(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Front Pembela Islam dalam Hiruk Pikuk Politik Kebangsaan

Opini

Habib Muhammad Rizieq Syihab, telah kembali dari pemukimannya di Saudi Arabia. Kepulangannya disambut oleh ribuan jamaah yang memenuhi Bandar Udara Soekarno-Hatta, 09/11/2020. Begitu membludak jamaah penjemputnya, sehingga terpaksa para penumpang pesawat terbang di Bandar Udara Soekarno Hatta, harus  jalan kaki karena begitu padatnya kendaraan menuju Bandar Udara tersebut.

  

Habib Muhammad Rizieq Syihab adalah pimpinan Front Pembela Islam (FPI) yang selama ini sudah malang melintang di dalam wacana dan aksi, termasuk aksi politik yang dilakukannya. Sebagaimana diketahui bahwa FPI di dalam Pilihan Presiden (pilpres) yang lalu mendukung pasangan calon (paslon) presiden  Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, dengan dukungan yang luar biasa termasuk terlibat di dalam kampanye  terbuka di Stadion Utama Bung Karno   Senayan Jakarta. Dan hebatnya, bahwa FPI menjadi pendukung yang sangat ideologis untuk menggolkan target politiknya.

  

Para anggota FPI merupakan para pendukung yang militan. Artinya, mereka menjadi anggota FPI karena kesadaran ingin menjadi anggota FPI. Di dalam pemahaman mereka bahwa menjadi FPI adalah menjadi pembela Islam dan tentu saja menjadi bagian dari Islam kaffah atau Islam yang sempurna. Dengan jargon membela Islam dari ketertindasan, keterpinggiran dan kezaliman maka FPI mendapatkan banyak simpati dari umat Islam lintas organisasi. FPI dianggap sebagai organisasi dengan keteguhan pada pembelaan Islam dan untuk gerakan amar ma’ruf nahi mungkar.

  

FPI sebagai organisasi sosial keagamaan lahir pada tanggal 17 Agustus 1998 di Tangerang Selatan dan berkantor di Petamburan Jakarta Barat dan  dipimpin  oleh Habib Muhammad Rizieq Syihab. Organisasi ini didirikan dengan dilatarbelakangi oleh  banyaknya perilaku masyarakat  yang dianggapnya sebagai menyimpang dari ajaran Islam, misalnya prostitusi, club malam, dan kemungkaran lain yang dianggapnya mencederai terhadap ajaran Islam. Termasuk juga perilaku politik, sosial dan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Makanya, FPI sering melakukan tindakan yang berbentuk razia atau tindakan nahi mungkar yang berprinsip membela ajaran Islam.  Jika bulan puasa, maka FPI melakukan razia terhadap sejumlah restoran atau warung yang menjajakan makanan di siang hari atau juga tempat prostitusi yang tetap membuka layanan seksualitas menyimpang. Semuanya dilakukan dengan mengatasnamakan membela ajaran Islam.

  

FPI juga dikenal sebagai gerakan anti kezaliman dan penindasan. Misalnya dengan melakukan serangkaian unjuk rasa terhadap masalah-masalah Islam internasional seperti kasus Uighur di China, Kaum Rohingya di Myanmar, Palestina dan juga masalah-masalah keislaman yang menurutnya perlu memperoleh dukungan dan juga anti komunisme.  Melalui berbagai aktivitas membela Islam ini, maka dapat menempatkan Haji Muhammad Rizieq Syihab sebagai simbol bagi pembelaan Islam yang konsisten dengan tindakan keislamannya. 

  

FPI juga akhirnya harus terlibat di dalam politik praktis dengan berbagai aktivitasnya. Di dalam pilpres 2019, maka FPI dengan segenap komponen anggotanya menjatuhkan pilihan pada pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, melakukan serangkaian gerakan yang sangat massif. Yang sangat monumental adalah menghadiri kampanye besar di Stadion Utama Bung Karno  Senayan, 07/04/2019  dengan jumlah pengikut mencapai ratusan ribu orang. Di saat itu dipastikan hadir pasangan calon No. 2, dan sejumlah aktivis pendukungnya, dan  memang menjadi ajang kampanye bagi pilpres. 

  

Yang juga monumental adalah Gerakan 212, yang dilakukan di Lapangan Monas, 02/12/2016,  yang memperoleh sambutan luar biasa dari para pendukungnya. Gerakan ini terkait dengan usaha untuk membela Fatwa MUI tentang Ahok sebagai penista Al-Qur’an  yang kemudian dikenal sebagai Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI (GNPF-MUI), yang menuntut hukuman maksimal kepada Ahok. Unjuk rasa ini diapresiasi oleh banyak kalangan sebab menjadi unjuk rasa yang damai dan bersih. Mereka melakukan unjuk rasa dengan tertib dan juga menjaga kebersihan lokasi di tempat unjuk rasa dilakukan.

  

Gema FPI lalu  menjadi sebuah gerakan yang tidak hanya berorientasi agama tetapi juga politik. Mereka menyatakan bahwa yang dilakukannya adalah dalam kerangka membela Islam dari tangan-tangan orang yang tidak memiliki concerned terhadap Islam dan umat Islam. Mereka melakukan proses agamaisasi politik atau Islamisasi politik, yaitu melakukan tindakan politik dengan label-label Islam dengan dalih untuk membela agama Islam melalui politik praktis. 

  

Islamisasi politik tersebut dapat dilihat dari pemikiran tentang konsep “NKRI Bersyariah”. NKRI adalah  bentuk negara yang profan berupa menyatukan berbagai wilayah dalam  satu kesatuan negara yang bernama Indonesia, dan agar menjadi berciri khas keagamaan atau keislaman, maka harus ditambah "bersyariah”, sebagai perwujudan mengislamkan NKRI.  Dilihat dari konteks ideal dan praksis maka konsep ini akan bisa memantik pro-kontra. Bagi kaum Islamis, maka istilah ini dapat menjadi pintu masuk bagi upaya untuk mewujudkan Islam kaffah dengan ditandai melalui  gerakan khilafah, tetapi di satu sisi akan membuat Indonesia terpecah-pecah sebab ada banyak wilayah yang tentu tidak sependapat atau  kontra atas ide dan praksis politik seperti ini. 

  

FPI sesungguhnya merupakan organisasi yang berada di dalam konteks Islam ‘ala ahli sunnah wal jamaah dalam coraknya mengamalkan ajaran Islam yang sesuai dengan mazhab-mazhab yang lazim berlaku di dunia Islam, khususnya mazhab yang empat (Mazhab Syafi’i, Hanafi, Hambali dan Maliki). Amalan ibadah yang bervariasi ini tentu terkait dengan latar belakang pengikutnya yang lintas organisasi keagamaan, misalnya ada anggotanya yang berasal dari NU, Muhammadiyah, Persis, dan lainnya. Mereka menyatu di dalam ide dan aksi untuk membela Islam dengan cara dan praksis yang dianggapnya benar dan bersesuaian dengan ajaran Islam.

  

Sebagai organisasi lintas pemahaman agama, maka FPI juga dapat menjadi tempat berlabuh bagi eksponen Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan oleh pemerintah. Sebagai konsekuensinya, maka FPI juga akan menjadi corong untuk menyuarakan paham Islam politik yang selama ini disuarakan oleh HTI dan eksponen organisasi lain yang senada dengan konsep khilafah dan Islam kaffah. Keanekaragaman paham, pemikiran dan aksi termasuk pemikiran politik yang dipengaruhi oleh model “negara Islam” inilah yang akan menjebak FPI akan berhadapan dengan pemerintah dan juga organisasi Islam yang selama ini menyuarakan NKRI sebagai bentuk final negeri ini. 

  

Dan di dalam penyambutan terhadap HRS, di Bandar Udara Soekarno Hatta, tentu terdapat lambang-lambang yang mengisyaratkan adanya penumpang yang berbasis khilafah yang ditandai dengan pengibaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid “La ilaha illa Allah” yang selama ini dikenal sebagai bendera kalangan HTI. Inilah barangkali tantangan FPI ke depan, bahwa ternyata  di dalam tubuh FPI terdapat sekelompok orang dengan agenda lain, yaitu memperjuangkan khilafah yang selama ini selalu kandas.

  

Kita semua berharap agar FPI tetap berada di dalam relnya yang selama ini menjadi jargon di dalam membesarkannya, yaitu menjadi penjaga dan pembela Islam dalam konteks membela umat Islam dari ketertindasan, keterpinggiran dan kedzaliman yang selalu diungkapkan dengan kalimat yang sangat islami, yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.