(Sumber : UIN Sumatera Utara)

Jadikan Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Baru Dunia: Prof. Nasaruddin Umar (Bagian Satu)

Opini

Sebuah acara yang sangat menarik dihelat oleh UIN Sunan Ampel Surabaya, 26/11/2025,  tentang “International Conference of Indonesia Islam: Why Indonesia as a New Muslim Civilization? Reassesing The Role of Indonesia Islam ini Shaping the World Future In Post-War Era.” Acara ini dihadiri oleh Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, dan Dr. Ismail Cawidu, Rektor UIN Sunan Ampel, Prof. Akh. Muzakki, MAg., Grad. Dip.Sea, MA, PhD dan beberapa Rektor UIN di Jawa Timur, para Wakil Rektor, Dekan dan para pejabat lainnya. Sebagai narasumber adalah Prof. Greg Barton, PhD., Prof. Dr. Imam  Ghozali Said, MA, Dr. Ahmad Jazuli, mewakili Gubernur Jawa Timur, Dr. Khofifah Indar Parawansa, dan Prof. Dr. Nur Syam, MSi, yang ditunjuk oleh Rektor untuk menjadi pembicara.  KH. Anwar Iskandar, Ketua MUI, mendadak berhalangan dan sebagai moderator  Abdul Kadir Riyadi, MA., PhD. 

  

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menag, membuka pidatonya dengan sebuah gambaran tentang Nabi Muhammad SAW, yang suatu ketika menangis tentang umat Islam di masa yang akan datang. Karena menangis maka para sahabatpun ikut menangis. Sampai suatu saat Sayyidina Umar bertanya kenapa Engkau Menangis Wahai Rasul. Maka Nabi Muhammad SAW kemudian memberikan jawaban bahwa  Aku  menangis bukan karena sedih tetapi melihat bagaimana Islam di masa depan. Umar lalu menyatakan, bahwa ada kami para sahabat Engkau Ya Rasul. Nabi memberikan jawaban: “Engkau semua memang sahabatku yang bersamaku sekarang. Tetapi yang akan datang akan ada suatu umatku yang tidak pernah bertemu dengan Aku, yang tidak pernah bersamaku, akan tetapi mereka mencintaiku dan tempatnya ada di ujung belahan dunia lain. Jauh sekali. Umarpun bertanya: “siapa mereka ya Rasul? Mereka adalah umatku yang akan melanjutkan perjuanganku.”

  

Selanjutnya, Menag, Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan, bahwa pernyataan ini memberikan gambaran bahwa yang akan menjadi penerus perjuangan Nabi Muhammad SAW adalah umat Islam yang tempatnya jauh dari Madinah, Arab Saudi, akan tetapi umat Islam itu yang akan menjadi menjaga kontinuitas Islam. Dan yang bisa melakukannya itu adalah umat Islam Indonesia. Negeri yang jauh dari Madinah, jarak perjalanan pesawat selama sembilan jam, negeri yang jauh, tetapi umat Islamnya luar biasa di dalam mencintai Nabi Muhammad SAW. Pernyataan Nabi itu menunjuk Indonesia, tempat yang lokasinya jauh, negerinya subur dan umat Islamnya  merupakan umat yang sangat gemar membaca shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. 

  

Lalu pertanyaannya adalah mengapa Indonesia akan menjadi kiblat baru peradaban Islam?. Inilah yang ingin kita jawab di dalam berbagai seminar di PTKIN, UIN Alauddin Makasar, UIN Sumatera Utara, UIN Sunan Ampel dan UIN Syarif Hidyatullah  Jakarta. Conferensi Internasional ini akan dapat dijadikan sebagai Upaya untuk solusi atas peluang Indonesia yang sedemikian besar untuk menjadi leader di dalam tumbuhnya peradaban baru dunia berbasis Islam. 

  

Dilihat dari geopolitik internasional, Indonesia yang posisinya berada di tengah antara Barat dan Timur dan antara Utara dan Selatan, sangat memadai untuk menjadi episentrum peradaban dunia. Indonesia adalah negara dengan kerukunan, perdamaian dan harmoni social yang luar biasa. Indonesia adalah contoh negara yang mengedepankan kerukunan, bahkan Paus Benediktus, menyatakan bahwa Indonesia adalah contoh kerukunan umat beragama di dunia.  

  

Indonesia adalah episentrum Baitul Hikmah, yang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan juga peradaban dunia. Melalui karya tulis para intelektual Islam, maka peradaban dunia berada di tangan umat Islam. Baitul Hikmah itu kemudian dihancurkan oleh Hulago Khan sehingga intelektual Islam menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia dan merekalah yang kemudian menjadi penyebar Islam dan yang mengembalikan suluh Islam di dalam perkembangan dunia. Akan tetapi Islam sebagaimana yang di masa lalu mengembangkan ilmu dan pencerahan peradaban itu ternyata tidak dapat kembali sebagaimana semula  melalui Baitul Hikmah, akan tetapi hanya melahirkan karya-karya dalam bentuk penafsiran dan penterjemahan atas karya-karya sebelumnya. Memang terdapat Kerajaan Turki Utsmani akan tetapi konsentrasinya tidak lagi pada membangun New Baitul Hikmah, akan tetapi sibuk di dalam memperluas wilayah kekuasaannya. 

  

Kita sekarang ditantang untuk mengembalikan Baitul Hikmah. Di dalam pidato Presiden Prabowo di United Nation terdapat keinginan yang luar biasa tentang peran negara Islam dalam membela Palestina, akan tetapi kemudian start itu diambil oleh Turki dan Mesir, makanya sekarang kita harus bergerak cepat untuk mengambil tanggung jawab sebagaimana pidato Presiden Prabowo di PBB dimaksud. 

  

Kiranya, Arab Saudi sudah melahirkan Islam, sebagaimana kita tafsirkan dan kita lakukan sekarang. Arab Saudi sudah selesai dalam tugas kenabian dan tugas untuk mengembangkan Islam bahkan sampai di negeri kita, Negara Islam khususnya Kekhalifahan Abbasiyah sudah melahirkan Baitul Hikmah, sebagai episentrum peradaban Islam, maka sekarang menjadi tugas kita umat Islam Indonesia, dengan para ulama, para kyai, para akademisi, untuk melahirkan New Baitul Hikmah, yang akan dapat menjadi penyemaian dan pengembangan peradaban baru untuk dunia. Islam Indonesia merupakan umat Islam yang memiliki potensi besar dalam pengembangan peradaban baru dunia berbasis pada ajaran Islam.

   

Wallahu a’lam bi al shawab.