(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Khilafatul Muslimin Sebagai Gerakan Politik Keagamaan

Opini

Sesungguhnya Gerakan Khilafatul Muslimin  sudah lama saya dengar. Ketika saya masih di Kementerian Agama (Kemenag) Pusat,   Khilafatul Muslimin  ini sudah saya dengar sebab sudah memiliki wilayah untuk melakukan gerakan social keagamaan. Di tengah semakin semaraknya Gerakan Islam fundamentalisme, maka Gerakan Khilafatul Muslimin  juga turut serta meramaikan wacana dan gerakan keagamaan yang berciri  khusus, yaitu Gerakan Messianis, dengan mengusung khilafah Islamiyah sebagai solusi atas masalah bangsa.

  

Gerakan-gerakan keagamaan seperti ini memang muncul seirama dengan era demokratisasi yang terus berkembang di Indonesia. Dengan dalih “kebebasan”, maka gerakan keagamaan terus bermunculan di berbagai wilayah, apakah dalam coraknya yang local atau nasional, atau dari local ke nasional. Kenyataan ini memberikan pembenaran atas hipotesis, bahwa semakin demokratis dan terbuka sebuah negara akan semakin banyak memunculkan segregasi yang bercorak social, ekonomi, politik dan juga agama. Di antara yang bercorak keagamaan adalah Khilafatul Muslimin  yang berdiri di Lampung dan sekarang sudah menyebar di beberapa wilayah  Indonesia.

  

Dengan semboyan: “khilafah sebagai satu-satunya solusi” maka gerakan ini banyak diminati oleh massa, terutama generasi muda. Memang ada semacam pandangan bahwa yang dijadikan sasaran adalah generasi muda yang diperkirakan nanti pada tahun 2030an dan seterusnya akan menjadi pemimpin bangsa dalam segala levelnya. Makanya dari berbagai gerakan Islam fundamental, maka yang dijadikan sebagai sasaran utamanya adalah para generasi muda. Generasi muda yang sedang belajar di institusi pendidikan selevel Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi yang paling banyak disasar. Perkembangan lembaga pendidikan berbasis Islam fundamental menjadi sangat pesat akhir-akhir ini, baik sekolah maupun pesantren. 

  

Khilafatul Muslimin  yang berdiri di Lampung tentu satu kategori yang berbeda. Khilafatul Muslimin  didirikan oleh Abdul Qadir Baraja, di Lampung pada 18 Juli 1997. Jadi organisasi ini berdiri pada saat Indonesia mengalami perubahan dari era Orde Baru dan awal  memasuki era Orde Reformasi. Jadi organisasi ini tumbuh dan berkembang pada saat kebebasan menjadi salah satu kunci di dalam era reformasi. Pada saat tersebut, maka tumbuh berbagai organisasi keagamaan, baik yang berbasis pada gerakan khilafah, maupun social politik dan ekonomi.

  

Sebagaimana yang terjadi, pada era reformasi juga tumbuh radio dan televisi yang berbasis Islam Salafi di Indonesia. Jumlahnya cukup banyak dengan channel yang bisa disimak di media televisi. Meskipun namanya, televisi bisnis atau televisi umum, akan tetapi pesannya adalah pesan keagamaan dalam tafsir para ulama Salafi Wahabi. Sungguh era reformasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi gerakan kaum Salafi untuk membangun diskursus sebagaimana yang dikehendakinya. 

  

Salah satu buah reformasi yang tidak dikehendaki atau dalam konsepsi Robert King Merton disebut unintended conciquensies  adalah lahirnya berbagai organisasi yang berbasis Islam eksklusif. Di antaranya yang didirikan oleh Abdul Qadir Baraja tersebut. Pendiri organisasi ini dinyatakan pernah bergabung dengan jaringan Negara Islam Indonesia (NII) yang memiliki visi mendirikan negara agama. Bahkan juga dianggap pernah mendukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pada tahun 2014 yang lalu. System kenegaraan yang digunakan adalah sebagaimana system negara Islam versi khilafah.

  

Tidak sebagaimana gerakan radikalisme lainnya yang menggunakan media social untuk mengembangkan pemikirannya dan menguasai jagad media social, akan tetapi Gerakan Khilafatul Muslimin ini justru bergerak di akar rumput. Mereka kuasai suatu wilayah dan kemudian dijadikan sebagai markas dan berikutnya dikuasainya kehidupan masyarakat, sehingga muncul pengakuan bahwa desa tersebut adalah wilayah Khilafatul Muslimin. Beberapa wilayah di Lampung di klaim atau dilabel sebagai wilayah Khilafatul Muslimin.  Kehadiran mereka di suatu wilayah tentunya menjadi “rival” secara gerakan bukan secara administrative atas wilayah dimaksud. Bisa jadi bahwa kepemimpinan desa atau wilayah tersebut sudah dikuasainya. Strategi ini yang di masa lalu digunakan oleh PKI dalam penguasaan atas suatu wilayah. Dari Lampung kemudian mereka bergerak melalui agen-agen militannya untuk mengembangkan Khilafatul Muslimin di beberapa wilayah di Indonesia, misalnya Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwokerto, Priangan, Sumedang, Cirebon, Brebes,  Solo, dan Surabaya. 

  

Beberapa hari yang lalu, kelompok Khilafatul Muslimin melakukan konvoi di beberapa daerah. Kelompok ini secara sengaja menunjukkan kepada public bahwa khilafatul muslimin itu ada dan perlu untuk diperhitungkan. Dengan unjuk kekuatan tersebut, maka dapat membuka siapa sebenarnya Gerakan Khilafatul Muslimin. Dan dengan kehadirannya secara public, maka BNPT atau Kepolisian lalu bisa melakukan Tindakan untuk menangkap pendiri Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja. Dari sinilah kemudian terkuak siapa sebenarnya dirinya dan apa yang menjadi tujuannya dengan mendirikan gerakan ini. Yang salah satu di antaranya adalah untuk mendirikan khilafah sebagai wadah untuk meneruskan misi “kenabian”. Baginya  bahwa mendirikan khilafah adalah kewajiban.  Dan kewajiban tersebut sudah dilakukan dengan mendirikan Khilatatul Muslimin, yang semula di Lampung dan kemudian menyebar di beberapa wilayah di Indonesia. 

  

Abdul Qadir Baraja ini memanfaatkan masyarakat desa yang lugu dan tidak memiliki syakwasangka atas gerakan yang menyimpang dari prinsip kenegaraan. Dengan mendirikan khilafatul  Muslimin yang dianggapnya sebagai kewajiban pasca Khulafaur Rasyidin di dalam NKRI, maka sebenarnya dia telah melakukan makar atas Negara Indonesia. Tetapi dengan kelihaiannya, maka dia bisa mempengaruhi masyarakat desa untuk mengikuti pahamnya. Bahkan juga telah menciptakan kader-kader militant untuk memperluas kekhilafahan yang didirikannya. 

  

Sebagaimana gerakan messianis lainnya, maka gerakan ini juga menggunakan masyarakat kelas menengah ke bawah yang hidup di pedesaan untuk dijadikan sebagai pengikutnya. Tetapi yang jelas bahwa gerakan seperti ini selalu akan menemui tembok tebal, yaitu kesadaran masyarakat lainnya yang memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi. Akhirnya, gerakan seperti ini hanya akan menambah pekerjaan rumah bagi pengembangan moderasi beragama yang sekarang lagi ngetrend.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.