(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Gerbong Aliran Radikalisme di Universitas

Riset Agama

Tulisan berjudul “Channelization Strategies of Radicalism Among Muslim University Students in Indonesia” merupakan karya Rahma Sugihartati, Bagong Suyanto dan Medhy Aginta Hidayat. Artikel tersebut terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2020. Penelitian itu mencoba mendeskripsikan bagaimana upaya kaum Islamis radikal mengembangkan strategi untuk menyalurkan dan merekrut kader potensial guna menyebarkan ideologi radikal kalangan mahasiswa Islam di Indonesia. Ketiga penulis menggunakan mix method yakni gabungan antara metodologi kualitatif dan kuantitatif, dengan melibatkan 700 mahasiswa muslim dari tujuh universitas di Indonesia. Metode penelitian kuantitatif digunakan untuk menjelaskan dua hal, yakni memperoleh gambaran awal serta memperoleh data umum terkait proses penyaluran ideologi radikal di kalangan mahasiswa. Sedangkan, metodologi kualitatif digunakan untuk memperoleh data mendalam terkait bentuk praktik penyaluran ideologi radikal di kalangan mahasiswa muslim di Indonesia. Pada review ini dijelaskan dalam empat sub bab. Pertama, agama, radikalisme dan media. Kedua, media baru dan penyebarannya di Indonesia. Ketiga, penyaluran dan proliferasi radikalisme. Keempat, model strategi penyaluran radikalisme melalui media baru. 

  

Agama, Radikalisme dan Media

  

Di dalam menjelaskan terkait keterkaitan tiga term di atas, para penulis menuliskan sejarah tepatnya dimulai akhir tahun 1990 dan awal 2000-an ketika sejumlah organisasi transnasional seperti Al-Qaeda dan ISIS memanfaatkan media sosial sebagai salah satu strategi jihad mereka dalam menyebarkan keyakinan mereka kepada dunia, seperti Blog, Facebook, Twitter dan Youtube. Tujuan penggunaan media baru tersebut terkait dengan empat kepentingan yakni sarana koordinasi antar anggota, alat propaganda, sarana perekrutan anggota baru sekaligus melatihnya. 

  

Penjelasan di atas, kemudian dikaitkan dengan beberapa penelitian terdahulu. Pertama, penelitian Greg Fearly terkait dengan aliran konservatif. Ia menyebutkan bahwa konservatif adalah interpretasi agama yang lebih puritan dan tidak toleran. Saat ini, gambaran umat Islam di Indonesia telah mengalami pergeseran dari yang dikenal dengan moderat, ramah, toleran dan terbuka menjadi konservatif, tertutup dan radikal. Bahkan, dua ormas Islam di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah terkesan terpinggirkan karena popularitasnya yang menurun. Kedua, penelitian Bloom dan Daymon yang menjelaskan bahwa strategi penyebaran propaganda yang dilakukan kaum radikal adalah dengan mengarahkan pesan ideologinya kepada berbagai kelompok. 

  

Media Baru dan Penyebarannya di Indonesia

  

Ketiga penulis menggiring diskusi pada tulisannya terkait penyebaran radikalisme melalui media baru di Indonesia dengan berbagai manfaatnya. Pertama, mudah diakses jika memiliki koneksi internet. Kedua, sangat interaktif karena dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Ketiga, sesuai dengan target konsumen. Keempat, relatif murah dibandingkan dengan media yang lain. Kelima, memungkinkan penyebaran propaganda maupun ideologi lebih efektif dan optimal. Keenam, mudah dianalisis karena memiliki data online. 

  

Pada tulisan tersebut, disajikan pula beberapa pendakwah yang dianggap memiliki keterkaitan dengan dakwah Islam radikal, sekaligus platform media baru yang digunakan. Beberapa nama pendakwah dan persentase para pengikutnya yakni, Felix Siauw 35,1%; Zakir Naik 18,1%; Rizieq Shihab 15,7%; Bachtiar Nasir 2,6%; Abu Bakar Ba’asyir 2,1%; Tengku Zulkarnain 1,6%; Khalid Basalamah 0,7%; Riza Basalamah 0,7%; Syafiq Reza 0,7%; Salim Fillah 0,7% dan Subhan Bawazier 0,7%. Kemudian, terkait dengan jenis media sosial dan persentase penggunanya adalah Instagram 50,9%; WhatsApp 22,3%; Twitter 17,9%; Facebook 5%; Youtube 2,6% dan Telegram 1,3%. 

  

Penyaluran dan Proliferasi Radikalisme 


Baca Juga : Front Pembela Islam dalam Hiruk Pikuk Politik Kebangsaan

  

Secara garis besar hasil dari penelitian Rahma Sugihartati, Bagong Suyanto dan Medhy Aginta Hidayat menunjukkan bahwa proses penyaluran radikalisme di Indonesia berlangsung melalui tiga saluran. Pertama, saluran publik terbuka yang dilakukan melalui situs media dan akun media sosial tokoh muslim yang berafiliasi dengan beberapa organisasi keagamaan di Indonesia. Saluran ini dianggap efektif karena membuat materi dakwah melalui konten secara lebih interaktif dan efisien guna meningkatkan skalabilitas jangkauan di kalangan muslim. Ciri khas saluran ini adalah adanya ‘Q&A’ yang memungkinkan mahasiswa bertanya. Kemudian, mereka akan diberikan tautan/link pada halaman resmi situs web atau media sosial organisasi, kelompok maupun tokoh tersebut. 

  

Kedua, saluran publik terbatas yang mengacu pada penyebaran radikalisme melalui situs resmi atau situs lain yang berafiliasi dengan organisasi radikal. Perbedaan saluran publik terbatas dan terbuka adalah isi dan pendekatan yang kurang netral dan condong memberikan informasi yang lebih spesifik terkait dengan ideologi organisasi radikal tersebut. Pada saluran ini mahasiswa tidak hanya mengambil bagian sebagai konsumen informasi, melainkan produsen konten dengan menyebarluaskan informasi melalui postingan meme dan membuat grup melalui media sosial. 

  

Ketiga, saluran pribadi yakni saluran untuk menyebarkan ideologi radikal melalui grup media sosial tertutup, biasanya melalui WhatsApp, Line atau Telegram. Pada proses ini perekrutan anggota baru juga dilakukan. Perbedaan dengan saluran terbuka dan terbatas adalah saluran ini tidak menggabungkan berbagai platform media karena condong terbatas dan terbuka. Para pengisi grup media sosial saluran pribadi ini telah melalui proses ‘penyaringan’ setelah saluran terbuka dan terbatas. Artinya, mereka mencari anggota baru dengan karakteristik tertentu. 

  

Model Strategi Penyaluran Radikalisme Melalui Media Baru

  

Penjelasan terkait model strategi yang digunakan kelompok radikalisme melalui media baru, ketiga penulis tidak menuliskannya secara gamblang. Artinya, mereka tidak menjelaskan poinnya satu persatu, melainkan melalui diskusi yang mengalir didalamnya. Beberapa model strategi yang dimaksud adalah, pertama, melalui media baru yakni perpanjangan dari proses media tradisional menjadi konvensional. Penulis mengaitkannya dengan argumentasi Marshall Mc Luhan   yang mengingatkan bahwa perkembangan teknologi adalah solusi atas keterbatasan fisik manusia. Media baru merupakan saluran komunikasi utama yang memerankan peran penting sebagai produsen ideologi radikal guna memperluas pengaruhnya kepada para mahasiswa. 

  

Kedua, srtategi dalam proses transmisi radikalisme yang menjadi saringan untuk menarik pengikut dengan tingkat pemahaman yang sama. Di dalam media sosial pemahaman yang dimaksud adalah kesamaan atribut, seperti sosial, budaya, pendidikan, agama dan latar belakang ideologi yang memainkan peran penting dalam proses interaksi sosial. Penulis mengaitkannya dengan pendapat Eli Pariser dengan apa yang disebut “filter bubble effect” atau efek gelembung filter. Gelembung filter merupakan realitas buatan sebagai hasil algoritma pencarian mesin dan platform media sosial di mana pengguna internet akan condong menerima informasi yang berbeda sesuai dengan profil mereka. 

  

Ketiga, strategi penyaluran paham radikal keagamaan melalui jalur media baru. Penulis mengaitkannya dengan temuan Arquilla dan Ronfeldt terkait dengan tiga struktur jaringan komunikasi organisasi kelompok teroris yakni jaringan rantai yakni organisasi terselubung dan secara berurutan dalam satu baris; jaringan hub dan spoke yakni tautan ke semua unit dan keluar dari satu simpul; saluran seluruh jaringan yakni semua unit yang terhubung dengan unit lain dalam organisasi. 

  

Secara umum, strategi penyaluran paham radikal hampir sama dengan strategi yang diterapkan oleh beberapa organisasi Islam di Indonesia sepeti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yakni untuk menanamkan ajaran agama dan ideologi tertentu menggunakan ketersediaan saluran pendidikan. Namun, perbedaan mendasarnya adalah penggunaan media baru sebagai sarana penyebaran ideologi dan tujuan dari proses kanalisasi. Strategi Ormas Islam relatif belum memanfaatkan media baru sebagai media utama guna merekrut ‘kader’ baru. Pemahaman agama yang diajarkan tidak membatasi mahasiswa atau pelajar dari keyakinan pada ideologi agama masing-masing. Sebaliknya, penyaluran ideologi radikal ormas Islam transnasional di Indonesia seperti HTI, KAMMI, JAD FPI dan kelompok Salafi dan Tarbiyah lainnya, sengaja menggunakan media baru sebagai ‘ujung tombak’ dalam mendistribusikan ideologi mereka, tujuannya adalah menarik ‘kader’ baru. 

  

Kesimpulan 

  

Hasil penelitian Rahma Sugihartati, Bagong Suyanto dan Medhy Aginta Hidayat adalah ‘sentilan’ bagi seluruh civitas akademika bahwa gerakan radikalisme masih dan sedang mengincar para mahasiswa. Mereka dengan mudah menyebarkan paham radikal dengan platform media baru dan tidak ada dinding tebal yang membatasi mereka, kecuali penanaman paham moderat sejak awal. Tulisan ketiganya dengan gamblang memberikan kritik bahwa para kelompok radikal selangkah lebih maju dengan memanfaatkan teknologi, dan para pejuang Islam moderat harus bekerja keras untuk lebih unggul dari segi apa pun daripada kelompok radikal. Artikel tersebut ditulis dengan sangat jelas, namun tidak terlalu runtut, serta terdapat beberapa hal yang tidak dijelaskan secara gamblang dan jelas. Terlepas dari sedikit kekurangan tersebut, penelitian ini sangat menarik untuk dibaca dan dipahami, sebab tidak hanya menyajikan dialog tapi juga beberapa gambar sebagai pelengkap untuk mempermudah pembaca memahaminya.