(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Mencermati Launching Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP): Menggerakkan yang Dulu Terserak (Bagian Satu)

Opini

Tentu sebuah kebanggaan, bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah menjadi area yang menggairahkan untuk pengembangan kapasitas diri, terutama sebagai wadah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan kompetitif. PMII yang di masa lalu dianggap sebagai tertinggal dalam pengembangan SDM berkualitas, terutama pada tahun 1980-an-1990-an, maka kini PMII telah menggebrak dinamika pengembangan ilmu pengetahuan melalui para dosennya, baik yang berkarya di dunia akademis, politik maupun birokrasi dan militer. 

  

PMII sebagai organisasi yang secara kultural berada di dalam tradisi NU, ketika  NU menjadi partai politik, maka PMII juga menjadi bagian yang dianggap sebagai lawan pemerintah, sehingga keberadaannya tidak diperhitungkan atau selalu dipinggirkan. Oleh karena itu yang tampil dalam era 1980-an-1990-an nyaris tidak djumpai dari PMII. Pada waktu itu, menjadi PMII merupakan sesuatu yang tersembunyi. Jika kemudian bisa memasuki area birokrasi, militer dan akademis, maka harus menyembunyikan diri. Kecuali di dunia politik yang memang masih menyisakan ruang meskipun sedikit.

  

Namun demikian, mereka yang dahulu mulai memasuki area ini,  kemudian di era Orde Reformasi menjadi motor aktif di dalam kerangka menggerakkan roda perubahan meskipun tidak sekencang yang diharapkan. Ketika Orde Baru tumbang, sebuah orde yang tidak ramah terhadap NU dan semua jajarannya, maka kemudian para aktivis NU dan jajarannya termasuk PMII lalu merangsek ke dalam, dan melalui peluang yang terbuka kemudian jadilah person-person NU dan jajarannya tersebut memeroleh peluang untuk berpartisipasi, baik melalui kompetisi seimbang atau melalui peran sosial yang telah dimainkannya. 

  

Para aktivis yang berpeluang memasuki birokrasi, lembaga akademis dan juga milter pada pertengahan tahun 1980-an dan 1990-an itulah yang kemudian semakin kelihatan identitasnya dan kemudian melakukan pengaderan secara terstruktur untuk memasuki ranah dunia birokrasi, akademis dan militer, sehingga bisa dilihat identitas dan perannya pada masa sekarang. Bayangkan di masa lalu betapa jarangnya penutup ceramah, orasi ilmiah, rapat dan sebagainya dengan ungkapan “Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq”,  sebab sudah terdapat suatu ungkapan yang dominan, yaitu “Billahit taufiq wal hidayah”.  Atau ungkapan lain: “Salam kebangsaan, salam kemerdekaan, salam sejahtera” yang sungguh sudah menjadi ciri di kalangan birokrasi, akademisi dan militer.

  

Pasca reformasi 1998, maka gerbong aktivis NU, termasuk di dalamnya aktivis, PMII kemudian memiliki peluang yang sama untuk berkompetisi sehingga ranah-ranah yang semula tertutup menjadi terbuka, dan di situlah akhirnya warga pergerakan memperoleh momentum untuk menempati posisi penting dalam banyak bidang, misalnya partai politik, militer dan juga birokrasi. Maka ungkapan: “Wallahul muwafiq ila aqwamtih thariq”  tidak lagi menjadi tabu dan bahkan menjadi ungkapan  nasional dalam momentum forum-forum resmi kenegaraan, yang di dalamnya melibatkan warga Nadhiyin di dalamnya. Para birokrat, politisi, akademisi NU tidak lagi canggung mengucapkannya. Hal ini merupakan berkah yang luar biasa bagi NU dan segenap jajarannya, sebab tidak lagi terpinggirkan di dalam kawasan-kawasan yang haram untuk dimasukinya. 

  

Melalui kompetisi yang ketat di era akhir Orde Baru, maka banyak sekali aktivis PMII yang bisa memasuki institusi pendidikan, tidak hanya di PTKIN tetapi juga PTN. Mereka yang semula masuk pada level strata I, maka kemudian bisa masuk ke Program Strata II dan program Strata III. Tidak hanya menjadi doctor di dalam negeri melalui lembaga Pendidikan Tinggi Islam, tetapi juga PTN. Bahkan PTN ternama di Indonesia, seperti UI, ITB, ITS, UA, IPB, UGM dan lainnya. Sementara itu mereka juga mengambil program Strata  III di UIN/IAIN, misalnya di UIN Jakarta, UIN Jogya, IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN Sunan Ampel), UIN Bandung, UIN Makasar  dan sebagainya. Juga banyak yang lulusan dari UNJ, UPI, dan UNY. Pada zaman Prof. Munawir Syadzali menjadi Menteri Agama, maka juga banyak kader PMII yang bisa lolos ke Progam PhD di US, Inggris, Canada, Australia, Jerman, Belanda dan juga di Mesir, Turki dan Maroko. Mereka yang belajar di dalam negeri dan luar negeri pada 2000-2010 tersebut kemudian akhirnya bisa meraih gelar professor, atau menjadi pejabat eselon II atau eselon I pada Kementerian dan Lembaga, misalnya yang terbanyak di Kementerian Agama. 

  

Gelombang akademisasi aktivis PMII itulah yang kemudian banyak mewarnai perkembangan di PTKIN, banyak rektor alumni dalam dan luar negeri yang menjadi rektor dan juga pejabat seperti Dekan, kepala lembaga dan lainnya. Kemudian yang berkiprah di birokrasi baik pusat maupun daerah juga berlanjut menjadi pejabat eselon II atau I, bahkan juga ada beberapa yang menjadi pejabat penting di Militer, baik Angkatan Darat, Laut, Udara dan juga Kepolisian. Sungguh gerbong intelektualisasi dan akademisasi kader PMII telah memasuki era baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di masa lalu, ada semacam anggapan bahwa jika seseorang menjadi kader PMII maka akan sulit memasuki kawasan sentral, sebab pengalaman sejarah memang selalu menempatkannya pada posisi peripheral. 

  

Jika hari ini para dosen yang tergabung dalam Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) yang tanggal 26-28 Agustus 2021 menyelenggarakan Pelantikan dan Rakernas, dengan tema: “SDM Unggul Menuju Indonesia Emas”,  maka hal ini adalah berkah perubahan era kepemimpinan dari era Orde Baru ke Orde Reformasi, yang ternyata memberi peluang besar bagi sahabat-sahabat PMII untuk mengikuti dinamika perubahan yang sangat besar. 

  

SDM PMII yang di masa lalu berada di wilayah pinggiran sekarang sudah ada di tengah, yang dulu diremehkan, sekarang sudah dinyatakan memiliki kualitas. Jadi kiprah nyata perlu semakin diperkuat untuk menunjukkan bahwa masuknya personal PMII ke dalam dunia birokrasi, institusi pendidikan, militer dan politik bukan karena pemberian tetapi karena kontestasi yang ketat dan berhasil dimenangkannya. We are the winner.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.