(Sumber : tagar.id)

Jangan Mencoreng Toleransi Beragama di Indonesia

Opini

Intoleransi memang tidak berada di ranah kosong. Intoleransi akan selalu ada di tengah kehidupan sosial yang plural dan multicultural. Intoleransi sebagai radikalisme sebenarnya dipicu oleh semangat untuk membenarkan tafsir agamanya, dan menafikan atas tafsir agama kelompok lainnya. Biasanya, kelompok seperti ini selalu mengagungkan atas tafsir agamanya berdasarkan atas tafsir agama yang didapatkan dari pendahulunya atau bahkan juga terkadang hanya didapatkan  dari kanal youtube tentang paham keberagamaannya. 

  

Menyimak dunia media sosial seperti sekarang yang layaknya seperti pasar raya, maka tafsir agama yang bercorak intoleransi juga sangat banyak. Bahkan meskipun penyebarnya tidak banyak tetapi secara konten mereka mengeksploitasi atas paham keagamaan dengan ciri-cirinya merasa benar sendiri. Kelompok ini banyak menggaet terhadap generasi muda yang sedang menuju proses pencarian jati diri dan kemudian terpapar ide-ide intoleransi dan paham radikalisme, sehingga mereka melakukan tindakan yang tidak relevan dengan semangat keanekaragaman di dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

  

Dalam sepekan terakhir, masyarakat Indonesia disuguhi dengan tindakan intoleran oleh seseorang dengan melakukan penistaan atas “sesajen” di wilayah Gunung Semeru, Lumajang. Tindakan memendang “sesajen” dengan kaki tentu merupakan tindakan yang memiliki dua sisi. Dari pelaku dianggapnya bahwa dengan tindakannya tersebut dimaksudkan sebagai tindakan keagamaan sebagai  perilaku nahi mungkar. Melarang kemungkaran. Tentu saja pelakunya berpendapat bahwa yang dilakukannya  merupakan perintah agama dalam tafsir keagamaannya. Di sisi lain, tindakan tersebut dianggapnya sebagai tindakan intoleran. Melalui tindakan tersebut menggambarkan bahwa pelakunya adalah orang yang mementingkan tafsir agamanya dan menafikan bahwa ada orang lain yang berbeda keyakinan dengannya. 

  

Saya tidak akan membahas persoalan ini dari kacamata ilmu keislaman. Sudah sangat banyak para ahli ilmu keislaman yang membahasnya, misalnya Prof. Qurays Syihab, Gus Muwafiq, Gus Baha’, Kiai Anwar Zahid, Gus Miftah dan sebagainya. Yang kebanyakan melakukannya adalah para kiai yang selama ini menyuarakan tentang Islam wasathiyah. Ada di antaranya yang mengunakan teks keagamaan dan ada juga yang terkait dengan dalil perlunya penghargaan atas perbedaan keyakinan dan multikulturalitas. Semuanya sampai pada kesimpulan bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan dalam konteks agama maupun sosial kemasyarakatan. 

  

Saya akan melihat peristiwa menendang sesaji yang dilakukan  tersebut terkait dengan konteks semakin menguatnya pemahaman dan pengamalan beragama yang bercorak monotafsir. Saya membuat kategori terkait dengan pemahaman dan pengamalan beragama tersebut dalam tiga kategori. Pertama, paham keagamaan yang formalistis. Mereka inilah yang selama ini melakukan serangan terhadap paham keagamaan mainstream di Indonesia. Mereka adalah sejumlah orang yang memahami Islam secara tekstual. Hanya ada dua hal yang berdasarkan tafsir agama yang dipercayainya yaitu yang  paling benar dan yang paling salah. Tafsir agama yang benar hanya yang datang dari ulama-ulama, seperti Nashiruddin Albany, Utsaimin, Abdullah bin Baz dan sebagainya. Di luar itu tidak ada “kebenaran” tafsir agama. Menendang dan membuang sesaji itu bagian dari yang difatwakan sebagai “haram” mutlak karena mengandung unsur syirik yang tentu dilarang agama. Pemahaman seperti ini semakin banyak pada era media sosial yang penuh dengan kebebasan berekspresi. Jika kita cermati konten Youtube, maka dengan mudah kita mendapatkan unggahan yang berisi serangan satu kelompok atas kelompok lain. Ungkapan mengkafirkan, atau ujaran kebencian dan anggapan perilaku tidak islami begitu mudah didapatkan. Secara sosiologis, saya sebut sebagai pertarungan otoritas keagamaan. Rivalitas paham agama yang dijadikan sebagai komoditi untuk saling memperebutkan penguasaan paham keagamaan. 

  

Kedua, kelompok substansialistis. Yaitu kelompok yang memahami agama dengan ragam tafsir. Selama tafsir agamanya tersebut memiliki jalur dan jenjang yang sampai kepada Rasulullah, maka tafsir tersebut dianggap sebagai “kebenaran”. Aliran ini menghargai atas keyakinan agama secara lebih universal. Memiliki sikap dan perilaku agama yang cair, dan tidak berkeinginan untuk menihilkan atas paham keagamaan lainnya. Terhadap kelompok lain yang berbeda keyakinan agama juga tidak diupayakan untuk dihabisi. Prinsip koeksistensi dipegang dengan erat. Di dalam memahami atas sesajen sebagaimana yang terjadi di masyarakat akan dihormati secara proporsional. Ukhuwah basyariyah atau saudara sesama kemanusiaan dijunjung tinggi, sehingga tidak akan melakukan tindakan gegabah untuk menang sendiri.

  

Ketiga, kelompok fragmatis. Kalangan ini merupakan sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak perduli terhadap apa yang terjadi di luar diri dan kelompoknya. Mereka kebanyakan berpikir “sudah ada yang mengurusnya” atau “biarkan saja yang penting tidak mengganggu saya”. Pikiran seperti ini saya sebut sebagai silent majority. Kelompok yang membiarkan apa saja yang terjadi seakan-akan tidak ada hal-hal yang merisaukan. Di dalam konteks seseorang menendang terhadap sesaji, maka juga tidak menjadi bahan pikiran karena tidak mengganggu diri dan kelompoknya. Sebagai ciri dari kaum fragmatis tentu selalu berpikir untung rugi. Jika menguntungkan secara pribadi akan didukung dan jika tidak akan dibiarkan atau ditinggalkan. 

  

Oleh karena itu, saya kira ada baiknya kita melakukan perenungan, jika apa yang kita lakukan itu akan berdampak negative bagi orang lain, sebaiknya tidak dilakukan dan jika apa yang kita lakukan itu berdampak positif bagi orang lain, tentu layak dilakukan. Prinsip hidup kita yang paling mendasar adalah “jangan mengganggu orang lain”. Di dalam konsep Jawa dikenal konsep “urip iku sakmadya” artinya bahwa yang terbaik itu adalah yang tengah-tengah. Orang yang hidup di tengah-tengah  atau moderat itu selalu berpikir tidak hanya mempertimbangkan untuk dirinya, tetapi juga selalu mempertimbangkan untuk orang lain. Kita tidak bisa hidup sendiri, maka sebaiknya membangun kesepahaman bahwa ada orang lain yang juga layak dihormati. Yang penting tidak mengganggu kehidupan itu sendiri.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.