(Sumber : www.nursyamcentre.com)

NU Gelombang Ke Lima

Opini

Hari ini, tanggal 31 Januari 2021 merupakan peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) yang ke 95 tahun. NU berdiri pada tanggal 31 Januari 1926, beberapa tahun setelah berdiri organisasi Muhammadiyah (lahir 18 November 1912), yang juga merupakan organisasi penting dalam pergerakan Islam di Indonesia. NU dan Muhammadiyah merupakan dua pilar organisasi Islam di Indonesia yang mengusung tema “Islam Wasathiyah” atau Gerakan “Moderasi Beragama”.

  

Sebagai organisasi Islam yang mengusung semangat wasathiyah atau moderasi, maka NU di dalam kiprahnya selalu menekankan agar masyarakat Indonesia selalu berada di dalam koridor Islam ala ahli sunnah wal jamaah, dengan prinsip utamanya misalnya adalah tawasuth, tawazun, tasamuh, dan I’tidal. Prinsip yang kemudian menghasilkan semangat keislaman yang bisa bernegosiasi dengan kebangsaan, lokalitas  dan kemoderenan. Bisa dinyatakan bahwa NU memiliki semangat adaptif dengan pilar kebangsaan, kemoderan dengan tetap memegang teguh pada budaya local yang tidak bertentangan dengan prinsip akidah dan Syariah yang dikembangkan oleh jam’iyah NU. 

  

Semenjak kelahirannya, NU memang konsisten dalam mengawal Islam yang bernegosiasi dengan budaya di mana Islam tersebut berada. Jadi ketika di Indonesia, maka NU mengawal agar tradisi local tidak dibabat habis dan digantikan dengan budaya Arab, yang tidak memiliki akar sejarah dengan bangsa ini. Namun NU juga tidak menolak dan bahkan mendorong agar tradisi Islam yang berasal dari Timur Tengah tetap berjalan dan berkembang sesuai dengan kapasitasnya. NU mendukung penggunaan pakaian gamis yang menjadi tradisi di Timur Tengah, tetapi juga tidak mengharuskan agar umat Islam Indonesia semuanya bergamis. Tetapi diberi peluang bagi yang ingin memakai baju koko dan berkopyah hitam atau baju khas daerah dan pakaian kekhasan lainnya. Hal inilah yang mendukung kenapa NU begitu memperoleh simpati dari masyarakat local, karena perjuangan Islam yang dilakukan tidak mencerabut akar budaya masyarakat yang sudah berkembang sedemikian rupa, dan kalau harus diubah dengan cara akulturatif dan bukan sinkretik.

  

Jika dirunut secara historis tentu dengan kedangkalan indikator-indikator kesejarahannya maka saya berupaya untuk menipologikan Gerakan NU dalam lima labelling. Indicator ini lebih bernuansa sosial politik keagamaan dari pada keagamaan saja. Hal ini disadari sebab NU telah menjadi fenomena sosial kebangsaan  dengan segala keunikannya. Tentu saja tidak dengan batasan yang ketat, sebagaimana upaya untuk menyederhanakan dan bukan menyulitkan. Lima karakteristik tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

  

Pertama, gelombang NU-Kenegaraan, artinya keterlibatan NU dalam proses mendirikan negara. Perjuangan NU dalam membela negara saya kira tidak diragukan. Dengan mendirikan laskar  Sabilillah dan Hizbullah yang  melibatkan santri dan kiai dalam perjuangan bangsa tentu menjadi bukti betapa keterlibatan fisik warga NU dalam perjuangan menegakkan negara. Bahkan dengan Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945  yang digelorakan oleh Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy’ari merupakan bukti bagaimana para ulama merespon terhadap keinginan Belanda dan sekutunya untuk menjajah Indonesia. Demikian pula keterlibatan warga NU di seputar perjuangan penetapan dasar negara dan sebagainya. Gerakan NU-Kenegaraan ini terjadi pada seputar tahun 1926-1950-an.

  

Kedua, gelombang NU-politik. NU secara sadar menjadi partai politik. Hal ini tentu menjadi suatu catatan khusus dalam perjalanan politik bangsa Indonesia. Pada saat Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi partai politik dan dengan leluasa untuk melakukan manuver-manuver politik di Indonesia, maka NU juga menjadi partai politik. NU menjadi partai penyeimbang antara PKI, PNI dan lainnya. Dengan menjadi partai politik pada seputar tahun 1955, maka memungkinkan NU memiliki peran secara politis yang lebih luas. Melalui momentum ini, maka menghasilkan KH. Idham Cholid, yang dijadikan sebagai figure Guru para politisi Islam di Indonesia. Akhir dari perjalanan politik NU memang tidak mengenakkan, sebab NU kemudian tersingkir secara dramatis dalam perjuangan untuk menegakkan identitas sebagai partai politik. Secara kalkulatif peran NU politik ini dimulai tahun 1950-an sampai 1970-an. 

  

Ketiga, gelombang intelektualisme-NU. Jika dibuat kategori seperti ini bukan berarti bahwa intelektualisme NU baru tumbuh pada gelombang ketiga ini. NU dengan kyai dan pesantrennya merupakan sejarah emas bagi perkembangan gerakan intelektualisme di Indonesia. Tetapi yang saya maksud dengan gerakan intelektualisme adalah dimulainya gerakan “sarjanaisasi anak-anak muda NU”. Warga NU mulai merambah pendidikan formal khususnya institusi pendidikan tinggi. Tidak hanya di STAIN, IAIN dan UIN tetapi juga memasuki institusi pendidikan tinggi umum. Tahun 1980 - 2000-an maka NU panen sarjana baik dari lulusan pendidikan tinggi keagamaan Islam maupun pendidikan umum. Lalu mereka yang sarjana kemudian juga menempuh pendidikan doctor, baik di dalam maupun luar negeri.

  

Keempat, Gerakan internasionalisasi-NU. Gerakan ini ditandai dengan semakin banyak cabang-cabang NU di luar negeri maupun ekspor gagasan tentang Islam wasathiyah, Islam rahmatan lil alamin maupun gerakan NU peradaban. Anak-anak muda NU yang mengambil program pendidikan di luar negeri secara aktif menjadi motor bagi gerakan internasionalisasi NU. Di berbagai belahan dunia: di Eropa, Amerika, Australia dan Afrika berlomba untuk mengembangkan NU pada wilayahnya masing-masing. Gerakan ini mencuat pada tahun 2000-an sampai 2010an. 

  

Kelima, Gerakan NU-Kebangsaan. Agak berbeda dengan gelombang pertama dan kedua, di mana NU terlibat dalam politik kenegaraan dan politik praktis, maka pada gelombang NU kebangsaan ini terkait dengan semakin semaraknya pemikiran tentang Islam politik yang mengusung tema-tema Islam kaffah, Islam syumuliyah, Islam formal dan khilafah Islamiyah serta gerakan radikalisme lainnya. Kehadiran HTI dan organisasi transnasional lainnya mengharuskan NU melakukan pilihan untuk memantapkan gerakan Islam kebangsaan. Melalui slogan NKRI harga mati, atau Pancasila dan NKRI sebagai pilihan final, dan upaya untuk memantapkan kebinekaan, maka NU secara vis a vis berlawanan dengan gerakan-gerakan Islam politik, yang mengusung terutama gerakan khilafah. Di saat sekarang inilah benar-benar sedang terjadi “pertarungan” yang menguras pemikiran, sebab lawannya adalah media sosial yang didesain untuk mengusung tema-tema utamanya, yaitu gerakan khilafah dan radikalisme. 

  

Tanpa mengesampingkan para kyai atau ulama yang berkibar pada zamannya, maka saya menyatakan bahwa penarik gerbong pada masing-masing gelombang adalah Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim untuk gelombang pertama, Kyai Idham Cholid sebagai penarik gelombang kedua, Kyai Abdurahman Wahid sebagai penarik gelombang ketiga, KH. Hasyim Muzadi sebagai penarik gelombang keempat dan KH. Said Aqil Siraj sebagai penarik gelombang kelima. 

  

Pemilahan ini terkesan sebagai labelling yang bercorak linier, padahal sesungguhnya, NU tidak pernah melepaskan baju sebagai penarik gerbong Islam kebangsaan. Jika kemudian saya melabel hal tersebut sebagai satu momentum tersendiri, hakikatnya adalah tantangannya yang sangat luar biasa dewasa ini. Dengan demikian, pemilahan secara tipologis ini tentu mengandung penyederhanaan yang bercorak kurang lebih.

  

Tantangan NU sebagai jam’iyah maupun jamaah tentu tidak akan pernah surut, sebab “lawan” NU sedang melakukan upaya untuk mendegradasi pengaruh NU di masyarakat. Dan para “lawan” NU ini sungguh memiliki kelebihan dalam penguasaan teknologi informasi maupun pendanaan. Jadi jamaah  NU memang layak untuk semakin menyatukan barisan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.