(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Di Masjid Tanpa Masker: Perlu Hati-Hati

Opini

Seirama dengan himbauan Presiden Jokowi bahwa di ruang terbuka bisa melepas masker, maka kemudian banyak pro-kontra terkait dengan penggunaan masker di  dalam ruang tertutup. Presiden Jokowi memang memberikan kebebasan atau pelonggaran penggunaan masker di tempat terbuka tanpa kerumunan. Jadi bukanlah yang dimaksud sebagai upaya pelonggaran penggunaan masker dalam semua ruang dan tempat. Secara umum dinyatakan bahwa penggunaan masker di ruang tertutup dan kendaraan umum masih tetap diberlakukan. 

  

Para pegawai di kantor yang bekerja di ruang tertutup tentu juga masih harus mempertimbangkan penggunaan masker. Di dalam ruang tertutup yang udaranya berputar-putar di dalam ruangan, maka sebaiknya tidak melepas masker, sebab masih rawan jika seandainya ada di antara personal di dalam ruangan tertutup yang menderita penyakit, terutama penyakit yang terkait dengan pernafasan. 

  

Pelonggaran penggunaan masker memang dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan peluang bagi dunia usaha untuk recovery. Selaras dengan semakin meredanya penularan Covid-19, maka yang diharapkan oleh pemerintah adalah agar pertumbuhan ekonomi semakin cepat sehingga perekonomian masyarakat akan kembali membaik. Terutama sector usaha yang dalam dua tahun itu nyaris stagnan. Dalam  beberapa bulan terakhir, perkembangan ekonomi semakin membaik, misalnya ditandai dengan tingkat hunian hotel, pengunjung pariwisata dan rumah makan yang semakin banyak. Pada bulan puasa yang lalu, banyak rumah makan dan restaurant yang padat dengan kegiatan buka bersama.

  

Terkait dengan himbauan Presiden Jokowi, maka MUI kemudian juga mengeluarkan himbauan agar Jemaah shalat di masjid dapat melepas masker. Pemberitahuan ini disampaikan oleh Dr. KH. Asrorun Ni’am melalui pemberitaan di media, bahwa jamaah masjid juga dapat melepas masker asalkan sehat. Himbauan ini yang memantik pro-kontra, sebab hakikat himbauan presiden sebenarnya pada ruang terbuka dan bukan pada ruang tertutup. Perkantoran, kendaraan umum termasuk masjid adalah ruang tertutup yang seharusnya bisa dikecualikan dalam pelepasam masker. 

  

Ada beberapa pandangan terkait dengan pelonggaran pemakaian masker di masjid pada waktu shalat berjamaah. Pertama, pandangan yang tetap konsisten bahwa di masjid harus tetap menggunakan masker. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa ada banyak jamaah masjid yang tidak diketahui apakah yang bersangkutan sehat atau tidak. Agak sulit untuk mendeteksi bahwa seseorang yang ikut jamaah tersebut benar-benar sehat. Apalagi pada masyarakat Indonesia seringkali menyembunyikan sakit, atau tetap mengikuti shalat jamaah meskipun mengetahui bahwa dirinya sedang tidak sehat. Contoh sederhana adalah dalam keadaan terkena flu atau batuk, tetapi tetap mengikuti shalat berjamaah.  

  

Kedua, pandangan yang memberikan kebebasan bagi jamaah. Mau menggunakan masker silahkan tidak menggunakan masker juga tidak mengapa. Kelompok ini biasanya  terdiri dari orang-orang yang mengabaikan terhadap protocol kesehatan dan sedari semula memang mengabaikan terhadap wabah Covid-19. Bahkan beranggapan bahwa Covid-19  bukanlah penyakit yang membahayakan manusia. 

  

Ketiga, kelompok yang menyambut suka cita himbauan MUI agar masjid segera dibebaskan dari protocol kesehatan.  Semenjak Covid-19 melandai, kelompok ini segera mengatur jamaahnya agar tidak ada lagi penerapan physical distancing, dan tidak ada lagi social distancing. Begitu Covid-19 mereda, maka mereka segera merapatkan shaf bagi jamaahnya. Banyak dijumpai masjid-masjid yang sudah cukup lama melonggarkan protocol Kesehatan karena mereka memang sejak semula tidak percaya bahwa penularan Covid-19 karena pelaksanaan physical distancing. Mereka mempercayai bahwa kematian dan sakit  adalah takdir Tuhan yang mesti terjadi kepada siapapun. 

  

Sebenarnya, himbauan pemerintah melalui Presiden Jokowi adalah pelonggaran pemakaian masker di tempat umum yang tidak terdapat kerumunan. Namun dalam ruang tertutup masih diperlukan pemakaian masker, misalnya perkantoran, kendaraan umum dan tempat-tempat tertutup yang  tidak terdapat ventilasi yang memadai.  Masjid di dalam banyak kenyataan adalah ruang tertutup dan menggunakan penyejuk udara. Makanya udara di ruangan masjid merupakan udara yang sirkulasinya hanya berada di dalam ruangan. 

  

Namun demikian, MUI telah mengeluarkan himbauan agar  tidak ada lagi protocol kesehatan, misalnya jarak pisik, pemakaian masker dan penggunaan hand sanitizer. Himbauan MUI ini bukannya kesalahan, sebab ada klausul bagi yang sehat. Jadi yang boleh melonggarkan protocol kesehatan adalah yang benar-benar sehat. Bagi yang batuk atau flu maka tetap terdapat keharusan menggunakan masker dan bahkan jaga jarak. 

  

Hal ini dilakukan sebab ada problem psikhologis yang dirasakan oleh jamaah lain dalam ruangan masjid atau mushalla. Jika ada jamaah yang terkena flu dan batuk maka akan dapat mengurangi focus dalam shalat  bagi jamaah lain. Bahkan secara psikhologis juga masih terdapat keraguan bagi jamaah untuk shalat tanpa masker. 

  

Jika realitas sosialnya seperti ini, maka sebaiknya di dalam melakukan shalat berjamaah masih harus tetap menggunakan masker. Jangan sampai persoalan pelonggaran protocol Kesehatan kemudian menjadikan pelaku shalat berjamaah merasa ragu-ragu dan tidak focus. Jadi akhirnya, semua terpulang kepada jamaah. Jika merasakan keraguan dalam shalat karena melepas masker, maka sebaiknya tetap memilih penggunaan masker di dalam shalat berjamaah. Masyarakat Indonesia sudah cerdas untuk memilih mana perilaku yang terbaik bagi dirinya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.