(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Kapan Indonesia Jadi Pusat Produk Halal?

Opini

Indonesia dengan jumlah umat Islamnya yang terbesar di dunia, ternyata justru hanya menjadi pasar produk halal dan belum bisa menjadi produsen produk halal. Bandingkan dengan Brazil yang jumlah umat Islamnya sangat sedikit, hanya 0,0002% dari populasinya ternyata justru menjadi pemain kuat di dalam produk halal. Brazil sekarang ini sudah menjadi pemain besar dalam makanan halal. 

  

Berdasarkan tulisan Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden, bahwa pada tahun 2018, Indonesia membelajakan  173 Milyar dollar AS untuk makanan dan minuman halal atau sebesar 12,6% dari pangsa produk makanan halal dunia. Indonesia memang bisa menjadi pasar bagi produk halal, sebab mayoritas penduduknya beragama Islam dengan komitmen yang tinggi untuk menggunakan produk halal. Oleh karena itu, jika tidak dirancang dengan usaha-usaha maksimal untuk mengembangkan produk halal ini, maka dalam jangka panjang Indonesia hanya menjadi konsumen dan bukan produsen. 

  

Usaha-usaha yang optimal telah dilakukan oleh pemerintah. Misalnya dengan diterbitkannya Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), yang dipimpin langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden, dan Menteri-menteri terkait, lalu merger Bank-Bank Syariah (BRI Syariah, Bank Mandiri Syariah dan BNI Syariah) menjadi Bank Syariah Indonesia, yang berdasarkan potensi dan peluang akan bisa bersaing di dunia perbankan syariah dunia. Pada tahun 2018 pasar halal dunia mencapai 2,2 trilyun dollar AS, dan tahun 2024 mencapai sebesar 3,2 trilyun dollar AS. (Kompas, 17/02/2021).

  

Mungkin berbeda dengan Brazil yang dukungan pengusahanya sangat optimal dalam menyambut usaha-usaha produk halal,  sebaliknya di Indonesia sambutan para pengusaha terhadap produk halal tidak optimal. Indonesia sebenarnya telah memiliki beberapa jenis produk makanan dan minuman, misalnya mie instant, minuman kaleng dan juga produk fashion yang sangat baik. Hanya saja untuk produk-produk ini belum bisa menjadi pemain besar dalam kancah perebutan pangsa pasar dunia dalam produk makanan, minuman dan lainnya yang berlabel halal. Australia sudah menguasai pasar daging halal, Thailand dan bahkan Filipina sudah mencanangkan akan menjadi pemain dalam penyediaan produk halal. Thailand sudah memiliki merek dagang, khususnya di bidang makanan yang cukup potensial. 

  

Dukungan pemerintah yang sedemikian kuat belum disambut dengan gegap gempita oleh para pengusaha khususnya pengusaha menengah atas. Yang bisa dilihat barulah pada usaha-usaha syariah dalam skala menengah, dan kecil. Sebenarnya, potensi makanan Indonesia sangat luar biasa. Jenis dan macam makanan yang terdapat di Indonesia sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan komoditas di dunia internasional. Hanya saja kebanyakan masih merupakan usaha-usaha yang berskala mikro dan belum bisa memasuki pangsa pasar yang lebih luas.

  

Oleh karena itu, diperlukan beberapa strategi: pertama, memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha, khususnya dalam menyongsong era produk halal yang terus berkembang.   Tuntutan dan gaya hidup masyarakat muslim yang semakin religius, semestinya menjadi tantangan bagi dunia usaha untuk menangkapnya. Dewasa ini life style masyarakat muslim semakin mengarah kepada religiusitas dengan performance yang ingin ditampakkannya. Wisata halal, perbankan Syariah, makanan dan minuman halal, penggunaan produk keuangan Syariah, kegiatan filantropi, dan fashion syariah telah menjadi gaya kehidupan masyarakat muslim khususnya kelas menengah. Dengan demikian, usaha pemerintah untuk menaikkan keuangan syariah,  perbankan syariah dan produk syariah semestinya ditangkap sebagai peluang yang besar.

  

Kedua, Makanan dan minuman merupakan kebutuhan primer. Makanya, kebutuhan akan makanan dan minuman tidak akan pernah berhenti kapan dan dimanapun. Di tengah gelegak kehidupan masyarakat yang semakin religious, maka mau tidak mau harus tersedia pemenuhan kebutuhan primer berlabel halal. Dalam lima tahun ke depan, seirama dengan literasi produk halal, maka masyarakat akan melakukan pilihan dalam menentukan keputusan membeli atau tidak membeli makanan dan minuman. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain kecuali para pengusaha menengah dan besar untuk bermain di sector makanan dan minuman halal. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja dengan jumlah umat Islam 87% tentu membutuhkan produk halal yang cukup banyak. Di sisi lain, juga kebutuhan pasar internasional yang juga akan semakin besar. Seharusnya mulai dipikirkan bagaimana para pengusaha menengah dan besar untuk bisa menguasai pasar Timur Tengah yang tingkat literasi produk halalnya sudah sangat baik. 

  

Ketiga, jika pengusaha menengah dan mikro bisa bermain dalam kawasan regional dan nasional, maka para pengusaha menengah dan besar harus bermain di sector internasional. Yang dilakukan oleh Brazil dengan BRF yang membuka ekspansinya melalui peresmian pabrik makanan halal terbesar di Uni Emirat Arab dalah contoh bagaimana Brazil menangkap peluang usaha. Strategi Brazil ini tentu disebabkan oleh diplomasi pemerintah yang kuat dan juga dukungan pengusaha besar di Brazil. Seandainya ada ekspansi perusahaan besar dari Indonesia, tentu negara Timur Tengah akan memilih bekerja sama dengan perusahaan Indonesia. Namun demikian, kiranya politik perdagangan harus dimainkan agar peluang usaha tersebut akan bisa menjadi realitas. 

  

Keempat, Indonesia sudah memiliki regulasi yang menjamin akan kemudahan usaha di bidang produk halal. Yaitu UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah (PP) No 39 Tahun 2021 tentang Penyelenggaran Bidang Jaminan Produk Halal. Melalui UU Cipta Kerja dan PP ini diharapkan bahwa upaya untuk mengembangkan produk halal akan semakin memperoleh momentumnya. Melalui berbagai kemudahan yang diberikan oleh pemerintah maka diharapkan bahwa akan muncul pengusaha-pengusaha baru yang bergerak di sector usaha atau produk halal. Dan yang lebih penting adalah kemauan pengusaha menengah dan besar untuk turut bermain di sector produk halal.

  

Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana negara dengan label umat Islam terbesar ini mampu menjadi pemain produk halal untuk masyarakatnya sendiri dan bahkan menjadi pemain di dalam kancah global. Jawabannya tentu saja sangat tergantung pada kemauan pengusaha untuk berkemauan bermain dalam produk halal dan juga support pemerintah yang kuat. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.