(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Kampanye Islam Salafi di Indonesia

Opini

Menyimak atas unggahan di Youtube oleh ishlah Bahrawi tentang cara yang digunakan oleh kaum Salafi dalam kampanye pemahaman keberagamaannya. Saya menjadi “merinding” dan merenung dengan pertanyaan besar, sampai sejauh itukah cara yang digunakan oleh kaum Salafi dalam menyebarkan paham keagamaannya. Jika yang disampaikan oleh Ishlah Bahrawi itu benar, maka mereka benar-benar total dalam melakukan kampanye tersebut.

  

Kaum Salafi memang jumlahnya tidak banyak, akan tetapi daya gebraknya untuk melakukan kampanye ajarannya sangat luar biasa. Mereka adalah kaum ideolog dan menjadikan Islam sebagai ideologi, baik dalam kehidupan sosial maupun politik, sehingga apa yang dilakukannya adalah jihad, yang dipahami untuk berusaha dengan sungguh-sungguh  dalam menyebarkan ajaran agama atau tafsir agama sesuai dengan kayakinannya. 

  

Mereka adalah kelompok yang paling sadar tentang keyakinan agamanya. Pada dimensi  konsekuensial, mereka adalah kelompok yang paling sadar akan jalan keselamatan. Apa yang paling selamat adalah kelompoknya, kaum ahlu sunnah. Kelompok ahlu sunnah dan bukan ahlu sunnah wal jamaah. Makanya di mana-mana yang diproklamirkan adalah kelompok sunnah atau komunitas sunnah. Baginya,  yang menyebut sebagai ahlu salafi wahabi adalah orang luar dan ini yang paling tidak disukainya. 

  

Komunitas ini telah menjadi realitas sosial di berbagai entitas sosial. Bahkan di Kepolisian juga didapati Komunitas Polisi Ahli Sunnah. Labelling ini untuk memberikan identitas bagi para polisi yang sudah melakukan hijrah dari polisi masa lalu ke polisi Islami ala ahlu sunnah. Sekali lagi ahlu sunnah bukan ahlu sunnah wal jamaah. Di KPK juga pernah diidentifikasi dengan istilah “Kelompok Taliban”. Meskipun ini hanya merupakan labelling, tetapi tentu bisa dicermati secara awal dengan menggunakan “common sense”. Kebenarannya tentu sangat tentative tentang  label-label seperti itu.

  

Kaum Salafi di Indonesia tentu bisa melakukan banyak hal. Berbeda dengan Malaysia yang sangat ketat melakukan pengawasan dalam membincang pemahaman agama, maka di Indonesia menganut prinsip keterbukaan bahkan terkadang kebebasan tanpa tanggung jawab. Untuk memahami tentang “kebebasan tanpa tanggung jawab” tersebut bisa dilihat dari lalu lintas informasi di media sosial. Betapa  riuh rendahnya media sosial kita mulai dari konten yang sopan sampai yang tidak ada etikanya.  Semuanya  ada di media sosial di Indonesia. Para influencer juga menikmati dunia media sosial tersebut tidak hanya untuk ketenaran tetapi juga untuk mengeruk rupiah. Semakin banyak viewer atau follower, maka semakin besar peluang media sosial menjadi pundi-pundi uang.

  

Menurut Ishlah Bahrawi, kaum Salafi juga menggunakan person-person yang memiliki jutaan follower untuk menjadi juru bicaranya. Mereka dijadikan sebagai corong untuk menyebarkan konten-konten yang terkait dengan paham Wahabi. Ada beberap artis yang memiliki follower banyak untuk dijadikan sebagai humas kaum salafi. Bahkan disebutkan terdapat seorang artis yang dibawakan segepok uang untuk menjadi influencer Gerakan Salafi, tetapi artis tersebut menolak. Karena sudah disebutkan oleh Ishlah Bahrawi, maka artis tersebut adalah Raffi Ahmad dan yang menjadi penyebar konten Salafi adalah Arie Untung. Kita tentu tidak bisa memprediksi apakah ada kepentingan keuangan dalam kontrak seperti itu, namun prinsip di dalam tradisi Jawa: “jer basuki mawa beya”. Setiap tindakan itu ada biayanya. 

  

Secara teoretis, Karen S. Cook dan Erick E.W. Rise menyatakan bahwa teori exchange and power (2001) berbasis pada pemikiran Homan tentang Elementary form of behaviour, bahwa perilaku manusia digambarkan pada hasil perilaku yang berupa ganjaran dan hukuman. Terdapat beberapa proposisi, yaitu proposisi keberhasilan yang menyatakan jika terdapat konsekuensi positif dari relasi perilaku, maka akan memungkinkan keterulangan perilaku dimaksud. Lalu, proposisi rangsangan bahwa perilaku yang menghasilkan ganjaran di masa lalu, akan cenderung untuk diulang dalam situasi yang sama. Dan proposisi nilai bahwa semakin berharga hasil suatu tindakan bagi actor akan memberikan peluang semakin besar tindakan tersebut diulang.

  

Berdasarkan atas konsepsi ini, maka bisa dipahami mengapa kaum Salafi menggunakan para aktor atau pesohor di dalam penyebaran ajaran agamanya. Di dalam konteks teori pertukaran, maka telah terjadi upaya  untuk menegosiasikan antara apa yang diinginkan oleh kaum Salafi dengan para pesohor. Di antaranya adalah ganjarang atau reward bagi aktor yang mau terlibat di dalam Gerakan Wahabisasi dengan pertukaran yang saling menguntungkan. Di kala upaya ini cukup berhasil, maka akan mengulang upaya untuk merekrut aktor lain, terutama yang memiliki pengaruh atau otoritas yang besar. Pemilihan atas Rafli Ahmad untuk direkrut dengan imbalan uang tentu menggambarkan bahwa untuk penyebaran ajaran salafi diperlukan aktor yang berpengaruh dengan imbalan yang disepakati. 

  

Jadi, kaum salafi sungguh memahami secara rasional bahwa untuk menyebarkan ajaran agamanya tidak harus menggunakan tokoh-tokoh Wahabi, yang sudah mulai dipertanyakan,  akan tetapi menggunakan orang yang sengaja direkrut dengan imbalan yang disepakati. Dengan demikian ada pertukaran antara kepentingan agama dan kepentingan ekonomi yang bernegosiasi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.