(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Jangan Lengah Radikalisme di Sekeliling Kita: HAB ke 76 (Bagian Ketiga)

Opini

Radikalisme dan terorisme tidak akan pernah mati. Ada ungkapan yang lazim digunakan oleh banyak orang bahwa “mati satu tumbuh seribu”, atau “patah tumbuh hilang berganti”, “jika satu sel mati maka sel lainnya akan tumbuh kembali”. Demikianlah gerakan radikalisme atau terorisme. Sistem sel itu menjadi sangat kuat di tengah kaum teroris atau radikalis. Jika sel di atasnya mati, maka sel di bawahnya secara otomatis akan menggantikannya. Sama seperti sel cancer yang juga seperti itu. Hal ini juga tampak dari kenyataan bahwa pertumbuhan situs radikal juga terus berkembang meskipun BNPT dan Kementerian Komunikasi dan Informasi terus menutupnya.

  

Berdasarkan informasi dari BNPT, radikalisme melalui internet semakin menguat. Semenjak  Januari hingga Desember 2021 lebih dari 600 situs atau akun yang berpotensi radikal dan kemudian dihapus. Di antara situs tersebut mengunggah tentang informasi serangan (409), anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (147), anti-Pancasila (85), intoleran (7), dan takfiri (2). Selain itu juga terdapat conten pendanaan dan pelatihan terorisme. Dari afiliasi jaringan teroris 178 orang terafiliasi dengan jaringan Jamaah Islamiyah (JI), 154 orang berafiliasi Jamaah Ansharud Daulah (JAD) 16 orang berafiliasi dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan jaringan lainnya. (Kompas, 27/12/2021).

  

Dewasa ini, kita telah memasuki era baru di dalam relasi antar manusia, yaitu dengan semakin menguatnya penggunaan internet di dalam kehidupan manusia. Era sekarang disebut sebagai internet of thing, big data atau era digital. Di era ini,  internet menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia di dalam segala aspek kehidupan. Di dunia ekonomi dikenal konsep digital economy, di mana dunia bisnis bertumpu pada penggunaan internet sebagai basis untuk menggalang bisnis. Berkembang dengan cepat berbagai platform digital untuk kepentingan bisnis. Di dunia politik tentu juga tidak bisa terlepas dari dunia internet. Penggunaan media track atau media intelligent untuk kepentingan politik sudah sangat lazim. Melalui media ini akan diketahui bagaimana kekuatan diri dan kekuatan lawan dalam kontestasi politik. Bahkan penggunaan buzzer dalam dunia perpolitikan juga bukan hal yang aneh. Dunia politik yang “keras” tentu menuntut kreativitas dan salah satu media yang penting adalah internet dengan media sosialnya.

  

Kehidupan beragama juga tidak terlepas dari penggunaan internet. Dewasa ini pertarungan melalui media sosial untuk memperebutkan otoritas keagamaan juga terjadi sangat “keras”. Media sosial sebagai salah satu piranti di dalam penyebaran cerita keagamaan juga “rawan” menjadi aktivitas untuk saling menyalahkan, melecehkan, menghina dan bahkan mencederai antar umat beragama atau sesama penganut beragama. Tayangan di kanal youtube dewasa ini memberikan gambaran betapa pertarungan tersebut terjadi secara riil dengan masing-masing pengikut yang tidak sedikit. Sesungguhnya sedang terjadi gerakan untuk saling menyerang dan mempertahankan atas otoritas keagamaan masing-masing.

  

Mengamati terhadap data sebagaimana diungkapkan oleh Boy Rafli Amar (Kepala BNPT) bahwa internet memang menjadi medium yang ampuh untuk menyebarkan radikalisme di Indonesia. Situs-situs yang berisi Gerakan radikalisme ternyata juga semakin menguat. Dalam satu tahun lebih dari 600 situs yang mengunggah kekerasan, terutama kekerasan simbolik. Di antara kekerasan tersebut adalah “serangan atas kelompok lain, anti pemerintah, anti NKRI, anti Pancasila, dan pelatihan terorisme”. Semua ini sungguh menjadi gambaran bahwa kaum radikalis ternyata tidak pernah berhenti untuk mengacak-acak atas negara Indonesia dengan berbagai kegiatannya terutama melalui media sosial atau internet. Meskipun situs-situs tersebut dapat dihentikan, akan tetapi juga akan tumbuh kembali dengan situs berbeda tetapi dalam satu visi dan misi. Visi dan misi radikalisme. Jadi, radikalisme akan terus berada di sekeliling kita, di mana saja. 

  

Kementerian Agama (Kemenag) telah memiliki program moderasi beragama. Program ini sudah disosialisasikan ke seluruh Indonesia melalui berbagai jalur. Ada jalur pendidikan tinggi, lembaga kemenag di daerah dan juga organisasi sosial keagamaan. Program ini tentu perlu dukungan dari semua lapisan masyarakat. Perguruan tinggi keagamaan yang kebanyakan sudah memiliki Rumah Moderasi, maka perlu lebih kuat dalam upaya sosialisasi gerakan moderasi beragama dengan cara membentuk tim cyber untuk kepentingan mendukung atas upaya moderasi beragama. Harus semakin banyak agen moderasi beragama.

  

Kita berharap banyak pada perguruan tinggi, sebab di dalamnya tentu terdapat banyak kaum akademisi yang bertalenta sangat bagus dalam menulis untuk mengisi ruang public dengan tulisan yang hebat tentang tema moderasi beragama. Blog, Facebook, Twitter, tiktok, youtube, dan sebagainya. Coba kita analisis dengan kasar saja. Di UIN Sunan Ampel terdapat sebanyak 564 orang. Jika dalam satu pekan menulis 2 artikel pendek, kira-kira 300-500 kata, maka dalam sebulan akan terdapat sebanyak 1.128 artikel dan dalam sebulan sebanyak 33.840 artikel. Secara kontentual, narasi moderasi beragama juga akan dapat dicermati dari keahlian para dosen, baik yang ahli agama, ahli ilmu sosial, ahli ilmu budaya bahkan juga sains dan teknologi. 

  

Jika hal ni bisa dilakukan, maka dalam satu tahun terdapat  sebanyak 33.840 artikel. Jika semua Rumah Moderasi di PTKN melakukan hal yang sama, maka akan didapatkan jumlah yang sangat memadai sebagai counter atas semakin menguatnya content intoleransi, anti kerukunan, anti-NKRI, anti-Pancasila, dan anti-harmoni sosial.  Banjir informasi  melalui media sosial tentu akan bisa diimbangi dengan memperkuat content-content  hasil unggahan para dosen sebagai penggerak  moderasi beragama. 

  

Kita tidak akan mungkin untuk menghindari banjir informasi, baik yang positif maupun negatif. Content yang benar atau yang hoaks. Oleh karena itu maka yang harus diupayakan oleh agen moderasi beragama adalah dengan mengimbanginya dengan unggahan yang berkonten moderat dan positif. Jika Islam moderat diinginkan eksis di tengah media exposure, maka tidak ada jalan lain kecuali menyebar sebanyak-banyaknya konten Islam wasathiyah.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.