(Sumber : https://nursyamcentre.com/)

Selamat Mengabdi Prof. Muzakki, Terima Kasih Prof. Masdar (1)

Opini

Di dalam dunia birokrasi atau institusi pemerintah, maka pergantian kepemimpinan bukanlah hal yang aneh. Memang begitulah hukum birokrasi. Ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang baru dan  ada yang lama. Terus terjadi perubahan kepemimpinan sesuai dengan regulasi yang sudah ditetapkan. Termasuk juga pimpinan perguruan tinggi. Semua pemimpin birokrasi di Kemenag tentu bertugas untuk mencapai visi dan misi Kemenag.

  

Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2020, bahwa  visi Kementerian Agama (Kemenag) adalah “Kementerian Agama yang professional dan andal dalam membangun masyarakat yang saleh,  moderat, cerdas,  dan unggul untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong royong”. Visi ini kemudian dibreakdown dalam misi sebagai berikut: 1) meningkatkan kualitas kesalehan umat beragama, 2) memperkuat moderasi beragama dan kerukunan umat beragama, 3) meningkatkan layanan keagamaan yang adil, mudah dan merata, 4) meningkatkan layanan pendidikan yang merata dan bermutu, 5) meningkatkan produktivitas dan daya saing pendidikan, 6) memantapkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Kata kunci misi Kemenag adalah pada pelayanan prima untuk kepuasan pelanggan.

  

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tentu saja mengemban tugas mencapai  visi Kemenag yaitu meningkatkan layanan pendidikan yang bermutu dan merata dan meningkatkan produktivitas dan daya saing pendidikan. Artinya, UIN Sunan Ampel sebagai sebuah institusi pendidikan yang berada di bawah Kemenag juga dipastikan untuk  memberikan pelayanan prima bagi stakeholder agar para pemangku kepentingan tersebut merasa nyaman,  memperoleh manfaat dan mendapatkan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) bahkan bisa  menjadi customer loyalty. Mereka merasakan ketidakpuasan jika tidak menyekolahkan anaknya di UIN Sunan Ampel.

  

Kepuasan pelanggan tersebut tidak hanya kepuasan pelanggan eksternal tetapi juga pelanggan internal. Sebagai contoh kepuasaan pelanggan internal adalah apakah pelayanan dasar perkantoran sudah optimal.  Keberadaan infrastuktur perkantoran sudah memenuhi standart sebagai infrastruktur yang memadai dan nyaman bagi para pegawai. Di era teknologi informasi seperti ini, apakah kebutuhan akan infrastruktur TI sudah memenuhi standart. Lalu, kepuasan pelanggan eksternal adalah kala para pelanggan jasa pendidikan sudah merasa bahwa proses belajar, out put dan out come pendidikannya sudah sesuai dengan harapan para pelanggan.

  

Yang menjadi  visi UIN Sunan Ampel adalah “Menjadi Institusi yang Unggul, Inovatif, Dekat dengan Masyarakat, dan Bertaraf Internasional”. Visi UIN Sunan Ampel ini tentu saja harus dikaitkan dengan tahun berapa visi dimaksud akan dapat dicapai. Setiap visi mengandung apa keunggulannya, area  di mana keunggulan tersebut berada, dan   pada tahun berapa visi tersebut akan dapat dicapai. Visi ini kemudian diterjemahkan ke dalam misi UIN Sunan Ampel adalah:  Mengembangkan penelitian keislaman multidisipliner serta sains dan teknologi yang relevan dengan masyarakat, Mengembangkan pola pengabdian masyarakat berbasis riset, Membangun kemitraan yang saling memberi manfaat dengan masyarakat, Gender mainstreaming dalam penelitian dan pengabdian.

  

Misi ini yang nanti akan menjadi tugas dan kewajiban professor Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., MA., PhD yang baru saja dilantik oleh Menteri Agama RI, Yaqut Kholil Qoumas, 6/6/2022, untuk masa jabatan Rektor UINSA tahun  2022-2026. Yang jelas bahwa yang akan menjadi keunggulan UIN adalah penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat yang unggul berbasis pada kerjasama dan kemitraan untuk mengembangan kajian keislaman integrative pada level Asia pada tahun 2035. Jadi masa sekarang merupakan waktu untuk membangun fondasi agar visi tersebut dapat dicapai. Dengan catatan bahwa visi tersebut dapat diterjemahkan ke dalam misi yang jelas dan program kerja yang terukur dan feasible. 

  

Setiap kontestasi dalam pemilihan pimpinan pada level apapun dipastikan terdapat bumbu pemanis sebuah pemilihan, yaitu kontestasi persahabatan. Namun demikian takdir Tuhanlah yang menjawabnya. Melalui washilah takdir Menteri Agama, maka Prof Muzakki terpilih menggantikan Prof. Masdar Hilmy yang sudah menjabat dalam waktu empat tahun. Namun demikian, keindahan kontestasi persahabatan tersebut justru memiliki ending yang menyejukkan. Semua kontestan dalam pilihan rektor tidak saling memberikan respon yang negative, tetapi justru terdapat respon yang positif. Adakah yang lebih indah dari ungkapan Prof. Muzakki kepada Prof. Masdar, dan juga sebaliknya.

  

Berikut adalah pesan dalam WhatsApp grup UINSA Jaya dan WhatsApp grup Senat UINSA. Didapati pernyataan Prof. Muzakki sebagai berikut: “Prof. Masdar itu ilmuwan keren. Prof. Masdar itu pimpinan kita semua. Dan kita semua belajar banyak dari seliau. Ilmunya bak Samudra luas. Membuat banyak dari kita nyaman belajar dan meneladani beliau. Empat tahun saya belajar dari beliau di manajemen UINSA ini. Makasih Prof. Masdar atas semua kemuliaan itu. Moga saya terus bisa meneladani beliau. Kemuliaan yang beliau tunjukkan  moga bisa membekali kita semua untuk menata dan mengelola UINSA ke depan dengan maksimal. Makasih Prof. Masdar. Makasih semua bapak dan ibu atas segala doa kebaikan untuk kepemimpinan UINSA ke depan”.

Prof. Masdar membalas dalam pesan di WAG sebagai berikut: “Bismillah. Saya percaya dengan segenap  energi dan potensinya, Prof. Muzakki pasti bisa. Mari kita support pemimpin kita yang baru. Semoga  perahu besar UINSA tetap berlayar dengan gagah dan berwibawa. Terima  kasih atas segala apresiasi n doa2 terbaiknya. Salam sehat n berkah selalu”.

  

Tulisan ini tidak menyatakan “selamat datang” kepada Prof. Muzakki, sebab Prof. Muzakki sudah bersama kita selama ini. Sudah datang bersama, sudah berbagi bersama, Sudah bekerja bersama dan juga akan sukses bersama. Inilah the power of  togetherness: “coming together, sharing together, working together and succeeding together. Bersama kita sukses.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.