(Sumber : Bogorkab.go.id)

Jadilah Santri Harapan Bangsa Di Masa Depan

Opini

Oleh: Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

  

Kunjungan saya ke Tanjungjabung Timur,  1-3 Oktober 2022, benar-benar menjadi sarana untuk memberikan pengajian di pesantren-pesantren. Setelah pada  pagi hari memberikan orasi ilmiah di STAI Jarinabi dalam peringatan Dies Natalis, maka malamnya saya memberikan ceramah motivasi untuk para santri pada Pondok Pesantren Barakatul Ishlah, yang diasuh oleh Kyai Hizbullah Ma’shum, kyai yang mendirikan pesantren kira-kira dua tahun yang lalu. Saya ditemani oleh Dr.Cand. Sisran, Wakil Ketua I STAI Jarinabi, dan Ainul Yaqin pengasuh Pesantren Manbaul Huda Jenu Tuban. Pesantren Barakatul Ishlah terletak di RT. 05, Dusun Karangrejo, Desa Rantau Karya, Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung  Timur, Jambi.

  

Yang menarik di dalam acara ini, setelah memberikan ceramah kira-kira jam 21.30 WIB, maka saya diminta untuk menanam bibit pohon Sawo di depan Pesantren. Kenapa pohon sawo, ternyata setelah dirunut hal ini ittiba’ kepada para waliyullah yang di setiap masjid yang didirikannya selalu terdapat tanaman pohon sawo. Terlepas dari sekarang sudah tidak didapatkan lagi pohon sawo tersebut, tetapi ternyata begitulah riwayatnya mengapa di masa lalu selalu terdapat pohon sawo di masjid-masjid yang dinisbahkan dengan Waliyullah. Berdasarkan pengamatan lapangan, memang terdapat masjid-masjid yang memiliki tanaman pohon sawo tersebut.

  

Kyai Hizbullah memberikan pengantar ceramah dengan mengenalkan saya kepada anak-anak santri yang berusia 10-15 tahun, atau usia Pendidikan dasar dan menengah. Sebagai pesantren baru, maka di sana-sini masih dalam proses pembangunan. Pesantren ini belum memiliki lembaga pendidikan formal (SD/MI atau SMP/MTs dan SMA/MA), tetapi memiliki lembaga pendidikan diniyah formal yang lulusannya memiki kesedarajatan dengan Lembaga Pendidikan formal lainnya. Ada sebanyak kira-kira 150 santri yang belajar di pondok ini, lelaki dan perempuan.

  

Saya yang terbiasa mengajar pada perguruan tinggi, tentu harus menyesuaikan dengan audience yang usianya masih belasan tahun. Harus bekerja keras untuk menyesuaikan diri dengan audience yang seperti ini. Ada beberapa hal yang saya sampaikan kepada para santri ini. Pertama, anak-anak harus bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan peluang kepada Ananda semua untuk belajar di pesantren. Tidak banyak dari anak Indonesia yang bisa belajar di pesantren. Ananda semua termasuk orang yang beruntung bisa menjadi bagian dari santri di Indonesia yang jumlahnya kira-kira 4.497.366  orang, yang mondok di 37.626 pesantren.

  

Dengan belajar di pesantren,  maka saya yakin bahwa Ananda akan mendapatkan ilmu agama dan juga ilmu umum. Ananda akan belajar ilmu agama, misalnya Bahasa Arab sebagai piranti untuk mendalami ilmu agama Islam, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih dan bahkan ilmu tasawuf. Melalui lembaga pendidikan pesantren,  para lulusannya akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Tidak hanya manfaat di dunia tetapi juga manfaat di akhirat. Bukanlah terdapat sebuah hadits yang menyatakan: “man aradad dunya fa’alaihi bil ‘ilmi, wa man aradal akhirata fa’alaihi bil ‘ilmi, waman arada huma fa’alaihi bil ‘ilmi”. Yang artinya kurang lebih: “barang siapa yang menginginkan dunia, maka baginya terdapat ilmu, dan barang siapa menginginkan akhirat fa’alaihi bil ‘ilmi. Dan barang siapa menginginkan keduanya baginya dengan ilmu”. Pesantren dapat menawarkan dua hal ilmu, yaitu ilmu untuk kehidupan dunia dan juga ilmu untuk kehidupan akhirat. Berbahagialah Ananda karena kelak insyaallah Ananda akan menjadi orang yang bermanfaat di dalam agama, di dunia dan akhirat.

  

Kedua, man jadda wa jadda. Ungkapan ini adalah maqalah yang dibuat oleh para ulama untuk memberikan motivasi para santri atau pelajar. Siapa yang sungguh-sungguh berusaha pasti akan mendapatkannya. Jika seorang santri sungguh-sungguh belajar di dalam ilmu, pasti akan mendapatkan ilmu yang dipelajari. Makanya, Ananda harus sungguh-sungguh belajar agar dapat memperoleh ilmu yang dipelajari. Jika Ananda ingin menguasai ilmu fiqih, maka belajar yang sungguh-sungguh tentang ilmu fiqih agar ilmu fiqih berada di dalam dada kalian semua. Tidak ada ceritanya orang yang hanya malas-malasan kemudian sukses. Keberhasilan hanya akan diperoleh seseorang yang sungguh-sungguh. Kesungguhan dalam melakukan sesuatu untuk memperoleh sesuatu itulah yang disebut sebagai jihad. Jadi jihadnya santri adalah jihad untuk belajar yang sungguh-sungguh.

Ketiga, Ananda berada di jalur yang benar, karena belajar pada pesantren Islam ‘ala ahli sunnah wal jamaah. Pesantren yang berafiliasi secara keorganisasian dengan NU. Inilah yang saya sebutkan sebagai sebuah keuntungan. Ini rahmat Allah SWT yang harus Ananda syukuri. Ananda tidak salah pilih. Ananda tidak belajar pada pesantren Salafi atau pesantrennya para pengusung Islam ahli sunnah bukan Islam ahli sunnah wal jamaah. Pesantren Ananda saya sebut sebagai pesantren salafiyah, sebuah pesantren yang berkiblat pada Islam ahlu sunnah wal jamaah. Ananda diajar oleh Kyai Hizbullah Ma’shum yang terkenal sebagai kyai yang di masa lalu belajar di Pesantren Tremas, sebuah pesantren yang mengusung Islam wasathiyah, Islam moderat, dan bukan Islam yang radikal atau pesantren yang berpaham Salafi Wahabi.

  

Saya  menginginkan agar Ananda terus berada di dalam pendidikan yang mengusung Islam wasathiyah karena keselamatan Indonesia di masa depan sangat tergantung kepada Ananda semua. Anandalah yang akan mewarisi Indonesia sekarang ini. Jika nanti Ananda yang akan memimpin negeri ini, maka selamatlah Indonesia, tetapi jika yang memimpin Indonesia orang yang belajarnya di pesantren salafi, maka kita tidak tahu lagi bagaimana Indonesia di masa depan. Tegakkanlah Indonesia di masa depan dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.