(Sumber : Katadata)

Lato-Lato, Tradisi Dolanan dan Simbol Kontestasi 2024

Opini

Saya tentu tidak tahu bagaimana lato-lato itu menjadi tradisi permainan atau dolanan anak-anak. Meskipun saya tahu bahwa permainan ini sesungguhnya sudah mentradisi di masyarakat Indonesia pada masa lalu. Dolanan itu sudah mentradisi dalam kehidupan anak-anak usia 10 tahunan semenjak dahulu. Pada tahun 1970-an dolanan tersebut sudah dilakukan oleh anak-anak pedesaan. Hanya saja tentu tidak seperti sekarang. 

  

Pada masa lalu, dolanan tersebut terbuat dari kayu dan tampar yang dirangkai untuk menjadi dolanan ethek-ethek dimaksud. Akan tetapi sekarang terbuat dari plastic dan diproduksi oleh pabrik mainan anak-anak. Bagi orang Jawa mudah saja untuk memberikan nama atas dolanan tersebut, sebab bisa saja nama diambilkan dari suaranya. Karena suaranya thek-thek-thek-thek, maka lalu dinamakan dengan ethek-ethek. Jika di Madura mungkin dinamakan Thek-Etthek. 

  

Kehidupan orang Jawa sebenarnya dipenuhi dengan simbol-simbol dan bagaimana dunia simbolik tersebut kemudian mengejawantah di dalam dunia social empiris.  Bagi orang Jawa, bahwa semua mengandung nilai simbolis. Misalnya jika di sekeliling rumah terdapat suara burung prenjak, maka terdapat simbolisasi akan datang seorang tamu dari jauh. Jika seseorang kejatuhan cecak, maka akan ada persoalan kecil, jika terdapat suara burung gagak atau burung  hantu di sekitar rumah, terkadang dianggap sebagai simbol akan ada kematian. Tidak hanya ini. Perkawinan pun bisa disimbolisasikan dari hari lahir mempelai untuk memperoleh kebahagiaan atau kesusahan. Bahkan hari kematian pun bisa menjadi simbol bagi kehidupan keluarga yang ditinggalkan. 

  

Saya tidak menduga bahwa lato-lato yang sekarang sedang menjadi permainan anak-anak itu sedemikian heboh di dunia media social. Bahkan begitu hebohnya sampai ada yang melacak dari Bahasa apa lato-lato tersebut. Ada yang melacak dari Bahasa Ibrani, Bahasa Arab dan lainnya. Semuanya dilakukan untuk menjernihkan makna kebahasaannya. Sebab ada yang menyatakan bahwa makna kebahasaannya itu terkait dengan orang Yahudi. Sungguh lato-lato menjadi fenomena permainan baru bagi anak Indonesia, tidak hanya di Jawa tetapi di seluruh Indonesia.

  

Permainan lato-lato dinyatakan dari Amerika dan baru masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an. Informasi ini juga belum sepenuhnya benar. Permainan ethek-ethek sudah dilakukan oleh anak-anak pedesaan jauh sebelum tahun 1990. Cuma saja bedanya bahwa bahan untuk ethe-ethek tersebut terbuat dari kayu, sama halnya dengan permainan kekehan atau gasing yang semula juga terbuat dari kayu. Sekarang gasing sudah menjadi permainan anak-anak dengan design modern dengan lampu warna-warni dan terbuat dari bahan-bahan plastic pabrikan. Kekehan atau gasing tentu lebih tua usianya, sebab tahun 1960-an sudah ada jenis permainan ini.   

  

Di era media social, maka apapun yang diunggah oleh masyarakat akan menjadi santapan informasi bagi yang lain. Maka ketika lato-lato tersebut menjadi fenomena massif di kalangan anak-anak dan bahkan juga remaja, maka sontak lato-lato juga menjadi fenomena social. Di seluruh pelosok Nusantara anak-anak dan remaja memainkannya. Bahkan juga dilombakan atau  dipertandingkan. Siapa yang lama dapat memainkan lato-lato, maka dialah yang dianggap sebagai pemenang. Tidak  sulit dalam penilaian. 

  

Masyarakat Indonesia akan memiliki gawe politik tahun 2024. Di dalam perhelatan politik selalu mempertontonkan kontestasi dan pertarungan. Semua ingin berebut menjadi pemenang. Bagaimanapun caranya. Ada yang santun dan ada yang urakan. Ada yang elegan dan ada yang tidak elegan. Ada yang fairness dan ada yang unfairness. Semuanya tersaji dalam perhelatan politik yang dahsyat. Bahkan terkadang juga terdapat Machiavelisme politik, misalnya dengan memainkan sejumlah uang untuk kemenangan. Di masa lalu dikenal sebagai serangan fajar. Saya tidak tahu kenapa disebut sebagai serangan fajar. Bisa jadi di masa lalu, memang proses penggunaan uang untuk tujuan politik dalam level apapun itu sering dilakukan pada waktu fajar. 

  

Jika di dalam proses pemenangan dikenal dengan politik Machiavelisme, maka di dalam hasilnya dapat juga disimbolisasikan dengan politik kleptomania. Semua cara boleh asal menang, dan semua hasilnya absah sebagaimana orang yang berbuat ngutil. Masyarakat Indonesia yang dikenal sopan, santun, religious tersebut ternyata berbanding terbalik dengan problem perpolitikan. Artinya religiositas terkadang tidak signifikan dalam relasinya dengan dunia politik praktis.

  

Permainan lato-lato adalah permainan untuk membenturkan satu benda dengan lainnya. Jika kita melihat dunia simbolik orang Jawa, maka bisa jadi hal ini adalah symbol politik tahun 2024. Ada banyak orang yang berada di dalam nuansa kontestasi dan pertarungan. Bisa pertarungan dalam level DPR dan DPRD, dalam level presiden dan wakil presiden, gubernur atau bupati/walikota. Elit negeri ini akan melakukan kontestasi untuk terpilih dalam jabatan yang bergengsi. 

  

Mungkin berbeda dengan cerita pewayangan yang digambarkan oleh Ben Anderson, bahwa cerita pewayangan adalah simbolisasi   tindakan orang Jawa sebagaimana  dalam cerita pewayangan, akan tetapi  Lato-lato bukan menggambarkan tentang tindakan orang Jawa sebagaimana yang dilambangkan dalam lakon wayang, akan tetapi melambangkan tindakan konfliktual yang  dipaksakan oleh kekuatan lain untuk berbenturan. Sama dengan dua benda yang dipaksa untuk berbenturan agar menghasilkan suara.

  

Jangan-jangan lato-lato adalah gambaran politik Indonesia tahun 2024, di mana akan terjadi banyak kontestasi dan pertarungan dalam artikulasi kepentingan politik. Di dalam banyak hal, memang terdapat simbol-simbol yang dipresentasikan oleh kalangan tertentu untuk menggambarkan apa yang akan terjadi kelak di kemudian hari. Sungguh kita semua berharap bahwa lato-lato bukanlah simbol negeri ini di tahun depan, akan tetapi memang semata-mata permainan anak-anak.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.