(Sumber : Kemenko PMK)

NU, Forum R20 dan Dialog Isu Global

Opini

Dunia memang sedang menghadapi isu konflik dan perdamaian global. Hal ini terkait dengan isu-isu relasi antar negara  yang sedang menghadapi tantangan global dengan segala konsekuensinya. Perubahan social yang cepat dan isu konflik antar negara, misalnya  perang antara Uni Soviet dan Ukraina. Selain itu, relasi antar negara juga diwarnai dengan  ketegangan-ketegangan yang  diakibatkan oleh peluang terjadinya “resesi” ekonomi yang  juga berimplikasi terhadap relasi  antar negara di berbagai belahan dunia.

  

Indonesia memang tidak menghadapi konflik sebagaimana di tempat lain. Tetapi masyarakat  beragama  sedang menghadapi  potensi disharmoni  yang disebabkan oleh pemahaman agama yang bervariasi dan terdapat   peluang untuk saling menyerang satu dengan lainnya. Pertarungan otoritas melalui berbagai media social dan juga ceramah-ceramah agama sebegitu runcingnya, sehingga di sana-sini akan dapat memicu disharmoni social di antara umat beragama. 

  

NU sebagai organisasi besar di Indonesia  akan melakukan  Dialog Antar Umat Beragama di dalam rangka menyambut forum G20 di Bali. Forum R20 yang  digagas oleh PBNU, merupakan acara yang sangat strategis di tengah gelegak kontestasi yang menjurus kepada konflik social bernuansa agama. Melalui forum ini, maka para tokoh agama diajak untuk mendialogkan masa depan umat manusia dengan peradabannya. Apakah para pemimpin agama akan menjadikan dunia ini lebih beradab, lebih mengedepankan kerahmatan bagi umat manusia atau justru sebaliknya akan memporakporandakan kemanusiaan. 

  

Sebagai umat Islam, kita tentu bergembira, sebab terdapat  forum penting dan substansial yaitu pertemuan antar tokoh agama dunia, dengan tema pembicaraan mengenai “agama untuk perdamaian”. R20 atau Forum Religion of Twenty  adalah salah satu agenda untuk membahas relasi agama dalam dinamika social yang terus terjadi dan berkembang.

  

Upaya untuk mengadakan dialog antar umat beragama se dunia tentu merupakan upaya yang sangat baik. Tatanan dunia yang berada di era disruptif dengan berbagai disharmoni bahkan konflik social tentu harus dicarikan alternatif penyelesaiannya, dan di antara yang dijadikan alternatif adalah melalui dialog antar umat beragama. Diperkirakan ada sebanyak 50-100 tokoh agama yang akan hadir di Bali, 2-3 November 2022,  dalam rangka melakukan dialog antar pemimpin agama dimaksud. Mereka akan hadir dari seluruh dunia melalui skema undangan yang dilakukan oleh PBNU. Di antara undangan tersebut adalah untuk tokoh agama Yahudi, Rabi Silvina Chemen yang membawa pro-kontra bahkan di antara tokoh NU sendiri. Selain itu juga akan mengundang pemimpin Hindu Ram Madhav, lalu Sekjen Liga Muslim Dunia, Syekh Muhammad al Issa., dan juga tokoh dunia lain dari berbagai agama.

  

Rencana menghadirkan tokoh Yahudi ternyata melahirkan pro-kontra. Ada kalangan NU yang menolak kehadiran pimpinan Yahudi karena perilaku politik dan keagamaan yang selama ini dipertontonkan kaum Yahudi khususnya terhadap Bangsa Palestina, dan tentu ada yang menerima kehadirannya karena sesungguhnya perilaku kekerasan itu lebih merupakan representasi negara dibandingkan representasi agama.  Semuanya, baik penolakan maupun penerimaan delegasi dimaksud tentu sebagai konsekuensi dari pilihan rasional yang dihadirkan oleh masing-masing tokoh agama.

  

Alasan yang dikemukakan oleh para penolak adalah “kebiadaban Israel” selama ini terutama terhadap warga Palestina. Pembunuhan demi pembunuhan oleh tentara Israel atas warga Palestina serta pendudukan di wilayah Gaza yang secara jelas bertentangan dengan kehidupan damai antar dua negara, serta masih banyak masalah di dalam negeri dalam kaitan dengan relasi antar umat beragama tentu lebih bijak membicarakan hal tersebut. Diyakini bahwa mengundang Rabi Yahudi ke dalam forum Internasional merupakan pengakuan secara tidak langsung atas kekerasan actual dan simbolik Israel atas warga Palestina. 

  

Sementara yang menganggap bahwa mengundang berbagai tokoh agama, baik pemimpin Hindu, Buddha, Katolik, Kristen, Khonghucu dan sekte-sekte lain adalah merupakan peluang untuk membicarakan dunia kemanusiaan di masa yang akan datang. Melalui dialog, maka akan terjadi saling pemahaman tentang penderitaan yang dirasakan oleh para korban. Dengan mendengar kepahitan yang dirasakan oleh pemimpin Palestina, maka diharapkan akan terdapat pemahaman betapa penderitaan itu dirasakan oleh umat manusia. Demikian juga pemimpin Buddha di Myanmar, Thailand, dan juga pemimpin Kristen dan Katolik di Eopa dan Amerika yang sering mengumbar penistaan agama. Meskipun yang datang bukan representasi negara, akan tetapi diharapkan bahwa dengan saling mendialogkan masalah-masalah mereka maka akan didapati peluang untuk saling memahami.

  

Forum Religion 20, merupakan forum yang strategis untuk membicarakan isu-isu global, seperti ketimpangan global, ketidakadilan global, dan kekerasan global yang semua menghantui relasi antar umat manusia. Diharapkan bahwa para pemimpin agama akan dapat berperan lebih besar di masa yang akan datang untuk menciptakan tatanan dunia baru yang lebih berkeadaban.

  

Forum R20 tentu bukan hanya sekedar bertemu dan dialog sebab yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia dewasa ini adalah solusi cerdas dalam membangun peradaban dunia berbasis pada keadilan, kesetaraan dan keharmonisan pada semua lapisan umat beragama, yang difasilitasi oleh kehadiran pemahaman agama yang memberikan rahmat dan bukan menghadirkan mafsadat bagi  umat.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.