(Sumber : Nur Syam Centre)

Dampak Positif Covid-19

Opini

Covid-19 yang menjadi pandemi di dunia selalu dilihat dari perspektif negatif, terutama dalam relasinya dengan perekonomian, sebab  bisa menimbulkan resesi dunia. Semua negara harus merevisi pertumbuhan ekonominya dengan sangat tajam. Indonesia, misalnya harus merevisi rencana pertumbuhan ekonominya dari 5,1 persen menjadi 4,1 persen saja, bahkan secara empiris bisa saja tidak tercapai  angka tersebut.

  

Bisa dibayangkan bahwa selama Pandemi Covid-19 perjalanan ekonomi mengalami kemacetan luar biasa. Transportasi berhenti total. Bandara udara lengang, terminal bus kosong, stasiun sepi, mall berhenti bergerak. Tenaga kerja dirumahkan bahkan diberhentikan.  Perusahaan-perusahaan berhenti produksi. Serta, dunia bisnis nyaris mengalami kebangkrutan. Negara-negara yang selama ini relatif stabil ekonominya, seperti Selandia Baru, Australia, China, Korea Selatan, Jepang dan beberapa negara Eropa juga harus pontang-panting untuk bertahan melawan badai Pandemi Covid-19. 

  

Relasi sosial dan agama juga mengalami transformasi yang luar biasa. Relasi kekerabatan,  relasi antar tetangga dan relasi sosial lainnya mengalami kerenggangan. Ada semacam sikap prejudice yang diakibatkan oleh psychological traumatic bahkan psychological paranoid. Disebabkan oleh keinginan untuk “selamat”, maka individu bisa mengorbankan relasi sosial yang akrab dan bersahabat. Bahkan, relasi keberagamaan yang selama ini menjadi pola kehidupan yang paling stabil juga mengalami transformasi yang sangat tinggi. Perhatikan  masjid-masjid yang kosong. Selain itu, gereja, vihara, pura dan kelenteng yang juga mengalami nasib yang sama. Para jemaat yang selama ini setia mendatangi tempat ibadah menjadi lebih suka beribadah di rumah. Semua menjadi takut dengan Covid-19.

  

Benarkah Covid-19  menyebabkan semua perubahan menuju ke arah negatif? Jawabannya ternyata tidak selalu. Covid-19 masih menyisakan ruang positif bagi kehidupan manusia, khususnya bisnis dan relasi sosial. Dunia perdagangan yang masih eksis di tengah pandemi Covid-19 adalah perdagangan online. Sistem perdagangan online justru menuai masa keemasan di era ini. Jika selama ini pengiriman barang dilakukan melalui sistem konvensional, maka sekarang dilakukan melalui sistem online. Covid-19 justru menghidupkan bisnis online yang memang mulai menggeliat di era Revolusi Industri 4.0. Dunia bisnis konvensional telah digantikan oleh bisnis online, yang memang relevan dengan situasi sosial seperti sekarang. 

  

Hal yang sangat menonjol dalam era Pandemi Covid-19 adalah perubahan penggunaan teknologi informasi. Covid-19 merupakan pendorong percepatan penerapan teknologi informasi yang sangat luar biasa. Inilah yang saya sebut sebagai blessing in disguise. Seandainya tidak ada Pandemi Covid-19, maka tidak akan secepat ini perubahan perilaku masyarakat Indonesia dalam menerapkan teknologi informasi. Di seluruh pelosok Nusantara, lalu mengenal dengan baik Zoom, Google Meet, Google class, dan sebagainya. 

  

Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dicanangkan oleh dunia pendidikan, sebagai respon atas wabah Covid-19 tentu memaksa seluruh stake holder dunia pendidikan untuk menyesuaikan diri. 

  

Betapa semaraknya acara Zoominar, Webinar, Meeting online, class online, course online, dan pembelajaran online lainnya. Jika kita mengamati kata apa yang paling popular di era sekarang adalah kata-kata tersebut. Jika diamati di media sosial, maka sehari bisa ada ratusan webinar, zoominar, pengajian, meeting dan sebagainya yang dilakukan sebagai respon atas Pandemi Covid-19. Banyaknya seminar, meeting, ngaji melalui online bukanlah sikap latah yang ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia, akan tetapi merupakan respon positif atas wabah Covid-19. 

  

Ada banyak tokoh masyarakat, akademisi, intelektual dan juga birokrat yang terlibat  di dalam acara-acara meeting online. Prof. Azyumardi Azra, misalnya nyaris setiap hari kita lihat flayer yang menghadirkannya sebagai narasumber dalam zoominar atau webinar.   Para Kyai, Ustadz, ulama juga terlibat di dalam meeting online. Bahkan Dr. Chabib Musthofa dari NSC bisa hadir dan mengisi acara  ngaji online dan bincang bareng sebanyak empat kali dalam seminggu. Gus Baha’ juga bisa ngaji setiap hari dengan online system . Jika di masa lalu, seminar hanya dihadiri oleh masyarakat local, di mana seminar itu diselenggarakan, maka sekarang bisa dihadiri oleh orang dari berbagai daerah. Sebuah seminar di IAIN Pamekasan, bisa dihadiri oleh akdemisi dari Medan, Aceh, Jakarta  dan sebagainya.

  

Ada juga dampak positif lainnya, seseorang bisa terlibat di dalam dua atau bahkan tiga acara sekaligus. Seseorang bisa menguji disertasi di institusi pendidikannya, dan sekaligus juga menjadi naras umber seminar di tempat yang berbeda. Saya bisa meeting on line dengan kawan Sarana Pembayaran Syariah (SPS) di Jakarta dan juga dengan nara sumber dari Kanada. Menariknya adalah di dalam meeting online ini, tidak ada lagi biaya transportasi, akomodasi, dan konsumsi yang selama ini menjadi tradisi di dalam meeting konvensional. Jadi, telah terjadi efektivitas dan effisiensi yang luar biasa dalam merespon Pandemi Covid-19. 

  

Namun demikian, siapa yang untung dari sisi finansial? Lagi-lagi adalah kaum konglomerat. Berapa banyak pendapatan Google, yang aplikasinya digunakan untuk mengganti meeting konvensional, demikan pula pemilik aplikasi Zoom. Serta, yang tidak kalah penting juga para penyedia jasa internet, baik perusahaam pemerintah maupun swasta. Semua menangguk keuntungan di tengah badai Covid-19.

  

Dengan demikian, masih juga ada yang untung di tengah Pandemi Covid-19, dan kelihatannya dunia kembali mengisyaratkan bahwa Orang Kreatif yang bisa memanfaatkannya. Every problem there is a solution.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.