(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Kekerasan Aktual Pada Ulama di Indonesia

Opini

Kekerasan sosial dalam bentuk kekerasan simbolik atau kekerasan aktual bisa menimpa siapa saja, termasuk para ulama. Kekerasan simbolik maupun kekerasan aktual tentu memiliki dampak psikis maupun sosial terhadap korban maupun yang lain, bahkan secara psikis bisa menimbulkan depresi atau ketakutan yang berlebihan. Kekerasan sosial memang telah menjadi bagian dari kenyataan sosial di manapun, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Eropa dan Amerika Serikat. 

  

Secara konseptual, kekerasan aktual adalah kekerasan secara fisik terhadap orang lain, yang dilakukan dengan menggunakan peralatan dan memang dapat menyakiti, bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Sedangkan kekerasan simbolik merupakan sejenis kekerasan yang tidak dikenakan kepada fisik orang lain, tetapi lebih mengenai pada dimensi kejiwaan atau batin orang lain yang dianggap lawannya.

  

Kekerasan aktual pada  akhir-akhir banyak menimpa para ulama. Misalnya kasus penganiayaan ulama di Jawa Barat, di Jawa Tengah dan juga yang terakhir di Lampung, yang menimpa Ulama Indonesia yang sangat terkenal dedikasinya di dalam mengembangkan potensi hafalan al-Qur'an, yaitu Syekh Ali Jabir. Beliau ditusuk dengan senjata tajam pada waktu berceramah di Masjid Falahuddin Lampung, 17/09/2020.  Ulama yang mengabdikan diri di dalam ilmu al-Qur'an dan secara khusus mengembangkan program tahfiz di Indonesia. Beliau ditusuk saat memberikan pengajian atau ceramah agama di hadapan jamaah pengajian yang mendengarkan ceramahnya.

  

Ali Saleh Mohammad Ali Jaber atau dikenal dengan sebutan Syekh Ali Jabir (44 tahun)  adalah seorang ulama yang semula berwarganegara Arab Saudi, lalu melalui proses naturalisasi  menjadi warga negara Indonesia. Saya pernah bertemu beliau dua kali pada tahun 2018 yang lalu. Pada waktu beliau memperkenalkan program pendidikan al-Qur'an bagi orang yang tuna netra. Melalui al-Qur'an huruf braille, beliau ingin memperkenalkan agar orang-orang yang tuna netra  juga bisa membaca al-Qur'an dengan benar sesuai dengan standar bacaan yang sesuai. Beliau memang memiliki kepedulian yang sangat tinggi dalam penyebaran pembelajaran kitab suci Al-Qur'an.

  

Setelah terjadi upaya kekerasan aktual terhadap Syekh Ali Jabir, maka Informasi kekerasan tersebut menjadi viral di media sosial. Upaya  pembunuhan terhadap Syekh Ali Jabir pada waktu beliau sedang berceramah agama di Lampung tersebut mendadak  menjadi trending topik. Berita ini memang mengagetkan sebab selama ini Beliau dikenal sebagai seorang guru tahfiz yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan mengembangkan hafalan al-Qur'an di Indonesia. Program tahfiz al-Qur'an yang ditayangkan di stasiun televisi swasta Indonesia, akhir-akihr ini menandai kiprah beliau dalam upaya gerakan al-Qur'an yang memang dicita-citakannya. 

  

Program sejuta tahfiz al-Qur'an yang diinisiasikan Syekh Ali Jabir tersebut dilakukan bersama Irfan Hakim, salah seorang presenter televisi yang sangat terkenal di dalam acara musik dangdut di Indosiar  dalam program Kontes Dangdut Indonesia (KDI). Melalui program Sejuta Tahfiz ini, maka masyarakat Indonesia bisa menikmati sajian kontes para hafiz Indonesia, yang tayang sepekan sekali. Jadi, beliau memang memiliki concern yang luar bisa dalam memasyarakatkan al-Qur'an dan "mengalqur’ankan" masyarakat. 

  

Beliau juga dikenal sebagai ahli dakwah yang sangat santun, dengan penguasaan materi dakwah yang sangat mendalam. Ceramah-ceramahnya diunggah melalui media sosial dan dapat dinikmati dengan mudah oleh masyarakat. Sebagai ulama ahli sunnah wal jamaah, maka beliau banyak memberikan penjelasan tentang ajaran agama dalam kaitannya dengan fadhailul ‘amal atau keutamaan amal. Saya masih ingat bagaimana beliau memberikan gambaran tentang seseorang yang membaca shalawat. Jika membaca shalawat sekali Allah akan membalasnya dengan 10 pahala, dan jika seseorang membaca 10 kali bacaan shalawat maka Allah akan membalasnya dengan 100  pahala, jika seseorang membaca 100 kali shalawat Allah akan membalas dengan 1000 pahala, dan jika seseorang membaca 1000 kali shalawat,  maka tubuhnya tidak akan terkena panas api neraka. 

  

Ceramah-ceramahnya sangat mendinginkan dan memberikan nuansa basyiran atau menyenangkan. Orang yang mendengarkan ceramah beliau akan menjadi bersemangat beribadah. Beliau memang ulama yang khatam dalam ilmu agama dan ahli al-Qur'an. Tidak pernah sekalipun mengunggah informasi yang membuat orang merasa dalam tekanan. Beliau seorang hafiz al-Qur'an yang menghayati benar tentang apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Saya kira banyak orang yang sependapat bahwa Beliau merupakan ulama yang sangat dibutuhkan di era disruptif atau era gonjang-ganjing ini.


Baca Juga : Gaya Hidup Baru di Masa Pandemi

  

Makanya, ketika ada orang yang melakukan tindakan kekerasan sungguh rasanya apa yang salah dengan orang di negeri ini. Apa yang menjadi intensi dari orang yang melakukannya. Di dalam konteks ini, lalu ada banyak tafsiran. 

  

Pertama, tafsiran berita yang menyatakan bahwa semua ini adalah rekayasa dari intelijen yang memiliki tujuan untuk membuat opini publik, bahwa upaya kekerasan ini untuk memberi kesan bahwa ada sekelompok teroris atau kelompok radikalis yang menginginkan akan timbul kebencian terhadap kelompok radikalis. 

  

Kedua, pandangan bahwa upaya kekerasan kepada para ulama itu dilakukan oleh para radikalis yang memang sengaja untuk membuat kekacauan. Pandangan ini dikaitkan dengan berbagai upaya kelompok radikalis untuk melakukan kekerasan tidak hanya kekerasan fisik tetapi juga upaya pembunuhan, misalnya melalui terorisme atau bom bunuh diri.

  

Ketiga, upaya kekerasan ini dilakukan oleh orang yang tidak waras akalnya atau gila. Orang yang melakukannya merupakan seseorang yang melakukan tindakan tanpa menggunakan kemampuan akalnya.  Sebagai orang gila, maka yang dilakukan adalah mengikuti keinginan fisiknya saja dan tidak menggunakan tindakan rasional sebagaimana orang yang sehat lahir dan batinnya.

  

Di antara sekian banyak skenario tersebut, yang paling relevan adalah skenario tentang keberadaan agen yang memang memiliki tujuan yaitu mengacaukan situasi sosial yang memang berada di dalam ketidakmenentuan. Agen ini memanfaatkan posisi pemerintah Indonesia yang berada di dalam nuansa “berat” menghadapi pandemi Covid-19, dan tertatih-tatih karena peluang memasuki resesi yang kian besar. Di dalam situasi seperti ini ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkannya dengan melakukan tindakan yang berupa kekerasan aktual  maupun kekerasan simbolik. 

  

Bisa juga untuk menunjukkan bahwa aparat keamanan tidak memiliki kesiapan yang memadai dalam mengawal acara-acara yang menghadirkan ulama atau sejenisnya. Selama ini memang aparat kepolisian lebih siap menghadapi peristiwa sepakbola atau acara musik besar, sebab memang berpeluang untuk terjadinya  kekisruhan. Sementara itu acara pengajian yang diisi oleh ulama-ulama moderat seperti Syekh Ali Jabir tentu tidak diprediksi membawa bencana. Kelengahan ini harus dibayar mahal sebab ternyata medium ceramah agamapun bisa dijadikan sebagai momentum untuk mengacaukan keamanan.

  

Juga bisa dianalisis bahwa tindakan nekad seperti ini hanya merupakan test case terhadap kesiapan aparat keamanan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. hal yang bisa juga dikhawatirkan adalah tindakan yang lebih keras, misalnya tindakan teror yang memiliki dampak lebih serius.  Oleh karena itu, saya kira memang aparat keamanan harus terus melakukan kesiapan diri dalam menjaga keamanan dan ketertiban di tengah nuansa ketidakmementuan dewasa ini. 

  

Hanya saja yang selalu menjadi pertanyaan dan jarang terungkap secara transparan adalah siapakah agen di balik peristiwa demi peristiwa kekerasan terhadap ulama ini, sehingga tidak menimbulkan analisis dan prediksi yang kurang atau bahkan tidak tepat. Saya kira kejadian ini harus dibuka secara transparan dengan mengungkap motif dan tujuan apa sebenarnya seseorang melakukan tindakan nekad ini.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.