(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Moderasi Agama Bukan Islam Jawa Versus Islam Arab

Opini

Masih banyak yang berpikir bahwa Islam tidak bisa dikaitkan dengan kewilayahan atau area. Misalnya Islam Malaysia, Islam India, dan Islam Nusantara. Bagi yang berpikir seperti ini, maka ditafsirkan bahwa hanya ada satu Islam, yaitu Islam sebagaimana yang terdapat di Arab Saudi, dan yang lain adalah Islam yang tidak benar atau Islam yang berisi campuran antara Islam dan budaya local. Misalnya ketika menyatakan Islam Jawa maka adalah Islam yang sudah merupakan campuran antara ajaran Islam dengan tradisi Jawa. Begitulah dengan Islam di tempat lain juga dianggap bukan sebagai Islam yang murni. 

  

Pandangan Islam universal bukan sesuatu yang salah. Islam memang memiliki ajaran-ajaran universal yang di manapun harus sama. Ajaran Islam yang prinsip pastilah sama. Ajaran tentang ketauhidan pastilah di mana-mana sama tidak ada perbedaan, demikian pula ajaran tentang ritual-ritual dasar di dalam Islam juga memiliki kesamaan. Ajaran tentang keadilan, kesetaraan, kemerdekaan, dan kerukunan pasti juga sama prinsipnya. Hanya saja ekspressinya yang bisa berbeda antara satu dengan lainnya. Misalnya sebutan, symbol dan ekpressi lainnya. Setiap area tentu bisa mengekspressikan keyakinan secara  berbeda. Misalnya di Jawa menyebut Allah SWT dengan Kanjeng Gusti Allah, demikian pula ucapan atau pelafalan Allah juga bisa berbeda antara satu wilayah dengan area lainnya. Tentu hal ini dipengaruhi oleh faktor bahasa, ucapan dan gaya bahasa masing-masing. 

  

Secara universal, Tuhan kita Esa, Allah SWT, Nabi kita sama Muhammad SAW, kita percaya kepada Malaikat Allah dengan masing-masing fungsinya, dan rukun Iman lainnya. Syahadat kita juga sama tidak ada perbedaan, jumlah salat wajib kita juga sama, zakat, haji dan puasa juga sama. Secara keyakinan tidak ada bedanya. Hanya saja ekspressinya yang bisa berbeda. Ketika masuk di dalam dunia ekspressi keagamaan, maka di situ mulai masuk aspek penafsiran para ulama yang memang memiliki otoritas sebagai penafsir agama karena memang memenuhi syarat-syarat yang ketat. Tidak semua orang bisa menjadi penafsir Al-Qur’an sebab tidak memenuhi syarat. Ketika misalnya saya menyatakan: “jika tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka jangan dilakukan”, maka ucapan ini juga tafsir saya atas prinsip dasar dalam mengamalkan ajaran agama. Bisa saja juga ada orang lain yang menafsirkan dengan keyakinan dan kemampuannya sehingga menghasilkan  produk yang berbeda.

  

Jadi yang berlaku adalah agama sebagaimana ditafsirkan oleh Nabi Muhammad SAW dan dipahami oleh para sahabat, tabiin dan tabbiit-tabiin yang secara berkesinambungan mata rantai atau sanadnya. Itulah sebabnya, hadits juga bervariasi statusnya sebagai sumber hukum: ada yang shahih, hasan, shahih lighairihi, munqathi dan lainnya. Semua menggambarkan bahwa hadits yang merupakan ucapan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW pun direspon berbeda-beda oleh para penerusnya. Oleh karena itu, yang penting adalah mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang diyakini kebenarannya berdasarkan atas sumber-sumber yang absah, terutama sebagaimana diajarkan oleh orang yang memiliki otoritas di dalam agama Islam.

  

Di dalam halaqah ulama di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, 08/04/2021, terdapat pertanyaan yang mempertentangkan antara Islam Jawa dan Islam Arab, seakan-akan keduanya merupakan Islam yang berbeda atau Islam yang tidak saling menyapa atau  terdapat dua entitas Islam. Di dalam studi-studi sosiologi antropologi, maka sering disebutkan adanya Islam “pusat” dan Islam “pinggiran” atau ada center  dan periphery, atau ada Islam sinkretis versus Islam akulturatif, atau Islam popular versus Islam ofisial, Islam murni versus Islam campuran, dan Islam modern versus Islam tradisional. Pandangan-pandangan seperti ini adalah pandangan akademisi untuk  menggambarkan bahwa Islam secara fenomenal terpilah-pilah dalam beberapa tipologi atau kategori. 

  

Gerakan konservatisme agama yang muncul akhir-akhir ini sering menjustifikasi bahwa Islam yang tidak murni sebagaimana di Indonesia adalah Islam yang tidak memiliki rujukan absah dari Alqur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dan dianggap sebagai pengamalan Islam yang tertolak. Jadi hanya ada satu tafsir Islam yaitu sebagaimana yang didapatnya dari ulama-ulama di Arab Saudi. Jika berbeda dianggap sudah bukan lagi Islam. Jadi Islam di Jawa adalah islam yang tidak sama dengan sumber aslinya. Jika diteliti lebih jauh, maka sebenarnya Islam di Arab Saudi juga hasil penafsiran ulama-ulama Islam di Saudi, sebagaimana Islam yang ditafsirkan oleh ulama di negeri lain. Termasuk Islam yang ditafsirkan oleh ulama-ulama Nusantara. 

  

Jadi sesungguhnya ada orang yang mencintai Nabi Muhammad SAW dengan membaca barjanzi sebuah kitab historis tentang Nabi atau membaca shalawatan.  Ada  yang mengekspresikan ketauhidan dengan membaca kalimat tauhid secara bersama-sama atau tahlilan. Ada  yang mengekspresikan jihad dengan bekerja sungguh-sungguh dalam bidangnya sehingga bermanfaat bagi orang lain. Tetapi juga ada yang menafsirkan mencintai Nabi itu dengan symbol-simbol fisikal seperti symbol bekas sujud di dahi, celana cingkrang, pakaian ala Arab atau jenggot tebal dan sebutan-sebutan khas Arab. Misalnya: akhi, ukhti, abi, ummi dan ammi atau bahasa-bahasa khas yang digunakan di Arab. Hal ini semua adalah ekspressi keberagamaan yang merupakan manifestasi dari keyakinan agama atas tafsir ulama yang diikutinya. Ada yang mengikuti Imam Syafi’i,  Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Maliki, Ibnu Taimiyah, Ibn Qayyim Al Jauzi, Abdul Wahab dan lainnya.  Akibatnya, doa di dalam shalat saja juga bervariasi. Jika seperti ini, maka apakah kita lalu menganggap bahwa ekspressi agamanya sendiri saja yang sah dan benar. Jawabannya tentu tidak. Asalkan ada rujukannya sesuai dengan para ulama yang otoritatif, maka sahlah ekspressi keagamaan tersebut.  

  

Sebenarnya Islam Arab dan Islam Jawa bukanlah sebuah posisi yang berlawanan. Islam dimanapun keberadaannya pastilah bersumber dari Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Arab. Islam di Arab bisa saja monolitik tafsirannya karena kekuasaan system monarchi bisa memaksakan seluruh warga negaranya untuk tunduk dan patuh kepada raja dan para ulama yang dipercayainya. Kebudayaan Arab yang monokultur, tentu sangat berbeda dengan Islam di Nusantara, termasuk di Jawa yang  multikultur. Ekspressi tradisinya sangat bervariasi dan  pemahaman tentang agamanya juga bisa saja bervariasi.  Ekspressi keagamaan tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para ulamanya. Misalnya, penganut NU akan memiliki referensi ulama NU, orang Muhammadiyah menjadikan ulama Muhammadiyah sebagai referensinya, orang Nahdlatul Wathan menjadikan ulamanya sebagai panutan. Jadi sesungguhnya di dalam beragama itu sangat tergantung kepada penafsiran para ulamanya. Kalau orang awam tentu tidak mampu untuk mengakses langsung kepada dalil-dalil naqli yang tidak dikuasainya.

  

Islam Arab dan Islam Jawa adalah entitas yang menyatu  dalam substansi tetapi bisa berbeda dalam ekspressi.  Penampakan  dalam pakaian  dan penampilan bisa dipengaruhi oleh tradisi di mana Islam tersebut hidup dan berkembang. Di dalam shalat di Nusantara umat Islam menggunakan kopyah dengan berbagai variasinya, sedangkan di Arab tidak menggunakannya. Di Indonesia, peristiwa nikahan menggunakan Bahasa Indonesia dan di Arab menggunakan Bahasa Arab. Di Indonesia terdapat kendurian yang merupakan upacara komunal,  sedangkan di Arab tidak ada. Inti slametan adalah berdoa kepada Allah SWT dengan medium ekspressi yang berbeda. Yang substansial adalah doa dan yang ekspressional adalah tampilan atau simbolnya. 

  

Dengan demikian sudah tidak penting menganggap ada rivalitas dan pertentangan antara Islam Arab dan Islam Jawa sebab keduanya merupakan ekspressi keberagamaan yang semuanya berujung pada kepatuhan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara dan ekspressi yang bisa berbeda. Yang penting, kata Dr. Abu Rahmad: “janganlah kita  menjadi ekstrim kanan atau ekstrim kiri bahkan jangan menjadi ekstrim wasathiyah. Mari kita belajar yang benar untuk menjadi Islam wasathiyah. Menjadi moderat ada ilmunya, dan dengan ilmu itu maka Islam wasathiyah akan tegak berdiri."

  

Wallahu a’lam bi al shawab.