(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia (Bagian Dua)

Opini

Di dalam penilaian saya bahwa Karya Cak Islah Bahrawi sarat dengan pesan agar gerakan intoleransi dan radikalisme harus dihentikan dengan berbagai cara, apakah dengan deradikalisasi atau moderasi beragama. Bisa menggunakan soft power atau hard power. Soft power menggunakan sosialisasi, pendidikan dan dakwah, sedangkan yang hard power dapat menggunakan kekuatan regulasi dan tim yang memadai untuk kepentingan ini. 

  

Mari kita simak beberapa judul saja di dalam buku ini. Dijelaskannya  tentang: “Mengapa Indonesia Ingin dihancurkan, Tinjauan Kritis Geopolitik dan Geoekonomi”, ”Upaya menumbangkan Indonesia dengan Menghancurkan Pancasila mulai dari PKI, DI/TII, HTI hingga FPI”, “Terorisme Merajalela Ketika Kaum Moderat Memilih Tak Bersuara”, “Bubarkan Ormas Radikal”, “Khawarij di Era Digital, Melawan Setiap Pemimpin Negara, Memutarbalikkan Fakta dan Kejahatan Berjubah Agama”, “Tak Ada Kompromi, Tidak ada Tempat bagi Perusuh Negara”, “Membela Negara adalah membela Agama”, “Terorisme, membunuh manusia karena Agama, yang mati adalah agama”, “Agama Baliho, Hipnotis Pembodohan Politik melalui simbol-simbol agama”, “Agama Bukan Gangster, Arogansi, kekerasan  dan Premanisme atas nama agama”, “Kebencian Atas Nama Agama” dan lain-lain. 

  

Tema lainnya tentang “Kaum Konservatif yang Tak Terima Kenyataan”, “Penghasut ulung, Orasi Memecah Belah dalam Jubah-Jubah Kehormatan”, “Kejahatan dan Agama, Pelanggaran Hukum adalah Perilaku Pribadi, Bukan Agamanya”, Mengapa FPI Termasuk Radikal”, “Caci Maki dan Brutalitas Pendakwah Agama”, “Catatan Historis bagaimana pendakwah Agama Melakukan kejahatan atas nama Agama”, “Benci dan Dendam atas Nama Keimanan, Kepentingan Pribadi dibalik Pembodohan Umat”, “Semua Aksi Radikal Berawal dari Intoleransi”, “Caci Maki atas Nama Agama, Ketika Para Pendakwah justru Membuat Agama Semakin Kehilangan Daya Tarik”, “Khilafah dan HTI”, “Ketika Tuhan Dijadikan Sebagai Timses Politik, dan lain-lain.

  

Konservatifisme dan ultra konservatifisme memang sedang naik ke permukaan. Melalui peran media sosial, maka mereka memanfaatkan  kepentingan untuk mengobrak-abrik pemahaman dan pengamalan beragama yang sudah menginternal di dalam masyarakat Indonesia. Unggahan di Youtube dan media sosial lainnya menggambarkan bahwa sedang terjadi “pertarungan” yang sangat nyata. Cyber space penuh dengan unggahan konten yang saling menyerang dan mempertahankan otoritas keagamaan. 

  

Di dalam banyak hal, maka yang diserang adalah Islam wasathiyah. Basis pemahaman keagamaan dikuliti dengan tafsir agama yang cenderung untuk menyalahkan yang lain. Kebenaran itu mutlak miliknya sendiri. Mereka tidak membela agama tetapi membela tafsir agamanya. Padahal yang harus dibela adalah “Kebenaran” Islam dengan tafsir yang beragam. Di dalam penafsiran agama, maka dimensi sosial, politik, kebudayaan turut serta mempengaruhi penafsiran atas teks suci agama. Jadi seharusnya yang dibela adalah agama yang terkait dengan moralitas kebaikan, kejujuran, keadilan, kerahmatan bagi sesama umat manusia.

  

Ada banyak tudingan bahwa radikalisme dikaitkan dengan umat Islam. Secara konseptual radikalisme tidak bisa dikaitkan dengan agama. Agama tidak mengajarkan untuk membunuh atau menistakan atas agama lainnya. Semua agama benar menurut pemeluknya. Dan inilah keunikan agama. Agama mengandung dimensi keyakinan yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk karena hujan. Agama itu kebenaran mutlak bagi pemeluknya. Makanya, yang beragama Islam harus membenarkan agamanya, demikian pula penganut agama lainnya. Tetapi, di antara kebenaran demi kebenaran tersebut tentu harus menyisakan berbagi ruang dan waktu untuk masing-masing pemeluk agama. Kita beragama karena tafsir para ulama terdahulu tentang agama. Prinsipnya adalah “lakum dinukum waliyadin” berdampingan dengan “innad dina ‘indallahil Islam”.

  

Secara empiris yang melakukan bom bunuh diri adalah mereka  yang “beragama Islam”. Akibat paham keagamaannya yang ekstrim, maka yang lain bisa dibunuh. Salafi Wahabi menyalahkan paham dan praktek keagamaan yang tidak sesuai dengan tafsir agamanya, yang Salafi Takfiri mengafirkan orang yang tidak sepemahaman dengan dirinya dan yang Salafi Jihadi memerangi dan membunuh orang yang berbeda pahamnya adalah kewajiban. 

  

Akibatnya, Islam dianggap agama yang mengusung tema kekerasan, tidak hanya kekerasan simbolik tetapi juga kekerasan aktual. Mereka dijajah oleh tafsir agamanya, sehingga membolehkan perilaku yang sangat ekstrim, yaitu memusuhi semua yang tidak sepaham dengan diri dan kelompoknya. Jihad hanya dimaknai dengan “perang ofensif”, yaitu melakukan perang dengan cara-cara yang disahkan oleh para pemimpinnya. Siapa saja yang menghalangi niatnya, maka harus dienyahkannya. 

  

Di arena cyber war, maka media social menjadi instrument penting untuk melakukan serangan dalam pertarungan. Sekarang sedang terjadi pertarungan melalui media sosial antara Kaum Salafi dengan NU dan umat Islam wasathiyah lainnya. Pertarungan ini meramaikan jagad media sosial dengan unggahan-unggahan yang memantik kebencian. Dan jika terus terjadi bukan tidak mungkin terjadi disharmoni sosial. Ungkapannya memang sangat menyakiti hati dan menohok terhadap paham dan praktik keagamaan arus utama. Semua yang tidak sama dengan paham dan tafsir agamanya dianggapnya bidh’ah. semua tradisi yang tidak sama dengan paham dan tafsir agamanya dianggapnya khurafat, dan semua yang tidak sama dengan tafsir akidahnya dianggap sebagai takhayul. Mereka bisa melakukannya secara massif karena didukung oleh tim cyber dan dana yang besar. Selain itu mereka juga menyiapkan institusi pendidikan yang berpaham Salafi dengan visi dan missi untuk menjadi agen bagi penyebaran tafsir agamanya.   

  

Oleh karena itu, umat Islam wasathiyah  tidak bisa saling menunggu. Hal yang bisa dilakukan harus dilakukan. Janganlah kita menjadi silent majority, mayoritas yang diam. Semua komponen yang berlabel Islam wasathiyah harus melakukan tindakan yang bisa mengimbangi terhadap gencarnya serangan oleh kaum yang secara sengaja ingin melakukan disintegrasi bangsa. Dan “Sahabat Mahfud” juga harus melakukannya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.