(Sumber : klikwarta)

Indonesia Sebagai Sasaran Gerakan Intoleran

Opini

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah. Masyarakat ini sangat welcome terhadap apapun yang datang kepadanya. Apapun yang datang kepadanya akan diterima dengan tangan terbuka, meskipun di sana-sini lalu terdapat adaptasi di dalamnya. Salah satu kemampuan terbaik masyarakat Indonesia adalah kehebatannya dalam menyerap yang baru sambil terus mempertahankan unsur substansial dari dirinya. Kolaborasi antara tradisi Islam universal dengan  tradisi local   kemudian menjadi  tradisi Islam lokal yang sekarang terdapat di Indonesia. Ada banyak kajian yang dilakukan oleh para ahli tentang relasi Islam dan budaya local di Nusantara.

  

Sebagai bagian dari masyarakat Islam tentu kita merasa bergembira dengan semakin menguatnya pengamalan beragama di Indonesia. Ada banyak outward appearance yang bisa dijumpai di banyak moment. Misalnya semakin menguatnya kecenderungan untuk menghafal al-Qur\\\'an, perempuan yang berjilbab dan juga penerapan ekonomi syariah di dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian, juga semakin menguat gerakan Islam yang mengusung tema-tema salafisme. Dan salah satu cirinya adalah tidak mentoleransi perbedaan. 

  

Sepertinya ada desain besar untuk menjadidkan Indonesia sebagai sasaran gerakan intoleran. Jika dicermati konten Youtube maka dengan mudah didapati konten atau unggahan yang mengungkapkan  serangan terhadap kelompok lain. Makanya, berdasarkan catatan BNPT, informasi yang terkait dengan serangan memiliki prosentase yang besar, yaitu sebesar 68 %. Di antara konten tersebut adalah serangan tentang paham keagamaan dan pengamalan keagamaan. Misalnya tentang tradisi keagamaan pada masyarakat Indonesia yang sudah mandarah daging. Upacara-upacara keagamaan yang tidak djumpai di Arab Saudi, misalnya dianggapnya tidak berdasar pada Islam yang benar. Semua tradisi termasuk membaca surat Alfatihah sesudah shalat pun dianggapnya sebagai bidh’ah karena Nabi Muhammad tidak melakukannya. Bagi mereka hanya ada dua saja di dalam Islam: boleh dan tidak boleh. Islam murni sebagaimana zaman Nabi atau ada tambahan pada zaman sahabat, tabiin atau tabiit tabiin.

  

Semua yang dianggap tidak ada pada zaman Nabi Muhammad, maka  dianggap tidak murni, atau  dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal sesungguhnya yang dilakukannya dan dipahaminya juga berdasarkan atas tafsir bahkan tafsir atas tafsir. Misalnya yang ditafsirkan oleh Ibn Taimiyah lalu ditafsirkan ulang oleh Nashiruddin Al Bani dan seterusnya. Jadi sesungguhnya mereka mendewakan  tafsir atas ulama-ulama yang diyakininya dan hanya tafsirnya yang dianggap benar.

  

Ada di antara mereka yang dengan sangat terpaksa dilaporkan ke kepolisian, misalnya kasus Mizan Qudsiyah yang dinilai meresahkan umat Islam di Lombok karena ceramahnya yang melakukan penghinaan terhadap paham dan pengamalan beragama  umat Islam di Lombok.  (sindonews.com, 04/01/22). Yang dipersoalkan adalah tentang makam keramat tahi acong. Di dalam Bahasa Indonesia, tahi acong itu artinya tahi anjing. Jadi makam keramat tahi acong berarti makam keramat tahi anjing. Sebagaimana diketahui bahwa Mizan Qudsiyah adalah da’i Wahabi, yang performance luarnya memang menggambarkan tampilan luar kaum Wahabi di Saudi Arabia. 

  

Terlepas dari pro-kontra atas ceramah ini, kenyataannya unggahan yang seperti ini tidak sedikit. Melalui unggahan di Youtube betapa mudahnya kita menemukan konten yang senada. Jika dianalisis hal ini bukanlah kebetulan semata. Tetapi dipastikan ada desain besar yang ditujunya, yaitu menjadikan Indonesia sebagai sasaran gerakan Islam Salafi Takfiri atau sekurang-kurangnya Salafi  Wahabi. 

  

Secara empiris, juga banyak pesantren yang mengusung tema-tema anti menghormat bendera Merah Putih. Pandangannya bahwa menghormat bendera itu sebagai tindakan kemusyrikan. Unggahan anti Pancasila, karena dianggapnya sebagai thaghut, atau ajakan untuk menyekutukan Tuhan atau mengingkari hukum Tuhan. Baginya, Pancasila, UUD 1945, NKRI itu adalah thaghut yang nyata. Dianggapnya bahwa semua ini akan menjauhkan dari pemurnian Islam. Jumlah pesantren ini sebagaimana diungkapkan oleh PP RMI terdapat sebanyak 36 buah. Pesantren-pesantren ini mengajarkan bahwa tawassul, ziarah kubur, tahlilan, memperingati Maulid, istighasah berjamaah merupakan perbuatan syirik dan bahkan dikafirkan. Di antara mereka banyak yang menggunakan kata Ma’had dan hanya sedikit yang menggunakan nama pesantren atau Yayasan. (radar96.com, 10/03.21). 

  

Mengamati terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh kelompok ini dalam melakukan “serangan demi serangan” yang dilakukannya terutama terhadap jantung pemahaman atau pengamalan beragama yang selama ini dilakukan oleh sebagian umat Islam di Indonesia, maka betapa menggambarkan bahwa gerakan massif ini mendapatkan support yang sangat kuat, sebagai bagian dari upaya mengekspor paham keagamaan yang bercorak salafi ke seluruh dunia. Dan Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan jumlah populasi umat Islam terbesar di dunia tentu menggiurkan untuk dijadikan sebagai sasaran gerakan ini. 

  

Upaya ini tentu juga memanfaatkan “kebaikan” masyarakat Indonesia yang dengan mudah menerima segala paham apapun yang datangnya dari luar, meskipun dengan caranya sendiri untuk menerimanya. Dan berkembangbiaknya tayangan melalui kanal youtube dan berdirinya ma’had yang terjadi sekarang merupakan respon cerdas untuk memanfaatkan “kebaikan” tersebut. Tetapi yang patut dipikirkan adalah ekspor ideologi Islamis, yang mengusung system Daulah Islam, khilafah, jihad dan lainnya yang ke depan akan bisa menjadikan masyarakat tersegmentasi dan terdiferensiasi  secara disharmoni. 

  

Kiranya memang diperlukan upaya untuk terus menjaga masyarakat Indonesia agar selalu menjadikan kehidupan yang toleran agar Indonesia tidak jatuh ke dalam gelombang pertikaian yang tiada henti di masa depan. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.