(Sumber : www.uinsa.official.com)

Profesor Baru UINSA: Internasionalisasi Institusi Menjelang Era Industri 5.0

Opini

Oleh: Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

  

Akhirnya Dr. Isa Anshori dan Dr. M. Suyudi bisa memperoleh jabatan  tertinggi dalam dunia akademik di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, pada 31 Mei 2022. Keduanya dikukuhkan oleh Rektor UIN Sunan Ampel, Prof. Masdar Hilmy, PhD di Sport Center UIN Sunan Ampel yang dihadiri sejumlah anggota Senat UIN Sunan Ampel. Akhir-akhir ini memang pengukuhan professor tidak hanya dilakukan untuk orang perorang tetapi secara jamaah. Dua professor atau lebih.

  

Sekali lagi saya juga tidak bisa hadir di dalam pengukuhan gelar professor ini, karena bertepatan dengan undangan untuk menghadiri Pengukuhan Doktor Honoris Causa (DR.HC) Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia, 2014 dan 2015-2019. Sebagai orang yang pernah membantu Beliau dalam Jabatan Menteri Agama selama lima tahun, maka sungguh tidak etis jika saya tidak datang. Oleh karena itu, dua hari sebelum pengukuhan professor dilaksanakan,  saya menyatakan mohon maaf kepada Prof. Isa Anshori, karena tidak bisa mangayubagya atas pengukuhan guru besar yang sangat terhormat tersebut.  

  

Perolehan jabatan guru besar merupakan upaya yang sangat sistematis dan terstruktur. Berbeda dengan pengukuhan Guru Besar Kehormatan atau Professor Honoris Causa, yang tidak terikat dengan regulasi yang rumit, maka untuk mencapai jabatan guru besar bagi dosen sungguh pekerjaan yang melelahkan. Terutama untuk mempublish karya akademik artikel dalam jurnal terindeks di Scopus. Meskipun aturan ini sudah direvisi oleh Mahkamah Konstitusi (MK) akan tetapi para dosen tetap berkewajiban untuk menulis di dalam jurnal bereputasi internasional. 

  

Saya tentu merasa bangga atas capaian professor tersebut, karena saya menjadi salah satu reviewer karya Dr. Isa Anshori.  Dengan  pengukuhan ini, maka saya merasa terlibat di dalam proses penganugerahan jabatan yang sangat terhormat sebagai guru besar. Prof. Isa Anshori menjadi guru besar di bidang Sosiologi Pendidikan, dan Prof. Suyudi menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam. Saya juga pernah merasakan bagaimana hati menjadi berbunga-bunga karena jabatan yang sangat prestisius di institusi Pendidikan tinggi tersebut.

  


Baca Juga : Maulid Nabi, Ruang dan Waktu untuk Berbenah Diri

Prof. Isa Anshori menyajikan orasi ilmiah di hadapan Senat dengan tema “internasionalisasi Karakter Kelembagaan Pendidikan Islam melalui Strategi Adaptasi”. Menurut Prof. Isa, bahwa dewasa ini lembaga pendidikan Islam dituntut untuk melakukan gerakan internasionalisasi, khususnya terkait dengan karakter institusi Pendidikan Islam. Lembaga Pendidikan Islam tentu memiliki sejumlah kelebihan terkait dengan nilai atau value yang selama ini telah dikembangkan. Di antara value tersebut adalah nilai integritas, profesionalitas, inovasi, tanggungjawab dan keteladanan. Lima nilai ini merupakan nilai budaya kerja Kementerian Agama, yang sudah menjadi nilai budaya bagi birokrasi termasuk institusi pendidikan. 

  

Institusi pendidikan Islam memang harus memiliki budaya kerja yang optimal. Jika budaya kerja dilanggengkan oleh institusi pendidikan, maka dapat dihasilkan perilaku yang relevan dengan ajaran Islam. Lima nilai budaya kerja memiliki basis religiositas yang tegas. Jika lembaga pendidikan Islam memiliki budaya kerja unggul, maka dipastikan akan dihasilkan output dan outcome pendidikan yang sangat berguna untuk Indonesia dan bahkan dunia internasional. Dengan  membudayakan nilai-nilai budaya kerja di lingkungan pendidikan dan masyarakat maka ke depan akan dapat dilakukan gerakan  internasionalisasi nilai kelembagaan pendidikan Islam Indonesia dalam dunia internasional. Di antara  yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan strategi adaptasi melalui kemampuan Bahasa  internasional yang memadai.

  

Prof. Suyudi mengangkat judul orasi ilmiah, yaitu “Paradigma Pendidikan Islam Progresif di Era Society 5.0”. Orasi ilmiah ini menggugah kesadaran kita bahwa era baru revolusi industry akan segara hadir, setelah dunia diramaikan oleh Revolusi Industri 4.0. Beberapa tahun terakhir, masyarakat  disibukkan oleh realitas tentang revolusi 4.0 yang hingar bingarnya tentu masih terasa hingga sekarang. 

  

Menurut Prof. Suyudi bahwa ada beberapa tipologi pendidikan Islam sesuai dengan tantangan zamannya, yaitu masa pendidikan berbasis etika, di mana pendidikan selalu dikaitkan dengan upaya untuk membumikan etika Islam dalam kehidupan, lalu pendidikan berbasis kepentingan industry dan digitalisasi, di mana pendidikan harus beradaptasi dengan era industry dan masyarakat digital. Kemudian, pendidikan berbasis populisme dan identitas politik, dimana terdapat pertumbuhan ideologi yang berimplikasi terhadap penyelenggaraan pendidikan. Dari pemetaan ini, maka ada pendidikan yang berkelamin fundamentalis-konservatif, modernis-rekonstruktif, neomodernis-inklusif dan progresif-liberalis. 

  

Di dalam menghadapi society 5.0, maka pendidikan Islam mesti melakukan upaya agar  tetap relevan dengan perubahan masyarakat yang sangat cepat. Untuk itu, maka pendidikan Islam harus menghilangkan dikhotomi melalui integrasi ilmu, melakukan  penelitian yang menghasilkan inovasi baru untuk kepentingan akademis dan masyarakat, dan melakukan  reproduksi SDM yang unggul dan kompetitif. 

  

Selain itu yang tidak kalah penting adalah agar pendidikan Islam beradaptasi dengan era digital sebab tantangan ini tidak akan dapat dilawan akan tetapi harus diadaptasi agar Pendidikan Islam tidak tertinggal dengan kereta cepat yang melaju dengan kekuatan penuh.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.