(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Dosen dalam Pembelajaran Berbasis Twin Towers

Opini

Saya diundang oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk memberikan masukan bagi para dosen, khususnya para dosen muda, tentang tema penguatan kapasitas pembelajaran berbasis pada konsep Twin Towers, yang diselenggarakan di GreenSA Inn, Jalan Juanda Surabaya, 27/06/2024. Acara yang menarik untuk membincang bagaimana integrasi ilmu dimaksud untuk dijadikan sebagai basis dalam pengembangan pembelajaran. 

  

Integrasi ilmu atau penggabungan dua atau lebih cabang ilmu dalam satu kesatuan, yang satu cabang menjadi subject matter dan yang satu cabang menjadi pendekatan. Selama ini hanya dikenal ada tiga pendekatan, yaitu: interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner, maka saya tambahkan pendekatan  crossdisipliner. Pendekatan crossdisipliner memberikan tekanan pada penggabungan dua atau lebih cabang ilmu pengetahuan dalam lintas cabang. Di dalam konsepsi para ahli lain dimasukkan dalam konsep interdisipliner. 

  

Studi integrasi  ilmu merupakan amanah Presiden untuk PTKIN yang berbentuk UIN. Selain  itu, studi integrasi ilmu  juga merupakan amanah Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) untuk level 8 dan 9. Di Indonesia dikenal ada berbagai konsep tentang integrasi ilmu, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Integrasi dialogis, UIN Sunan Kalijaga dengan integrasi interkoneksi yang disebut sebagai jaring laba-Laba, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dikenal dengan konsep Pohon Ilmu, dan UIN Sunan Ampel disebut sebagai Integrasi Twin Towers.

  

Konsep  integrasi Twin Towers lahir pada tahun 2008, dalam Forum Senat IAIN Sunan Ampel pada acara presentasi Calon Rektor IAIN Sunan Ampel 2008. (Nur Syam, Integrasi Ilmu Madzhab Indonesia, Studi Interdisipliner, Crossdisipliner, Multidisipliner dan Transdisipliner, Prenada, 2023, hlm. 244). Selain itu juga pernah saya ungkapkan di dalam Forum Cendekiawan Serumpun (FOCUS) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Usman Bakar dari Malaysia di Palembang tentang model baru dalam integrasi ilmu, yaitu Integrated Twin Towers. (Ibid., hlm. 238-239).

  

Pembahasan tentang konsep tersebut  diperkuat di dalam Sidang Senat IAIN Sunan Ampel 02-03 Juli 2010, tentang  Rencana Pengembangan Ilmu di IAIN Sunan Ampel dalam kerangka transformasi IAIN ke UIN. Pada forum ini juga saya ungkapkan tentang perlunya perbedaan konsep pengembangan ilmu khas IAIN Sunan Ampel.   Namun demikian, secara resmi menjadi satu konsep pengembangan ilmu integratif pada tahun 2010 melalui kehadiran Book Chapter yang berjudul “Integrated  Twin Towers, Arah Pengembangan Islamic Studies   Multidisipliner,"  diterbitkan oleh IAIN Press, 2010”.

  

Perumusan Integrated Twin Towers diperkuat dengan pengembangan infrastruktur IAIN Sunan Ampel dalam skema loan IDB untuk menyongsong transformasi ke UIN Sunan Ampel tahun 2011. Salah satu prasyarat untuk mengembangkan infrastruktur IAIN Sunan Ampel untuk memperoleh loan IDB dan transformasi dari IAIN ke UIN, maka diperlukan suatu konsep yang holistic, yaitu perumusan proposal IDB dan perumusan proposal transformasi ke UIN yaitu untuk memastikan konsep Integrated Twin Towers sebagai basis pengembangan keilmuan integrative di UIN Sunan Ampel.

  

Jika diperhatikan,  bangunan fisik UINSA di Jalan A Yani adalah model integrasi ilmu dalam madzhab Twin Towers. Di dalam model bangunan fisik itu, maka di atas dua gedung itu ada lengkung integratif. Menghubungkan antara satu tower dengan lainnya yang menjadi puncak integrasi ilmu. Jika satu tower berisi Islamic studies baik pure Islamic studies, applied Islamic studies, maka pada tower satunya lagi adalah ilmu social, humaniora, sains dan teknologi. Jembatan yang menghubungkan dua towers tersebut adalah bangunan integrasi Menara kembar.

  

Secara selintas, saya  akan membahas tentang berbagai sub-cabang di dalam ilmu ekonomi. Hal ini penting untuk dibahas dalam kaitannya dengan integrasi ilmu. Ada beberapa sub-cabang ilmu ekonomi, seperti ilmu ekonomi terapan, ilmu ekonomi deskriptif, ilmu ekonomi makro, ilmu ekonomi mikro, ilmu ekonomi publik, ilmu ekonomi moneter, ilmu ekonomi sumber daya, ilmu ekonomi internasional dan lain-lain. Yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan integrasi ilmu di sini. Bagaimana mengembangkan integrasi ilmu antara ekonomi terapan dengan ilmu keislaman, dan antara ilmu ekonomi makro dengan Islamic studies.


Baca Juga : Authority, Continuity and Change in Islamic Law

  

Perdebatannya adalah apakah yang menjadi subyek kajian Ilmu keislamannya (gejala, fenomena, fakta atau realitas kehidupan individu, komunitas atau masyarakat Islam lalu didekati dengan ilmu ekonomi  atau gejala, fenomena, fakta atau realitas kehidupan  ekonomi individu, komunitas atau masyarakat yang didekati dengan nilai atau etika. Jika  yang dimaksud adalah integrasi ilmu maka harus dipastikan mana subyek kajiannya dan mana pendekatannya.

  

Dari pemetaan ini, maka akan diketahui di mana posisi ilmu yang bersangkutan. Juga diperlukan human capacity untuk mengembangkan program pembelajaran yang berbasis pada kapasitas optimal. Diperlukan  agency sebab  dosen bukan sekedar mentransfer pengetahuan tetapi mentransformasikan pengetahuan. Bukan sekedar memindahkan pengetahuan tetapi memasukkan nilai-nilai di dalam pembelajaran agar menjadi milik mitra didik seutuhnya.

  

Kurikulum merupakan dokumen tertulis yang bercorak dinamis. Dosen yang akan membawa kemana kurikulum tersebut untuk mencapai target pembelajaran. Kurikulum yang baik tidak menjamin menghasilkan lulusan yang baik kecuali kurikulum tersebut berada di tangan dosen yang hebat.  Bangunan yang hebat bukan terletak pada bahan-bahannya yang hebat tetapi terletak pada tukang bangunan yang hebat.

  

Dosen harus visioner dalam menatap apa yang sedang dikerjakannya. Dosen harus bervisi untuk mengembangkan kapasitas lulusannya agar dapat hidup di tengah masyarakat. Dosen tidak hanya mengembangkan diri mitra didiknya dalam paradigma kognitivisme dan bahaviorisme tetapi juga konstruktivisme. Jika paradigma kognitivisme lebih mengarah pada transformasi pengetahuan, dan paradigma behaviorisme mengarah kepada transformasi perilaku, maka paradigma konstruktivisme mengarah pada negosiasi untuk mengembangkan kapasitas mitra didik dalam kebersamaan. Paradigma konstruktivisme merupakan gabungan antara paradigma kognitivisme dan behaviorisme plus konstruksi diri atas program pembelajaran yang adaptive atas kapasitas mitra didik.

  

Era sekarang  disebut sebagai “the death of expertise”. Matinya kepakaran. Bukunya Tom Nichols banyak bercerita tentang hal ini. Teknologi informasi ternyata dapat mengubah banyak hal termasuk dunia pendidikan. Di masa lalu sumber belajar utama adalah guru dan dosen. Dewasa ini terdapat sumber belajar yang juga hebat, yaitu teknologi informasi. Melalui artificial intelligent  maka dunia pendidikan harus melakukan perubahan besar-besaran. Di antaranya adalah pemanfaatan AI untuk membantu program pembelajaran. Munculnya berbagai macam aplikasi seperti Chat GPT, misalnya akan mengubah cara belajar mahasiswa. Ada sisi positif dan negatifnya.

  

Di sinilah dosen  berperan sebagai agen dan bukan aktor. Agen artinya mampu mengembangkan kurikulum sedangkan aktor hanyalah membaca dan melakukan apa yang ada di dalam kurikulum. Muatan kurikulum harus tetap mengikuti konsorsium dalam cabang ilmu ekonomi. Agar lulusan FEBI bisa direkognisi oleh FE lainnya di dalam dan luar negeri, maka Mata Kuliah harus dirumuskan sesuai dengan kesepakatan minimum rekognisi dari Konsorsium Ilmu Ekonomi. 

  

Hingga hari ini masih ada pandangan berbeda tentang Ilmu Ekonomi Islam atau Ilmu Ekonomi Syariah. Pandangan tersebut dipicu oleh pemikiran positivistik, bahwa ilmu harus bisa diukur secara cermat atas indikator-indikator yang ada di dalam fakta-fakta ekonomi. Mungkinkah realitas ekonomi masuk di dalam pandangan ilmu ekonomi transendental atau realitas ekonomi berbasis pada dunia keyakinan, nilai atau etika ekonomi.

  

Diperlukan  gerakan kolaborasi antara ahli ilmu ekonomi dan ilmu keislaman dan ilmu sosial lainnya. Agar para dosen speak up untuk tujuan mengembangkan studi integratif ilmu ekonomi syariah. Artikel dalam jurnal, artikel dalam media online, book chapter, buku daras dan lain-lain. Menghidupkan konsorsium keilmuan untuk tujuan memperkuat kapasitas pengajar ilmu ekonomi syariah integratif. Meninjau ulang atas muatan Mata Kuliah agar bersubstansi keislaman, nilai dan etika keislaman. Merumuskan kebijakan yang mendorong dan mendukung atas terciptanya nuansa akademis pada fakultas dan program studi.

  

Para dosen harus mengajar  lebih terfokus pada  dimensi apa yang harus menjadi luaran mata kuliah, bukan pada konten yang lebih konseptual. Yang konseptual bisa dipelajari dari berbagai sumber belajar yang sekarang sangat booming.  Tugas sebagai dosen adalah menemukan apa rencana mahasiswa di dalam kepentingan studinya. Sejauh ini melalui program discovery learning, maka produk pembelajaran relative  cukup berhasil.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.