(Sumber : www.nursyamcentre.com )

Peninggalan Kiai Fathurrahman Kafrawi Menteri Agama RI Ke Dua

Opini

Dahulu, pada tahun 1970-an, Kantor Urusan Agama (KUA)  berada di Masjid Pesantren. Masjid ukuran sedang dan di sebelah utara masjid terdapat KUA Kecamatan Merakurak. Saya sering mengantar keluarga saya yang menikah di tempat ini. Waktu itu belum ada mobil angkutan umum. Yang ada baru kendaraan roda dua yang ditarik oleh seekor kuda atau disebut sebagai dokar. Di masa itu, orang yang memiliki dokar dianggap orang yang beruntung. Dokar menjadi kendaraan penting di era tahun 1960-1970-an. Saya juga memanfaatkan dokar ini jika bepergian ke kota Tuban atau untuk kegiatan lainnya. Habis panen setahun sekali kami sekeluarga rekreasi ke kota Tuban. 

  

Jika ingin ke Kantor KUA, ada dua jalur yang bisa digunakan. Bisa lewat jalan sebelah kolam di depan kantor Kecamatan Merakurak atau sebelah selatan Kantor Balai Desa Sambonggede. Tetapi waktu itu hanya bisa dilalui oleh sepeda saja. Jika akan memasuki area KUA dengan dokar  maka harus lewat jalan di dusun Pesantren, berdekatan dengan Pesantren Salafiyah sebelah utaranya. Di situ ada jalan yang langsung menuju ke KUA. Seingat saya ada sungai yang berada di sebelah selatan masjid dan di situ orang mengambil air wudlu atau mandi. Tentu saja saya pernah mencuci muka, tangan dan kaki di sungai tersebut. 

  

Saya tidak tahu tepatnya kapan KUA tersebut pindah dari area Masjid Pesantren ke KUA sekarang. Mungkin tahun 1980-an. Di saat pemerintah gencar membangun perkantoran, termasuk pembangunan SD Inpres.  KUA juga berpindah dari area Masjid Pesantren ke jalan utama yang menghubungkan kota Tuban dengan Merakurak, tepatnya di Desa Mandirejo. Dari arah Tuban ke Merakurak berada di sebelah selatan jalan. 

  

Saya bersyukur masih bisa mendokumentasikan KUA yang dahulu berada di area Masjid Pesantren. Masjid ini sudah dibangun megah dan memadai untuk menggantikan masjid lama yang dibangun oleh Kiai Kafrawi atau Kiai Fathurrahman Kafrawi. Masjid tersebut didirikan di ats tanah yang dahulu menjadi milik Kiai Kafrawi berikut rumah di sebelahnya, yang digunakan untuk KUA. Rumah permanen yang  di kala itu sangat jarang.  Beberapa saat yang lalu, ketika saya bertemu dengan dzurriyah Kelapa Telu barulah saya memahami bahwa rumah dan masjid itu sungguh bersejarah bagi pengembangan Islam di wilayah Merakurak. Di masjid ini Kiai Kafrawi mengajar tentang ilmu keislaman, khususnya ilmu fikih. Menurut Lik Samuri:  “Dulu kalau ada calon pengantin yang tidak bisa membaca syahadat, maka disuruh berwudlu dulu di tempat wudlu di Masjid Pesantren”.

  

Tanah untuk masjid dan kantor serta halaman yang luas itu merupakan pembelian Kiai Kafrawi dan dijadikan sebagai sentra pengajian dan Pendidikan Al-Qur’an. Setelah Kiai Kafrawi diangkat menjadi penghulu Tuban, maka beliau pindah ke Tuban berikut keluarganya. Sebagai seorang pejabat, maka beliau tentu harus mendekati kantor tempat kerjanya, dan kemudian rumah Beliau digunakan untuk KUA. Rumah itu kemudian dijual beberapa saat yang lalu karena rusak dan laku Rp2.000.000. “Lama tidak ditempati sehingga khawatir rusak. Lebih baik dijual”, begitu kata Pak Hadi Silowo.

  

Kiai Kafrawi adalah putra Kiai Arifin Kelapa Telu. Kiai Arifin bertiga bersaudara, yaitu Kiai Shaleh Kelapa Telu, yang dimakamkan di Desa Kapu, lalu Kiai Abdus Shamad dimakamkan di Desa Tahulu. Kiai Arifin melahirkan tokoh kyai birokrat, sebab putranya Kiai Kafrawi berhasil menduduki jabatan Penghulu Tuban, dan putra Kiai Kafrawi yang bernama Prof. Dr. KH. Fathurrahman Kafrawi pernah menjabat sebagai Bupati Tuban pertama setelah Kemerdekaan RI, 1945. Beliau menjabat sebagai Bupati Tuban selama tiga bulan saja, karena diangkat menjadi Menteri Agama ke dua,  2 Oktober 1946 sampai 26 Juli 1947.  Kiai Fathurrahman Kafrawi  lahir pada 10 Desember  1901 dan meninggal 2 September 1969. Berdasarkan silsilah, maka diketahui bahwa Kiai Arifin memiliki tiga putra, yaitu: KH. Kafrawi (makam Bejagung Lor, Semanding),  Nyi Habibah (makam di Santren Kerek), dan Nyi Sarminah. Kyai Kafrawi (wafat 1901)  berputra empat orang, yaitu: Nyi Kaspiyatun, Nyi Roesdiyah, Nyi Moesyarofah dan KH. Fathurahman. Lalu KH. Fathurahman berputera R. Achmad Dachlan, yang dimakamkan di Makam Sunan Bonang. R. Achmad Dahlan berputera, R. Abd. el Chalik  (makam Setono Gedong Kediri), Rr. Siti Maimunah, R. Mohammad Soegeng, Rr. Siti Djuwariyah, R. Mohammad Amin, Rr. Niniek Robiah Putri. 

  

Menurut analisis saya, bahwa Kiai Arifin adalah ahli fikih, sehingga melahirkan Kiai Kafrawi yang ahli dalam ilmu fikih, dan kemudian melahirkan Kiai Fathurrahman, yang juga ahli di dalam ilmu keislaman. Kiai Fathurrahman Kafrawi bersama  Abdul Kahar Muzakkir mendirikan  Sekolah Tinggi Islam yang kemudian berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), IAIN dan kemudian menjadi  Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN kemudian menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kiai Fathurahman pernah menjabat Wakil Konstituante (1957-1958) dan anggota MPRS wakil Karya Ulama.

  

Beliau seorang ulama yang sangat hebat. Selain pernah menjadi santri pada Pesantren Jamsaren Solo, juga berpendidikan di Mekkah dan Mesir (10 tahun). Sewaktu di Mesir pernah menjadi Ketua Jamaah Al Khairiyah al Thalabiyah al Azhariyah al Jawiyah. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Leiden, lalu ke Perancis dan Inggris. Beliau merupakan orang yang polyglot atau menguasai banyak Bahasa. Sewaktu menjabat Menteri Agama, maka ada banyak kebijakan yang dilahirkannya, misalnya tentang kebijakan Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk (NTR) dalam UU No. 22 Tahun 1946,  kebijakan tentang penetapan hari raya idul Fithri  melalui Maklumat Kementerian Agama No. 5 Tahun 1947, Pendidikan agama di sekolah umum dari Sekolah Rakyat hingga Sekolah Menengah Atas. Pada saat menjabat Menteri Agama ini, maka Pendidikan agama diwajibkan di sekolah umum.

  

Prof. Fathurrahman Kafrawi adalah pribadi yang toleran. Meskipun dia orang NU tetapi istrinya, Buchainah, adalah orang Muhammadiyah, meskipun akhirnya, istrinya tersebut menjadi pengurus Muslimat NU. Selain itu juga terbuka dengan penganut agama lain, sehingga di rumahnya sering didatangi tokoh agama lain untuk berdiskusi dengannya. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.