(Sumber : www.nursyamcentre.com)

PPKM, Jaga Kesehatan dan Jangan Lupa Berdoa

Opini

Indonesia sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit dalam menghadapi wabah Covid-19. Tidak hanya Indonesia yang mengalaminya akan tetapi juga banyak negara lain di dunia yang harus berjibaku dalam menghadapi serangan wabah Covid-19 yang semakin meluas. Penyebaran Covid-19 sungguh sedang menuai masa perluasannya, terutama di wilayah-wilayah yang padat penduduk. Makanya di Jawa dan beberapa kota besar lainnya juga mengalami penyebaran Covid-19 yang sangat signifikan peningkatannya.

  

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dalam kerangka mengurangi atau menghilangkan penyebaran wabah Covid-19, yang disebut sebagai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang diberlakukan semenjak tanggal 3 Juli-20 Juli 2021. Kebijakan ini terpaksa diambil disebabkan oleh penularan Covid-19 yang tidak bisa ditekan. Semakin hari semakin banyak warga yang tertular Covid-19. Bahkan Jakarta, yang semula masih diindikasikan wilayah merah, maka sekarang sudah dinyatakan berindikasi wilayah hitam. Artinya bahwa penyebaran Covid-19 sudah semakin massif pada semua wilayah di DKI. 

  

Wabah Covid-19 memang telah melakukan mutasi gen, dari Covid-19 yang bersumber dari Wuhan, lalu datang dari varian Inggris, varian Afrika Selatan dan yang terakhir hasil mutasi gen dari India, yang disebut sebagai varian Delta. Penyebarannya sangat eksplosif dan tingkat serangannya juga semakin dahsyat. Angka kematian karena virus ini menjadi semakin banyak. Berdasarkan data diketahui bahwa jumlah yang terpapar Covid-19 sebanyak 60 orang perhari di DKI. Selain itu juga angka keterisian Rumah Sakit di DKI tertinggi  93%, Banten 91%, Jawa barat 89%, Jawa tengah 87% dan DI Yogyakarta 86%. (Kompas, 28 Juni 2021). Sedangkan angka kematian akibat Covid-19, Jawa Timur sebagai penyumbang terbesar sebesar 12.074 orang atau 7,4%. Surabaya sebagai penyumbang terbesar diikuti oleh Kabupaten Blitar, Kota Malang, dan Sidoarjo. (detiknews.20/06/2021).

  

Setelah terjadinya lonjakan penderita Covid-19, maka pemerintah menerapkan kebijakan semi lock down atau yang disebut PPKM. Kebijakan ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat tidak melanggar protocol kesehatan dengan melakukan pembatasan atas aktivitas masyarakat terutama kerumunan. Mall, Restoran, warung kopi, dan bahkan tempat ibadah dihimbau tidak melakukan kegiatan yang mendorong terjadinya kerumunan. Bahkan orang yang bepergian antar provinsi atau  antar kota dalam provinsi pun harus memenuhi protocol kesehatan. Persyaratanpun diberlakukan dengan ketat, misalnya untuk antar provinsi, baik menggunakan pesawat, bus, kereta api dan bahkan kendaraan pribadi dipersyaratkan rapid anti gen, swab PCR dan bahkan surat keterangan telah melakukan vaksin Covid-19. 

   

Sebagai penyebab  pelonjakan penyebaran Covid-19 sebagaimana yang tampil di dalam pemberitaan  adalah kebebasan saat mudik hari raya. Jadi  masyarakatlah yang menjadi penyebab terjadinya lonjakan terjadinya penderita Covid-19. Di sisi lain, nyaris tidak diberitakan tentang kehadiran warga negara asing, misalnya India dan China. Pada masa lalu, setelah India terjadi penularan wabah ini, maka banyak imigran dari India yang datang ke Indonesia. Varian India atau Varian Delta merupakan varian baru yang berkembang di India dan kemudian menular di Indonesia. Ketiadaan pengetatan terhadap warga negara asing untuk masuk ke Indonesia tentu juga bisa menjadi penyebab melonjaknya kasus penyebaran Covid-19, sehingga terdapat sejumlah komentar bahwa pemerintah dianggap lalai dalam  penyebaran Covid-19 terutama varian Delta.

  

Covid-19 telah menjadi hantu yang menakutkan. Tidak hanya karena penyebarannya yang begitu dahsyat dan bisa menyasar kepada siapa saja, tidak pandang usia,  status dan jabatan, sebab siapa saja yang melakukan kontak baik langsung maupun tidak langsung, maka akan terjadi penularan kepada yang bersangkutan. Yang juga tidak kalah dampaknya adalah terjadinya ketakutan yang luar biasa atau paranoid di kalangan masyarakat. Secara psikhologis wabah ini telah mengintervensi kesadaran manusia untuk menjadi ketakutan yang berlebihan. Covid-19 telah memutus rantai persahabatan secara fisik, memutus orang bepergian ke pusat-pusat perbelanjaan, pasar, caffe dan bahkan  tempat ibadah. Tentu sudah puluhan ribu masjid dan muhalla yang ditutup karena wabah Covid-19. 

  

Covid-19 juga telah mengunci perkembangan ekonomi yang sebenarnya akhir-akhir ini mulai menggeliat. Melalui penutupan mall, hotel, tempat hiburan, tempat rekreasi dan rumah makan, maka dipastikan bahwa geliat ekonomi akan stagnan bahkan cenderung turun. Rumah makan hanya diperbolehkan untuk membuka ruang bagi pembelian take away untuk menghindari kerumunan, mall juga hanya dibuka untuk ruang kebutuhan bahan-bahan pokok, hotel justru dijadikan sebagai tempat perawatan pasien Covid-19. Keadaan tersebut tentu memaksa terjadinya perlambatan dalam perkembangan ekonomi. Pemerintah memang over estimate, sebab mencanangkan pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2021 dan seterusnya berkisar pada angka pertumbuhan 7,1 sampai 8,3 persen. Namun banyak yang meragukan dan bahkan memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi akan terjadi pada kisaran 4 persen saja dan bahkan ada yang memprediksi akan mendekati minus. (Bisnis.com 27 Juni 2021). 

  

Dampak Covid-19 memang terasa luar biasa. Tidak hanya pada masalah kesehatan, tetapi juga ekonomi dan psikhis. Dan menurut saya dampak psikhis ini juga akan menyebabkan masalah tersendiri, sebab jika berlebihan tentunya juga akan menyebabkan menurunnya daya imunitas masyarakat. Jika daya imunitas menurun, maka peluang untuk tertular Covid-19 juga tinggi potensi tertularnya.

  

Dalam keadaan seperti ini, maka sebaiknya masyarakat tidak menjadi semakin takut untuk beraktivitas yang sangat diperlukan dengan tetap menjaga protocol kesehatan, misalnya double masker, menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kesehatan tubuh, menggunakan hand sanitizer dan yang juga tidak kalah penting adalah pasrah kepada Allah SWT.

  

Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa Covid-19 adalah makhluk Allah SWT yang memang sedang hidup di dunia. Makanya, pasrah dan berdoa tentu juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengeliminasi sebarannya. Jaga diri di tengah pandemi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.