(Sumber : uinsa )

Para Profesor Baru UINSA: Talenta Akademik yang Hebat

Opini

Sebagai  dosen senior di UIN Sunan Ampel (UINSA) tentu saya merasa sangat bangga dengan ketercapaian gelar guru besar kepada para junior dosen UINSA yang telah merengkuh jabatan tertinggi dalam dunia akademik Perguruan Tinggi (PT). Saya kira civitas akademika di UINSA juga bangga atas pencapaian derajat tertinggi dalam dunia kampus, sebab dengan pertambahan jumlah guru besar tentu dipastikan akan berpengaruh terhadap kualitas akademis perguruan tinggi dalam kompetisi akademik yang semakin kuat dewasa ini. Di Inggris, misalnya ukuran sebuah perguruan tinggi hebat adalah di kala para profesornya dapat meraih derajat hebat dalam upaya penguatan akademiknya. Kita semua tentu berharap bahwa dengan pertambahan jumlah para profesor ini bisa mengangkat kualitas UINSA dalam percaturan dunia akademik, baik dalam level nasional maupun internasional.

  

Hari Kamis, 10/02/2022, UINSA punya gawe besar, yaitu pengukuhan empat guru besar sekaligus. Sebuah tradisi baru bahwa pengukuhan guru besar tidak satu-satu tetapi serombongan sekaligus. Saya kira dengan kebijakan yang jelas mengenai proses atau tahapan dan persayaratan untuk meraih guru besar ternyata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lahirnya para guru besar dengan usia yang relatif masih muda, bahkan berada pada usia 40-an. Berbeda dengan masa lalu, yang memperoleh gelar profesor harus menunggu kalau rambut sudah ubanan, dan usianya rata-rata di atas 50-an. 

  

Tentu ada banyak variabel untuk menentukan keberhasilan seorang dosen dalam meraih gelar profesor, selain regulasi yang terukur juga minat dan keinginan yang besar dari para dosen untuk meraih gelar terhormat tersebut. Semakin banyak institusi Pendidikan yang menyelenggarakan program doktor di Indonesia juga merupakan variabel penting, sehingga semakin besar peluang dosen untuk meraih doktor. Dan Jika doktor sudah diraih, maka selanjutnya bisa berusaha secara memadai untuk menulis dalam jurnal internasional terindeks. 

  

Rektor UINSA, Prof. Masdar Hilmy, MA, PhD, mengukuhkan empat guru besar sekaligus, yaitu: Prof. Dr. Syamsul Huda, M.Fil.I (guru besar bidang Peradaban Islam), Prof . Dr.  Rubaidi, M.Ag (guru besar Ilmu Tasawuf), Prof. Dr. Wiwik Setiyani, M.Ag (guru besar sosiologi Agama) dan Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag (guru besar Sosiologi Agama). Mereka ini adalah guru besar yang berusia muda dengan talenta akademik yang luar biasa. Saya sungguh mengapresiasi atas ketercapaian derajat tertinggi dalam dunia akademik di UINSA. Melalui usia muda dan curiosity yang tinggi, saya berkeyakinan dari tangan mereka akan lahir penelitian atau kajian yang outstanding, tidak hanya karya dalam bentuk jurnal baik terakreditasi nasional atau terindeks internasional tetapi juga karya buku. Artikel dan buku adalah jendela pengetahuan. Saya membayangkan pernyataan Ignaz Kleden, bahwa “Clifford Geertz adalah jendela kajian Indonesia”. Semua ini karena buku-bukunya yang sangat luar biasa. Saya mengandaikan ke depan, para profesor muda ini akan menjadi jendela kajian Indonesia.

  

Menilik karya akademis dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besar, saya sungguh merasakan aura kehebatan mereka ini. Saya ingin memulai membaca karya tulis Prof. Syamsul Huda (Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA). Prof. Syamsul menyajikan orasi ilmiah yang berjudul Historilink; Rekonstruksi Logika Metode Sejarah Islam”. Historilink, bagi Prof. Syamsul Huda adalah konsep baru yang sangat diperlukan dalam kajian sejarah kebudayaan Islam. Melalui konsep ini, terdapat logika untuk mencari relasi antara satu fakta atau realitas sejarah, yang saling mengikat dan melengkapi atas rekonstruksi sejarah melalui kajian filologi Islam, historiografi barat, terutama pada aspek metodologi penulisan sejarah, dan teknik memahami (interpretasi) data, informasi dan fakta atau realitas sejarah masa lalu. Melalui historilink, maka sejarah Islam dapat direkonstruksi dengan historical knowledge, historical information, Interpretative dan historical management knowledge. Melalui rekonstruksi pendekatan  historilink, Prof. Syamsul melakukan kritik terhadap logika metode kesejarahan yang selama ini hasilnya uncertainty karena faktor subyektivitas penulisnya. 

  

Prof. Rubaidi (Dosen Fakultas Tarbiyah UINSA) menyajikan bahan orasi yang sangat akademis ditandai dengan catatan kaki yang luar biasa. Saya di masa lalu termasuk penggemar model tulisan seperti ini. Hanya sekarang bisa saja karena faktor usia, sehingga saya banyak menulis hasil refleksi saja. Prof. Rubaidi menulis tentang “Pseudo Sufi Order di Indonesia Kontemporer: Ibn Arabian dalam The New Pseudo Sufi Order: Majelis Shalawat bagi Urban Muslim Jawa Timur”. Saya menduga Prof. Rubaidi banyak dipengaruhi oleh Julia Howell dalam pandangannya tentang dunia ketarekatan yang disebutnya sebagai urban sufisme. Sebuah konsep yang menarik dalam mengamati terhadap majelis-majelis zikir yang berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Prof. Rubaidi membuat sebuah dialektika atas lahirnya New Pseudo Sufisme, yaitu dialektik antara praktik sufisme ortodoks (tesis), Pseudo sufi order (anti tesis) dan menghasilkan new pseudo sufi order (sintesis). Dari kajiannya terhadap Majelis Shalawat Kubro, Majelis Shalawat Muhammad dan Majelis Shalawat “Adlimiyah” di Jawa Timur dengan propertais yaitu: kegiatannya di kota, latar belakang jamaahnya kelas menengah dan mursyid dan pengikutnya sebagai symbol modernitas. Kajian yang dilakukan oleh Prof. Rubaidi ini merupakan kritik atas tulisan Pujo Semedi di dalam kata pengantar buku saya, “Islam Pesisir” bahwa dengan konsep “matematika supra rasional” di kala orang tidak dapat mengakses kehidupan duniawi, maka orang lari ke dalam dunia spiritual untuk mendapatkan ganjaran di akhirat. 

  

Prof. Wiwik (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UINSA), menyajikan tulisan yang berjudul “Transformasi Pemimpin Umat Beragama di Masa Pandemi Pada Masyarakat Plural dan Multikultrual Berbasis Pancasila”. Didalam kajian sosiologi agama, selain mengkaji ajaran agama, masyarakat beragama, dan institusi kebaragamaan juga mengkaji pemimpin agama. Prof. Wiwik dalam orasi ilmiahnya menyajikan bagaimana peran dan fungsi para pemimpin agama di tengah Pandemi Covid-19 dari berbagai agama di Indonesia dengan berbagai tempat ibadahnya. Pada masa Pandemi Covid-19 ternyata para pemimpin agama dapat menjalankan peran optimal untuk menghasilkan spirit keberagamaan adan aksi solidaritas sosial. Mbak Wiwik, begitu biasa saya memanggil, menghasilkan satu konsep yang menarik, religiodemik, yaitu sebuah konsep untuk menggambarkan bagaimana para pemimpin agama dapat membangkitkan transformasi keberagamaan (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu) saling mendukung dan membantu untuk mengatasi masalah sosial terkait dengan pandemi covid-19 melalui penguatan spirit keberagamaan dan aksi solidaritas sosial.

  

Prof. Zainul Hamdi (Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA) juga menyajikan orasi ilmiah yang sangat menarik. Judul orasinya adalah “Matinya Keulamaan di tengah Bangkitnya Agama: Fenomena Agama di Era Post Truth”. Sebuah tema yang sangat menarik di tengah perbincangan akhir-akhir ini tentang pengaruh revolusi industri 4.0 dan era disruptif bagi kehidupan keberagamaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin menguatnya media sosial sebagai bagian dari pasar raya penyebaran agama, maka menyebabkan peran ulama secara personal menjadi lemah kalau tidak bisa dikatakan “mati”. Perebutan otoritas keagamaan di media sosial terjadi sedemikian dahsyatnya sehingga bagi sebagian masyarakat yang literasi medianya rendah, maka akan sangat mudah terpengaruh oleh konten-konten media sosial seperti itu. Prof. Inung, begitu biasa dipanggil, mengajukan tawaran konsep “Repackaging Islam” yaitu upaya untuk menyajikan ajaran Islam melalui media sosial melalui dukungan tim yang kuat, berbasis pada konten yang simple tetapi mendalam dan menarik bagi para audience. Para ulama harus memasuki arena ini agar fungsi keulamaan tidak mati. Meskipun tidak lagi memiliki otoritas penuh, tetapi dengan masuk pada ruang media sosial, maka peran tersebut tentu masih ada.

  

Tulisan ini sebagai saksi atas kehadiran saya di tengah ruang kegembiraan atas pengukuhan para guru besar. Saya dan beberapa profesor ada yang tidak hadir karena satu dan lain hal. Tetapi dengan meringkas secara kurang lebih atas makalah orasi ilmiah tersebut sekurang-kurangnya saya terlibat di dalam proses kegembiraan itu. “Verba volant scripta manent”.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.