(Sumber : berita DIY)

Rindu Rekreasi: Pak Jokowi, Masyarakat dan Hari Raya

Opini

Hari raya Idul Fitri sungguh merupakan momentum yang sangat istimewa. Tidak hanya sebagai hari ritual untuk mengakhiri puasa selama sebulan penuh dengan shalat idul fitri, akan tetapi juga menjadi momentum untuk membangun persahabatan, persaudaraan dan jalinan kekerabatan melalui halal bil halal, namun juga menjadi wahana untuk rekreasi bagi keluarga. Hari raya sungguh merupakan hari spesial bagi warga masyarakat Indonesia, tidak hanya umat Muslim tetapi juga masyarakat beragama lainnya. Hari raya sungguh sudah menjadi milik bangsa Indonesia.

  

Manusia memang memiliki kebutuhan yang beraneka ragam, yaitu kebutuhan fisik-biologis seperti makan minum dan pemenuhan kebutuhan fisikal lainnya, lalu kebutuhan sosial ialah kebutuhan untuk berjejaring sosial, relasi sosial dan kebutuhan lainnya untuk memenuhi hakikatnya sebagai makhluk sosial, serta kebutuhan integratif ialah kebutuhan untuk yang menghubungkan antara kebutuhan fisikal dan sosial, seperti kebutuhan rekreasional, kebutuhan rasa kasih sayang, rasa senang, rasa berharga dan bahkan juga kebutuhan berketuhanan atau kebutuhan spiritual.

  

Selama satu bulan Ramadlan, masyarakat Islam sudah mengekspresikan pemenuhan kebutuhan spiritual melalui puasa, tadarus al Qur’an, berzikir, shalat malam atau qiyamul lail atau tarawih dan witir serta kebutuhan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Pada saat relasi untuk pemenuhan kebutuhan religious sudah terpenuhi, maka gilirannya terdapat keinginan juga untuk bernegosiasi dengan diri dan keluarganya melalui pemenuhan kebutuhan rekreasi. Maka momentum hari raya bisa menjadi wahana untuk menyenangkan diri dan keluarganya melalui mendatangi tempat wisata yang bertebaran di seluruh persada Nusantara. 

  

Seluruh provinsi di Indonesia memiliki tempat wisata, baik wisata alam daratan, lautan maupun pegunungan. Wisata yang terkait dengan peninggalan sejarah,   maupun tempat wisata yang didesain secara modern dan kekinian. Misalnya di Jawa Timur terdapat wisata alam pegunungan Tengger atau Gunung Bromo, Kawah Ijen, Pantai Popoh. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta terdapat Candi Borobudur, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Pegunungan Dieng, dan situs purbakala yang anggun. Di Jawa Barat dijumpai Pantai Pangandaran, Situs Purbakala Siliwangi, dan Wisata modern lainnya. Di Sumatera Utara terdapat Danau Toba, di Sulawesi Utara terdapat pemakaman Toraja, di Sumatera Barat terdapat rumah gadang, di Papua terdapat wisata laut Raja Ampat dan Sulawesi Tenggara Bunaken dan Wakatobi, serta Nusa Tenggara Timur dengan wisata Komodo.  Kemudian Bali sebagai Pulau Dewata dan provinsi lain juga memiliki tempat wisata yang adiluhung.

  

Islam juga memiliki ajaran terkait dengan bagaimana memikirkan tentang alam. Di dalam Islam dikenal konsep tadabbur alam, yaitu upaya untuk memikirkan, merenungkan dan merespon alam dengan kearifan dan kebajikan. Alam haruslah dipandang sebagai subyek, sebagaimana manusia juga subyek di dalam kehidupan ini. Manusia sebagai subyek yang membutuhkan ruang untuk hidup dan alam juga subyek yang membutuhkan ruang untuk hidup. Keduanya memiliki sistem kehidupan yang berbeda tetapi saling membutuhkan. Hubungan  manusia dengan alam bercorak simbiosis mutualisme. Manusia tidak diperkenankan untuk menjadikan alam sebagai obyek, sehingga alam bisa diperlakukan apa saja. Melalui pemikiran alam sebagai obyek,  maka manusia dengan seenaknya untuk mengeksploitasi alam sesuka hatinya. Hutan dirusak, sungai dicemari, laut dijadikan tempat pembuangan sampah dan udara dicemari dengan pemanasan global. Allah SWT sudah mengingatkan di dalam al-Qur'an, yang dinyatakan: “dhaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin nas”. (QS. Arrum, 41).  Artinya: “telah nampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. Kerusakan yang terjadi di daratan dan lautan itu disebabkan manusia menganggap bahwa alam adalah obyek yang bisa diperlukan semena-mena. Atas nama pengembangan ekonomi, maka hutan dieksploitasi dengan tindakan illegal logging

  

Pada hari raya 1443 H atau 2022 M, kita bisa melihat bagaimana gelegak masyarakat untuk memenuhi hasrat rekreasinya. Nyaris semua tempat rekreasi penuh sesak dengan keluarga yang  berkunjung. Mereka menikmati tempat rekreasi dengan suka cita. Kerinduan masyarakat untuk rekreasi tersebut sedemikian kuat. Selama dua tahun keinginan itu terpendam dalam-dalam. Pandemi Covid-19 merusak semuanya. Dampak ekonomi, sosial dan budaya tidak bisa dihindarkan, termasuk juga pemenuhan kebutuhan rekreasi. Ketika kran itu dibuka, maka tumplek bleg masyarakat mendatangi tempat wisata pada  masing-masing daerahnya.

  

Bahkan Pak Jokowi juga menyempatkan masa liburan atau cuti bersama Hari Raya Idul Fitri dengan pergi ke Bali untuk rekreasi dengan keluarganya. Di televisi bisa kita lihat, bagaimana Pak Jokowi dengan Ibu dan cucu-cucunya menikmati rekreasi. Naik kendaraan terbuka, memberi makanan gajah, singa dan juga bermain bola. Semua menggambarkan sosok Pak Jokowi sebagai manusia seutuhnya. Seseorang yang membutuhkan rekreasi sebagaimana manusia lainnya. Suatu pemandangan yang sangat manusiawi kala melihat Pak Jokowi bermain-main sama cucunya menjadi penjaga gawang dalam permainan di area wisata Bali, serta saling sapa dengan masyarakat di area wisata. 

  

Mungkin ada di antara orang yang “kurang” suka kepada Pak Jokowi dengan  menyatakan bahwa hal itu dilakukan sebagai upaya “pencitraan” tetapi bagi saya bahwa apa yang dilakukan itu adalah wujud dari kasih sayang kepada keluarga. Menyayangi cucu bagi sebagian orang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kasih sayang yang tulus kepada keluarga. Makanya sungguh saya “kurang” sependapat jika apa yang dilakukannya adalah bagian dari pencitraan. Pak Jokowi jauh dari seorang individu yang “jaga image”. Pak Jokowi merupakan sosok yang apa adanya. Jadi, memanfaatkan waktu luang seperti cuti bersama untuk kebersamaan dengan keluarga merupakan hal yang sangat wajar.

  

Kiranya, bagi yang  “kurang” memahami tindakan Pak Jokowi rasanya perlu memahami konsepsi “looking glass self” dari Charles Horton Cooley atau mengaca diri. Bagi orang yang memiliki cucu, maka tumpahan kasih sayang itu adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Pak Jokowi dalam menikmati liburan Hari Raya Idul Fitri 1443 H atau 2022 M. Saya mencoba untuk memahaminya dengan menerapkan konsep tersebut.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.