(Sumber : WakKajiShodiqTv)

In Memoriam Prof. Dr. H. Ahwan Mukarrom, MA

Opini

Oleh : Prof. Dr. Nur Syam, Msi

 

Dalam dua pekan ini saya intensif membaca karya Prof. Dr. Ahwan Mukarrom, MA yang berjudul "Kebatinan Islam di Jawa Timur, Studi Atas Naskah Sarupane Barang ing Kitab Ingkang Kejawen Miwah Suluk Miwah Kitab Sarto Barkoh ing Giri Pura Kedaton: Perspektif Sejarah Kebudayaan". Buku yang diterbitkan oleh Badan Penelitian, Pengembangan dan Pendidikan dan Latihan, Depag RI, tahun 2010. Saya membaca buku ini terkait dengan penelitian yang saya lakukan bersama tim untuk menelusuri Jejak "Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony", sebagaimana kerja sama Nur Syam Centre (NSC), FDK UIN Sunan Ampel Surabaya, IAINU Tuban dengan Bupati Tuban, KH. Fathul Huda.

 

Buku beliau sangat penting sebab membahas tentang teks Islam pada awal Islamisasi di wilayah Jawa Timur. Dan melalui buku beliau tersebut, saya dapat referensi, misalnya tentang Het Book van  Bonang, Serat Wijil, Serat Dewa Ruci dan lain-lain yang menjadi kekayaan referensi bagi proses Islamisasi damai yang dilakukan oleh para waliyullah di tanah Jawa pada umumnya dan Jawa Timur pada khususnya.

 

Saya mengenal sosok Prof. Ahwan Mukarrom semenjak masih menjadi mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel tahun 1980-an. Saya mengenal Beliau pada saat saya sering datang di Perpustakaan IAIN Sunan Ampel, terutama di malam hari. Perpustakaan IAIN Sunan Ampel pada tahun 1980-an itu buka sampai jam 21.00 WIB. Di situlah terdapat Pak Fadhly Hadi (alm), Pak Achwan dan lain-lain. Ramai perpustakaan itu di malam hari dan dipenuhi oleh para aktivis kampus, yang nongkrongnya justru di perpustakaan.Tidak seperti sekarang nongkrongnya aktivis itu di café untuk minum teh atau kopi. Zaman sudah berubah termasuk juga perilaku mahasiswa.

 

Beliau adalah aktivis mahasiswa IAIN Sunan Ampel. Sebagai aktivis PMII juga sekaligus aktivis di Dewan Mahasiswa (Dema) IAIN Sunan Ampel,  yang kala itu wilayahnya meliputi Jawa Timur, NTB dan juga Kalimantan Selatan. Beliau tentu saja sering memberikan pelatihan bagi yuniornya di PMII Komisariat Besar (Kombes) IAIN Sunan Ampel. Saya termasuk salah satu kader PMII yang pernah memperoleh asupan pergerakan dari Prof. Ahwan sewaktu Beliau menjadi aktivis PMII di IAIN Sunan Ampel.

 

Pak Ahwan lahir di Blitar tanggal 12 Juni 1952 dan menjadi PNS semenjak 31 Okotober 1981. Beliau seharusnya akan pensiun guru besar per 12 Juni 2022. Tetapi ternyata Allah SWT telah menjemputnya hari Ahad, 14 Maret 2021, pukul 07.15.  Pak Ahwan dikaruniai perawakan yang menawan. Orang menyatakan ganteng atau cakep. Makanya pantas kalau di masa mahasiswa banyak ditaksir oleh mahasiswi. Tetapi akhirnya pilihannya hanya satu, yaitu Bu Masruhah. Kulitnya kuning langsat dan matanya sipit. Jika orang tidak kenal dengan baik maka tidak akan tahu bahwa Beliau itu orang Jawa asli dan berasal dari Blitar. Orang yang pertama kenal akan menyatakan beliau itu keturunan Tionghoa. Beliau adalah tipe pekerja keras dan bisa dilihat dari jalannya yang cepat dan bertenaga. Pakaian khasnya adalah kemeja lengan pendek dan berwarna polos: putih, merah muda dan juga biru muda. Jarang menggunakan warna-warna matang. Memakai lengan panjang jika memakai batik. Sesekali juga batik lengan pendek.

 

Beliau seangkatan dengan Prof. Syafiq A. Mughni, PhD., Prof. A. Jainuri, PhD, dan Prof. Thoha Hamim, PhD. Mereka masuk ke IAIN Sunan Ampel tahun 1972. Setelah lulus Bachelor of Arts (1975), Beliau diangkat menjadi calon PNS dari Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel (1977), dan akhirnya  menjadi dosen pada almamaternya. Beliau merupakan alumni program Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel. Setelah lulus dari Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel,  kemudian mengambil Program Pascasarjana di IAIN Sunan Kalijaga dan lanjut Program Doktor juga di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau adalah murid Prof. Dr. Mukti Ali, Prof. Muhtar Yahya, dan juga Prof. Hasbi Ashiddiqi.Beliau termasuk orang yang beruntung sebab meskipun cukup lama untuk menyelesaikan disertasinya, namun akhirnya kelar juga. Beliau seorang doctor dan juga akhirnya bisa meraih Gelar Profesor dalam Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel.

 

Beliau juga malang melintang dalam jabatan struktural. Pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), lalu jabatan sebagai Pembantu Rektor II bidang administrasi IAIN Sunan Ampel, Kepala Biro IAIN Sunan Ampel, lalu menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang dan Jombang. Pengalaman Beliau dalam praksis birokrasi sangat memadai. Dan yang tentu menggembirakan karena jabatan struktural itu tidak mengurangi minatnya untuk terus menggeluti dunia akademis, sehingga gelar professor pun diperolehnya. Beliau menjadi Pembantu Rektor II pada saat IAIN dipimpin oleh Rektor, KH. Abdul Jabbar Adlan.

 

Beliau juga aktivis olahraga terutama Badminton. Saya tentu juga pernah bersama-sama latihan badminton di lapangan indoor IAIN Sunan Ampel. Lapangan badminton tersebut dirobohkan pada saat IAIN Sunan Ampel (sekarang menjadi UIN Sunan Ampel) memperoleh loan IDB dan sekarang menjadi Gedung Fakultas Tarbiyah. Setiap jum'at di IAIN Sunan Ampel ada olahraga Badminton, dan Pak Ahwan pasti tidak melupakannya. Dalam olahraga ini saya tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan Beliau. Yang bisa mengimbangi permainannya hanyalah Pak Noor Achmadi (dosen FISIP UINSA) dan Pak Rahman (alm) tendik UINSA. Ada banyak yang sering Latihan pada saat itu, seperti Pak Hamim Rasyidi, Pak Abdurrahman Chudhori, Pak Yazid, Pak Saiful Anam (alm) dan lainnya.

 

Kesan saya yang tidak saya lupakan dan setiap kali ketemu Beliau saya ingatkan adalah kala sama-sama menjadi pengawas Ujian Negara Cicilan (UNC) yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah IV di Jember. Waktu itu saya menonton film layar lebar di Gedung Bioskop Jember -saya lupa nama Gedung bioskopnya-kalau tidak salah lakonnya  tentang Ratu Pantai Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul, saya lupa pastinya judul film tersebut. Jika saya bertemu dengan Prof. Ahwan, saya nyatakan: Cak Wan masih ingat dengan film di Jember? Pasti dijawabnya: "masih". Lalu kami tertawa berdua. Panggilan saya di luar acara formal adalah cak.

 

Beliau adalah orang yang sangat konsern dengan dunia sejarah Indonesia. Jika di WAG UINSA membahas tentang peristiwa masa lalu, pasti beliau akan nimbrung dan memberikan komentar Panjang lebar. Yang saya ingat Ketika di WAG itu saya membahas tentang sejarah Tuban yang  mengembangkan konsep Tuban Bumi Wali, maka Beliau membahasnya secara mendalam. Dinyatakannya bahwa Tuban memang pantas disebut sebagai kota wali, karena Tuban itu merupakan tempat lahir dan berkembangnya Islam. Di situ ada Syekh Ibrahim Asmara yang menjadi cikal bakal bagi generasi Islam walisongo. Konsep ini perlu didukung untuk menggeser konsep Bumi Ranggalawe. Beliau menyatakan: "bukannya saya tidak senang dengan konsep Bumi Ranggalawe tetapi konsep Bumi Wali itu lebih mantap dan didukung dengan sejarah Islamisasi di Jawa".

 

Beliau adalah pengabdi UINSA yang luar biasa. Setelah malang melintang di dalam jabatan struktural dan akademis, maka Beliau mengabdikan diri menjadi Ketua Senat UIN Sunan Ampel. Dan jabatan ini dilakoninya sampai ajal merenggutnya. Selamat jalan Pak Ahwan, saya yakin bahwa Engkau adalah orang baik, sehingga pasti catatan pengalaman kehidupan panjenengan juga terisi dengan kebaikan-kebaikan. Akhirnya, " lahu alfatihah…"

 

Wallahu a'lam bi al shawab.