunan sembilan lantai yang  mirip gaya bangunan di Malaysia, Twin Towers, yang sangat dibanggakan oleh warga Malaysia. Saya kira seluruh warga UINSA juga membanggakan kampusnya yang sangat keren dan fungsional ini. Jika malam hari,  keindahannya juga semakin nampak dengan warna-warni lampion yang indah dan menawan. 

  

Bangunan kampus II UINSA di Gunung Anyar juga tidak kalah keren. Gedung 10 lantai tersebut juga terletak di jalan utama untuk menghubungkan kota Surabaya ke Bandar Udara Juanda Surabaya di Sidoarjo. Jadi siapapun yang melintas di jalan tol dari arah Surabaya atau dari Bandar Udara Juanda ke Surabaya, pasti akan melihat bangunan megah UINSA yang  melambangkan kemoderenan tersebut. Rasanya bangunan ini juga menjadi ikon bagi UINSA sebab letaknya yang sangat strategis. Dulu tidak pernah dibayangkan bahwa suatu ketika ada orang luar Surabaya dari Bandar Udara Juanda dan akan ke Surabaya, maka yang dilihat adalah gedung megah dan gedung itu adalah kampus UINSA. Mimpi ini sudah menjadi kenyataan. Siapapun yang melintas jalan tol yang menghubungkan Bandar Udara Juanda dengan wilayah lain, maka yang terlhat adalah Kampus UINSA. Saya kira semua warga kampus juga  membanggakannya.

  

Untuk penyiapan pembangunan fisik  juga tidak sederhana. Mimpi kita waktu itu adalah bagaimana bisa melipat tahun pengembangan fisik IAIN Sunan Ampel dari 40 tahun menjadi 4 tahun saja. Ini yang saya sampaikan di berbagai forum yang dihadiri oleh pimpinan  IAIN Sunan Ampel tahun 2009an. Jika menggunakan anggaran Kemenag untuk pengembangan fisik setiap tahun hanya maksimal 10 milyar, sehingga untuk membangun dan mengubah wajah IAIN dengan anggaran sebesar 400 Milyar, maka membutuhkan waktu 40 tahun. Maka tidak ada jalan lain,  IAIN Sunan Ampel harus memperoleh dana besar, dan pilihannya tidak lain adalah melalui Islamic Development Bank (IsDB). Pengalaman UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Kalijaga, UIN Malang, UIN Sultan Syarif Qasim dan UIN Alauddin seperti itu. Program IsDB  merupakan loan, yang dana pendampingannya disediakan oleh pemerintah atau APBN. 

  

Kendala yang muncul pada tahun 2009 adalah pemerintah tidak akan lagi memberikan dana pendamping. Dana pendamping bisa diusahakan oleh institusi atau Pemda atau Provinsi. Rasanya  langit akan runtuh, membayangkan bagaimana IAIN Sunan Ampel harus menyediakan dana pendamping sebesar 10 persen. Di saat seperti ini, dan saya teringat pertemuan saya dengan Prof. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang, di depan kampus IAIN Sunan Ampel. Saya mengeluh tentang dana pendamping tersebut, dan Prof. Imam memberikan wejangannya: “Pak Rektor, yang penting membuat proposal. Jika sampeyan membikin proposal maka peluangnya dua, dapat atau tidak dapat, tetapi jika tidak membuat proposal maka peluang hanya satu, tidak dapat”. Pernyataan Pak Imam ini seperti melecut kembali semangat untuk meneruskan mimpi membangun fisik IAIN agar sejajar dengan kampus lainnya. 

  

IAIN Sunan Ampel tentu belum memiliki pengalaman untuk menyusun proposal ke IsDB, maka kita undang Pak Doddy Budiwaskito, seorang sahabat yang mendarmabaktikan pengalamannya untuk menyusun proposal. Pak Doddy ini telah malang melintang dalam proyek-proyek IsDB. Ternyata juga tidak mudah menyusun proposal  sebab tidak hanya eksisting IAIN Sunan Ampel saat itu tetapi juga proyeksi ke depan. Tidak hanya pernyataan dan angka-angka sebagai basis pembangunan fisik kampus,  namun juga dukungan pejabat di Jawa Timur. Pak De Karwo dan Gus Ipul tentu sangat mendukung program ini, sebab  IAIN adalah aset bagi Pemerintah Provinsi  Jawa Timur dalam pengembangan SDM. Saya tidak ingat berapa kali pertemuan untuk merumuskan proposal tersebut, tetapi akhirnya klar juga. Setelah selesai, maka langkah pertama adalah keinginan bertemu dengan pejabat di Bappenas. Betapa sulitnya untuk bertemu  Pak Taufik Hanafi, Direktur Agama dan Pendidikan Bappenas. Akhirnya melalui pertolongan seorang sahabat dari DPR, Pak Said Abdullah, maka saya bisa bertemu. Saya presentasikan gagasan tentang pengembangan IAIN Sunan Ampel dan diapresiasinya. 

  

Proposal kita ajukan ke Kemenag dan memperoleh persetujuan untuk dilanjutkan ke Bappenas. Bersyukur juga sebab akhirnya pemerintah menyediakan anggaran pendamping untuk proyek IsDB. Ada tiga yang disapprove waktu yaitu IAIN Sunan Ampel, Universitas Negeri Semarang  dan Universitas Negeri Padang. Melalui Ibu Subandriyah, Kemenag, maka saya diperkenalkan dengan sahabat-sahabat dari Bappenas, Pak Zaenal Arifin, asli Blitar, dan juga Pak Dewobroto, dua nama yang tidak boleh dilupakan oleh warga UINSA, sebab keputusannya sangat menentukan dapat atau tidak dapat IAIN memperoleh loan IsDB. Karena sesama Jawa timur, maka relasi dengan Pak Zaenal juga sedemikian akrab. Pak Dewo juga pernah hadir di IAIN memberikan penjelasan mengenai mekanisme loan IsDB. Dukungan Kemenag melalui Bu Subandriyah juga sangat besar. Saya masih teringat ketika harus meminta tanda tangan ke Prof. Machasin, Direktur Diktis.  Saya dan Ibu Subandriyah harus ngojek dari Kementerian Keuangan ke Bandara Soetta, sebab harus mendapatkan  tanda tangan Direktur Diktis pada hari itu. Pada  waktu itu Prof. Machasin  akan pergi ke Belanda. Prof. Machasin  sudah di waiting room dan akhirnya tanda tangannya pun kami peroleh. Rasanya selalu ada tangan-tangan Tuhan yang memberikan “kemudahan” dalam pengembangan IAIN Sunan Ampel.

  

Hari-hari panjang pun berlalu.  Proposal  IAIN Sunan Ampel pada program IsDB akhirnya diterima oleh IsDB. Hal ini ditandai dengan kehadiran Dr. Beddi Abdurrahman, Dr. Abdi Abdillahi dan Dr. Luay Faruq untuk datang ke IAIN.  Mereka datang untuk melakukan appraisal tentang kelayakan IAIN menerima loan IsDB. Kedatangan Dr. Abdi Abdillahi tentu menjadi dasar bagi Bappenas untuk Menyusun Blue Book bagi pendanaan luar negeri. Berdasar atas Blue Book tersebut, maka Bappenas mengajukan program loan ke Kemenkeu melalui program pendanaan luar negeri. Sampai akhirnya menjadi Green Book, yang artinya program pendanaan luar negeri disetujui. Acara yang juga mendasar adalah Kick of Meeting yang diselenggarakan pada 16 Oktober 2010. Acara ini  dilakukan di Jakarta. Acara ini dihadiri Bappenas  Pak Dewobroto, Pak Zaenal Arifin, dan Pak Taufik Hanafi,  dari IsDB Dr. Abdi Abdillahi , Dr. Beddi Abdurrahman, Luay Faruq dan  Pak Makhlani, lalu dari Kemenag Prof. Machasin,  Bu Andri dan Pak Sugito. Kemudian pada 20 Oktober 2010 dilakukan acara Wrap Up Meeting yang dihadiri oleh pihak IsDB, Dr. Beddi Abdurrahman, Dr. Abdi Abdillahi dan Dr. Luay Faruq, dari Kemenag, Prof. Machasin, Dr. Affandi Muchtar, Dr. Ahmad Zayadi, dan  Subandriyah, dari IAIN yang hadir saya, Ahmad Zaini, dan Kemal Reza.  Acara ini untuk mendengarkan kesiapan IAIN Sunan Ampel dan juga responsi tim IsDB tentang peluang pemberian loan IsDB. Pertemuan ini diselenggarakan di Kemenkeu tentang pertimbangan pemberian loan IsDB ke IAIN Sunan Ampel dan juga Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Padang.

  

Selain itu juga ada satu program yang diiniasi oleh Kemenkeu adalah acara Start Up Workshop  diselenggarakan pada 23-24 November 2011, yang digelar antara pemerintah Indonesia dan perwakilan IsDB. Seingat saya, Pak Dewobroto, Pak Zainal Arifin, Dr. Abdi Abdillahi dan Pak Mahlani sebagai representative IsDB untuk Indonesia  dan jajaran Kemenkeu dan Representasi Kemenag, Pak Machasin, Bu Subandriyah dan Pak Sugito (alm). Meeting ini sangat menentukan sebab melalui forum ini maka akan menentukan apakah IsDB yang akan memberikan loannya ke Pemerintah Indonesia dapat memenuhi Perpres No 54 tahun 2010 tentang guide line dan regulasi dari IsDB. 

  

Sebagaimana semula, ada tiga institusi pendidikan yang dihadirkan, yaitu IAIN Sunan Ampel, Universitas Padang dan Universitas Negeri Semarang. Berkat usaha keras dari ketiganya, maka IsDB menyetujui permohonan Kemenkeu untuk memberikan loan dalam kerangka pengembangan tiga institusi ini. Satu lagi yang diperlukan adalah terbitnya No Objection Letter (NOL) dari IsDB. Dan ketika hal ini diperlukan,  saya sudah di Jakarta untuk mengemban tugas lain sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam. NOL akhirnya didapatkan dan pada era Prof. Abd. A’la sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel.  Melalui terbitnya NOL,   akhirnya pembangunan  fisik  IAIN Sunan Ampel dapat  dilakukan oleh PT Pembangunan Perumahan (PT PP). Pak Lukman dari PT PP pun punya andil dalam pengembangan fisik IAIN Sunan Ampel. Kita sekarang bisa menikmati keindahan dan kemegahan Kampus I UIN Sunan Ampel tentu berkat upaya semua jajaran yang terkait dengan proyek prestisius dan bergengsi ini.

  

Wallahua a’lam bi al shawab.