(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Indahnya Filantropi Ala Baim Wong

Opini

Menonton televisi bagi saya merupakan sesuatu yang  membutuhkan waktu spesial. Jika ada orang yang bisa menonton TV berjam-jam,  tetapi saya terkadang hanya numpang lewat. Tentu ada perkecualiannya, yaitu ketika ada even pertandingan bulutangkis, maka saya harus menyempatkan waktu untuk melihatnya, seperti even Thailand Terbuka dan Piala Toyota di Bangkok beberapa saat yang lalu. 

  

Namun demikian, hari ini (11/02/2021), saya harus tidak melewatkan acara yang dibawakan oleh Baim Wong di Stasiun televisi. Paket acara Keluarga Bosque ini tentu sudah tayang beberapa episode, terkadang waktu sore hari. Tetapi yang dibawakan Baim Wong hari ini,  saya kira sangat special, karena yang menjadi sasaran kegiatan philantropinya adalah warga negara Indonesia yang hidup di bawah jalan  tol. Jumlah mereka yang hidup di kolong jalan tol adalah sebanyak 30 keluarga. Mereka hidup bersama barang-barang rongsokan yang dikumpulkan. Sungguh bisa dinyatakan sebagai tempat yang tidak layak untuk hidup, apalagi kehidupan berkeluarga yang terdapat orang tua dan anak-anak. 

  

Tetapi inilah realitas kota besar. Ada wilayah yang disebut sebagai daerah slum area. Bisa perumahan yang sangat padat penduduk. Mereka orang yang menyewa satu petak rumah atau bahkan hanya satu kamar untuk hidup bersama. Dan jumlahnya di Jakarta atau kota besar lainnya tentu sangat banyak. Yang dijadikan sasaran program Baim Wong kali ini adalah mereka yang tidak punya rumah, bahkan tidak mampu menyewa rumah atau kamar tempat tidur dan dengan terpaksa hidup di kolong jalan tol. 

  

Mereka inilah yang oleh Karl Marx disebut sebagai lumpen proletariat atau orang yang sangat tidak diuntungkan di tengah kehidupan kapitalisme yang gemerlap. Mereka adalah kaum gelandangan atau  kaum paling miskin karena tidak bisa memasuki dunia kapitalisme, bahkan sebagai pekerja atau buruh di perusahaan. Mereka adalah yang terhimpit dalam kehidupan paling bawah. Jika kaum borjuis adalah mereka yang sangat diuntungkan oleh system kapitalisme dan buruh adalah orang yang hanya memiliki tenaga untuk bekerja di perusahaan-perusahan, maka kaum lumpen proletariat sungguh ironis nasibnya. Punya tenaga tetapi tidak mampu masuk ke dalam sistem perusahaan, yang sudah mensyaratkan kemampuan, kekuatan fisik atau keahlian. 

  

Baim Wong lahir 27 April 1981. Nama aslinya adalah Muhammad Ibrahim, keturunan Tionghoa dan Sunda adalah pesinetron yang sangat berbakat. Ada banyak sinetron yang dibintanginya. Pasca menikah dengan Paula Verhoeven (2018), maka Baim lalu menghandel sebuah acara yang bertajuk Keluarga Bosque. Acara ini merupakan sebuah kegiatan amal yang dibesut dalam reality show dengan berbagai varian sasaran “pemberian” atau kegiatan filantropi. Misalnya memberikan sejumlah uang untuk sopir angkot, atau membelikan bensin dan para pedagang asongan yang dijumpainya. Jumlahnya tentu sesuai dengan besaran yang sudah disepakati antara dirinya dengan perusahaan dan televisi penyelengggaran reality show ini. Yang menarik tentu ada yang mengenal dirinya dan ada juga yang tidak mengenalnya. Bagi Baim tentu bukan target dikenal atau tidak, akan tetapi bagaimana acara reality show ini menarik pemirsa dan kemudian naik peringkatnya dan kemudian iklan masuk ke televisi. Semakin banyak pemirsanya tentu semakin banyak minat iklan dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkannya.

  

Kali ini yang menjadi sasaran adalah para tuna wisma yang memanfaatkan lahan di bawah jalan tol sebagai tempat tinggalnya. Mereka menggunakan jalan tol sebagai atap tempat tinggalnya dan menjadikan lahan di bawah jalan tol untuk kegiatan kehidupannya mulai dari memasak, tidur, menyimpan barang hasil kerja dan juga mengasuh anak-anak. Semua dilakukan di bawah jalan tol tersebut. Tidak hanya orang yang hidup di bawah jalan tol tetapi juga kucing dan bahkan juga hewan lainnya, seperti tikus. Maklum bahwa tempat tersebut memang tidak layak dijadikan sebagai tempat untuk kehidupan. 

  

Barang-barang yang dibagikan kepada kaum tidak beruntung ini misalnya beras, gula, kopi, teh, mie instan, sabun cuci, dan bahkan makanan kucing. Selama ini kucing-kucing itu memanfaatkan sisa-sisa makanan dari penghuni bawah jalan tol. Kucing-kucing liar yang jumlahnya banyak. Seperti biasanya, tempat ini bisa menjadi tempat pembuangan kucing-kucing liar dari kampung-kampung. 

  

Kegiatan amal ini memiliki nilai yang strategis terutama di era pandemi Covid-19. Sebagaimana diketahui, bahwa di era ini, yang justru sangat menderita adalah para pekerja harian dan  para pekerja  di sector informal. Jumlah mereka sangat banyak dan menjadi terbatas ruang kerjanya karena pengaruh pandemic Covid-19. Berdasarkan potensi pendapatan, maka selama pandemic Coivd-19, maka terjadi penurunan pendapatan antara 70-80%. Sedangkan yang di PHK mencapai angka 6 Juta orang. (diunduh dari beritasatu, 11/02/21).

  

Kegiatan filantropi  ini sungguh bagian dari dakwah bil hal. Yaitu dakwah melalui pemenuhan kebutuhan bahan makanan atau bahan pokok. Dakwah bil hal merupakan dakwah yang paling tepat di saat seperti ini. Mereka yang kelaparan sudah sepatutnya diberi makanan dan bukan diberikan ceramah agama. Masyarakat Islam sebenarnya sudah memiliki instrument untuk mengatasi terhadap problem kemiskinan, yaitu melalui skema zakat, infaq dan sedekah (ZIS). Andaikan ZIS bisa didayagunakan untuk kepentingan seperti yang dilakukan oleh Baim Wong, maka akan banyak orang yang bisa dibantu khususnya kaum dhuafa’. 

  

Indonesia sudah mencanangkan pilar Indonesia tanpa kelaparan dan kemiskinan, maka bagi yang merasakan telah memiliki kelebihan harta dan bahkan memang ada yang berlebih, saya kira sudah saatnya kita belajar dari filantropi yang dilakukan oleh Baim Wong ini.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.