(Sumber : Nur Syam Centre)

Merdeka di Masa Depan

Opini

Kebanyakan orang menganggap bahwa memperingati kemerdekaan itu adalah mengenang kembali masa lalu dengan hiruk pikuk dan romantisme bagaimana merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang sudah mencengkeram Indonesia dalam ratusan tahun. Konon katanya 350 tahun atau tiga setengah abad. Romantisme sejarah ini yang terus menerus diulang-ulang setiap tahun dengan berbagai acara, seperti memakai baju adat, pagelaran perebutan kekuasaan, dan berbagai kegiatan lain yang bercorak keramaian. Di desa-desa dan bahkan juga di kota-kota terdapat acara panjat pinang. Saya juga tidak tahu apa makna panjat pinang itu menjadi acara tahunan dalam memperingati tujuh belasan.

  

Memang harus diakui bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia itu dicapai dengan berdarah-darah. Tetesan demi tetesan darah mengucur kala para pahlawan Indonesia merebut kemerdekaan. Hal ini memang harus terus menerus ditransformasikan dalam sejarah perjuangan bangsa terutama agar generasi muda memiliki pemahaman bahwa merebut kemerdekaan bukanlah usaha yang gampang. 

  

Agar  sampai dalam situasi merdeka seperti ini, diperlukan perjuangan yang gigih dan tanpa menyerah. Peristiwa 10 Nopember 1945 adalah contoh betapa nasionalisme yang berbingkai agama itu ditampilkan oleh para pejuang Indonesia. Teriakan Allahu Akbar yang dikumandangkan oleh Bung Tomo, dapat memicu dan memacu semangat berjuang sampai titik darah penghabisan. Bagaimana bisa dibayangkan Jenderal Mallaby yang dedengkotnya para penjajah bisa tewas di tangan para pejuang yang bermodalkan golok dan bambu runcing. Sungguh peristiwa yang sangat luar biasa telah diukir para pejuang Indonesia untuk merebut kemerdekaan.

  

Itulah sebabnya para generasi muda tetap diharuskan untuk belajar sejarah bangsa agar nuansa kesejarahan tersebut dapat menjadi pondasi dalam menata dan me-manage masa depan dengan benar dan sesuai dengan keinginan para founding fathers negeri ini. Jangan sampai generasi mudah lebih hafal sejarah perjuangan Amerika Serikat atau Inggris dibandingkan dengan sejarah perjuangan bangsa. Belajar sejarah menjadi keniscayaan di tengah kehidupan global yang meniscayakan relasi antar manusia semakin mengglobal dan relasi antar negara juga mendunia. 

  

Di antara yang diinginkan oleh para pendiri bangsa ini adalah betapa pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa berbasis pada dasar negara dan filsafat bangsa, yaitu Pancasila. Sudah disepakati bahwa dasar negara dan falsafah bangsa ini adalah Pancasila dengan uraian sila-silanya sebagaimana secara musyawarah sudah ditetapkan dalam Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, meskipun secara istilah kata Pancasila itu sudah terdapat di dalam Pidato Bung Karno, 1 Juni 1945. Akhirnya memang disepakati bahwa lahirnya Pancasila adalah tanggal 1 Juni 1945, sedangkan uraian sila demi sila di dalam Pancasila adalah hasil musyawarah PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Sejarah ini tentu saja clear and clean. Generasi muda harus memahami peristiwa sejarah ini agar tidak terjebak pada romanstisme sejarah yang membingungkan. 

  

Indonesia sudah merdeka selama 75 tahun. Artinya, bahwa sudah 75 tahun bangsa ini terbebas dari penjajahan fisik yang dilakukan oleh negara lain. Tanggal 17 Agustus 1945 adalah tonggak keterbebasan fisik bangsa ini dari keculasan penjajah yang menjadikan rakyat Indonesia terus menderita. Mereka, para kaum penjajah, sudah angkat kaki dari Bumi Pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para penjajah seperti Belanda, Jepang dan Inggris sudah kembali ke tempatnya masing-masing, sehingga bangsa ini seharusnya sudah bisa  mengatur dirinya sendiri di dalam pergaulan bangsa-bangsa dan rakyatnya bisa merasakan manfaat kemerdekaan. Inilah tantangan terbesar bangsa Indonesia yang kiranya harus dipenuhi oleh para pengambil kebijakan di negeri ini.

  

Di dalam konteks ini, maka memaknai Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia harus dimaknai sebagai upaya untuk menjawab tantangan masa depan, dan bagaimana strategi menghadapi masa depan tersebut. Bagi saya, ada tiga tantangan terbesar bangsa ini untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu: pertama, tantangan perubahan sosial yang cepat dalam segala aspek kehidupan, terutama adalah ekonomi, pertahanan keamanan dan sosial budaya. Sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bahwa tujuan kemerdekaan adalah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Artinya, merdeka harus menghasilkan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Merdeka ekonomi inilah yang seharusnya menjadi program utama di dalam mengemban kemerdekaan bangsa. Jika pemerintah gagal melakukan upaya perbaikan ekonomi masyarakat, maka tujuan kemerdekaan itu tentu mengalami kegagalan.

  

Covid-19 telah meluluhlantakkan semua pondasi ekonomi yang bertahun-tahun ditumbuhkembangkan. Pertumbuhan ekonomi harus direvisi sebab keterpurukan ekonomi, pendapat dari sektor pajak juga menurun drastis sebab sektor swasta yang selama ini memberikan dukungan perpajakan juga mengalami pendapatan yang menurun drastis, bahkan ada yang gulung tikar. Saya kira prediksi McKinsey 2030 tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada tahun-tahun mendatang akan spektakuler bisa memasuki G10, saya kira akan mengalami revisi. Penderitaan ekonomi karena Covid-19 memang luar biasa, bahkan Inggris memasuki era resesi ekonomi karena pertumbuhan yang tidak signifikan. 


Baca Juga : Nyekar

  

Kedua, tantangan Era Revolusi Industri 4.0 atau Era Disruptif, tentu akan semakin berat jika tidak disikapi dengan upaya-upaya kreatif, misalnya dapat menumbuhkan sejumlah star up yang potensial untuk menumbuhkan Kawasan Ekonomi Baru Berbasis IT. Dewasa ini yang nyaris tetap berkembang meskipun juga mengalami sedikit stagnasi adalah sektor usaha yang mengandalkan aplikasi IT. Usaha ini tidak mengalami perubahan yang mendasar sebab relasinya yang bercorak virtual. Pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan era baru ini, melalui konsep blockchain namun dengan kehadiran Covid-19 tentu membuyarkan percepatan pengembangan ekonomi melalui penguatan IT tersebut.

  

Ketiga,  tantangan religio-formalism,  ethnocentrism and social media, yang menggerogoti nasionalisme dan kebangsaan. Semakin menguatnya religio-formalisme yang ditandai dengan semakin menguatnya arus Islamisme tentu menjadi tantangan yang tidak sederhana di era demokratisasi yang mengandaikan semua harus diayomi dan bisa berkembang. Menguatnya religio-formalism, ethnocentrism and social media, yang saling  berkait kelindan tentu akan menyebabkan masalah-masalah sosial yang unpredictable. Gerakan-gerakan unjuk rasa yang dilakukan oleh komponen Islamisme dan didukung oleh kekuatan media sosial yang hebat tentu akan bisa memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Apalagi juga semakin menguatnya ethnocentrism yang dibungkus dengan semangat untuk melepaskan diri dari NKRI, misalnya gerakan-gerakan separatis di Papua, dan juga Maluku dan sebagainya. Jika tidak di-manage dengan benar tentang hal ini, maka gerakan separatisme akan semakin membesar dan bisa membahayakan.

  

Memperingati kemerdekaan, saya kira justru harus menjadi perenungan bagi warga bangsa tentang tantangan ke depan ini. Dengan upaya mengejar ekonomi berbasis IT tentu juga harus berhadapan dengan jumlah pengangguran yang semakin besar di era Covid-19. Artinya, harus terdapat proses penyeimbangan antara ekonomi berbasis IT dengan tenaga kerja yang unskilled labor maupun tenaga skilled labor di saat  dunia ekonomi sedang mengalami stagnasi. Selain juga tantangan yang tidak kalah menarik mengenai semakin menguatnya gerakan formalisme agama, semakin menguatnya etnosentrisme  yang berkait kelindan dengan media sosial yang semakin tidak ramah.

  

Jadi, memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya beromantisisme dengan sejarah masa lalu,  tetapi justru harus bernegosiasi dan beradaptasi berbasis prediksi Indonesia ke depan, yang mengisyaratkan tantangan sebagai negara bangsa akan semakin kompleks dan bervariasi. 

  

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75, semoga ke depan Indonesia akan semakin jaya di dalam percaturan bangsa-bangsa di dunia. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab