(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Ketika Para Khatib Harus Khutbah di Rumah

Opini

Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak  masjid tidak menyelenggarakan shalat hari raya idul kurban 1442 H atau 2021 M, yang bertepatan dengan hari Selasa Pahing, 10 Dzulhijjah 1442 H. Hari ini memang masih kita dengar bacaan takbir dari masjid dan mushallah, akan tetapi nyaris tidak dijumpai masjid yang menyelenggarakan shalat id berjamaah. Hal ini tentu dikaitkan dengan upaya menekan laju penyebaran Covid-19 yang semakin massif. 

  

Virus Covid-19 memang bukan semakin melandai, akan tetapi semakin massif penyebarannya, bahkan sampai di desa-desa. Pada gelombang pertama dulu, Covid-19 ini tidak memasuki area perdesaan, lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan yang padat penduduk, tetapi virus Corona gelombang ketiga ini justru menyerang daerah perdesaan yang selama ini relative “imun” dari virus corona. Di WAG banyak diungkapkan tentang kematian demi kematian di wilayah perdesaan.

  

Memang harus diakui bahwa virus gelombang delta yang berasal dari India ini lebih cepat menular dan daya serangannya juga mematikan. Artinya, jika kekebalan tubuh lemah  dan orang memiliki penyakit bawaan, khususnya paru-paru dan jantung akan sangat berbahaya jika terserang virus ini. Itulah sebabnya pemerintah membatasi gerak masyarakat untuk berkerumun, sebab penyakit ini memang disebut sebagai penyakit kerumunan. 

  

Kementerian Agama dan Pemerintah Jawa Timur juga membuat Surat Edaran tentang “Peniadaan Shalat Idul Adha Secara Berjamaah”. Diharapkan masyarakat dapat melakukan ibadah di rumah atau pray from home. Sekarang ini, ungkapan pray from home atau berdoa dari rumah sedang digalakkan agar masyarakat mengikuti anjuran pemerintah tidak melakukan kegiatan kerumunan. Pemerintah juga sudah menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang di masa lalu disebut sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini harus dipilih sebab memang inilah pilihan yang harus dilakukan jika ingin menekan laju penyebaran Covid-19.

  

Saya diminta Pak Dr. Ilhamullah Sumarkhan, koordinator Khatib, agar berkhutbah di Masjid perumahan Royal Regency Ketintang. Tentu saya dihubungi oleh Panitia Shalat Idul Adha agar melakukan persiapan untuk menjadi khatib. Saya nyatakan siap jika memang situasinya memungkinkan. Tetapi berkat adanya Surat Edaran Gubernur Jawa Timur yang meniadakan shalat idul adha di masjid atau lapangan, maka panitia Shalat Id menghubungi saya kalau pelaksanaan Shalat Id dibatalkan. Saya tentu harus menerima dan bergembira dengan  pemberitahuan ini. Sebab jika shalat tetap dilanjutkan tentu saya juga ragu-ragu di tengah suasana penyebaran Covd-19 yang semakin menggila ini. 

  

Tentu tidak hanya saya yang harus menghentikan kegiatan menjadi khatib, sebab nyaris seluruh masjid di Jawa Timur bahkan di Indonesia juga meniadakannya. Saat ini memang kesehatan menjadi panglima sehingga protocol kesehatan memang menjadi ukuran dari segala-galanya. Jika ada masjid yang masih menyelenggarakan shalat id itu artinya panitianya terdiri dari orang-orang nekad yang seharusnya menyadari terhadap bahaya Covid-19 yang memang lagi dahsyat-dahsyatnya. 

  

Memang ada beberapa pandangan terkait dengan “penutupan” masjid sebagai tempat ibadah. Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa tidak boleh melakukan penutupan masjid untuk ibadah. Masih ada beberapa tokoh agama atau ulama atau kiai yang berpendepat seperti ini. Mereka yang bependapat seperti ini berdasar atas realitas bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menutup masjid. Anggapannya, bahwa semua yang terjadi ada takdirnya. Ada orang yang datang shalat di masjid dan terpapar dan ada orang yang tidak ke masjid juga terpapar. Bahkan jumlah yang terpapar di masjid jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang di luaran. 

  

Kedua, pandangan yang menutup sementara masjid atau mushallah dari kegiatan rutin shalat berjamaah. Mereka ini kelompok yang hati-hati dan menjaga agar masjid tidak menjadi kluster penyebaran Covid-19. Semua aktivitas di masjid dihentikan sebab terkait dengan wabah ini. Tentu ada basis pengalamannya sebab ada ta’mir masjid yang terpapar atau bahkan imam masjid yang terpapar, sehingga semua aktivitas masjid harus dihentikan. Ketiga, masjid yang menghentikan shalat berjamaah tetapi tetap mengumandangkan adzan setiap datang waktu shalat. Adzan ini dimaksudkan sebagai pemberitahuan telah masuknya waktu shalat dan bukan hanya panggilan untuk melakukan shalat berjamaah. Saya kira ada banyak masjid yang menggunakan pola ketiga ini sebagai tindakan yang dianggap paling rasional di tengah merebaknya wabah Covid-19.

  

Di masa-masa normal, maka hari-hari begini adalah hari di mana berkumandang suara takbir yang menggema di seantero dunia dan juga pelaksanaan shalat berjamaah Id di seluruh dunia. Umat Islam berbondong-bondong datang ke masjid atau  lapangan untuk melakukan shalat id. Bahkan ada pandangan orang awam, meskipun tidak shalat wajib lima kali sehari, akan tetapi Shalat Id dilakukan. Makanya banyak masjid yang penuh sesak di saat shalat id, padahal shalat jum’at berjamaah tidak seperti itu.

  

Anjuran pemerintah yang juga didukung oleh para ulama agar menyelenggarakan ibadah di rumah tentu bukan tidak memiliki basis ajaran di dalam Islam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gus Mus, ulama NU kharismatis, bahwa “Kematian memang takdir Allah SWT tetapi hifdzun nafz juga keharusan”. Artinya bahwa janganlah kita menantang kematian oleh sebuah penyakit atau dengan cara-cara yang lain. Sudah dikatahui bahwa Covid-19 memiliki daya penularan yang hebat, dan berkerumun adalah salah satu medium penyebaran penyakit ini, maka menjauhi kerumunan adalah kewajiban. Makanya, protokol kesehatan menjadi sarana yang ampuh dalam menjaga jiwa agar tidak tertular oleh Covid-19. Gus Mus sambil berkaca-kaca matanya menyatakan bahwa “Saya menangis jika mendengar atau membaca ada dokter yang meninggal dalam bertugas karena terpapar Covid-19, sama halnya juga ketika banyak ulama yang wafat”.  

  

Ajakan pemerintah untuk tidak menyelenggarakan shalat Idul Adha di Masjid atau lapangan direspon secara positif oleh takmir masjid, yang memang menyadari bahwa shalat sunnah muakkad yang dilakukan dapat berpotensi menjadi instrument penyebaran Covid-19. Makanya, pada hari raya idul Adha kali ini banyak khotib yang tidak dapat melaksanakan wadhifahnya dan akhirnya memilih Shalat Id di rumah, tentu dengan memenuhi standat baku dalam Shalat Id. 

  

Melalui kenyataan empiris ini sekali lagi membuktikan bahwa pengamalan beragama didorong oleh Covid-19 untuk memasuki ranah domestik melengkapai teori-teori selama ini bahwa agama berada di ruang publik dan privat. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.